
Utari menunduk tak berani mengangkat kepalanya, ia yakin Morgan pasti akan memarahinya saat itu. Tatapan Utari terus tertuju pada sepatu hitam yang dikenakan Morgan. Pria itu kini semakin mendekat kemudian berdiri dihadapannya.
Tangan Morgan meraih lengan Utari kemudian mengusapnya pelan. Tak seperti bayangan Utari, ternyata Morgan tidak memarahinya.
“Kenapa kamu sebodoh ini?” Morgan mengangkat dagu Utari. “Sini,” sambil menyingkap rambut acak acakan yang tergerai menutupi wajah Utari kemudian menuntun Utari menuju sebuah kursi.
Morgan mengambil kotak P3K dan mulai mengobati luka memar dan luka goresan di wajah Utari.
“Harus kah aku memecat Wiwi?” tanya Morgan.
“Nyonya pasti tidak ingin pelayan pribadinya dipecat,” batin Utari.
“Aku belum bisa menyuruh Selvie pergi dari sini, aku masih memliki perjanjian nikah dengannya,” lanjut Morgan.
Utari menatap wajah yang saat itu persis berada dihadapannya. Wajah yang sangat tampan, membuat Utari terkagum kagum menatapnya.
“Kenapa menatapku seperti itu? Kamu tidak sabaran ingin merebutku dari Selvie?” tanya Morgan. senyuman kecil tersungging dari sudut bibir Morgan.
“Aku, aku hanya,” Utari tak mampu melanjutkan kata katanya. Untuk kali pertama ia menatap Morgan sejelas itu. Jantung nya berdetak kencang, terlebih saat Morgan tersenyum, dunia seakan berhenti berputar.
Deg
“Sore aku akan mengantar mu ke dokter,” ucap Morgan sambil membalas tatapan Utari.
”Aa emm aa sa,” Utari mundur beberapa langkah menjauh dari Morgan sebelum suara debaran jantungnya samapai ditelinga Morgan. Ia berlalu keluar dari ruangan itu.
“Tari luka dileher mu belum di,” teriak Morgan namun Utari sudah keluar dari ruangan itu.
“Huftt,” didepan pintu Utari berhenti sejenak. Ia memegang dadanya yang masih berdebar kencang.
“Utari,” panggil Sukma. Ia membawa Utari menuju kamarnya.
“Semakin lama kamu semakin ngelunjak. Sudah ibu katakan keberadaan mu di sini hanya akan membawa masalah,” ujar Sukma sambil menatap box bayi dimana Miracle sedang tertidur. ”Tuan sudah sangat baik, tapi kamu malah memanfaatkannya,” ujar Sukma.
“Apa maksud ibu?” tanya Utari.
“Jangan berpikir kamu bisa menjadi nyonya rumah disini. Urungkan niatmu sebelum masalah semakin membesar. Aku tidak ingin terbawa bawa dalam masalah mu. Aku tidak ingin di pecat, aku masih punya banyak hutang yang harus ibu bayar,” ujar Sukma.
__ADS_1
Utari menatap Sukma. Kali itu adalah kali kedua Sukma menyebut masalah hutang.
“Hutang? Ibu berhutang kepada siapa? Digunakan untuk apa? Dirumah ini hidup ibu dan ayah telah tercukupi,” ujar Utari.
Utari teringat pada saudara laki lakinya Eko.
“Ini pasti ulah kak Eko, ia pasti berjudi lagi,” ujar Utari.
“Diam mulutmu, dia kakakmu. Nasibnya saja yang sedang sial, ia berhutang pada orang yang salah.”
“Maksud ibu?” tanya Utari penasaran.
“Ia berhutang pada rentenir Mokey yang terkenal ganas. Mereka sudah dua kali ke tempat kerja ayahmu dan mengancam ayahmu.”
Sukma mendekati Utari memegang tangannya sambil memohon. “Jadi ibu mohon padamu, jangan berulah disini. Ibu tak ingin di pecat, ibu, ayah dan kakakmu masih butuh bekerja disini.”
“Berapa banyak hutang kak Eko?” tanya Utari.
“Sangat banyak,” ujar Sukma enggan mengungkapkan karena Utari pasti akan kaget.
“3 miliar, diluar bunga yang terus membengkak setiap bulannya,” ujar Sukma.
“3 miliar?” Utari terkesima mendengar nominal yang disebutkan Sukma. “Kak Eko berani berhutang sebanyak itu. Seharusnya dia tau keluarga kita tidak memiliki apa pun. Dia berani berhutang sebanyak itu?!”
“Kakak mu mengira bisa membayar hutangnya karena dia diterima bekerja sebagai sopir di perusahan. Namun dia belum saja menjadi pegawai tetap. Untung tuan Morgan tetap mempertahankannya bekerja, bahkan sekarang dia bisa menjadi sopir pribadi nyonya,” bela Sukma pada anak laki laki satu satunya itu.
“Pekerjaan sopir tapi berani meminjam uang sebanyak itu?” gumam Utari sarkas, ia tak habis pikir akan perbuatan Eko. Sejak dahulu dia tidak ingin bekerja dan hanya berjudi dengan teman temannya.
“Kamu jangan menyudutkan nya, sudah untung sekarang kakak mu mau bekerja,” lagi lahi Sukma membela putranya.
“Kalau begitu ibu jual saja rumah yang ibu beli,” ujar Utari.
“Rumah yang mana?” tanya Sukma.
“Tentu saja rumah yang ditempati kak Eko sekarang,” tegas Utari.
“Rumah itu sudah digadaikan,” Sukma menunduk tak berdaya akan belenggu hutang yang dilakukan Eko. Menceritakan hal itu pada Utari setidaknya Utari bisa sedikit meringankan bebannya.
__ADS_1
“Digadaikan? Kalau begitu biarkan saja kak Eko di tangkap polisi. Biar tau rasa!” Utari mengangkat tangan nya ke atas pinggang. Ia geram dan emosi, semua karena Sukma yang terlalu memanjakan Eko.
“Tari. Bagaimana pun dia kakak mu, kamu tega jika dia dipenjara?”
“Kak Eko saja tidak tega melihat ibu dan ayah membanting tulang bekerja setiap hari. Kenapa kita harus tega terhadapnya. Seharusnya ibu dan ayah sudah bisa pensiun dan pulang ke rumah yang dibeli ibu. Sekarang? Bahkan gaji seumur hidup ibu, ibu tidak bisa melunasi hutang kak Eko.”
Sukma terdiam, ia harus bersabar sedikit atas ucapan Utari. Ia membutuhkan bantuan Utari. Rencana nya untuk menjodohkan Utari dengan anak dari sahabatnya dikampung harus berhasil. Setidak nya Sukma bisa mendapatkan pinjaman uang yang banyak dari mereka karena ada Utari sebagai jaminannya.
Kemudian terbesit sebuah ide dalam benak sukma. Ia menunduk kemudian mulai berlinangan air mata.
“Hiks, hiks.” terdengar suara tangis tertahan. Sukma berusaha menekuk wajahnya sesedih mungkin. Ia hanya butuh airmata sedikit saja kemudian Utari akan bersimpati kepadanya.
“Ibu, ibu menangis?” Utari menghampiri Sukma kemudian memeluknya. Sangat jarang ibunya akan menangis seperti itu. “Maafkan Utari bu, sudah membuat ibu sedih.”
“Memang sudah nasib ibu memliki anak yang tidak berbakti seperti Eko. Bagaimana pun dia tetap anak ibu, tidak mungkin ibu menjerumuskannya ke penjara hiks hiks. Ibu yang bodoh ini tidak bisa mendidik nya dengan baik,” ucap Sukma lirih, ia terus tersedu hingga Utari tak tega.
“Sudah bu, kita akan memikirkan jalan keluarnya bersama sama.”
“Hiks, kasihan ayahmu. Ia sudah tua, dia terus bekerja di bangunan konstruksi, sangat berbahaya terus berada disana.”
“Tari akan memikirkan cara untuk membantu masalah kak Eko, ibu tenang kan diri ibu,” bujuk Utari.
“Besok malam kamu temani ibu, kita akan bertemu teman lama ibu. Mereka berniat meminjamkan ibu uang, setidaknya separuh dari hutang kakak mu sudah bisa dilunasi,” ujar Sukma.
“Meminjam lagi bu, meminjam uang untuk menutupi pinjaman bukan solusi yang tepat,” ujar Utari.
“Setidaknya, teman ibu bisa meminjamkan uang tanpa bunga dan tanpa jaminan. Rentenir Mokey sudah mengancam akan mendatangi rumah ini jika belum dibayar,” ujar Sukma memelas memohon pengertian Utari.
“Baiklah, Tari akan temani ibu,” sahut Utari mantap.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1