
“Kemana Utari?” tanya Marwan mulai terlihat emosi. Ia tidak suka Sukma terus berbicara berbelit belit sejak ia tiba di rumah itu.
“Utari pergi dari rumah,” jawab Sukma lantang, namun wajahnya terlihat kesal.
“Pergi? Kalau dia pergi dari rumah kenapa tidak katakan dari tadi. Kamu terus berkelit dengan mengatakan ia di dalam, mengurus anak, merawat nyonya. Kenapa?” bentak Marwan yang kini tak tahan lagi akan perbuatan Istrinya. Sejak dulu ia tidak pernah bisa membela anak nya karena sibuk bekerja. Dan kini, anak nya pergi namun istrinya malah terus berbohong.
“Ibu cuman ingin agar bapak tidak khawatir,” bela Sukma pada dirinya.
“Saat anak lelaki mu hilang, kamu begitu khawatir. Tiba anak perempuan mu hilang kamu terlihat biasa saja! Kamu tidak khawatir dia di luar sana bersama anak bayi belum berusia satu tahun? Kamu seorang ibu juga, dan kamu tidak peduli dengan keadaan nya?” ujar Marwan.
“Ibu juga khawatir, tapi Utari pergi tiba tiba. Ibu tidak tau harus mencarinya kemana.”
“Darimana kamu mendapat uang untuk membayar hutang Eko?” tanya Marwan.
Saat itu juga Sukma langsung menatap wajah Marwan, pria itu kini menyinggung uang, alasan apa lagi yang harus ia berikan. Ia belum berpikir hingga ke sana.
“I itu pak, uang itu dari teman ibu. Ibu pinjam,” ujar Sukma gagap.
“Teman siapa? Bapak ingin konfirmasi siapa orang yang berbaik hati memberikan pinjaman uang miliaran pada temannya tanpa imbalan apa pun,” ucap Marwan.
“Itu pak, teman lama ibu. Bapak tidak kenal,” ujar Sukma kemudian menunduk. Ia tak berani lagi menatap Marwan. Mata pria itu terus menatap tajam ke arah Sukma.
“Jujurlah, apa yang sudah ibu lakukan pada Utari. Darimana uang yang ibu dapat itu? Kita bisa bahas bersama tanpa harus ada pertengkaran bu,” ucap Marwan sedikit membujuk agar istrinya itu bisa lebih jujur padanya.
“Itu pak, uang itu dari teman ibu,” ulang Sukma dengan begitu keras kepalanya. Ia tetap tak ingin jujur walaupun Marwan telah membujuknya.
“Bu, bapak mohon. Ibu dapat uang sebanyak itu dari mana?” mohon Marwan sekali lagi.
“Dari teman ibu, bapak gimana sih, kok maksa?” jawab Sukma penuh penekanan.
“Jika ibu tidak jujur, baiklah bapak akan kembalikan ibu ke kampung, bapak tidak sudi punya istri pembohong bahkan ibu tidak mau katakan siapa teman ibu yang memberikan pinjaman itu!” ujar Marwan.
Mendengar ucapan suaminya, Sukma terbelalak. Ia tak menyangka suaminya akan membawanya pulang ke kampung halamannya hanya karena Utari.
Perdebatan Sukma dan Marwan terus berlanjut. Sukma begitu keras kepala dan tidak ingin jujur. Segala macam kebohongan tetap ia keluarkan dari mulutnya hanya demi melindungi uang yang ingin ia gunakan untuk membayar hutang anaknya. Uang yang bisa menyelamatkan nyawa anak nya dari mafia kejam Mokey.
__ADS_1
Entah siapa yang menghubungi Morgan, tiba tiba ia muncul disitu untuk melerai pertengkaran yang terjadi antara Marwan dan Sukma.
“Pak Marwan, bu Sukma. Ikut saya ke ruang baca. Bicara di sini tidak leluasa karena didengar oleh yang lain,” ujar Morgan secara halus.
Dan ternyata tanpa disadari Marwan dan Sukma, Wiwi, Asty, dan Sena berada disitu, mereka berdiri agak jauh hingga tidak terlalu terlihat dari dalam gazebo.
Karena merasa malu, Sukma dan Marwan pun akhir nya ikut dengan Morgan menuju ruang kerjanya.
Diruang kerja, Morgan duduk di sebuah kursi panjang berhadapan dengan Marwan dan Sukma yang masih terlihat tak ingin berdamai.
“Pak Marwan tidak perlu terlalu khawatir. Saya sudah mengerahkan orang orang terbaik untuk mencari Utari. Cepat atau lambat aku akan menemukan Utari,” ujar Morgan untuk menenangkan hati Marwan. Ia terlihat sangat khawatir kepada anak perempuanya itu.
“Terima kasih tuan,” sahut Marwan.
“Bapak dan ibu bukan anak muda lagi, jika berdebat tanpa titik temu malah bisa bahaya bagi kesehatan. Kenapa tidak bicara baik baik, mungkin ada jalan keluar,” saran Morgan yang sebenarnya tak ingin masuk terlalu jauh ke dalam masalah mereka.
“Saya capek menasihati istri saya pak, saya curiga dia lah dalang dibalik kepergian Utari,” ucap Marwan yang tak ingin kompromi lagi dengan perbuatan istrinya.
Mendengar hal itu, Morgan langsung menatap Sukma meminta penjelasan. Ia tak menyangka akan mendapati fakta seperti itu.
Sukma menggeleng.
“Saya mohon tuan, segera temukan anak saya. Takutnya anak saya di jual lagi oleh istri saya,” ucap Marwan blak blakan.
“Bu Sukma benarkah itu?” tanya Morgan lebih serius.
Sukma berdiam diri tidak menjawab.
“Cepat katakan dimana Utari sekarang,” gertak Morgan membuat Sukma terhentak.
“Bu, tuan sudah memberikan bapak uang 3 miliar untuk membayar hutang anak kita Eko. Karena Eko belum ada kabar, makanya bapak belum membayar hutangnya. Cepat katakan uang siapa yang ada pada ibu. Kembalikan uang itu bu agar Utari dan Miracle bisa cepat pulang. Apa ibu nggak kasihan dengan Utari, ia harus merawat anaknya sendirian di luar sana,” bujuk Marwan.
Mendengar ucapan Marwan, Sukma Sukma langsung menatap wajah suaminya itu.
“Benarkah? Bapak sudah memiliki uang untuk membayar hutang eko?” tanya Sukma lebih ingin jelas.
__ADS_1
“Iya bu, berikan uang ibu kepada bapak sekarang. Kita kembalikan uang itu kepada pemiliknya kemudian kita bawa pulang Utari dan Miracle,” bujuk Marwan lagi.
Sukma menatap wajah Morgan, ketakutan yang lain tiba tiba menghampirinya. Jika ia jujur maka nyonya Selvie akan terseret dalam masalah ini.
Sukma kembali diam, dia kini menunduk lesu. Seakan telah masuk dalam perangkap masalah lainnya. Marwan dan Morgan tau kalau ia menerima uang dari seseorang, dan Utari adalah korban nya namun jika ia jujur maka dirinya sendiri akan berada dalam masalah lain.
“Bu,” panggil Marwan.
“Saya janji tidak akan mempersulit bu Sukma, saya hanya ingin tau keberadaan Utari. Jika bu Sukma jujur, bu Sukma bisa terus bekerja disini,” ucap Morgan menambahi.
Karena tak ingin di pecat, akhirnya Sukma melunakkan hatinya. Ia menatap Morgan dengan rasa penyesalan.
“Tuan maafkan ibu, ibu kalap karena ingin melindung Eko. Geng Mokey mengancam akan membunuh Eko jika hutang nya tidak segera di bayar. Ibu tidak tau kalau tuan telah memberikan uang kepada bapak. Ibu salah karena menjadi serakah, maafkan ibu,” ucap Sukma mulai menangis.
“Dimana Utari?” tanya Morgan.
Saat itu juga Sukma terdiam. Ia tidak tau dimana Utari karena ia hanya menyuruhnya pergi begitu saja tanpa arah dan tujuan.
“Ibu tidak tau, ibu menyuruhnya pergi begitu saja. Dia pasti pergi keluar kota dengan kereta api siang tadi,” ucap Sukma semakin tersedu karena perasaan bersalahnya.
Morgan mengepal jemarinya, ia tak habis pikir dengan wanita di hadapannya itu. Ia begitu tega membiarkan Utari pergi seperti itu.
“Kalau begitu, siapa yang memberikan uang itu pada ibu?” tanya Marwan.
“Nyonya!” jawab Sukma sambil tertunduk lesu. Ia pasrah dengan nasibnya kedepan. Nyonya mungkin saja akan menendangnya pergi dari rumah itu. Dan mungkin juga ia akan di ceraikan oleh suaminya.
Sukma tak peduli lagi semua itu. Setidaknya kini ia merasa lega karena mereka bisa membayar hutang Eko hingga lunas. Uang nyonya seharusnya bisa ia kembalikan kepada nyonya.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1