Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 54. Miracle Anakku.


__ADS_3

Morgan kembali terkulai di atas lantai setelah di dorong oleh Rayhan. Ia tak memiliki tenaga lebih untuk melawan Rayhan, seluruh tubuhnya terasa lunglai. Bahkan kepalanya kini mulai terasa pening akibat beberapa hantaman Rayhan.


“Miracle anak ku? Bagaimana mungkin Aku tidak mengenalinya selama ini.”


Masih kurang puas, Rayhan terlihat kembali mendekati Morgan. Ia kembali menarik kerah baju Morgan hingga terduduk di atas lantai.


“Aku tidak peduli sekaya apa dirimu, jangan pernah dekati sahabatku lagi. Sudah cukup penderitaan nya. Jika kamu menyakitinya aku akan,” Rayhan kembali mengangkat tinjunya mengarah ke wajah Morgan.


“Aku memang bodoh, aku bodoh, pukul aku. Aku tidak pantas untuk hidup,” ucap Morgan tak berdaya. Ia hampir saja menangis mengingat betapa ia telah menelantarkan anaknya. Beberapa kejadian kembali terngiang dalam benaknya. Kejadian saat ia dan Utari tidur bersama. Semua hal indah yang di anggap nya hanya mimpi.


“Hentikan!” Suara Utari terdengar nyaring di telinga Morgan. “Ray, hentikan Ray,” ulang Utari.


Mata Morgan menatap sosok wanita anggun di balik kebaya kuning keemasan yang sedang berdiri di belakang Rayhan.


Ya wanita itu Utari, ternyata Utari berada di acara itu. Wajahnya bahkan terlihat khawatir menatap Morgan.


“Apa yang kamu lakukan Ray,” Utari langsung menghampiri Morgan.


“Dia pantas mendapat pelajaran,” ucap Rayhan yang masih tersalut emosi.


“Tuan Morgan, kenapa bisa seperti ini,” ujar Utari yang kini terlihat panik. Kondisi Morgan terlihat lemah, darah segar mengalir dari hidung dan sudut bibirnya.


“Aku pantas untuk ini, bahkan kematian sekalipun tidak bisa menebus kesalahan ku kepada mu,” ucap Morgan lirih.


“Ray, bantu aku. Bawa dia ke dalam,” ucap Utari yang hampir saja menangis melihat keadaan Morgan, ia berusaha menarik tubuh Morgan agar berdiri.


“What! Tari, kamu masih ingin membantunya?” ucap Rayhan tak percaya. Utari masih saja bersimpati pada pria itu setelah mengusirnya pergi dari rumah.


“Ray,” pinta Utari sambil menatap Rayhan, ia kewalahan mengangkat tubuh jangkung itu.


“Ray, apa yang kamu lakukan?” suara Jessie yang baru saja tiba di situ.


“Sayang, a aku aku hanya.” ujar Rayhan terbata karena mendapat tatapan tajam dari Jessie.


“Bantu Utari, kita bawa dia ke dalam sebelum orang orang semakin banyak berkumpul disini,” ujar Jessie sambil menunjuk beberapa orang di belakang mereka.

__ADS_1


Akhirnya Rayhan membantu Utari membopong Morgan ke dalam ruangan. Ruangan tempat pengantin di rias yang kebetulan sedang kosong saat itu.


Morgan di rebahkan di atas kursi, Utari mulai membersihkan darah di hidung dan bibirnya.


Sementara itu, Jessie masih berdiri menopang tangan di pinggangnya menatap garang ke arah Rayhan.


“A aku hanya memukulnya beberapa kali, a aku tidak memukulnya terlalu keras. Itu hanya pelajaran baginya karena mencampakkan Utari. Lagian dia lebih dahulu memukulku,” ucap Rayhan membela dirinya.


Jessie akhirnya melemahkan hatinya. Ia mendekati Rayhan kemudian memeriksa pipi kanannya yang agak memerah.


“Tar, aku tinggal kalian di sini. Aku dan Ray harus kembali, ayah mencarinya, tamu tamu undangan masih menunggu kami,” ucap Jessie sambil menarik Rayhan menuju meja rias. Ia mengaplikasikan foundation ke wajah Rayhan untuk menyamarkan merah disana.


“Pergi lah Jess, aku akan di sini mengurus pria mabuk ini,” ucap Utari. Ia tau kalau Morgan seperti itu bukan karena di pukul oleh Rayhan, tapi karena pengaruh alkohol hingga ia tak bisa berdiri. Sedari tadi, Utari terus memantau Morgan, ia tau berapa banyak minuman yang sudah di minumnya saat itu.


“Aku akan meminta kak Serly ke sini menemani mu Tar,” ucap Rayhan sebelum pergi dari situ.


“Jangan Ray, aku akan mengurusnya sendiri. Jangan merepotkan yang lain,” ucap Utari sebelum Jessie dan Rayhan benar benar keluar dari pintu.


Sepeninggal sepasang pengantin itu, Utari menatap lemah wajah Morgan. Pria itu terlihat lemah bersandar pada lengan sofa.


“Utari,” Morgan berusaha mengangkat tangannya kemudian mengusap pipi Utari. Wajahnya terlihat sangat sedih, matanya berkaca kaca, memar di bagian pipi dan rambutnya urak urakan.


Ia berjalan menuju nakas mengambil sebotol air mineral untuk Morgan. “Minum lah, tuan harus segera pergi dari sini. Aku tidak ingin merusak acara penting sahabat ku,” ucap Utari.


“Pulang lah bersama ku, aku sudah mencari mu kemana mana, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi,” ujar Morgan.


“Sebaiknya tuan segera pergi dari sini. Lihat keadaan tuan seperti apa,” Utari membuang pandangan wajahnya ke arah lain.


“Tari, benarkah Miracle anak kita?”


“Tari dia anak ku. Kenapa kamu menyembunyikan nya selama ini?”


“Dia anak tuan atau bukan, tidak akan mengubah apa pun. Tuan tetap seorang pria beristri. Aku yang melakukan kesalahan karena meladeni tuan di saat tuan sedang sedang mabuk saat itu,” ujar Utari.


Mendengar hal itu Morgan bangkit dari sofa tempat ia duduk. Ia memeluk Utari dengan erat.

__ADS_1


“Aku yang salah, aku selalu mengira kejadian itu hanya mimpiku semata. Aku selalu membayangkan kejadian itu hanyalah mimpi. Karena hubungan kita, aku selalu menepis perasaan ku waktu itu. Tari, maafkan aku, biarkan aku menebus semua kesalahanku, pulanglah bersama ku,” ucap Morgan.


“Kembali ke rumah dimana istrimu tinggal?” Utari melerai pelukan Morgan. Ia bahkan mundur beberapa langkah. “Aku sudah memutuskan pergi dari kehidupan tuan. Bagaimanapun ia juga sedang hamil anak tuan.”


Morgan terdiam, mungkinkah Utari berpikir hal yang terjadi dengan dirinya juga terjadi dengan Selvie?! Ya pasti, ia tak akan pernah percaya karena alasan mabuk.


“Utari, aku sudah mencintaimu bahkan sebelum aku menyadari perasaan ku. Perasaan ku padamu jelas berbeda dengan perasaan ku terhadap Selvie. Aku mencintai mu, dan aku tau apa yang harus aku lakukan dengan wanita yang aku cintai, sekalipun aku mabuk. Aku ingat pernah melakukan hal itu dengan mu. Tidak dengan Selvie, aku tidak menyentuhnya aku yakin itu!” Terlihat keyakinan di mata Morgan. Ucapannya tidak ragu sedikitpun.


Utari melempar tatapannya ke arah lantai, ia tak berani menatap mata Morgan. Ia memang ragu kepada pria itu, ia tidak percaya pada ucapannya. Namun kalimat terakhir Morgan menimbulkan perasaan bersalah di dalam benaknya.


“Sebenarnya apa yang aku inginkan, jika aku mencintainya bukankah seharusnya aku percaya?”


Belum sempat Utari angkat bicara, Morgan sudah menghampirinya kemudian menatap Utari lebih dekat.


“Ok, aku akan menemui mu setelah hasil DNA nya keluar. Sampai saat itu tiba kamu tidak bisa menghindar dariku lagi. Sekarang ijinkan aku bertemu anakku. Dimana Miracle?”


“Anak? Ya Miracle anaknya. Seharusnya aku bahagia sekarang. Miracle akan memiliki seorang ayah,” batin Utari.


Tiba tiba suara pintu terbuka, Sitha tiba tiba masuk ke ruangan itu.


“Sitha dimana Mirey?” tanya Utari karena Sitha tidak bersama nya.


“Tadi seorang wanita mengambilnya, katanya teman mbak Utari. Dia juga kenal baik dengan Miracle.” jelas Sitha kemudian sedikit mengerutkan keningnya. “Tapi katanya mbak Utari sedang di meja nya. Mbak kok disini?” tanya Sitha sedikit heran.


“Wanita siapa? Kamu pernah bertemu dengan nya sebelumnya?” tanya Utari dan dijawab geleng kepala oleh Sitha.


“Ambil Miracle, bawa dia ke sini. Jangan sembarang memberikan Miracle kepada orang asing. Saya tidak tau siapa wanita yang kamu maksud,” ujar Utari.


“I iya mbak, saya cari Mirey sekarang.”


Utari dan Sitha bergegas keluar dari ruangan itu untuk mencari Miracle. Begitu pun Morgan, ia keluar dari ruangan itu. Perasaan nya sedikit tidak tenang mendengar ucapan Utari.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung…


__ADS_2