Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 43. Pergi II


__ADS_3

Sepeninggal Utari, keadaan di kediaman Milano kembali berjalan normal. Setiap pelayan bekerja sesuai tugas mereka masing masing. Selain Selvie dan Sukma tak ada yang tau jika Utari sudah pergi dari rumah itu.


Menjelang sore, Asty mulai merasa ada yang aneh, ia tidak melihat Utari sejak pagi. Bahkan celoteh si kecil Miracle pun tidak terdengar sama sekali. Karena kejanggalan itu Asty langsung menuju kamar Utari untuk mengecek keberadaan mereka.


Namun setiba di kamar itu, kamar terlihat berbeda dari biasanya. Beberapa barang terlihat berkurang. Utari dan Miracle juga tidak berada disana.


Karena rasa penasaran, Asty berjalan masuk untuk memeriksa laci pakaian. Asty terbelalak ketika membuka laci, tidak ada apapun didalam laci. Kemana semua pakaian Miracle yang bisanya tersusun rapih disitu. Apa Utari dan Miracle pergi dari rumah?


Asty mengecek laci lainnya yang hanya tersedia beberapa potong pakaian kemudian mengecek lemari yang hanya menggantung beberapa baju saja. Artinya Utari pergi, Utari dan Miracle pergi dari Rumah!


Asty berlari kecil menuju dapur, ia harus melaporkan hal itu kepada bu Sukma.


“Bu, mbak Utari pergi,” ucap Asty panik.


“Pergi?” Sukma berpura pura masuk ke kamar Utari kemudian mengecek barang barang di kamar itu.


Sukma mulai menangis sambil memanggil manggil nama Utari.


“Utari, kemana kamu pergi nak. Kamu pergi tanpa pamit dengan ibu, hiks hiks,” tangisan sengaja ia buat sebesar mungkin agar terdengar hingga keluar ruangan.


“Ada apa ini?” tanya Selvie yang baru saja tiba disitu.


“Mbak Utari pergi Nyah,” jawab Asty dengan polosnya.


“Pergi?” pekik Selvie seakan shock. Saat itu juga Selvie langsung mengambil ponselnya kemudian menghubungi Morgan.


“Mas, Utari pergi dari rumah.”


.


.


.


Di ruangan kantor. Setelah menerima panggilan telpon Selvie. Morgan terhentak kemudian berdiri dari kursi.


“Pergi? Bagaimana mungkin, pagi tadi dia masih,” Morgan tak melanjutkan kata katanya. Apa benar Utari pergi? Ia harus pulang untuk memastikan hal itu benar atau tidak.


Saat itu juga Morgan setengah berlari meninggalkan ruangannya. Hanya dalam sekejap ia sudah tiba di samping mobil yang sedang terparkir tak jauh dari pintu masuk kantor.


“Pak Danu,” teriak Morgan lantang.


Dari arah taman pak Danu berlari kecil menghampiri Morgan. Pak Danu segera merogoh kunci mobil dari dalam sakunya.


“Berikan kunci mobil saya sedang buru buru pak,” ujar Morgan.

__ADS_1


Ia langsung mengambil kunci dari tangan pak Danu kemudian masuk ke dalam mobil. Saat itu juga mobil segera melesat keluar dari parkiran itu menyisakan tanda tanya yang mendalam dalam benak pak Danu.


“Tuan kenapa?”


Dijalanan yang terbilang cukup padat akan kendaraan, mobil Morgan beradu melampaui beberapa mobil yang melaju perlahan. Pedal gas terus ia tekan agar bisa tiba dengan cepat di rumahnya.


“Tidak mungkin Utari pergi. Dia pasti hanya berjalan jalan disekitar rumah,”


Morgan mencoba menghubungi Utari dari ponselnya. Nomor ponsel Utari memang tidak bisa di hubungi.


Sambil terus fokus pada jalanan di hadapan, Morgan terus menghubungi Utari namun hasilnya nihil. Hingga akhirnya ia tiba di kediamannya.


Morgan berjalan cepat masuk dan langsung menuju kamar Utari.


Disana Sukma sedang duduk tersungkur di atas lantai sambil menangis tersedu.


“Tari, kamu kemana nak,” ucap Sukma terus terisak.


Tak tinggal diam Morgan segera memeriksa seisi ruangan termasuk lemari dan kamar mandi. Benar saja, Perangkat makan, susu dan popok Miracle sudah tidak ada di tempatnya. Bahkan pakaian pun lenyap dari dalam laci.


Morgan berdiri berpegangan pada nakas sambil tangan kiri mengurut pelipisnya. Ia sangat frustasi. Setelah masalah bertubi tubi yang ia hadapi di kantor, kini ia pulang kerumah karena harus mengurus masalah baru lagi.


Pikirannya mumet, terlebih saat mendengar tangisan bu Sukma yang tersedu berlebihan seolah Utari telah pergi untuk selamanya.


Morgan mengepalkan jemari tangan kanannya dengan keras. “Utari kamu pergi kemana?” gumam Morgan pelan.


Dari arah belakang Selvie berjalan mendekati Morgan kemudian memegang punggungnya.


“Mas,” panggil Selvie lembut.


“Pergi,” gertak Morgan.


“Kalian semua pergi dari sini!” teriaknya kemudian menghempaskan barang apa saja yang ada di atas nakas.


Semua barang berhamburan diatas lantai.


“Pergi!” ucapnya geram.


Saat itu juga, semua orang yang ada di kamar itu berlalu keluar.


Morgan duduk tersungkur di tempat ia berdiri. Tangannya berpegangan pada nakas sambil menitikkan air mata.


“Utari, mengapa kamu tidak memberiku kesempatan?”


Hingga beberapa saat Morgan masih merenung segala yang terjadi. Mungkin juga salah dirinya hingga Utari pergi. Ia masih kurang baik terhadap Utari.

__ADS_1


Morgan kemudian membuka laci dihadapannya di mana beberapa pakaian masih tersisa disana.


“Kamu bahkan pergi dengan buru buru hingga meninggalkan semua ini.”


Morgan menyentuh beberapa pakaian Miracle dari dalam laci. Baru saja sehari, ia sudah sangat merindukan bayi itu.


“Bagaimana jika aku merindukan anak itu? Kemana aku harus memcari kalian?”


Sebenarnya Utari dan Miracle lah yang menjadi penyemangat hidupnya akhir akhir ini. Disaat dirinya harus mengahadapi banyak masalah di kantor. Sosok Utari dan Miracle selalu menjadi mood booster nya hingga perlahan ia bisa melewati semua masalah. Kini…


Tak ingin tinggal diam, Morgan pun merogoh ponsel nya kemudian menghubungi Arlek orang kepercayaan nya yang bekerja dalam instansi intelejen.


“Arlek saya ingin kamu menemukan seseorang untuk ku,” ucap Morgan.


“Baik pak, kirimkan nama lengkapnya. Lebih baik jika ada foto orang tersebut.


“Nama dan foto akan saya kirim via pesan. Cari di semua tempat di kota ini. Wanita itu pasti belum pergi jauh, dia membawa anak bayi. Saya akan bayar berapa pun asalkan Utari bisa cepat ketemu,” ucap Morgan.


“Baik pak. Oh ya pak, sekalian saya laporkan ke bapak perihal nyonya Selvie. Hasil cctv dari butik nya dan beberapa tempat lain yang saya telusuri, nyonya Selvie tidak pernah bertemu pria lain. Beberapa kali ia terlihat makan siang bersama teman wanita dia selalu di temani sopirnya,” lapor Arlek.


“Eko!” gumam Morgan.


“Baiklah, kabari aku jika ada kabar mengenai Utari. Saya akan kirim data dan fotonya sekarang.”


“Baik pak.”


Panggilan berakhir dengan Arlek, kini ponsel dalam genggaman Morgan langsung menghubungi Eko namun nomornya sedang tidak bisa di hubungi.


Saat itu juga Morgan keluar dari kamarnya, ia menemui bu Sukma di ruang tengah.


“Bu Sukma, punya nomor telpon Eko yang bisa dihubungi?” tanya Morgan.


“Saya tidak punya tuan,” jawab Sukma.


Morgan pun meninggalkan ruang tengah dimana Sukma dan Selvie sedang duduk.


Ia berjalan keluar dari rumah itu menuju mobilnya yang terparkir persis di depan pintu rumah.


“Sebelum aku membawa Utari kembali, aku harus menemukan bukti bahwa anak dalam kandungan Selvie bukan anak ku. Aku harus menceraikan Selvie apa pun yang terjadi… Utari, jangan harap kamu sudah lolos. Setelah aku menemukan mu aku harus langsung menikahimu agar kamu tidak akan pernah kabur lagi.”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2