
Setelah memuntahkan semua isi perutnya, Morgan keluar dari kamar mandi. Didepan pintu Selvie sedang berdiri menyambutnya. Selvie mengenakan bathrobe berwarna putih, belahan dadanya tersingkap, Morgan mendapati sebuah tanda merah disana.
“Gimana mas sudah enakan?” tanya Selvie dengan mimik khawatir. Ia meletakkan gelas di atas nakas kemudian menuntun Morgan menuju ranjang.
“Mas minumlah air hangat ini,” Selvie kembali menyerahkan segelas air kehadapan Morgan.
Morgan mengambil gelas di tangan Selvie kemudian meminum seteguk. Beberapa saat ia kembali meneguk air dalam gelas itu. “Terima kasih,” ujarnya datar.
“Mas berbaringlah, aku sudah meminta Wiwi membuatkan bubur hangat untuk sarapan mas. Setelah sarapan pasti mas akan merasa lebih baik,” ujar Selvie sambil membantu menyelimuti tubuh Morgan yang saat itu hanya mengenakan handuk.
“Apa yang terjadi? Kenapa bisa mabuk separah ini. Aku sudah berusaha menghindari minum agar tidak seperti ini. Bahkan aku tidur dengan nya. Tapi.. aku tidak ingat apa pun,” batin Morgan.
“Mas, sedang merayakan apa dengan ayah?” tanya Selvie. Ia sengaja menarik perhatian Morgan agar Morgan menatap ke arahnya. Tali bathrobe yang sengaja tidak di ikat kencang membuat sebagian dadanya terbuka memperlihatkan sebuah bukit kembar miliknya.
Morgan menatap lebih jelas tanda merah didada Selvie, ia sangat yakin itu bukan perbuatannya.
“Mas,” Selvie meraih tangan Morgan kemudian menggenggam jemarinya. “Ternyata saat mabuk mas menjadi sangat bernaf-“
“Aku akan makan diluar,” potong Morgan. Ia langung bergegas berdiri kemudian keluar dari kamar itu. Melihat gemulai manja Selvie membuat Morgan sangat risih. Ia sangat tidak betah berada dalam kamar berdua bersama Selvie.
Walaupun masih terasa keliyengan Morgan terus berjalan menuju ruang makan. Di sana ia berpas pasan dengan Utari bahkan hampir menabraknya.
“Tuan,” ujar Utari heran saat itu Morgan berjalan cepat sambil memegang kepalanya. Bahkan Morgan hanya mengenakan handuk untuk menutupi pinggangnya.
“Tari, kamu disini? Dimana Miracle?” Morgan balik bertanya.
Wajah Utari menghindari menatap tubuh Morgan. “Tuan, kenapa tidak memakai pakaian?” tanya Utari.
“Ma maaf,” karena kebingungan Morgan hendak berbalik ke kamar. Namu Selvie sudah berdiri di belakang Morgan.
“Mas, pakaian mas sudah aku siapkan dikamar,” ujar Selvie sambil menatap mesra wajah Morgan.
Utari menatap selvie yang hanya mengenakan bathrobe. Tanda merah didadanya terpampang semakin jelas dibawah cahaya ruangan yang lumayan terang.
Tanpa berkata kata morgan langsung kembali ke dalam kamar.
“Kamu urus saja anak mu. Suamiku adalah tugasku, aku yang akan mengurus kebutuhannya luar dan dalam,” ujar Selvie kemudian berbalik menyusul Morgan ke dalam kamar.
Utari berdiri tak bergeming, perasaan panas mulai melanda. Ia merasa marah, sedih sekaligus kecewa melihat pasangan suami istri itu.
“Tugas suami istri, cih.”
Utari berjalan menuju kamar tamu yang kini menjadi kamar nya bersama Miracle.
”Pantesan nggak bisa dihubungi, ternyata sengaja nggak mau diganggu,” gumam Utari.
Tok tok tok
__ADS_1
“Utari,” panggil Morgan.
Utari berbalik badan membelakangi pintu sambil memasang wajah cemberut.
“Kenapa dokter sudah mengijinkan Miracle pulang?apa dia sudah benar benar sembuh?” tanya Morgan seraya berjalan menuju box bayi dimana Miracle sedang tertidur.
“Ya.” jawab Utari singkat.
“Baguslah,” ujar Morgan.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Morgan lagi.
“Ya.”
Situasi keduanya menjadi sangat canggung. Utari malas berbicara lebih, hatinya sangat kesal. Ia selalu mengira Morgan dan Selvie selalu tidur terpisah. Nyatanya, mereka tidur bersama semalam, bahkan melakukan percintaan hot hingga meninggalkan tanda merah di dada Selvie.
Morgan terus berbicara panjang lebar namun tidak mendapat tanggapan serius dari Utari. Morgan akhirnya sadar ada yang aneh dengan Utari.
“Tari,” panggil Morgan.
“Hmm.” Kata Hmm kelima yang di ucapkan Utari.
“Kamu kenapa? Kamu marah?” tanya Morgan.
“Marah? Buat apa marah?” jawaban ketus sekaligus sinis.
“Tuan tenang saja, aku baik baik saja,” ucap Utari tegas membuat Morgan sedikit kebingungan.
Tok tok tok.
“Mas, sarapan mas sudah siap,” suara Selvie dari depan pintu.
“Sarapan tuan sudah siap. Istri tuan yang mampu mengurus tuan sudah menunggu di luar,” sergah Utari rada ketus.
Morgan masih menatap punggung Utari. Sedari tadi wanita itu bicara tanpa menatap wajahnya. Morgan menjadi yakin kalau Utari pasti sedang marah.
Ia pun menghampiri gadis itu kemudian berdiri dihadapannya.
“Kamu marah? Karena aku tidak menjemputmu dari rumah sakit?” tanya Morgan sambil memegang pundak Utari dan menyimak wajah manyun itu.
Utari menunduk diam.
“Aku semalam terlalu banyak minum. Bahkan aku-“
Tok tok tok
“Mas,” panggil Selvie sambil membuka pintu kamar itu.
__ADS_1
Saat itu juga Utari menepis tangan morgan dari pundaknya. “Tuan sarapan lah, tuan tidak perlu khawatir lagi. Sekarang kami sudah dirumah,” ujar Utari sambil menatap wajah Morgan.
“Ada apa dengannya? Dia tersenyum tapi tatapan seperti ingin marah padaku.” gumam Morgan dalam hatinya.
Karena Selvie sudah menunggu, Morgan akhirnya keluar dari kamar itu.
Utari melempar kain yang sedang dipegangnya ke atas ranjang. “Dasar laki laki, tidak ada pendirian!” umpat Utari.
Sepeninggal Morgan, Utari kembali membenahi buffet pakaian milik Miracle. Ia melipat kembali baju yang berantakan. Hingga sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara pintu kamar terbuka.
“Utari, aku melakukan kesalahan apa? Kamu marah seperti itu membuatku tidak bisa makan dengan tenang,” ujar Morgan.
“Tuan kembali lagi ke sini, tuan tidak takut istri tuan akan marah?” ujar Utari.
Morgan diam sejenak.
“Sejak kapan aku peduli dengan istriku?” ujar Morgan.
“Cih, benar benar gada perasaan,” desis Utari pelan.
“Kamu bilang apa?” tanya Morgan.
“Kenapa tuan mengganggu disini, nyonya sudah menunggu tuan dikamar.” ucap Utari sambil menantang tatapan Morgan.
“Wajahnya terlihat frustasi, apa yang terjadi?” gumam Utari dalam hatinya setelah beberapa saat saling adu pandangan dengan Morgan.
Tiba tiba wajah Morgan tersenyum. Dan ia mulai tertawa.
“Haha, kamu seperti ini persis seperti sedang cemburu,” ujar Morgan riang.
“Cemburu? Tuan mau tidur dengan istri tuan, mau jungkir balik itu urusan tuan, kenapa aku harus cemburu?” sangkal Utari.
“Ya kamu cemburu.” ucap Morgan lagi. Morgan mendekati utari kemudian memeluknya. “Aku tidak tidur dengannya. Walaupun sangat mabuk, aku yakin tidak tidur dengan nya.”
“Tuan tidak mungkin ingat telah melakukan hal itu karena tuan mabuk,” sahut Utari yakin. Seperti kejadian dahulu, saat mabuk Morgan meniduri Utari bahkan hingga kini ia tidak tau apa pun.
“Aku yakin, aku tau apa yang aku lakukan. Walaupun mabuk aku tidak ingin tidur dengannya,” ucap Morgan.
“Tuan tak perlu meyakinkan ku, aku bukan siapa siapa tuan. Dan, tuan jangan seperti ini. Jika nyonya melihat kita nyonya pasti aka marah,” ujar Utari.
“Setelah semua nya beras kamu tidak perlu khawatir lagi. Tidak ada yang berani marah padamu dirumah ini,” sebuah kalimat ambigu. Seakan Morgan sedang memberikan harapan untuk Utari.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…