
Percakapan serius terjadi di halaman belakang rumah.
“Ibu tidak tau lagi harus mencari uang kemana. Rencana ibu gagal, Utari tidak jadi menikahi anak teman ibu. Bagaimana jika geng mokey itu menyakiti kamu nak?” Sukma menatap iba wajah anaknya.
“Ibu tenang saja, untuk sementara ini Eko aman bu. Kemaren Eko sudah setor 400 juta ke mereka.”
“Kamu dapat uang darimana? Jangan bilang kamu meminjam yang dari rentenir lain. Nak, jangan tambah masalah ibu nak,” Sukma menahan tangisan yang hampir saja pecah. Membayangkan seorang bos gangster bernama Mokey yang tak segan membunuh, bagaimana jika anak nya terjerat hutang lainnya dengan mafia lainnya.
“Aku tidak meminjam uang dari siapa siapa bu, uang itu murni adalah uang ku sendiri. Percayalah bu,” bujuk Eko. Iya dengan yakin menatap wajah sang ibu, karena uang itu memang adalah hasil kerja kerasnya di ranjang bersama Selvie. Tiba tiba terpikir sebuah ide dalam otak Eko. “Hmm, bu. Bagaimana jika ibu pinjam lagi dengan tuan Morgan?” bisik Eko.
“Pinjam lagi? Sudah berapa banyak pinjaman kita pada tuan, Ibu bahkan malu untuk menatap wajah tuan Morgan, hutang judi kamu sebelum nya pada tuan saja belum ibu bayar,” ucap Sukma sambil memukul punggung anak nya.
“Maaf kan aku bu, aku janji tidak akan berjudi lagi,” dengan semangat Eko mengangkat kedua jarinya. Ia bertekad dalam hati untuk tidak menginjak kan kakinya di rumah judi lagi.
“Dulu kamu pernah berkata begitu, nyata nya? Kamu terjebak seperti ini terus membuat ibu pusing, bagaimana jika terjadi apa apa dengan mu?” ucap Sukma khawatir.
“Jika memang takdir ku harus mati di tangan geng Mokey, aku bisa apa. Ini karma buatku.”
Sukma mengangkat kepalanya menatap ucapan bodoh anak laki laki kesayangannya itu. “Kamu sudah gila? Jamu ingin mati di tangan mereka? Hikss. Semua ini karena Utari, seharusnya hutang mu sudah lunas. Susah payah ibu merawatnya hingga besar. Sedikit balas budi saja tidak mau,” Sukma mulai terisak. Ia mulai melimpahkan kekesalannya pada Utari.
Sukma menarik tangan Eko kemudian menggenggam nya erat. “Pokoknya kamu harus hati hati, jangan keluyuran sendiri lagi. Ingat jangan sendirian di jalanan. Mereka bisa saja menemukan mu dan menghajar mu. Kamu mengerti?”
“Ibu tenang saja, aku tidak akan keluyuran lagi. Aku janji akan hidup lebih baik lagi dan bekerja lebih giat bekerja untuk membayar hutangku,” ujar Eko.
Mendengar ucapan anak nya, Sukma menjadi sedikit lega. Akhir akhir ini Eko memang terlihat sedikit berubah. Ia berusaha membayar hutangnya sendiri sudah merupakan sebuah perubahan sikap yang sangat bagus. Bahkan ia mulai sering pulang ke kediaman Milano untuk melihat sang ibu.
Kemudian dari arah teras belakang rumah, suara Selvie berteriak memanggil nama Eko.
“Eko!” sosok wanita cantik dan elegan itu muncul dari dalam rumah.
“Iya Nyah,” sahut Eko ramah.
“Eko, buruan.” Pekik Selvie. Ia menatap Sukma yang saat itu terlihat gelagapan sambil menyeka sisa sisa cairan dimatanya.
“A ada apa bu Sukma?” tanya Selvie.
__ADS_1
“Tidak Nyah, tidak ada apa apa, jalan lah sebelum kalian terlambat,” ucap bu Sukma.
Saat itu Eko dan Selvie langsung menuju mobil.
Setiba di mobil, Selvie yang masih dengan rasa penasaran bertanya kepada Eko.
“Ibu kamu kenapa?” tanya nya sambil menatap wajah pria dari spion mobil didepan.
“Itu nya, ibu menyuruhku supaya hati hati dan jangan kelayapan lagi,” jawab Eko.
Selvie mengangguk. “Ooh, aku berpikir ibu mu sedang kesulitan.”
“Tidak Nyah, ibu baik baik saja.”
Mobil pun terus melaju membawa Selvie menuju sebuah rumah makan Jepang yang terletak di kawasan kuningan.
Setiba dirumah makan itu, seorang wanita bernama Renata sudah menunggunya di sana.
Setelah memesan beberapa menu andalan rumah makan itu, Selvie dan Renata berbincang serius mengenai rencana mereka bekerja sama membuka pabrik sepatu di Bandung.
“Ya sudah Vie, ayo kita makan dulu. Nanti lanjut lagi ngobrolnya,” ujar Renata.
Selvie pun ikut melayani dirinya sendiri dengan sebuah piring kecil di depannya. Ia mulai mengambil satu persatu menu yang terhidang di atas meja.
Rasa lapar yang mendera Selvie tiba tiba berubah hilang setelah bau amis dari sashimi menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
“Ueek.”
“Napa Vie?” tanya Renata yang khawatir, Selvie hampir saja muntah akibat akibat sashimi yang sedang ada di atas sumpitnya.
“Ga tau Ren, kok sashimi nya amis banget ya?” tanya Selvie balik.
“Amis? Masa sih?” Renata mencomot satu potong daging mentah itu masuk ke mulutnya. “nggak ah. Kamu tau sendiri kualitas restoran ini. Kan ga mungkin ia menyajikan makanan basi ke pelanggan,” ujar Renata.
“Kamu aja yang makan sashimi, aku makan yang dimasak aja. Mungkin perutku lagi sensitiv,” Selvie mendorong mangkok sashimi ke hadapan Renata hingga aroma amis berkurang dari penciumannya.
__ADS_1
Selvie pun meraup sepotong tempura masuk ke dalam mulutnya, setelah beberapa kunyahan rasa mual kembali menderanya. Rasa amis makanan membuat nya neg dan ingin muntah. Ia berlari cepat menuju toilet.
“Ueek.”
“Ueeek.”
Aroma udang yang benar benar amis membuatnya ingi terus mengeluarkan makanan basi itu dari dalam perutnya.
“Vie, kamu nggak apa apa?” ujar Renata yang saat itu menyusulnya ke toilete.
“Maaf Ren, kayak nya perutku lagi ga bisa kompromi makanan Jepang deh. Padahal biasanya aku paling doyan, tapi…” kini Selvie bahkan menutup hidungnya agar bau bau amis makanan diluar tidak tercium olehnya. “Ren, pindah aja yuk. Kita cari tempat makan yang lain aja yuk,” ajak Selvie.
Renata kemudian bersandar pada wastafel di samping Selvie berdiri. Ia menyelidiki mimik wanita mual dihadapannya kemudian menggelengkan kepalanya.
“Kamu yakin kamu mual karena makanan? Kamu ga sedang hamil kan?” tanya Renata.
“Gila kali. Ga mungkin lah aku hamil. Aku belum…” Selvie berusaha mengingat ngingat tanggal terakhir menstruasinya. Lagian ia melakukan hal itu bersama Eko hanya 2 kali saat ia sedang mabuk. Selebihnya mereka menggunakan mengaman.
“Kok gila sih, wanita bersuami jika hamil kan wajar?” ujar Renata.
Saat itu juga mata Selvie terbelalak. Seharusnya ia haid dua minggu yang lalu. Tapi? Apakah mungkin ia hamil. Jika benar berarti?
“Ren, aku pulang dulu ya. Aku ingin memastikan hal ini dulu. Bye.”
Selvie mengambil tasnya di atas meja kemudian berjalan cepat pergi dari rumah makan itu.
“Bagaimana ini? Aku hamil anak Eko? Ya Tuhan, apakah ini hukuman ku. Aku hanya bermain main dengannya dan ini adalah hasilnya? Tidak, Eko tidak boleh tau hal ini, aku harus menggugurkan anak ini. Aku tidak ingin punya anak dari orang rendahan sepertinya.”
Dengan kalut Selvie berjalan keluar dari pintu. Ia tak habis pikir akan kebodohannya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung…