Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 34. Tak Percaya


__ADS_3

“Setelah sebelumnya marah marah karena Miracle rewel, sekarang apalagi?” gumam Utari sambil membersihkan botol minum si kecil Miracle. Dari tempat Utari berdiri suara Selvie yang terus mengomel masih terdengar.


Tiba tiba Asty tiba di situ dengan membawa sebuah mangkok makanan yang tidak di sentuh Selvie. Sambil cemberut Asty meletakkan kasar mangkok itu ke tempat pencucian piring.


“Ihhh, pengen Asty cubit rasanya. Kalo nggak mikir dia nyonya di rumah ini pasti sudah Asty lakukan. Sikapnya hari ini lebih buruk dari anak TK,” keluh Asty.


“Nyonya kenapa hari ini? Tadi marah marah karena aroma pel lantai, dia juga memecat kak Eko sebagai sopir pribadinya, dan sekarang marah karena makanan? Apa tekanan darahnya normal? Kamu ga bawa nyonya rumah kita ke dokter?” canda Utari karena bibir Asty terlihat sangat manyun, bahkan wajan goreng mungkin bisa menggantung di bibirnya itu.


“Mbak Utari, jangan becanda Asty lagi kesal. Biasanya Asty masak tomyam dimakan kok. Kenapa hari ini nyonyah banyak tingkah. Sampai pakai acara mau muntah segala!” lanjut Asty berkesah.


“Kamu juga, tadi kan sudah di request tanpa udang kenapa pakai udang?” tanya Utari.


“Nggak ada udang mbak, memang bumbu instan tomyam mungkin ada perisa udang nya. Kan bukan salah asty, salah bumbunya dong. Malah marah marah ga jelas,” ucap Asty sambil menatap makanan yang dengan susah payah dibuatnya tergelatak begitu saja di atas pencucian piring.


Utari menepuk punggung Asty agar bisa sedikit mengurangi rasa kesalnya. “Sabar, jangan di masukan dalam hati,” ujar Utari.


Beberapa peralatan makan dan minum Miracle sudah selesai di cuci Utari. Ia hendak berjalan keluar dari dapur itu kemudian Wiwi tiba di situ.


“Mbak Asty, untuk kesehatan nyonya dan janin dalam kandungan nya mohon sangat diperhatikan makanan yang di hidangkan. Mulai hari ini menu ikan dan Udang tidak dibolehkan ada di rumah ini. Karena aroma ikan ataupun udang bisa membuat nyonya mual,” ujar Wiwi dengan nada tinggi.


Mendengar ucapan Wiwi, langkah Utari terhenti.


“Kandungan?” gumam Utari. Ia berbalik badan menatap Wiwi. “Janin siapa?” tanya Utari penasaran.


“Siapa lagi yang bisa hamil disni selain nyonya, kenapa nyonya nggak boleh hamil?” Wiwi balik bertanya dengan tatapan sinis. Ia bahkan menarik sebelah sudut bibirnya seakan menertawakan Utari. “Nyonya hamil anak tuan, dia memliki suami. Berbeda dengan perempuan diluar sana yang tiba tiba pulang ke rumah membawa bayi tak jelas asal usul nya, cih,” desis Wiwi kemudian berjalan meninggalkan dapur itu. Ia bahkan menabrak Utari yang masih berdiri terkesiap.


Setelah beberapa saat Wiwi meninggalkan ruangan itu, Utari masih tetap berdiri sambil mencerna ucapan Wiwi. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan wanita itu.


“Mbak Utari.” ucap Asty sambil mengusap punggung Utari.


“Nggak mungkin dia hamil,” gumam Utari perlahan. Ia berjalan masuk ke dalam rumah mencari sosok wanita yang konon sedang hamil itu.


Saat itu Selvie tengah berselonjor nyaman di sofa kesayangan nya di ruang tengah. Sofa empuk tempat ia merilekskan tubuh dan pikiran sambil memijit mijit pelipis kirinya.


“Nyonya, benarkah ucapan Wiwi?” tanya Utari tanpa basa basi, ia sangat ingin jawaban pasti dari Selvie saat itu juga.


Melihat Utari yang sangat penasaran Selvie meluruskan badannya dengan susah payah.


“Wiwi mengucap kan apa?” tanya Selvie lemah.


“Benarkah nyonya hamil?” tanya Utari sekali lagi.


Melihat rasa penasaran di wajah Utari, Selvie menjadi bersemangat.

__ADS_1


“Ah Wiwi, Mas Morgan sendiri belum tau mengenai kehamilan ini, mengapa semua orang disini sudah tau duluan. Seharusnya hal ini akan menjadi kejutan untuknya,” gumam Selvie pelan namun sengaja agar Utari bisa mendengar hal itu. Setelah berhasil duduk lurus Selvie menatap wajah Utari dengan seksama, wanita itu masih menatap wajah Selvie menunggu jawaban nya. “Ya aku hamil, untuk lebih jelasnya aku akan mengajak mas Morgan ke dokter obgyn. Dia pasti akan sangat senang,” ucap Selvie puas. Secara tak langsung ia sudah melempar sebuah pukulan ke arah Utari wanita yang selalu di anggap saingannya selama ini.


Mendengar jawaban Selvie, Utari menjadi sedikit murung. Bagaimana mungkin nyonya hamil? Selama ini tuan selalu mengatakan tidak pernah menyentuhnya.


Utari berjalan lambat kembali ke kamarnya. Dalam hatinya ia berusaha memungkiri hal itu. Jawaban pasti apakah nyonya hamil atau tidak, adalah setelah memeriksakan diri ke dokter secara langsung. Nyonya pasti salah mengenai kehamilannya!


Sambil merawat Miracle yang masih agak rewel, mata Utari bolak balik menatap jam di dinding. Ia terus menunggu Morgan pulang ke rumah agar bisa membongkar kebohongan Selvie.


…..


Sementara itu di sebuah gudang besar di pinggiran kota. Dengan halaman luas dimana terparkir berbagai macam alat berat. Berbagai peralatan alat berat milik perusahan Milano tersimpan aman ditempat itu.


Menjelang sore mobil Morgan tiba di sana.


Mendengar kehadiran sang CEO, Pak Syarif yang adalah Manager gudang langsung menyambutnya.


“Selamat datang pak, mari Silahkan masuk,” sambut pak Sarif ramah sembari menunduk hormat. Sangat jarang CEO nya itu datang untuk memantau gudang. Biasanya ia akan mengutus orang yang datang atau pak Syarif sendiri yang akan datang menemuinya.


Morgan menuju ruangan luas dimana terdapat berbagai macam material bangunan.


Karena inspeksi langung dari sang CEO para mandor dan buruh bangunan yang sedang berada disitu menjadi kikuk. Mereka takut, apakah ada kesalahan yang mereka perbuat hingga bos besar langsung yang turun tangan?


“Pak, Silahkan duduk,” ucap pak Syarif setibanya mereka di ruang Manager.


“Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya pak Syarif.


“Panggilkan pak Marwan,” ucap Morgan.


“Pak Marwan, maksud bapak pak Marwan penjaga gudang kita?” tanya Pak syarif lagi.


“Ya pak Marwan Handoko!” tentu saja pak Marwan yang dimaksud Morgan adalah orang tua angkat Utari.


“Baik baik, saya akan bawa pak Marwan ke sini,” sahut pak Syarif Kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


Beberapa saat kemudian pak syarif dan pak Marwan tiba disitu.


“Pak, ini pak Marwan,” ucap pak Syarif.


“Pak Marwan duduklah,” Morgan meminta pak Marwan duduk dihadapannya.


Marwan dengan hati hati menarik kursi kemudian duduk disana. Sedangkan pak Syarif langsung meninggalkan ruangan itu.


“Tuan butuh sesuatu?” ucap Marwan kemudian.

__ADS_1


“Santai saja pak Marwan, saya ke sini mencari bapak langsung karena hanya disini kita bisa leluasa berbincang,” ucap Morgan.


“Baik, ada apa tuan?” tanya Marwan tanpa basa basi lagi.


Morgan mengeluarkan sebuah kartu dari dalam saku bajunya. ia menyerahkan kartu itu ke tangan pak Marwan.


“Ini apa tuan?” tanya pak Marwan.


“Gunakan uang ini untuk melunasi pinjaman keluarga bapak, saya tau keluarga bapak sedang terlilit hutang. Di dalam sini tersedia uang senilai 3 miliar. Sandinya 111111,” ucap Morgan.


“Tu tuan, jangan. Sa-saya tidak bisa menerima uang sebanyak itu dari tuan. Sebelumnya juga tuan sudah pernah membantu kami melunasi hutang kami, kami belum sempat membayar pinjaman kami sebelumnya,” tolak pak Marwan dengan terbata. Ia merasa sangat berhutang Budi kepada Morgan.


“Pak Marwan terimalah, anggap saja uang ini sebagai balas jasa saya karena keluarga bapak sudah menjaga Utari. Saya lihat akhir akhir ini, Utari ikut kepikiran dengan pinjaman keluarga bapak. Bapak sudah membesarkannya di bawah nama keluarga bapak saya sangat berterimakasih,” ujar Morgan.


Marwan tertunduk lesu. Ia menyayangi Utari seperti anak kandungnya sendiri tapi tidak dengan Sukma istrinya. Istrinya malah memanfaatkan Utari.


“Saya merasa malu kepada tuan, istriku tidak terlalu baik dalam merawat Utari dan Maafkan saya mengenai waktu itu, saya tidak tau kalau istri saya akan menjodohkan Utari dengan pria buta itu,” ucap pak Marwan.


Morgan tersenyum kecil mendengar ucapan tulus pak Marwan.


“Saat orang tua kami meninggal, saya baru berusia 14 tahun. Saya belum bisa menjadi orang tua wali untuk Utari. Satu satunya orang yang pantas menjadi walinya saat itu hanya keluarga pak Marwan, dengan begitu Utari akan selalu ada dalam pantauan saya. Saya sangat berterimakasih. Jadi bisakah bapak menerima uang ini?” ujar Morgan.


“Terima kasih tuan,” Marwan memutuskan menerima bantuan Morgan.


“Oh ya satu hal lagi, pak Marwan sebaiknya kembali bekerja dirumah sebagai tukang kebun. Usia pak Marwan sudah tidak muda lagi, pak Marwan sudah seharusnya istirahat dari pekerjaan berat ini,” ujar Morgan mengingat usia pak Marwan yang sudah memasuki usia lanjut dan ia masih harus mengawasi gudang besar itu. Ia harus terjaga di siang dan bahkan malam hari untuk memantau semua barang berharaga yang ada di situ.


“Ta tapi pak, siapa yang akan berjaga disini? Beberapa orang pekerja tidak jujur, jika tidak dijaga ketat akan banyak kehilangan,” ujar pak Marwan.


“Eko akan saya pindahkan ke sini,” ucap Morgan.


“Eko? Tuan terlalu baik. Bagaiaman mungkin ia percaya kelakuan si anak nakal itu. Anak itu tidak bisa diandalkan karena terlalu di manja oleh ibunya” batin pak Marwan.


“Baiklah, saya pulang dulu. Kalau ada yang kurang pak marwan bisa ke rumah mencari saya,” ujar Morgan. Ia kemudian bangkit dari kursi manager.


“Terima kasih pak, ini sudah sangat lebih dari cukup,” ujar pak Marwan. Ia menunduk dengan memegang kartu Atm ditangannya sambil terus mengucapkan terima kasih hingga Morgan keluar dari ruangan itu.


.


.


.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2