
"Dia bahkan merebut suamiku dari tangan ku, karena ia dan anaknya lah aku keguguran. Sekarang aku seperti ini karena dia," adu Selvie menambah seru pertikaian antara ibu dan anak itu.
Dengan cepat Utari menarik rambut Selvie yang hanya duduk berjarak dua meter di depannya.
"Auuhghh," pekik Selvie kesakitan. "Apa apaan ini?" sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Utari dari rambutnya.
"Anak ku hampir saja meninggal. Jika kamu tidak terobsesi dengan pria yang tidak mencintaimu, kamu tidak akan seperti ini," ujar Utari sambil terus menarik rambut Selvie.
Eko berusaha melerai Utari hingga mendorong Utari beberapa meter ke belakang.
"Jauhi tangan mu darinya, kamu menyakitinya," lerai Eko.
Utari tertawa sinis akan sikap Eko. "Kalian semua sama saja," ucap nya miris.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian," lanjutnya sambil menatap mereka satu persatu. "Dan kamu harus mendekam dalam penjara akibat perbuatanmu," ancam Utari pada Selvie.
"Kamu," Sebuah tamparan keras tiba tiba mendarat di pipi Utari. "Menyesal aku telah membesarkan mu." ucap Sukma dengan dengan amarah.
"Kapan ibu membesarkan ku?" tanya Utari seakan tak mengerti ucapan ibunya.
"Anak ini," Sukma sekali lagi melayangkan kelima jemarinya mengarah pada wajah Utari namun Utari berhasil menahan serangn itu.
"Ibu, aku sudah berusia 6 tahun saat masuk ke rumah ini. Kamu tidak sekalipun menyuapi ku makan, memandikan aku, membantuku belajar atau bahkan menemaniku tidur. Semua aku lakukan sendiri. Aku hidup dengan gajiku sendiri. Sejak kecil aku sudah menjadi pembantu dirumah ini. Jadi jangan pernah katakan dirimu yang membesarkan ku? Pernahkah sekali saja ibu menjalankan kewajiban ibu sebagai seorang ibu? Bahkan ibu tidak pernah datang ke sekolah saat di minta oleh guru? Jadi sekarang jangan berlagak sok menjadi ibu di hadapanku lagi," bantah Utari.
"Sifat mu memang tidak berbeda jauh dari kedua orang tuamu. Mereka seperti lintah yang hanya menempel di hidup orang. Bahkan tak punya rasa terimakasih sedikitpun kepada tuan dan nyonya yang telah menghidupi mereka. Memaksa tuan dan nyonya ikut penerbangan itu. Kemudian akhirnya tewas. Apa bedanya dengan dirimu?" ulang Sukma.
Ucapan yang tak ingin di dengar oleh Utari, namun Sukma terus menuduh ayah ibunya sebagai pembunuh.
"Kedua orang tuaku tidak membunuh mereka. Orang tuaku lebih dahulu tewas dalam kecelakaan pesawat tersebut. Ayahku yang menolong nyonya besar keluar dari pesawat, dan akhirnya ia dan ibu tewas dalam ledakan pesawat itu. Kamu pembohong," teriak Utari membantah setiap ucapan Sukma yang terus memojokkan dirinya bersama kedua orang tua nya.
__ADS_1
"Ketahuilah, bepergian ke Jepang itu adalah ide Ayah mu. Ayah mu membuat segala hal menjadi sulit bagi tuan dan nyonya. Ayah dan ibu mu hanya menjadi beban bagi tuan dan nyonya termasuk dirimu yang hanya menjadi beban bagi tuan Morgan. Bahkan kamu sengaja hamil anak tuan agar beban nya semakin berat untuk menghadapi kesialan ini. Perusahan nya hampir saja bangkrut karena dirimu," lagi lagi Sukma menimpakan kesalahan kepada Utari.
"Kedua orang tuaku bukan pembunuh," ucap Utari lirih.
Tanpa sadar perdebatan yang terjadi di dalam ruangan kamar itu terdengar dengan jelas hingga di luar kamar. Sejak beberapa menit terakhir Morgan sudah berdiri di sana mendengar semua percakapan mereka.
Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar sebelum tangan Sukma kembali melayang di wajah Utari.
"Hentikan!"
Morgan dengan mata membulat menatap Sukma dengan garang.
"Apa hak mu memukulnya?" Morgan menepis tangan Sukma dengan kasar hingga ia terdesak mundur beberapa langkah.
"Tuan, saya," wanita yang tadinya mendongak garang kapada Utari kini tertunduk.
"Kamu, polisi sudah menunggu mu di depan. Apa perlu mereka menyeret mu keluar dari sini?" Morgan menatap Selvie dengan enggan seakan muak dengan nya.
"Tuan, tolong jangan bawa nyonya ke dalam penjara tuan. Saya mohon, nyonya masih sakit, kesehatannya masih belum kembali normal seperti biasa karena keguguran itu," mohon Eko.
"Itu bukan urusan saya. Apa saya harus meminta polisi ke sini untuk menyeretny keluar?"
"Tuan, jangan tuan," Eko memegang kaki Morgan sambil mendongak. "Tuan, bukankah tuan berjanji akan meringankan hukuman nyonya saat aku memberitahu keberadaan Miracle waktu itu. Tuan tepati janjimu," lanjutnya.
Mata Utari keheranan melihat sikap Eko, sangat jarang ia peduli dengan orang lain. Bertahun tahun ia menjadi adik angkat pria itu, tidak sekalipun Eko peduli terhadapnya. Dan Selvie? Selvie bukan siapa siapa Eko dan kini Eko sampai rela bersujud seperti itu.
"Kak, dia bukan siapa siapa kakak. Apa jangan jangan?!" Utari membayangkan sesuatu yang mustahil. "Kak Eko mencintai nya?" tanya Utari.
Eko menurunkan pandangannya menatap lantai.
__ADS_1
"Saya bersedia menanggung semua perbuatan nyonya," ucap Eko masih menunduk dibawah kaki Morgan.
"Eko," Sukma tentu saja melarang putranya melakukan hal itu.
"Nyonya masih sakit tuan, infeksi karena pendarahan selama pelariannya membuat ia drop seperti ini. Nyonya masih harus dalam perawatan medis," ujar Eko.
"Kamu tidak harus melakukan ini, kamu mau menggantikan orang di penjara. Kamu sudah gila," larang Sukma.
"Tuan, Utari, Nyonya hamil anak saya, sudah seharusnya saya menggantikannya selama ia masih belum pulih. Saya tidak ingin terjadi sesuatu dengannya. Saya," Eko menatap Utari dan Morgan bergantian. "Setidaknya sampai nyonya swmbuh dengan semourna."
Mendengar ucapan Eko, Morgan mengusap wajahnya kasar. Perbuatan Selvie selama ini menjebaknya dengan kehamilan. Akhirnya sekarang terungkap, anak itu memang bukan anak Morgan. Ia tak pernah menyentuh wanita itu.
Morgan tertawa sendiri mengingat betapa beberapa tahun terakhir ia bertahan dengan pernikahan konyolnya bersama Selvie. Ia tak merasa bahagia sedikitpun.
Morgan maju beberapa langkah berdiri di hadapan Selvie. Ia menatap wanita itu garang.
"Kamu adalah dalang dari semua masalah di rumah ini. Kamu dan ayahmu menawarkan pernikahan padaku untuk menjebakku sehingga aku hampir saja kehilangan perusahan yang dibangun kedua orang tuaku. Dan aku hampir saja kehilangan orang yang aku cintai gara gara kamu. Apa aku masih mungkin memaafkan mu sekarang?" ucap Morgan pada wanita yang terus berdiri mematung.
"Asty," teriak Morgan lagi. "Minta pak Yadi ke sini. Dia akan mengurus wanita ini, hukuman nya harsu setimpal dengan perbuatannya." ucap Morgan kepada Asty yang saat itu sedang berdiri di luar pibtu.
"Tuan, jangan tuan. Saya mohon, jangan hukum nyonya tuan. Hukum saya saja," mohon Eko di bawah kaki Morgan.
Beberapa kemudiansaat dua orang polisi masuk ke ruangan. Setelah memborgol tangan Selvie, mereka membawanya keluar dari ruangan itu. Eko masih berusaha memohon pengampunan untuk Selvie. Setidaknya hingga Selvie benar benar pulih untuk menjalani hukuman atas perbuatannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...