Pembantu Meresahkan

Pembantu Meresahkan
Bab 33. Teman Terbaik


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah klinik anak. Miracle dan Utari baru saja keluar dari ruangan dokter. Di depan pintu, Asty dengan setia menunggu mereka di sana.


“Gimana keadaan Miracle?” tanya Asty.


“Kata dokter hanya demam biasa karena gejala flu,” sahut Utari.


“Syukurlah, jadi kita bisa langsung pulang sekarang?” tanya Asty lagi.


“Ya, tapi kamu tolong belikan resep obat ini di apotik, aku akan menunggu temanku disini, dia akan mengantar kita pulang,” ujar Utari.


Dengan patuh Asty mengambil resep obat dari tangan Utari kemudian menuju ruang obat. Ia menyerahkan lembar resep itu ke tangan seorang wanita.


Sementara itu, utari tetap berdiri disitu. Matanya terus menatap ke arah pintu. Beberapa saat kemudian sosok yang di tunggu Utari tiba.


“Tari, Miracle,” teriak Jessie. Ia langsung berlari ke arah utari kemudian memeluk mereka.


“Kamu pa kabar Jess,” tanya Utari.


“Baik, baik banget. Aku kangen kalian,” ujar Jessie kemudian memegang tangan Miracle. “Hai anak angkatku, kamu semakin besar ya, kamu masih kenal momy jess kan sayang,” ujar Jessie pada si kecil Miracle.


Karena agak demam, Miracle hanya menatap sebentar wajah Jessie kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Utari.


“Miracle kenapa tar, sakit apa?” tanya Jessie lagi.


“Dia Demam, agak flu.”


Beberapa saat kemudian Asty tiba disitu. Saat itu juga mereka langsung meninggalkan tempat praktek dokter anak tersebut.


Sebuah mobil mewah yang di kendarai oleh Jessica terus melaju menerobos keramaian ibukota. Seperti biasa, di jam makan siang seperti itu kendaraan akan padat merayap dari segala arah. Namun suasana macet dan riuh kendaraan diluar tak membuat kedua sahabat yang lama tak bersua itu itu bosan.


Terlebih pembahasan seru mengenai mereka adalah mengenai Jessie dan Rayhan yang akan menikah bulan depan. Tentu saja Utari sangat mendukung hubungan kedua sahabatnya itu, walaupun sebenarnya hubungan mereka masih terbilang sangat labil. Jessie si gadis manjah dan Rayhan si pria kaku.


“Yah, aku sebenarnya belom pengen buru buru nikah Tar, pengen santai, Relax, enjoy menikmati masa muda ku. Tapi si blekokok Ray malah menerima permintaan ayah,” kesah Jessie.


“Ya bagus dong, itu artinya Ray serius menjalin hubungan dengan kamu,” tanggap Utari.


“Hm karena ayah mengancam akan mengirimku ke London. Boro boro, bahasa indon aja belibet gimana bahasa Inggris? Tapi si blekokok percaya. Dia ga mau ayah mengirim ku ke London jadi dia terima begitu saja saat di suruh nikah,” ujar Jess lagi.

__ADS_1


Utari terkekeh kecil. Kedua sahabatnya itu saling mencintai, walaupun pertengkaran sering menghiasi hubungan mereka. Semoga saja seiring berjalannya waktu, hubungan mereka akan semakin dewasa dan kokoh.


“Ray takut kehilangan kamu,” tanggap Utari dengan senuman menatap wajah Jessie. Namun tiba tiba wajah Jessie berubah, ia seperti cemas akan sesuatu. “Kenapa, kamu belum siap nikah?” tanya Utari.


“Bukan soal itu. Masalahnya, ayah hanya memliki seorang anak yaitu aku. Takutnya ayah akan membebani Ray dengan urusan perusahan. Kasihan Ray,” ucap nya kini dengan wajah cemberut.


“Loh, itu kan memang sudah jadi tanggun jawab kalian sebagai anak. Jelas kalian yang akan menjadi penerus, kenapa harus kasihan?” Utari mencoba memeberi pencerahan pada sahabat nya itu.


“Aku hanya nggak ingin Ray menjadi seperti ayah, terlalu sibuk mencari uang hingga jarang pulang. Dahulu aku hanya bertemu ayah seminggu sekali. Perhatian yang di berikan ayah hanya terlihat dalam bentuk uang saja. Hingga akhirnya aku terbiasa tidak butuh perhatian ayah. Sedangkan Ibu, ia hidup dengan organisasi nya untuk mengisi waktu luangnya. Bagaimana denganku? Aku tidak ingin hidup ku dan Ray menjadi seperti hidup kedua orang tuaku!”


Tangan Utari kemudian menghampiri kepala Jessie Kemuidan mengusapnya pelan.


“Kamu dan Ray tak harus menjalani hidup seperti itu. Aku percaya, kalian pasti punya cara kalian untuk selalu bersama.”


“Caranya?” dengan cepat Jessie menyahut. Ia sendiri tak yakin dengan masa yang akan terjadi di depan.


“Cara nya, hmmmm.” Utari berpikir sebuah kata yang bisa mengurangi gejala gamophobia sahabatnya itu. “Kamu mengenal Ray sudah lebih dari 5 tahun. Apa kamu pernah merasa bosan saat di dekatnya?” tanya Utari.


Jessie berpikir sejenak, “bosan si nggak. Cuman kadang Ray sangat menjengkelkan,” ungkapnya.


Tiba tiba Jessie terkekeh kecil. “Ya, aku butuh dia, rasanya ada yang kurang jika Ray nggak ada. Ray selalu sabar saat bersama ku, dia nggak pernah cerewet, dia selalu patuh, walaupun agak kaku tapi Ray orang yang asik,” ujarnya.


“Itu berarti suatu pertanda bahwa kalian cocok, seperti itu lah sifat dasar Ray. Bahkan setelah kalian menikah dia pasti akan selalu ada di sisi mu karena kamu orang yang selalu ingin dia ada disisimu,” ucap Utari.


Tiba tiba mata Jessie melirik Utari sejenak, ia kembali fokus pada jalanan di depan yang masih padat akan kendaraan.


“Cih, kamu mengajariku seperti seorang pakar dalam berumah tangga, bagaimana dengan kamu. Kamu sudah katakan pada majikan mu siapa ayah anak mu?” ucap Jessie keceplosan.


Mata Utari dengan cepat berkedip, ia memberi kode bahwa Asty ada di kursi belakang. Ya Jessie lupa akan keberadaan Asty karena sejak berada di dalam mobil ia diam tak mengucapkan sepatah katapun.


“Hmm, ooo. Sorry,” gumam jessie sambil membulatkan bibirnya.


Utari masih merahasiakan siapa ayah kandung Miracle, mungkin ia memiliki alasan yang tepat hingga tak berani mengungkap fakta itu. Bagaimana jika Morgan tau Miracle adalah anak nya, apakah ia akan menikahi Utari, atau mungkin Utari takut Morgan akan mengambil anaknya?!


Jessie membuat pertimbangan sendiri tentang maksud Utari. Semuanya ia serahkan ke tangan Utari, apapun keputusan Utari, sebagai sahabat Jessie pasti mendukung.


“Oh ya, bagaimana Wisuda kalian?” tanya Utari kemudian mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Akhirnya pembicaraan Utari dan Jessie berlanjut ke rencana wisuda Jessie dan hingga beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba dirumah.


“Jess, maaf ya belom bisa ajak kamu mampir,” ucap Utari.


“Ga apa. Oh ya, kalau butuh sesuatu jangan lupa hubungi aku tar, mulai sekarang aku stay di Jakarta jadi kapanpun kamu butuh aku akan selalu ada,” ujar Jessie.


“Makasih kamu teman terbaiku,” Utari memeluk Jessie beberapa saat. “Oh ya, semoga sukses dan lancar hingga hari H. Aku juga akan selalu mendukung kalian.”


“Makasih.” balas Jessie.


Utari pun keluar dari Mobil.


“Bay, tari, bay Miracle.” teriak Jessie sebelum meninggalkan halaman rumah itu.


Utari melangkah menyusul Asty masuk ke dalam rumah. Rumah yang sudah di huninya sejak ia berusia 6 tahun. Kini rumah tersebut terasa asing. Ia merasa tak nyaman berada dirumah itu.


Memasuki kamar, Miracle yang tadinya tertidur dalam pelukan Utari terbangun. Miracle mulai menangis nangis kecil karena memang sejak semalam bayi kecil itu agak rewel karena demam.


Buk buk buk.


Suara pintu kamar yang di pukul dengan kasar dari arah luar.


“Berisik banget, bisa diam gak?” teriak Selvie dari arah luar pintu. Seketika itu juga Miracle menangis sejadi jadinya karena kaget.


Melihat tingkah Selvie yang sudah kelewat batas, Utari keluar menghampirinya.


“Nyonya, Miracle sedang sakit. Suara nyonya bisa sedikit kecil kan?” ujar Utari pada wanita yang sedang melipat tangannya di dada.


“Aku juga sedang tidak enak badan, aku ingin istirahat. Aku ingin rumah ini tenang. Aku tidak ingin ada suara tangis bayi disini. Membawa sial!” gertak Selvie. Dia tersenyum sinis asimetris, tatapannya nyeleneh dan tak peduli dengan hal apa pun lagi.


.


.


.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2