
Sejak Morgan turun dari mobil, mata Selvie diam diam sudah mengikuti ke mana arah pria itu berada. Saat Morgan duduk di meja bundar bersama beberapa tamu asing lainnya, Selvie duduk berjarak empat meja di sebelahnya. Saat Morgan menuju meja minuman yang tersusun rapih kemudian meneguk minuman dalam gelas itu satu persatu, Selvie terus mengintai di balik kerumunan para wanita.
Hingga saat Morgan menuju panggung dan berbincang dengan si pengantin pria, Selvie mengikutinya dengan jarak 20 meter di belakangnya. Ia diam diam berada di belakang Morgan.
“Apa yang di lakukannya?” gumam Selvie saat Morgan dan si pengantin pria berjalan keluar menuju pintu samping.
Selvie terus mengikuti mereka hingga tiba di koridor samping.
Setiba Selvie di sana ia tersentak kaget, Morgan terlihat memukul si pengantin pria. Adu mulut terdengar samar di antara mereka. Akhirnya Selvie memberanikan diri agar lebih mendekat. Toh Morgan kelihatannya sudah terpengaruh dengan minuman keras, itulah mengapa otak nya sedikit tidak bisa di kontrol. Berani nya dia memukul si pengantin pria masih dalam acara pernikahan.
“Bug Bug Bug,” suara pukulan yang lebih keras di berikan si pengantin pria. Morgan terlihat terhuyung ke arah lantai. Saat itu Selvie berniat melerai perkelahian itu, namun niat nya terhenti saat mendengar ucapan si pengantin pria yang semakin jelas maksudnya.
“Pria bodoh, anak kamu. Miracle anak kamu, kamu tolol tidak bisa mengenali anak mu sendiri. Sekarang jangan pernah dekati mereka lagi, jika sekali lagi Utari menangis karena kamu, aku akan membunuhmu,” ucap si pria berjas putih keabuan pada Morgan.
Langkah Selvie terhenti, ia mencerna maksud dari ucapan itu. Mulutnya ternganga sambil tangan kirinya menutup di atas nya.
“Maksudnya Miracle adalah anak Morgan. Tidak mungkin,” gumam Selvie. Perlahan langkahnya bergerak mundur. Jika Miracle adalah anak Morgan, peluang dirinya untuk mendapatkan Morgan semakin mustahil. Morgan sudah menyukai anak itu, bahkan sebelum ia tau jika anak itu adalah anaknya.
“Wanita murahan sialan, aku harus menemukan kalian sebelum Morgan,” maki Selvie dengan kesal mengingat wanita yang bukan siapa siapa itu selalu menjadi penghalang meskipun ia sudah pergi jauh dari kota itu.
Selvie berbalik badan, kemudian keluar dari koridor itu. Ia masuk kembali menuju ballroom dimana para undangan masih begitu ramai. Tanpa sadar sosok Utari terbesit dalam bayangannya berjalan keluar menuju koridor.
“Itu Utari?” gumamnya pelan seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Tapi?” keraguan muncul dalam hati Selvie. “Tidak mungkin, Utari bisa hadir di acara sebesar ini. Lagian?!” Ia menepis pikirannya sendiri, mengingat wanita yang di lihatnya mirip Utari itu berseragam sama dengan keluarga para pengantin. “Mereka pasti hanya Mirip.”
Selvie hendak berjalan keluar dari ballroom itu, Kemuidan tanpa sengaja seorang wanita muda melintas di hadapannya. Wanita berseragam baby siter itu sedang menggendong Miracle.
“Mi Miracle?” ucap Selvie spontan.
__ADS_1
Wanita yang menggendong Miracle berhenti kemudian tersenyum menatap Selvie.
“Miracle kamu Miracle? Aku mencari mu ke mana mana?” ucap Selvie bersahabat.
“A anda siapa?” tanya wanita berseragam putih itu.
“Oh ya, aku sahabat ibunya. Ibunya sedang di mejaku. Tante sudah berkeliling mencarimu nak, duh kangennya,” Selvie langsung mengambil Miracle dari pelukan Sitha.
“Tenang saja, aku dan mamanya bersahabat. Aku akan membawanya ke mamanya, Utari di mejaku,” ucap Selvie samhil menunjuk arah mejanya di arah ujung.
Sitha memgangguk, wajar jika sahabat sahabat Utari hadir di situ, yang menikah adalah teman kuliahnya, wanita itu pasti benar sahabatnya.
Selvie pun berlalu menuju arah yang di tunjuknya, sementara Sitha hanya menatapnya berlalu hingga menghilang di balik keramaian.
Selvie membawa Miracle keluar dari ballroom menuju lobby hotel. Lalu lalang para hadirin acara saat itu mengalihkan perbuatan Selvie. Ia segera menuju sebuah taxi yang terparkir tak jauh dari parkiran.
.
.
.
Sementara itu keadaan di ballroom hotel JC elite beberapa jam setelah Miracle menghilang terlihat lengang, beberapa polisi sibuk mengawasi beberapa rekaman CCTV loby hotel tersebut. Semua keamanan hotel telah di kerahkan untuk mencari Miracle dalam radius beberapa kilometer dari hotel. Seluruh kekuarga masih cemas menunggu kabar berita dari semua orang yang turut berpartisipasi dalam pencarian tersebut.
Rayhan dan Jessie sedang menelusuri semua taxi yang memuat penumpang wanita dan bayi malam itu. Sebuah taxi mengaku mengantar seorang wanita dan anak kecil ke arah terminal bis, namun setelah penumpang turun sopir taxi itu tak tau kemana tujuan mereka pergi.
Sedangkan Utari dan Morgan menyisir setiap jalan jalan di dekat terminal. Setiap info dari Rayhan dan Jessie telah mereka datangi. Sambil membawa foto si kecil Miracle, Utari bertanya kepada setiap orang yang di temuinya..
Malam semakin larut, hampir setiap taxi yang mengangkut penumpang wanita dan bayi telah mereka telusuri. Terminal dan beberapa rumah telah mereka datangi namun tak membuahkan hasil.
__ADS_1
Sambil menangis Utari masih berupaya mencari keberadaan anaknya.
“Mirey, kamu dimana nak,” ucap Utari lirih sambil tersungkur di depan pagar sebuah rumah. Rumah terakhir yang baru saja menurunkan penumpang wanita dan serang bayi. Namun bayi yang di bawa wanita itu bukanlah Miracle.
Utari menangis semakin menjadi, tatkala Morgan mendekati dan mengusap punggungnya air matanya pun semakin mengalir deras.
“Aku akan mencari Miracle, kamu istirahatlah dulu. Bagaimana kalau aku mengantar mu pulang?” bujuk Morgan yang ikut duduk di samping Utari.
“Bagaimana aku bisa pulang, anakku belum ketemu. Aku tidak bisa tidur jika dia belum ku temukan. Aku harus mencarinya,” ujar Utari.
Morgan menarik kepala Utari kemudian menyandarkan kepala itu di dadanya. “Kita akan mencarinya, aku sudah mengirim orang ke beberapa rumah yang di curigai akan di datangi Selvie. Jika benar selvie yang menculik Miracle aku yakin ia tidak akan melakukan apa pun dengan nya. Karena Selvie menginginkan ku bukan Miracle.”
Mendengar ucapan Morgan, Utari mendongak menatap wajah pria itu. Rahangnya mengeras, ia terlihat sangat marah dan juga kecewa.
“Benarkah selvie yang menculik nya? Tapi kenapa?”
Morgan menggeleng. Ia kemudian mengambil tangan Utari kemudian menggenggam jemarinya.
“Kita masih belum tau siapa yang membawa Miracle. Jika wanita itu seorang penculik pasti ia akan segera menghubungi kita dan meminta uang tebusan. Aku janji akan melakukan apa pun untuk membawa pulang anak kita,” ujar Morgan dengar rahang mengeras.
Morgan dan Utari pun melanjutkan pencarian. Mereka berkendara tanpa arah dan tujuan. Dengan selembar foto di tangan, Utari terus bertanya pada siapa saja yang mereka temui hingga pagi menjelang.
.
.
.
Bersambung…
__ADS_1