Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Perduli


__ADS_3

Setelah sekian lama mereka bertiga mengobrol. Akhirnya mereka pun bubar dan berjanji minggu depan mereka akan bertemu dan mengobrol di Vila nya Deri+tempat tinggalnya Arya.


Mereka bertiga mengendarai kendaraannya masing-masing, Aldo dengan mobilnya. Deri dengan motornya, begitupun dengan Endro dan Arya yang menaiki motor kesayangannya.


...---...


Di suatu hari Arya sedang bertugas di rumah sakit dan tiba-tiba bertemu dengan Lica yang tengah membawa omanya untuk berobat atau cek up.


“Halo, kau di sini lagi?” sapa Lica dengan ramah dan senyuman yang manisnya.


“Hi, kau juga ada di sini?” balas Arya sambil mengulurkan tangannya.


“Aku ... sedang membawa oma ku cek up. Kau dokter kan di sini?” selidik Lica.


“Bukan ... aku Cuma mantri saja kok.” Elak Arya yang menyembunyikan identitasnya yang sebagai dokter bedah.


“Em ...” gumamnya Lica, namun dia percaya kalau pemuda yang berada di hadapannya itu seorang dokter dan ia diam-diam memang mencari info tentang pria yang dia taksir tersebut.


“Kapan kamu ada waktu? kita makan malam atau nonton?” tawar Lica, gadis yang dengan berani mengajak prianya jalan. Sungguh gadis jaman sekarang lebih berani mendekati prianya.


“Em ... entah, aku sibuk cari sampingan mencari uang tambahan,” akunya Arya sambil berjalan pelan.


“Kapan pun waktunya, kasih tahu aku ya?” sambung Alisa sambil berjalan juga.


“Emangnya tidak akan ada yang marah apa? bila kau jalan denganku?” selidik Arya khawatir ada yang marah.


Lica menunjukan senyumnya yang merekah lalu kemudian baru lah bicara. “Tidak, siapa yang marah pada ku. Oma?”


“Mungkin, kali saja kekasih mu atau suami mu,” tambahnya Arya sembari melirik dan menatap wajah gadis itu..


Lica membalas tatapan pemuda tersebut yang bikin jantungnya berdetak dengan cepat, keduanya saling pandang sesaat. “Enak saja, pacar pun gak ada apalagi suami.”


“Oya, masa sih gadis secantik kamu itu gak punya pacar?” Arya tidak percaya begitu saja.


‘Ahc, terserah lah mau percaya syukur ... nggak juga shukur, yang jelas ... bener kok,” tambahnya Lica sambil mengalihkan pandangan ke lain arah.


“Em, okay. Aku mau bekerja dulu, senang bertemu denganmu di sini.” Arya segera berlalu sembari melihat jarum jam yang ada di tangan.

__ADS_1


Lica pun tersenyum melihat ke arah Arya yang berlalu pergi dengan begitu cepat. “Selamat bekerja cinta ku,” ucap Lica sambil mengulas senyumnya.


Arya memasuki ruang kerjanya dan lalu keluar kembali untuk menjenguk pasien yang masih berada diruang gawat darurat.


“Bagaimana kabar pasien ini sus?” tanya Arya pada seorang suster yang kebetulan berada di sana.


“Hari ini juga bisa di pindahkan, dok. Karena kondisinya sudah memungkinkan untuk dipindahkan,” sahut nya suster tersebut.


“Bagus lah kalau begitu,” Arya mendekat pada pasien yang sedang tidur.


Kemudian Arya keluar lagi dan berjalan di koridor rumah sakit untuk menemukan pasien lainnya.


“Kau tahu kan saya berobat ke rumah sakit ini bukan baru sekali atau dua kali saja, tap ratusan, kalau kalian tidak bisa melayani pasien dengan baik, sudah lah jangan di buka. Tutup aja sekalian.” Sergah dari wanita tua itu yang nafsunya masih besar.


“Maaf, Bu ... dokter ahli yang selalu menangani anda sedang berhalangan datang, sekali lagi kami memohon maaf. Atas ketidak nyaman nya?” ucap suster tersebut.


“Oma ... sabar, malu lho. Kita temui saja dokter lain, Oma.” Lica menarik tangan sang oma.


“Yang lain gimana? kan itu dokter kita dan tidak segampang itu untuk ganti, berarti harus dari awal lagi,” kekeh omanya.


“Ada apa ini? apakah ada yang bisa saya bantu?” suara Arya menghampiri yang sedang ribut itu.


Lica menoleh pada sumber suara dan langsung melempar senyumnya. “Kamu?”


“Dok, ini. Nyonya ini ada janji dengan dokter Mulya dan dia benar-benar ada halangan sehingga berhalangan


datang, dan nyonya ini marah-marah—“


“Saya bukannya marah-marah, saya ini Cuma bilang, kesini itu sudah hampir ratusan kali namun pelayanan kalian bikin saya kecewa,” ibu itu memotong perkataan dari suster.


Arya menatap keduanya bergantian. “Oke, dokter Mulya memang sedang mengalami kemalangan dan beliau berhalangan datang, jadi kami memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidak nyamanan, Nyonya dan keluarga. Dan ini bukan lah darurat kan?” lirihnya Arya sambil melirik ke arah Lica yang menunjukan senyumnya ke arah pemuda tersebut.


“Tidak usah, saya tidak ingin dokter lain.” Ketusnya ibu tersebut.


“Makasih ya dok? kamu sudah ikut menjelaskan,” ucap Lica sambil tersenyum manis ke arah Arya.


“Sama-sama.” Arya mesem.

__ADS_1


“Oke, Oma. Kita pulang saja dan lain kali kita ke sini lagi.” Ajaknya Lica langsung memegangi tangan omanya tersebut.


“Baiklah, kita pulang saja. Percuma juga datang ke sini.” Balasnya oma nya sambil memutar badannya.


Lica berpamitan pada Arya dan suster. Setelah itu barulah dia pergi bersama omanya.


Arya menatap punggung ibu tersebut yang mungkin usianya lebih muda dari omanya, berasa ada yang aneh. Berasa kenal dan tapi gak kenal.


...----...


“Bi, siapkan makan buat saya?” pinta Kayla dengan nada songong.


“Iya, Non. Bibi mau mengantar ini dulu ke Oma di kamar.” Bi Meri mengangguk namun dia sedang memegang nampan berisi segelas air putih dan bubur.


“Bi, siapkan saya makanan sekarang juga! dan itu simpan saja dulu,” pinta Kayla kembali.


Bi Meri menggeleng, lalu menoleh pada temennya dan menyuruh dia untuk menyiapkan makan buat Kayla.


“Saya minta kamu, Bi yang siapkan makan saya, bukan orang lain.” Bentak Kayla pada bibi yang sudah berjalan hendak mengantar minum dan makan buat bu Hesa.


“Non, Oma nya sedang kurang sehat. Kenapa gak Non sendiri yang mengantar ini dan temui omanya biar bibi mau menyiapkan makan buat Non.” Bibi menatap datar pada gadis yang malas dan judes tersebut.


“Kamu membantah saya, Bi?” Kayla berdiri dan menatap dengan pandangan marah.


“Bukan membantah, Non. Nyonya itu lagi kurang sehat dan sudah sepantasnya Non perhatikan juga. Tapi, Non itu bukannya perduli tapi malah egois, tidak punya kasih sayang! padahal oma Non yang merawat dari kecil, kok Non tidak ada rasa hormat sama sekali sih?” bibi semakin berani bicaranya dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


Brak ....


Kayla melempar barang yang ada di dekatnya, membuat asisten lain terkejut dan merasa ketakutan.


“Apa! lihat-lihat? mau ku congkel tuh mata?” Kayla melotot dan dengan sangat sempurna pada asisten baru yang melihat ke arah dirinya.


Asisten baru menunduk dan mengambil sapu untuk membersihkan pecahan beling dilantai ....


...🌼----🌼...


Ayo, masih sepi nih. Mohon dukungan dari kalian ya🙏

__ADS_1


__ADS_2