Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Mau dong


__ADS_3

Di saat sang ayah di operasi, Gita pergi ke pihak admistrasi untuk menanyakan siapa yang sudah melunasi semua biaya rumah sakit sang ayah. Dia penasaran siapa orangnya yang sudah berbaik hati itu.


“Permisi? Mengganggu waktunya sebentar?” Gita mengangguk hormat pada pihak administrasi.


“Iya ... ada yang bisa saya bantu?” balasnya dengan ramah.


“Em ... begini Mbak, siapa yang sudah melunasi biaya rumah sakit ayah ku?” tanya Gita ragu-ragu.


“Ooh ... dia adalah dokter kami di sini, dia yang sudah berbaik hati pada ayah anda.” Jawabnya lagi.


“Siapa ya dia Mbak?” tanya Gita kembali.


“Dia ... seorang doktor bedah yang bernama Arya Saputra, dia yang sudah membayar semuanya.” Sambung nya wanita yang menjadi lawan bicaranya Gita.


“Ooh ... makasih ya Mbak, dan maaf sudah mengganggu waktunya?” Gita lagi-lagi meminta maaf.


“Tidak apa,” sahutnya kembali dengan menunjukan keramahan nya.


Kemudian Gita meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju ruang tunggu sambil terus berdoa untuk sang ayah, di barengi rasa penasaran siapa dan yang mana orangnya. Dokter Arya itu yang mana sih?


Ini saatnya penantian Gita berakhir. Dimana suster dan dokter keluar dari ruang op nya sang ayah. Buru-buru Gita mendekati salah satu dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut. “Dok, gimana dengan ayah ku, apakah op nya berjalan lancar?”


Pria yang mengenakan masker tersebut memandangi gadis yang berwajah cemas tersebut dan berharap jawaban darinya. “Lancar, Alhamdulillah lancar dan sebentar lagi di pindahkan ke kamar inapnya.”


Gita mengusap wajahnya dengan sedikit sumringah dan bahagia. “Alhamdulilah ... terima kasih ya Allah, dok. Makasih banyak ya?”


Pria yang masih mengenakan masker itu mengangguk dan hendak pergi dari hadapannya Gita yang celingukan melihat ke arah kamar dimana sang ayah masih di sana.


“Dokter Arya, tunggu sebentar?” panggil seorang dokter yang baru keluar dari ruang op.


Arya menoleh sambil membuka maskernya. “Ya. Ada apa?”

__ADS_1


“Saya senang bekerja sama dengan mu, sampai saat ini kerja kita selalu lancar,” ucap rekan dokternya.


Gita yang mendengar nama itu langsung menoleh pada orang yang dipanggil dengan sebutan dokter Arya. Ternyata dokter yang barusan dia tanya-tanya itu bernama Arya. Gita menggeser ingin melihat wajahnya, namun terhalang oleh orang yang sedang bicara dengannya dan dia pun memunggungi.


“Dokter Arya? Apakah dia yang sudah membayar biaya rumah sakit.” Gumamnya pelan.


Gita hendak menghampiri kembali, namun dokter itu keburu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Dan Gita sendiri ingin melihat sang ayah.


Arya segera mencuci tangannya kembali biar lebih bersih setelah kembali ke ruangannya. Dalam pikirannya terbayang-bayang wajah sendu itu membayang di ruang mata.


Ketika jam makan siang, Arya baru saja beranjak mau cari makan namun di pintu sudah berdiri seorang wanita cantik yang menjinjing tempat makanan. Dengan senyuman yang mengembang.


“Hi, aku bawakan mu makan siang. Kau pasti belum makan siang bukan?” Lica menghampiri meja Arya.


Sejenak Arya terdiam dan menatap ke arah Lica yang langsung membuka tempat makannya.


Arya terduduk kembali di tempatnya semula. “Oh makasih, kau sudah repot-repot bawa makan siang ku, padahal aku bisa mencarinya sendiri. Kamu kan sibuk jadi tidak perlu menyempatkan diri juga.”


“Tidak, aku bisa sendiri kok.” Arya langsung melahap makannya itu. Lica pun mengambilkan minumnya dengan penuh perhatian.


Setelah Arya selesai makan. “Oke, aku pulang dulu ya?” Lica berdiri dan berpamitan dan cuph kecupan mendarat di pipi nya Arya, seseorang yang belum terucap sebuah ikatan di antara mereka berdua.


Arya kaget, sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. “Jangan gini juga Lica, aku gak enak bila di lihat orang.”


“Em ... jadi kamu gak suka ya?” Lica merengut dan tampak sedih.


“Bukan soal suka atau tidak suka, tapi kan kurang enak bila di lihat orang.” Ralat Arya jadi salah tingkah juga.


“Ya sudah ... kalau kita sudah menikah ... misalnya? boleh dong.” Lica menatap dengan sangat lekat ke arah Arya yang merah wajahnya.


“Mmm ... kalau sudah begitu sih, tidak apa. Cuman ... emang kamu mau gitu jadi istriku?” kini Arya menatap tajam pada Lica yang sebenarnya tanpa di jawab pun Arya sudah tahu jawabannya.

__ADS_1


“Serius? Mau dong, aku mau jadi istri kamu. Kamu tidak bercanda kan?” selidik Lica dengan hati yang bertaburan bunga-bunga yang bermekaran.


“Kalau menikah sama aku ... kamu harus siap susah, karena aku orangnya susah tidak seperti keluarga mu, tahu lah. Tinggal saja aku di Vila bersama Om dan itu Vila punya om juga, aku tidak punya apa-apa.” jelasnya Arya.


“Aku mau kok. Lagian aku juga bekerja dan kita bisa menata hidup kita berdua.” Lica mendekat pada Arya dan mengalungkan kedua tangannya pada pundaknya Arya. Di tatapnya dengan sangat mendalam.


“Aku mau menjadi istri mu, dan aku siap menerima apapun adanya dirimu. Susah dan senang akan kita hadapi bersama.” Suara Lica dengan lembut dan makin lama wajahnya kian mendekat dan akhirnya mendarat di bibir nya Arya.


Nyess, dingin-dingin menghangatkan ketikan benda itu bertemu satu sama lain. Arya tidak sempat menolak dan memang penasaran juga sejauh mana sih gadis ini akan berlaku dengan alasan mencintai dirinya.


Ini lah ciuman pertama bagi pemuda itu yang selama ini membuat jarak dengan para wanita. Kini sekalinya dekat dengan wanita agresif yang memperlakukan nya penuh manja.


Lica yang tadinya mau pulang, akhirnya transit dulu dia suatu tempat yang indah dan mengasikkan tersebut, dan mungkin akan membuat ketagihan untuk kembali berkunjung.


Sesaat kemudian, tangan Arya melepas tangannya Lica yang memeluk kepalanya. Dan auto ciuman pun berakhir.


“Kenapa?” Lica menatap heran pada Arya yang mengusap bibirnya yang lembab.


“Sudah siang, pergilah dan aku pun masih punya tugas,” akunya Arya. Sebenarnya dia cemas tidak mampu menjaga pertahanannya, takut kebablasan. Khawatir tak bisa menjaga benda lonjong seperti terong ungu itu dari godaan, ada juga yang bilang seperti timun atau pisang, atau apalah?


Arya membalikan badannya menghadap meja dan kedua tangannya bertumpu pada benda mati tersebut sambil berusaha mengontrol nafasnya yang naik turun, deru nafas yang ngos-ngosan seperti habis lari maraton.


Lica memeluk tubuh Arya dari belakang dan menempelkan pipinya di punggung pemuda itu yang sedang susah payah mengontrol nafsunya sendiri yang bisa-bisa meledak saat itu juga.


“Pergilah? Aku mau bekerja lagi,” suara Arya dengan parau.


“Em ... aku akan merindukan saat-saat seperti ini lagi,” pada akhirnya Lica melepas rangkulannya dan kemudian pergi dari ruangan Arya.


Arya berbalik setelah yakin kalau Lica sudah tidak ada dari ruangannya tersebut. “Huuh ... hampir saja, aku tidak bisa mengontrolnya.” Kemudian Arya mengusap wajahnya dengan perasaan cemas ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Ayo mana nih dukungannya, dan makasih ya?


__ADS_2