
Saat ini Arya sedang berkumpul dengan ketiga pria yang dia panggil om itu, di sebuah tempat yang sudah di janjikan. Endro dan Aldo pun yang biasanya telat di saat ini mereka tepat waktu.
“Ada apa nih? ada yang harus di omongkan ya?” Tanya Aldo menatap tajam ke arah Arya yang sedang menikmati minumnya.
“Ada apa sih? kaya ada yang penting saja nih?” kini giliran Endro yang bertanya dan dia menatap ke arah Deri.
“Entah, mau di kawinin kali ha ha ha ...” Deri tergelak sendiri.
“Ha, aslinya? Jangan-jangan, sama gadis itu yang ku dengar suka ngintilin kamu itu, kan?” Endro curiga dan langsung menebak gadisnya.
“Saya rasa ... seperti itu, saya pribadi merasa risih dengan ... dengan kehadiran dan tingkahnya gadis itu.” Tambah Deri sambil menggeleng.
“Emang kenapa?” Endro merasa penasaran.
Aldo pun menatap ke arah Deri dan Arya, dia pun ingin mendengar apa yang akan Arya katakan. “Apa benar Arya? Yang di katakan om Deri?”
Arya menggerakkan manik matanya pada Aldo dan Endro. “Ya, memang seperti itu, bikin aku risih dan cemas. Bagaimanapun aku ini laki-laki normal. Jadi aku takut kebablasan gitu Om.”
“Wah ... Om bangga dengan mu Nak ... kau takut melakukan sesuatu yang salah. Ya sudah kau nikahi saja dan selanjutnya mau gimana? Om serahkan padamu,” Aldo menyerahkan semuanya pada Arya.
“Makanya dari itu, Om ... aku ingin menikah dan Om semua lamar kan dia untuk ku, tapi aku harap mereka bisa menerima kalau pernikahannya tidak pesta atau seadanya saja. Bilang saja dari pada malu karena dianya terus ngintilin aku gitu. Akunya jadi gak enak!” Tambahnya Arya.
“Om mengerti itu.” Aldo mengangguk mengerti dan paham akan maksud nya Arya.
“Om, melihat kau itu tidak mencintai dia sepenuhnya. Berasa ngambang dan kamu punya tujuan tertentu, iya kan?” Deri menatap ke arah Arya. Mengungkapkan perasaannya yang dalam pandangan dia, Arya memang kurang memiliki perasaan pada gadis itu, entah karena sikapnya yang bikin ilfil atau entah karena apa?
“Iya, benar. Aku lihat juga begitu. Dia itu mengambang dalam arti tidak mencintai dengan sepenuh hati begitu,” timpal nya Endro yang merasakan yang sama dengan Deri.
“Ehem, berarti kita harus punya wajah dua nih masing-masing. Biar Mahdalena tidak mengenal kita,” Aldo memandangi ke arah tiga pria yang berada di hadapannya itu.
“Hem,“ Deri mengangguk dan berpikir keras harus gimana.
__ADS_1
“Kita ... bisa saja mempunyai dua wajah, itu sih gampang. Namun yang sulit adalah membuat data-data Arya yang anak dari dokter Dimas dan Kanaya.” Endro tampak sangat serius.
“Gampang. Arya masukan data yang lain alias nama orang lain dan kita menikahkannya tidak perlu mengundang keluarga besar. Bila perlu cukup kita saja—“
“Oke. Dengan alasan mending mana nikah secepatnya untuk menghindari suatu hal yang tidak diinginkan atau menikah ala kita. Dan bilang beberapa bulan ke depan di resmikan, dalam arti resepsi. Kalau nikahnya sih sekarang juga harus resmi tercatat kua,” ucap Deri memotong perkataan dari Aldo.
“Yaps, setuju! Dan tunjukan keseriusan mu anak muda. Bikin nenek sihir itu mati perlahan, cucunya menikah dengan musuhnya sendiri, Hem ... dia pikir kita melupakan semuanya apa? no ... i will never forget,” timpal Endro sambil menggeleng.
Arya terdiam dan lamunannya pun melayang teringat pada kedua orang tuanya yang telah tiada. Tanpa terasa ujung matanya pun basah dan linangan itu jatuh ke pangkuan.
“Tapi yakin saya, biar pun mengambang hatinya, dia tak akan menyiakan ikan yang sudah berada dalam piring dan pasti akan dia santap juga tuh, atau mungkin sudah di icip tuh biar dikit. Ha ha ha ...” Endro nyeleneh.
Bikin yang lain mesem dan begitupun dengan Arya yang mengulum senyumnya. Dia faham dengan yang dikatakan oleh Endro itu dan dia pun mengakui sih kalau ciuman sih iya. Orang dia yang nyosor ya ... nikmati saja.
Semua mata memandangi dirinya, seolah mencurigai kalau dirinya memang pernah. “Kalian tidak perlu berpikir yang macam-macam ah, gak mungkin aku berbuat begitu, tanya saja Om Deri kalau waktu itu saja dia masuk ke kamar ku dan aku memilih tidur di sofa ruang tengah,” ungkap Arya sambil berekspresi serius.
“Benar kah?” Endro memicingkan matanya pada Deri yang sedang memasukan makanan ke mulutnya.
“Sudah apa Om? Jangan sembarangan fitnah orang ya?” Arya menepuk bahu Deri sambil tersenyum.
“Iya-iya ... wajarlah kalau sedikit atau icip. Namanya juga laki-laki.” Timpalnya Deri sambil tertawa.
“Iya wajar itu ... jangan di pikirkan, apalagi anak gadisnya yang malah menawarkan diri. Iya kan? siapa sih yang akan membiarkan nya, sayang sekali kan mubazir.” Tambahnya Endro.
Aldo senyum saja pada ketiga pria itu. Di lihatnya bergantian.
“Jadi gimana, Om Aldo, Om Deri dan Om Endro?” tanya Arya dengan tampak serius.
“Kamu maunya secepatnya kan?” Selidik Aldo sambil menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.
“Iya lah, Al ... kapan lagi? nanti malah keburu kejadian gimana? mungkin sekarang ... dia sudah berada di Vila,” sahut Deri sembari melirik kearah Arya yang menanggapi dengan anggukan.
__ADS_1
“Oya. Tapi tidak menghubungi dulu gitu?” tanya Endro sembari menatap tajam ke arah Arya.
“Dia jarang hubungi aku Om ... dia itu langsung datang saja ke tempat.” Seru nya Arya. Melirik ke arah Deri.
“Kalau saya suruh pulang juga tidak perduli, dia akan pulang kalau memang maunya dan mau bekerja.” Tambah Deri.
Aldo menghela nafas dengan panjang. “Oke lah kalau begitu, Besok malam kita datangi rumahnya, dan besok pagi saya akan urus data-data nya Arya khususnya nama orang tua—“
“Ya, jangan sampai dia tau lebih cepat kau anak siapa? dan saya rasa sih ... Mahdalena tidak tahu keluarga Dimas lainnya.” Deri memotong perkataan Aldo.
“Tau, dia tahu bu Hesa.” Kata Endro sambil mengedarkan penglihatannya pada Arya, Deri dan Aldo.
“Kan sudah meninggal dia ...” timpal Deri.
“Kan bisa saja lihat fotonya.” Endro berkata lagi.
“Jangankan bu Hesa, sama kita saja si nenek itu tidak mengenal kita.” Tambahnya Aldo.
Akhirnya sudah sepakat kalau besok malam akan mendatangi kediaman Mahdalena untuk melamar Lica dan akan di ajak menikah secepatnya, dari pada menimbulkan rasa risih pada Arya dan Deri yang selalu kedatangan gadis itu.
Kemudian pertemuan mereka pun bubar dan pulang ke tempatnya masing-masih.
Arya melajukan motornya yang berada di belakang Deri yang lebih cepat dan jauh di depan. Namun kedua netra nya Arya menemukan seorang gadis sedang berjalan sendiri dan di hampiri oleh dua pria yang sepertinya bukan pria baik-baik.
“Tolong?” jerit gadis itu.
Yang sepertinya di gangguin oleh dua pemuda dan bukan Cuma di gangguin saja. Tapi juga gadis itu di seret ke pinggir jalan. Membuat Arya buru-buru turun dari motornya dan menghampiri ....
...🌼---🌼...
Jangan lupa dukungannya dalam hal apapun, terima kasih
__ADS_1