
"Iya, Pak. Saya berada di sini." Arya bersuara pelan.
Tangan pak Jum yang satu lagi mencari tangan putrinya. Gita dan menemukannya, Disatukan dengan tangan Arya seraya berkata. "Saya ingin menikahkan kalian!"
Deri yang mendekat dengan jelas dapat mendengar perkataan dari pasien tersebut.
"Ayah, hik-hik-hik." Gita menangis tersedu melihat kondisi sang ayah.
"Saya mohon. Penuhi permintaan sa-saya yang ... terakhir i-ini, Ka-kalau sudah menikah. Bawalah putri saya bersama mu dok!" suara pak Jum terbata-bata.
Arya menoleh pada Deri yang berdiri kini tidak jauh dari mereka.
"Saya akan keluar dan mencari penghulu, tunggu sebentar?" Deri langsung pergi.
"Om?" panggil Arya.
Deri main mau cari penghulu saja tuh orang.
"Saya titip putri saya dok ..." pesan pak Jum dengan tatapan kosong namun mengarah pada Arya.
"Ayah, Ayah ... harus sembuh, Gita sama siapa kalau Ayah tiada? Gita ingin bersama Ayah." Tangis Gita semakin terdengar pilu.
Pak Jum tidak berkata-kata lagi. Dia memejamkan kedua matanya.
"Ayah, bangun Ayah ... katanya Ayah mau melihat dan bermain dengan putra putri Gita nanti nya. Jadi Ayah harus sembuh. Haris sehat!" Gita terus berbicara.
"Ayah sudah tidak kuat, Nak ... Ayah capek dan ... ingin beristirahat." Ucapnya dengan lirih.
"Ayah, jangan tinggalkan aku Ayah ..." Gita menciumi tangan sang ayah.
Deri datang bersama seorang pria dan katanya seorang penghulu. Dan satunya kawannya. "Bapak. Saya sudah bawakan seseorang mungkin bisa membantu dengan keinginan anda!" suara Deri di dekatkan pada kuping pak Jum yang langsung kembali membuka matanya.
Pak Jum mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tersebut. Lalu pada Deri. "Saya ingin putri saya ini menikah dengan dokter Arya, sebelum saya pergi."
Gita menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar cemas. dengan omongan sang ayah yang mengatakan sebelum pergi.
"Apakah anda ingin menikahkan mereka berdua saat ini juga?" selidik Deri kembali.
Kini pak Jum hanya menggerakkan kedua netra nya dan mengangguk pelan.
Deri mengusap punggung Arya, dia yakin kalau pemuda itu tau yang harus dia lakukan di saat ini.
__ADS_1
Arya hanya mengangguk setuju. Ini darurat dan bukan waktunya untuk berdebat. Di ruang itu terdapat seorang dokter yang menangani pak Jum. Dua suster, Deri, pasien dan putrinya! Pak penghulu dan Arya tentunya.
Dengan suara yang terbata-bata namun terdengar jelas. Pak Jum menikahkan Arya dengan putrinya yang bernama Gita. Dengan posisi tetap terbaring.
Arya pun dengan lantang dan dengan satu tarikan nafas saja mengucapkan itu ijab kabul. Janji suci yang dia ikrarkan terhadap seorang gadis yang bernama Gita.
"Gimana seksi?" tanya pak penghulu pada saksi.
Sah ....
Sah ....
Sah ....
"Alhamdulillah ..." Pak penghulu membacakan doa untuk kedua mempelai yang memakai pakaian seadanya saja.
Bukan tidak merasa deg-degan, malah jantung Arya tata berdebar tak karuan. Kok bisa secepat ini statusnya menjadi suami? malah bukan dari suami wanita yang dia lamar. Melainkan Hadi lain yang masih belia juga.
Pak Jum menarik bibirnya yang pucat setelah terdengar bergumam Aamiin. Detik kemudian dia kembali terpejam, kini dia merasa tenang! karena putri semata wayang sudah ada yang menanggung jawab. Yaitu suaminya.
Gita yang tidak jelas dengan yang dia rasa lantas mencium tangan sang ayah seraya bergumam. "Ayah!"
Lalu Arya memegangi tangan pak Jum sebelahnya terasa sangar dingin sekali. Arya menempelkan punggung jarinya di dekat saluran pernafasannya pak Jum sembari melihat ke arah Deri.
Gita panik, shock melihat reaksi dari Arya. Degh, tentunya dia sudah bisa menduga kalau sang ayah telah berpulang ke Rahmatullah. Gita menjerit memanggil sang ayah. Lantas dia pingsan tak ingat pa-pa lagi.
Arya terbengong-bengong, tadi siang masih mengobrol dengannya. Dan sekarang dengan begitu cepat menjadi sebuah mayat yang tak bergeming.
"Arya-Ar ... urus istri mu. Biar jenazah mertua mu saya yang urus." Deri menepuk bahu Arya sambil menunjuk pada Gita yang pingsan itu.
Arya lantas memindahkan tubuh Gita ke sofa panjang yang ada di sana.
Sementara yang lain mengurus mayat pak jum bahkan pak penghulu yang masih berada di tempat tersebut.
Arya mengurus. Gita yang pingsan dan memberikan minyak angin biar dia tersadar. Gita pun tersadar dan menoleh ke arah tempat sang ayah yang kini sudah tiada. Gadis itu menangis histeris sambil memanggil-manggil ayah nya.
"Ayah, mana ayah? aku mau ke ikut ayah, jangan pergi ayah ..." Gita melonjak bangun dan hendak mencari ayahnya.
"Ayah mu sudah di bawa ke salah satu ruang untuk di bersihkan." Kata Arya sambil menyuruhnya duduk kembali.
Namun Gita bukannya tenang. Dia menangis sejadi-jadinya dan meratapi nasibnya yang baru saja di tinggal sang ayah.
__ADS_1
Arya berjongkok di hadapannya Gita sambil memegangi tangannya yang dia gunakan buat menutup wajah gadis yang sangat shock tersebut.
"Tidak baik di tangis terus. Dan kau harus sela untuk melepasnya, doakan saja yang terbaik untuk beliau.
"Ayah, kenapa kau meninggalkan ku? aku sendirian." Gita sebut-sebut sang ayah yang meninggalkannya nya.
"Jodoh, maut dan terlalu sudah ada yang mengatur, jadi jangan di ditangisi, kasihan! biarkan dia pergi dengan tenang." Arya menatap lekat pada gadis yang tengah menangis tersedu itu.
Gitu terus menyeka air matanya yang terus saja berjatuhan membasahi wajahnya. Kemudian dia menyembunyikan wajahnya di pundaknya Arya dan lantas kembali menangis tersedu di sana.
Arya kaget, namum tidak menolak dari rangkulan gadis tersebut. Tangannya mengusap punggung Gita seraya berkata. "Menangis lah sampai kau puas di dada ku."
"Kenapa ayah pergi meninggalkan secepat itu! pergi meninggalkan ku sendi tanpa siapapun," suara Gita sambil terisak.
"Kau jangan khawatir, kau akan menjadi bagian dari hidup ku, kita sudah menikah. Jadi tidak usah cemas. Ikutlah dengan ku!" Kata Arya sambil terus mengusap punggung gita.
Jenazah pak Jum yang sudah bersih dan siap di kebumikan, langsung saja dimasukan ke dalam ambulance untuk di antar ke rumah nya.
Begitupun dengan Gita yang masuk ke dalam ambulance bersama sang ayah di temani oleh Arya yang duduk di samping gadis tersebut yang terus menangis.
Setelah mengikuti proses pemakaman yang di lakukan. Arya pun langsung mengajak Gita untuk bersiap pindah ke Vila dirinya.
"Aku gak mau pergi dari sini!" Gita menggeleng di atas pusara sang ayah.
Suasana pagi ini terasa dingin dan lebih dingin dari biasanya. Ginta terus barada di atas pusara ayahnya dengan hati yang hancur dan berat. Hidupnya yang sudah tinggal mempunyai ayah, sekarang pun di tinggalkan olehnya.
Kini pembaringannya menjadi tanah yang merah. Bertabur bunga-bunga.
Deri berdiri memandangi gadis dan pusara itu. Tanah yang merah menjadi saksi seseorang yang begitu kehilangan.
Arya berjongkok tidak jauh dari gadis yang sedang meratapi nasibnya. "Tidak baik kau terus meratapi semuanya. Hidup itu harus terus berjalan dan kamu sekarang sudah menjadi tanggung jawab ku sepenuhnya."
Dengan tatapan nanar. Gita menoleh dan menatap meneliti ke arah pemuda tersebut.
Rasanya tidak percaya kalau orang asing ini, kini status sudah menjadi suami dia. Dalam waktu sekejap telah merubah segalanya.
Gadis itu kembali menunduk dengan air mata yang berjatuhan.
Kaki Deri mengayun mendekati pusara dan berjongkok di sebelah Gita. "Kita boleh merasa sedih karena kehilangan. Tapi bukan berarti harus terus di tatapi, karena yang di tinggalkan akan merasa sedih melihat yang ditinggalkan larut dalam kesedihan. Ikhlaskan dan terima kalau ini memang takdirnya terbaik dari Tuhan."
Kepala gadis itu terangkat dan melihat ke arah Deri ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mana nih, dukungannya. Makasih.