Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Tidak suka dibantah


__ADS_3

“Om kenapa sih, malah menakuti aku? bukannya ngasih semangat dan atau apalah.” Kayla merengut sambil menggeserkan piringnya yang sudah kosong.


“Buat apa saya memberikan semangat sama kamu? Kamu saja tidak mau hidup dan malah ingin mati kan sama kekasih mu itu.” Timpal Deri sambil menghela nafas lalu melihat ke arah sekitar.


“Om jahat, tidak sayang sama aku. Sayangnya Cuma sama abang saja,” kata Kayla dengan nada sedih.


“Gimana mau sayang sama kamu, bila sikap mu itu tidak pernah dewasa dan keras kepala dan yang ada cuma bikin jengkel. Wajar kalau kamu itu bukannya di sayang melainkan di benci.” Deri tanpa ragu berkata demikian pada gadis yang berada di kursi roda tersebut.


“Om jahat,” Kayla membuang muka sedihnya dari pandangan Deri. “Buat apa Om datang bila hanya untuk mengata-ngatai ku saja.”


Sepi tanpa kata yang terucap dari bibir keduanya.


“Tuan Deri mau makan? biar bibi siapkan.” Tawar bibi pada Deri.


Tanpa mengalihkan pandangan dari Kayla, Deri berkata. “Tidak usah, Bi. Makasih.”


Bibi hendak merapikan bekas makan nya Kayla.


“Bi, biarkan itu Kayla yang bereskan!” ucap Deri sambil melihat ke arah Kayla.


“Apa?” mulut Kayla menganga pada Deri.


Bibi terdiam dan mendur beberapa langkah, menuruti perintah dari Deri.


“Apa maksudnya Om? Aku mana bisa!” protes Kayla.


“Kamu pasti bisa, dan bangun? Sekarang juga bereskan bekas makan mu lalu cuci,” perintah Deri bikin Kayla semakin geram.


“Berdiri dan bereskan!” ulang Deri ketika melihat Kayla masih juga duduk di kursi rodanya.


“Om, tidak melihat kalau aku ini sakit?” ucap Kayla sambil menatap tajam pada Deri yang menyuruhnya bekerja.


“Saya perintahkan, kamu untuk berdiri dan bereskan sekarang?” Deri semakin tegas.


“Ck,” Kayla berdecak kesal lalu berdiri walau sedikit meringis.

__ADS_1


“Ayo, bereskan?” Deri menunjuk meja yang berantakan.


Sambil cemberut, Kayla membereskan meja tersebut hingga bersih. Meja nya pun dia lap memakai tisu hingga mengkilat.


“Piring kotornya cuci?” lanjut Deri kembali sambil menunjuk piring dan gelas yang kotor.


“Nanti,” jawabnya Kayla sambil hendak duduk kembali.


“Sekarang! saya paling tidak suka di bantah dan kalau saya bilang sekarang ya sekarang. Tidak ada kata nanti.” Lanjut Deri lagi dengan tegas sangat.


Kayla menoleh ke arah wastafel dan dia memutar badannya perlahan dan membawa piring kotor itu ke wastafel. Dan bengong di sana. “Masa sih ... aku harus nyuci? Dimana harga diri ku bila teman ku melihat ini, kenapa sih aku gak bantah saja perintah pria tua itu.” Kayla merutuki dirinya sendiri.


“Jangan menggerutu? Kerjakan dengan baik!” Deri berdiri di dekat wastafel mengamati Kayla yang masih juga bengong bukannya mencuci piring tersebut.


“Siapa yang menggerutu? Orang sedang mencuci piring kok.” Akunya Kayla sambil menunjukan senyumnya yang semu.


“Yang bersih! kamu itu bisa mengerjakan semuanya kok, namun malas banget dan apa-apa harus segala dilayani.” Kata Deri sambil mengangguk.


“Kalau ada asisten, ngapain harus capek segala? mereka berada kan di bayar buat bekerja bukan buat bengong.” Timpalnya Kayla.


“Tapi apa susahnya uang yang buat bayar mbak itu kamu simpan sebagian dan mengurangi pekerja.”


Kayla melotot. “Om? Sini kan?”


“Kau bisa jalan dan tidak perlu memakai kursi roda lagi.” Kata Deri dengan tegas.


“Tapi, Om ... kaki ku belum kuat dan masih terasa sakit.” Kayla nyengir.


“Ambil lah,” Deri menunjuk kursi roda yang sudah dia geser.


“Om ini memang jahat.” Pekik nya Kayla sambil berjalan dan menahan sakit.


Belum juga sampai, Kayla sudah tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya yang di akibatkan tulang kakinya yang belum pulih banget. Tubuh Kayla hampir saja terjatuh.


Geph! Tangan kekar Deri menangkap pinggang gadis itu hingga tidak jadi terjatuh.

__ADS_1


Keduanya saling pandang dengan lekat dan saling mengunci. Begitupun tubuhnya Kayla masih betah dalam rangkulan tangan Deri.


Kayla melihat ke bawah, tak terbayang bila dia terjatuh ke lantai. Sudah pasti bokong dan tulang ekornya cedera.


Setelah beberapa saat saling pandang dengan perasaannya masing-masing. Barulah Deri melepas rangkulannya dan Deri membantu Kayla duduk di kursi rodanya. Kayla merasa serba salah, jantungnya pun terus berdebar lain dari biasanya.


“Kau harus lebih rajin berjalan nya. Nanti sakit mu akan berkepanjangan. Sekarang kau istirahat dulu,” ungkap Deri sambil mendorong kursi Kayla ke tempat semula.


Jantung Kayla masih berdegup kencang.


Sementara waktu mereka terdiam di sana karena memilih sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Lanjut deri mengajak Kayla ke taman belakang dan di sana Deri menyuruh Kayla berjalan-jalan tanpa kursi roda nya. Biarpun Kayla banyak mengeluh namun tidak berani lagi membantah, kecuali benar-benar tidak mampu.


Kalau Kayla merasa gak kuat dia memilih berjongkok dan Deri pun membantu berdiri begitu lah seterusnya.


“Kamu harus semangat lagi demi kesembuhan kamu. Demi kamu sendiri. Dan satu lagi belajarlah untuk bersikap sabar, lembut. Karena bagaimanapun kau itu wanita, jauhi juga pergaulan bebas mu kalau kau sayang dirimu sendiri.” Deri berdiri lalu pergi dari hadapan Kayla.


Kayla hanya terdiam memandangi punggung pria itu yang membawa pergi rasa kenyamanan yang mulai tertanam di dalam dada.


...----...


Arya yang sudah bersiap untuk pulang, membereskan dulu mejanya. Lalu setelah itu dia membawa langkahnya meninggalkan tempat tersebut. Dan pikirannya sudah berada di villa, kepikiran gadis itu apakah dia sudah bersiap-siap dan sekaligus dia juga bingung harus bicara tentang dirinya yang mau menikah dengan Lica.


“Aku harus bilang apa soal aku mau menikah dengan Lica? Dan niat itu kan sudah direncanakan dari jauh hari bukan sesuatu mendadak seperti yang terjadi dengan dirinya.” Batinnya Arya sambil berjalan di koridor rumah sakit sesekali saling sapa dengan orang yang berpapasan dengan dirinya.


“Sore Dok?” sapa seorang suster yang sedang berjalan dan berpapasan dengan dokter Arya.


“Sore juga.” Balas Arya sambil mengangguk ramah.


Arya menaiki sepeda motornya dan tidak lupa mengenakan helm, sebelum menyalakan mesin lalu detik kemudian motor tersebut melaju dengan sangat cepat. Membelah jalanan dan berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya.


Arya kepikiran kalau sebentar lagi dia akan menjadi suami beristri dua, sesekali bibinya tersenyum lucu sendiri.


Selang beberapa waktu ... motor pun sudah tiba di depan Villa yang tampak sepi itu dan detik kemudian muncullah gadis cantik yang masih termasuk belia. Dengan rok di bawah lutut dan kaos pendek, juga rambut di kuncir kuda.


Bibir Arya menyungging melihat gadis itu berdiri di dekat pintu dan tampak malu-malu. Pemuda itu menghampiri dengan senyuman di bibirnya. Eeh dia malah mundur dan setelah beberapa saat gadis itu pun mendekati Arya yang berdiri di hadapannya lalu meraih tangan pemuda itu di ciumnya ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Terima kasih pada yang masih mengikuti ku.


__ADS_2