Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Halusinasi


__ADS_3

"Saya tidak pernah melakukan apa-apa! pergi? pergi ... saya tidak melakukan apapun." Bu Mahdalena begitu sangat ketakutan, wajahnya pucat dan tubuhnya pun menggigil.


Melihat omanya seperti itu, Angelica langsung memanggil dokter pribadinya untuk memeriksakan Oma nya mendadak aneh seperti ini.


"Mungkin dengan istirahat, Oma akan tenang!" ucap Arya sambil melirik pada sang istri seraya duduk di dekatnya.


"Nggak, harus periksa dulu! sebentar lagi dokter pribadi ku akan datang," balas Angelica sembari terus memeluk sang Oma.


"Ya sudah, aku mau menemui om dulu ya? mungkin mereka akan pulang dan mereka pasti mencari ku," Arya beranjak dari duduknya sembari mengusap punggung dang istri, Lalu dia pergi.


Manik Lica melirik ke arah kepergian nya Arya. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada sang Oma kembali.


"Oma tenang ya? sebentar lagi dokter akan datang memeriksa Oma! Oma kenapa kayak gini sih ... mendadak gak ada hujan gak ada angin." Angelica menggeleng.


Angelica yang tidak habis pikir akan Oma nya yang secara tiba-tiba seperti ini, penyakit di luar yang dia idap.


Angelica terus menemani sang oma dan memperhatikan tingkah lakunya yang tampak begitu ketakutan, entah apa yang dia takutkan?


"Pergi sana? jangan mendatangiku. Pergi jauh-jauh," Mahdalena menatap ke arah Angelica dengan tatapan ngeri karena sekilas dia melihat Angelica adalah Kanaya.


"Oma, ini aku Angelica cucu Oma." Angelica semakin dibuat heran.


Lalu Bu Mahdalena mengusap wajahnya dan menyadari kalau yang ada di hadapannya itu adalah sang cucu tercinta.


Arya yang kini sudah bergabung dengan ketiga om nya, Menunjukan senyum yang sulit di artikan.


"Semoga lancar ya?" Endro menepuk pundaknya Arya.


Arya tersenyum. "Apanya Om?"


"Ya ... apa saja, bikin gol atau apa lah. Termasuk rencana mu! sambung Endro sambil melirik ke arah Deri.


"Ngapain kau melirik ku! gak penting amat." Deri mendelik.


"Iya lah ... secara kau itu kalah telak dengan Arya. Dia bisa bikin gol 2 malah. Kamu suatu pun kagak ha ha ha ..." Endro dengan kurang ajarnya mencibir kawannya itu, hanya gara-gara tidak punya pasangan.


"Kau ini, kasihan Deri kau serang Mulu, cariin napa?" timpal Citra.


"Iya kan sudah aku tawarin sayang ... dianya gak mau--"

__ADS_1


"Gimana aku mau terima, Citra. Dau mau kasih aku kambing buat aku nikahin, kan kurang ajar." Deri menggelengkan kepalanya.


"Ha ha ha ... dasar." dokter Aldo tertawa. "Ya sudah, kita pulang Yo ahc dan sore juga."


"Hem ... Endro sih nawarinya yang bener dong ... jangan kambing." Timpal bidan Tika sambil beranjak dari duduk mengikuti suaminya.


"Malas ahc, nanti salah dan dia gak cocok saya juga yang susah." Endro pun berdiri.


"Aku juga nanti malam mau pulang dulu ke Vila." Arya mengantar mereka semua ke parkiran.


"Ngapain pulang, sudah saja di sini. Besok masuk kerja. ditinggalin juga." Citra menatap ke arah Arya.


"Lah. Kamu gimana sih? di villa kan ada istri nya, jadi harus adil dong ..." bidan Tika menimpali 9monhsn Citra.


"Gak sekalian, di satu rumah kan?" selidik Deri.


Arya menggeleng. "Nggak ahc."


"Ya, oke. Kita pulang dulu" Aldo berpamitan.


Arya mengangkat tangannya ke udara. "Hati-hati."


Arya masuk ke dalam rumah mewah tersebut, di area resepsi pun masih tampak ramai dengan beberapa tamu dan pemain musik.


Langkah Arya terus berjalan menuju kamar Bu Mahdalena yang dan di sana sudah ada dokter yang memeriksa wanita tua itu.


"Gimana ke adaan oma?" tanya Arya pada Lica yang yang berada duduk di sana dengan masih menggunakan kebaya pengantin.


Lica menoleh seraya menggeleng. Lalu melihat ke arah Oma nya dan dokter yang memeriksa.


"Gimana dok? Oma saya?" selidik Lica menatap penuh penasaran kepada dokter.


Dokter membuka alatnya lalu di masukan ke saku. Dia tidak serta Merta menjawab lalu melihat ke arah Arya, mungkin dia merasa asing dengan kehadiran Arya di sana.


"Saya Arya, suami Angelica!" Arya langsung mengulurkan tangannya lantas di sambut oleh dokter yang berman D itu.


"Ooh, saya kira siapa." Dokter mengajak Arya berjalan keluar kamar tersebut.


Dokter menghela nafas lalu berkata. "Ibu kena halusinasi. Jujur saya tidak mengerti. Sebab ini termasuk tiba-tiba, linglung atau gimana yang jelas halusinasinya langsung tinggi ya?" dokter melirik ke arah Lica juga.

__ADS_1


"Iya, Dok. Secara tiba-tiba Oma saya begitulah saya pun di suruh pergi karena dikira orang lain. Apa itu gejala lingkung karena di sudah sepuh Dok?" kata Angelica.


"Iya memang usia salah satu faktornya, namun biasanya berangsur-angsur dan tidak langsung seperti ini." Tambahnya dokter sambil sambil memasukan tangan ke dalam dua saku nya.


"Terus gimana, Dok? masih bisa di obati tentunya kan?" selidik Arya kembali.


"Tentu, dan barusan saya sudah berikan obat penenang. Semoga beliau cepat pulih lagi." Kemudian dokter pun berpamitan sambil memberikan resep obat yang harus di tebus.


Lica memegang kertas yang dokter berikan.


Arya mengantar dokter itu sampai pintu utama. Dan setelah itu barulah dia kembali ke kamar Bu Mahdalena.


Terlihat Lica sedang berbicara dengan asisten untuk menyuruhnya menebus obat buat Bu Mahdalena.


Kemudian asisten pun mengundur diri dari kamar tersebut.


Angelica menoleh pada Arya yang berdiri di dekat pintu. "Sayang. Oma sedang istirahat." Angelica berjalan mendekati pemuda tersebut dan bergelayut mesra pada tangan Arya.


Kedua netra Arya melirik ke arah Bu Mahdalena yang tengah tertidur. Lanjut mereka berjalan bergandengan dengan Angelica menuju kamar nya tersebut.


Tangan Arya merangkul pinggang Angelica, seperti tangan Angelica di pinggang Arya. Setibanya di kamar Angelica. Arya mengamati ruang kamar tersebut dengan seksama.


"Ini kamar kita sayang." Angelica menarik kedua tangan Arya sambil duduk di tepi tempat tidur yang sudah bertabur kelopak bunga yang yang warna warni.


Arya menghela nafas panjang dan netra nya tertuju pada sepasang angsa yang terbuat dari handuk. Jadi ingat pada Gita, yang sampai saat ini belum bermalam pertama.


Lamunan Arya pun buyar ketika tubuhnya di dorong Angelica ke tempat tidur di tindih dengan tubuhnya yang body goals.


Tangan Angelica dengan mahir dan tidak ragu membuka satu persatu kancing kemeja Arya yang masih mengenakan setelan.


Angelica begitu agresif dan tidak malu-malu terhadap Arya, setidaknya dia malu-malu karena ini kali pertama mereka setelah menikah. Lalu dengan cepat membuka kebayanya.


Kedua netra Arya yang normal terus memandangi pemandangan yang eksotis dan menggoyahkan iman. Menggodanya penuh gairah, Arya tidak tahu apakah dirinya bisa mengendalikan diri atau justru tenggelam di dalamnya.


Lica yang agresif bertambah liar serta mengendalikan Arya yang melongo tak bergeming memandangi ke arah Angelica yang begitu agresif ....


...🌼---🌼...


jangan lupa dong ... dukungannya ya dan makasih pada yang sudah like komen dan subscribe nya😍

__ADS_1


__ADS_2