Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Jomblo


__ADS_3

“Oya namanya siapa kalau Om boleh tau, Nona?” Endro menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik.


“Oh ... nama aku ... sebut saja Lica dan aku pernah berhutang budi pada Arya, kerena dia sudah tolong aku di saat mobil ku mogok.” Lica menjawab pertanyaan dari Endro.


Sementara Deri dan Arya tampak serius dengan makannya. Dan sesekali melirik ke arah Lica dan Endro yang tengah mengobrol.


“Gimana sih? kita ini di sini mau mengobrol penting, kalau ada orang lain gini sih ... mana bisa ngobrol serius?” gumamnya Arya dalam hati.


“Oh, kalian nambah aja makannya. Dan biar semua aku yang bayar, sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Arya yang sudah membantuku,” ungkap Lica sambil mengedarkan pandangan kepada mereka bertiga.


Kemudian gadis itu menikmati makannya. Sesekali saling melempar senyuman kepada Arya.


"Kalau boleh tahu, kau tinggal di mana?" tanya Deri memulai percakapan dengan Lica.


"Em ... aku--"


"Kau bertanya seperti itu, mau melamar apa? aku ada seseorang yang mencari calon suami, mau gak nanti ku kenalkan!" Endro menyambar balasan dari Lica yang di tujukan pada Deri.


"Siapa dia?" Deri mengerutkan keningnya.


"Dia ... wanita yang mencari suami dan usianya sekitar 75 tahun lah. Ha ha ha ..." Endro tertawa.


"Sialan. Ketuaan lah, yang ada aku berasa sama nenek dong!" Deri menggeleng. "Yang lebih muda dan pera-wan juga banyak."


"Dia juga masih pera-wan. Cuman sudah alot kali hi hi hi, ada yang masih muda dan perawan, serius nih aku. Kalau memang kau mau. Akan ku kenalkan deh tapi sanggup gak ngasih makannya?" Endro menarik turunkan alisnya.


"Emangnya kenapa? sama-sama nasi bukan?" selidik Deri dengan nada cool.


"Dia itu ... makannya unik bro yang ijo-ijo gitu!" jawabnya Endro.


"Sayuran?" tebak Arya. " itu mah gampang, Om ..."


"Emang gampang sih, tinggal nyari di kebun atau pinggiran sawah." Tambahnya Endro sambil menyesap minumnya.


"Lah, paling kau akan bilang kambing, yang harus di kasih makan rumput yang jelas itu bisa nyari di kebun dan pinggiran sawah, iya kan?" Deri menunjuk ke arah hidung Endro yang langsung tertawa lepas.

__ADS_1


"Ha ha ha ... pintarnya kau ... bisa nebak! yang ku maksudkan." Endro tertawa terpingkal-pingkal.


"Sudah bisa ku baca isi otak mu itu Taga nya kau ini. It's okay. Tidak masalah karena saya tidak ada minat untuk itu." Kata Deri dengan nada dingin.


Arya dan Lica tertawa saja mendengar obrolan keduanya dan Lica bisa menyimpulkan kalau Deri ini masih jomblo.


Lantas Deri kembali mengarahkan sorot matanya pada Lica yang sedang tersenyum. "Kau tinggal dimana dan sama siapa?"


"Aku, tinggal di jalan xx dan tinggal sama ... sebentar?" Lica menggantung kalimatnya karena ponsel dia berbunyi.


Angelica berdiri seraya berkata. "Maaf, aku harus pergi sekarang karena ada hal sangat penting."


Gadis itu bergegas berlalu setelah sebelumnya membayar bil bekas makan semua sesuai dengan janjinya.


Semuanya terdiam melihat kepergian gadis itu yang sangat cantik dan memiliki body goals.


Aldo yang berpapasan dengan gadis tersebut merasa heran. "Siapa dia?" tanya Aldo pada ketiga pria tampan yang sedang berada di meja nomor delapan itu.


"Oh, dia teman barunya pemuda kita!" sahut nya Endro sambil menyandarkan punggungnya di belakan kursi.


Dia baru bisa datang bertemu ketiga pria tampan dan yang ke empat tentunya dia sendiri.


Endro yang mirip aktor Rendi Pangalila, sampai sekarang Wajahnya tidak berubah masih tampak ganteng dan kekar tubuhnya dan juga masih di gandrungi para cewek muda.


Deri, si pria tampan juga cool. Dan lebih ke serius. Dia pun bahkan tidak sedikit ada perubahan. Mungkin memang dia selalu menjomblo dan tidak harus mikirin istri ataupun keluarga. Kecuali asuhannya yaitu Arya.


Dokter Aldo sendiri yang ada keturunan Arab nya tentu wajah ya pun mirip orang Arab tampan dan serta bergo deg. Alias berbulu halus di pipinya nya.


Begitupun Arya berwajah tampan, manis rahangnya pun berbulu halus padahal bapaknya tidak seperti itu.


"Cari perempuan itu, jangan hanya terlihat cantik dari luar saja itu relatif. Tapi juga harus lihat hatinya, kepribadiannya. Untuk jangka panjang." Kata dokter Aldo sambil menarik minumnya.


"Aish ... kalau kita mencari yang sempurna ... gak bakalan dapat, seperti dia nih!" Endro menunjuk ke arah Deri yang hanya melirik saja tanpa menanggapi perkataan darinya.


"Em, kenapa! pertanyaannya, kenapa om Aldo baru datang?" tanya Arya yang malas mendengar perbincangan soal wanita.

__ADS_1


"Om, ada pasien mendadak membutuhkan pertolongan, Om. Jadinya Om ke sana dulu lah!" Aldo menyesap minumnya.


"Oya. Kalian mau bicara apaan? sampai aku lupa bertanya," ucap Endro sambil menatap Arya dan Deri yang katanya ingin mengobrolkan sesuatu.


"Iya, ada apa? tiba-tiba kalian mengajak ketemuan di sini?" tambahnya dokter Aldo menatap penasaran.


Arya pun menatap ke arah Deri yang yang tampak santai.


Deri menghela nafas dalam-dalam sebelum bercerita. "Saya dan Arya sudah mendatangi alamat itu--"


"Terus, ketemu tidak sama orangnya? atau dia sudah mati atau gimana?" Endro memotong perkataan Deri.


"Dia ... sudah meninggal. Dan kami menemui temannya yang memang menjadi rekannya di saat itu--"


"Lantas dia bercerita atau mengelak atau juga kabur gitu saat kalian datangi?" lagi-lagi Endro menyambar omongan Deri yang langsung menoleh padanya.


Aldo menatap lekat pada Deri dan dia penasaran dengan lanjutan perkataan pria tersebut.


"Dia ... bercerita jujur kalau saya rasa sih. Dan dia mengatakan kalau otak dari semua ini adalah Mahdalena--"


"Apa?" suara Aldo dan Endro berbarengan. Mereka berdua sangat shock, tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau wanita itu yang menjadi dalang insiden yang menimpa Dimas dan Kanaya.


"Saya rasa ini memang meyakinkan, mengingat wanita itu pernah mencoba mencelakai Kanaya waktu itu. Dia marah karena Dimas menolak untuk menikahi putrinya yang sedang hamil duluan dengan kekasihnya!" ujar Deri sambil menatap keduanya yang tampak sangat kaget tersebut.


"Saya tidak pernah terpikirkan ke arah sana bro!" Endro jadi terbengong-bengong.


"Astagfirullah ... saya tidak mengira sama sekali soal itu. Sungguh di luar dugaan!" dokter Aldo menggelengkan kepalanya.


"Aku benci sama orang itu, dia yang menyebabkan aku terpisah dari orang tua ku. Dia yang menyebabkan aku tidak merasakan kasih sayang ayah dan bunda!" ungkap Arya dengan tatapan kosong nya.


Deri dan dokter Aldo, keduanya menyentuh bahu pemuda tersebut. Seolah memberi kekuatan dan dukungan bahwa tanpa mereka pun pemuda tersebut tumbuh dengan baik.


"Jangan terlalu di pikirkan, kita akan selalu ada buat kamu. Sesibuk-sibuknya Om ... akan berusaha ada buat kamu Ar." Deri mengusap punggung pemuda yang tampak sedih itu ....


...🌼----🌼...

__ADS_1


Hidup memang tidak dapat di duga. Dan kenyataan jarang sekali sesuai ekspetasi.


__ADS_2