
Kanaya berjalan pelan sambil mencari angkutan umum. Dia mau ke pasar belanja stok dapur yang sudah menipis. Kebetulan di warung terdekat sedang kosong.
Tidak lama menunggu, angkutan umum pun datang dan Kanaya langsung naik setelah mobil tersebut berhenti tepat di hadapannya.
Di dalam mobil angkutan umum tersebut, Kanaya bertegur sapa dengan sesama penumpang dan kebetulan memang masih tetangga kampung situ.
"Mau belanja juga?" sapa Kanaya kepada seorang ibu yang sedang menggendong putranya.
"Iya, Bu ... sudah gak punya stok, habis. Kebetulan di warung pun sedang kosong!" jawabnya lawan bicara nya Kanaya.
"Sama, karena di warung kosong, terpaksa deh ke pasar." Lanjutnya Kanaya.
"Iya benar, yang kita butuhkan sedang pada kosong! katanya belum belanja padahal kita nggak punya hutang perasaan." Timpalnya si Ibu yang usianya sedikit lebih muda dari Kanaya tersebut.
"Kita mungkin nggak punya, tapi di orang lain mungkin menggantung. Sehingga tukang warung itu nggak bisa berbelanja lagi, begitulah resikonya pedagang dan yang hutang pun seharusnya tahu diri." Ungkap nya Kanaya.
"Benar itu, kasihan juga kan tukang warungnya! kalau sampai usahanya bangkrut gara-gara yang ngutang." Ibu itu mengangguk.
"Justru terkadang orang yang ngutangin itu lebih punya malu dibanding orang yang punya hutang, Bu ... yang ngutangin malu untuk menagih dan yang punya hutang nggak punya malu untuk membayar," tambahnya Kanaya.
"Iya betul itu, orang yang ditagih suka lebih galak ketimbang yang nagih, karena yang di nagih punya malu takut dia yang belum ada lah takut tersinggung lah, tapi yang ditagih galak bener." Celetuknya penumpang lain.
Kanaya dan si ibu yang sedang menggendong anak itu menganggukkan kepalanya.
"Namanya juga manusia yang tidak pernah luput di salah dan dosa ibu-ibu," sambar supir dari depan.
"Memang, memang benar! tapi coba kalau posisi yang ngutangin itu ada di posisi yang ngutang. apalagi sampai usahanya bangkrut! cobalah orang yang punya hutang itu berpikir balik." Tambahnya si Ibu yang tadi.
Kanaya tersenyum tanpa banyak kata lagi, ia hanya mengajak main anak yang berusia sekitar empat tahun itu.
Kemudian, Kanaya dan si Ibu yang bawa anak itu turun di depan pasar. Lanjut berbelanja apa yang dibutuhkan dan untuk yang bawanya ada orang yang kuli panggul.
...---...
Di lokasi yang tidak terlalu jauh dari pasar tersebut. Ada proyek bangunan pasar Baru yang belum selesai pembangunannya. Yang rencananya akan menjadi ganti pasar lama nantinya.
__ADS_1
Dan katanya akan pindah pemborong dan arsiteknya juga. Saat ini Deri sedang berada di lokasi tersebut.
Untuk sementara waktu melihat-lihat dulu, karena untuk memainkan kerjaannya besok ataupun lusa. Bangunannya terbengkalai karena orang yang lama itu kabur dan kini dikarenakan di alihkan pemborong dan arsiteknya, otomatis bangunan yang ada akan sedikit dirubah lagi.
Saat ini dari pihak pemborong juga orang-orang yang bersangkutan sedang mengobrol dengan serius.
"Kalau menurut saya sih ini menghadapnya bukan ke sini, tapi ke sebelah sana! tapi kalau seandainya dirubah itu akan lebih memakan waktu lagi, konsepnya seharusnya nggak seperti ini juga." Menurut Deri.
"Saya sih terserah yang mengerjakan saja dan gimana baiknya saja." Pihak yang bersangkutan menyerahkan semuanya kepada Deri dan juga pemborongnya.
Setelah perbincangan selesai, Deri pun keluar dari ruang tersebut. Dengan rencana mau pulang, mendekati motornya dan menggunakan helm.
Tetapi dia ada niatan untuk melihat-lihat pasar yang sebelah. Bagaimana konsepnya dia pun harus tahu karena pasar itu akan dipindahkan ke pasar Baru bila nantinya sudah selesai.
Dan jelas pasar baru itu harus lebih bagus, lebih nyaman. Steril intinya harus lebih mencolok dari pasar yang lama.
Motornya Deri berjalan pelan di area pasar lama tersebut dan tiba-tiba dia mendengar suara teriakan.
"Copet, tolong dompetku dicopet!" seorang wanita yang terus berteriak karena dompetnya ada yang nyopet.
Deri langsung celingukan mencari kemana copet itu berlari. Setelah mendapatkan pencopetnya lari ke mana? Deri langsung mengejar dengan motornya sehingga dengan lebih cepat bisa menangkap orang tersebut.
Kebetulan si copet larinya di area jalan yang agak sepi ya mungkin tadinya akan masuk ke sebuah gang dia. Keburu Deri datang dan menendang kakinya orang tersebut.
Bugh-bugh.
Kaki kanan Deri menendang kedua kaki orang tersebut hingga tersungkur jatuh ke aspal, dengan cepat deri turun dari motornya.
Wuuuuushhhh ... kepalan tangan Deri menonjok dada orang tersebut sembari merebut dompet yang ada di tangannya.
Sesaat kemudian, datanglah orang-orang yang tadi mengejar dan berniat untuk menghakimi pencopet tersebut.
Namun Deri mencegahnya, karena dia lebih condong kalau orang tersebut lebih baik di serahkan pada pihak yang berwajib dari pada dihakimi oleh masa.
"Kalian jangan bertindak sendiri ataupun menghakimi, biarkan yang berwajib menangani." Jelas Deri.
__ADS_1
Orang-orang pada protes dengan omongannya Deri tapi mau gimana lagi? apalagi dengan datangnya keamanan yang langsung menangkap pencopet tersebut.
Kemudian Deri celingukan dan akhirnya menaiki motornya mencari orang yang kehilangan dompet yang kini sudah berada di tangannya itu.
"Ibu tidak apa-apa? selain dompetnya yang hilang?" tanya pengunjung pasar lainnya kepada Kanaya.
Rupanya yang kehilangan dompet itu adalah Kanaya, tadi sedang berjalan keluar dari pasar.
"Alhamdulillah aku tidak apa-apa dan yang hilang itu adalah dompet saja, tapi dalam dompetnya ada perhiasan dan foto pernikahan juga, bukan hanya sekedar uang yang sisa dari belanja tadi!" tuturnya Kanaya sembari memegang dadanya yang naik turun.
Merasa kaget, was-was dan cemas. Karena bagi dia foto pernikahan itu sangat berarti juga.
"Ya syukurlah, kalau ibu sendiri nggak apa-apa. Dan semoga dompet Ibu segera kembali ya?" timpalnya Ibu yang tadi bersama dengan Kanaya yang membawa anak itu.
"Aamiin." Kanaya mengusap wajahnya yang berkeringat dingin.
Deri terus mencari orang yang kehilangan dompet tersebut. Lalu dia mendapatkan kumpulan ibu-ibu yang dia pikir pasti orang yang kehilangan itu ada di sana.
Lantas Deri pun turun kembali dari motornya serta melipir meminta jalan pada orang-orang yang mengerubungi seseorang.
"Mana yang kecopetan dompet tadi! orangnya mana ya?" tanya Deri sambil terus melipir.
"Ini, di sini Pak. Dompet Ibu ini yang kena copet," jawabnya seseorang sambil menunjuk ke arah Kanaya.
Sekitar jarak 1 meter dari tertegun diam tak bergeming melihat seseorang yang berada di hadapannya itu, yang jelas-jelas dia tidak meminjam mata siapapun kalau dia melihat wajah orang yang pernah dia kenal.
"Kanaya?" gumamnya Deri sambil terus menatap wanita tersebut yang tidak menyadari akan kehadirannya.
Sesaat kemudian Deri semakin mendekat dan menyerahkan dompet tersebut kepada Kanaya yang sedang menunduk.
"Ya Allah ... dompetku!" langsung Kanaya mengambil dompetnya serta mengangkat wajah melihat orang yang memberikan dompet tersebut.
"Makasih ya Bang ... makasih banget? Abang sudah menolong saya dan mengembalikan dompet ini!" ucapan Kanaya yang menunjukan mata yang bersinar. Senang dompetnya telah kembali ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Ayo-ayo mana like komen dan dukungan lainnya agar aku tambah semangat nih.