Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Dihantui


__ADS_3

Beberapa kali Deri menggosok matanya yang setengah tidak percaya, kalau orang yang berada di hadapannya itu beneran orang yang dia kenal dan di yakini telah tiada.


"Kanaya?" Deri bergumam kembali sehingga Kanaya menoleh.


"Iya saya," anda tahu nama saya, ketemu dimana ya?" tanya Kanaya sambil mengecek dompetnya yang masih komplit isinya tidak ada yang kurang.


''Tapi, tidak mungkin. Kanaya sudah meninggal dalam insiden itu." Batin Deri sambil menggelengkan kepalanya.


"Abang makasih ya sudah menolongku dan aku tidak akan lupa dengan kebaikan Abang!" ucap kembali Kanaya sambil berdiri.


"I-iya. Apa kau ... sama sekali tidak mengenalku?" tanya Deri dengan sedikit ragu.


"Emang, Abang siapa? rasanya aku nggak pernah mengenal Abang Dan ... kita pun nggak pernah ketemu sebelumnya, baru sekarang ini aku melihatmu!" ungkapnya Kanaya sembari menaikkan alisnya.


"Saya ini sahab--"


"Bu, barang nya sudah di masukan ke angkutan umum." Suara seorang tukang panggul pada Kanaya, memotong perkataan dari seorang Deri.


"Ooh, iya, makasih ya? dan ini buat Abang!" Kanaya memberikan si Abang itu untuk buruhnya karena sudah membantu menaikan belanjaannya.


Kemudian Kanaya menoleh kembali ke arah Deri. "Makasih ya sudah menolongku. Semoga Allah membalas dengan segala kebaikan kepadamu. Permisi!"


Deri mematung melihat ke kepergian Kanaya, rasanya belum puas berbicara dengan wanita tersebut, dia sudah main pergi saja dan dari yakin kalau itu Kanaya. Karena dari cara jalannya pun sama dengan wanita yang pernah dia kenal, tapi sepertinya dia tidak mengenali dirinya.


"Ya Tuhan ... dia sudah meninggal, Kenapa sekarang aku temui lagi dengan semua ciri-ciri yang sama yang dia miliki hanya faktor usia saja yang sudah beda, apa ... mungkin? tapi tidak! itu tidak mungkin." Deri menggeleng sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi namanya persis juga, Kanaya. Aahc ... aku jadi pusing!" kemudian Deri berjalan mendekati motornya kembali sekarang dia melanjutkan niatnya untuk pulang.


Namun sebelum menyalakan motornya Deri melamun sejenak. kemudian celingukan ke sekitaran lalu dia bertanya pada orang yang berada di sana.


"Maaf bapak, ibu. Apa kalian mengenal wanita yang tadi yang kecepatan tadi itu?" selidiknya Deri.


"Oh ... dia namanya, bu Kanaya! Kenapa emang nya?" tanya balik seorang pedagang.

__ADS_1


"Suaminya dokter bukan?" tanya dari kembali.


"Sepertinya bukan, bukan dokter!" jawab si bapak kembali.


"Tahu alamatnya, Pak? maksudnya di mana dia tinggal, saya tidak bermaksud jahat kok. Jadi dia itu mengingatkan saya pada saudara saya yang sudah berapa puluh tahun ini menghilang!" dalihnya Deri meyakinkan.


"Tapi barusan, sepertinya ... em, dia tidak mengenali Anda!" kata si bapak itu menatap curiga.


"Nah ... itu dia Pak, apa ... apakah dia sudah lupa sama keluarganya atau gimana. Yang jelas keluarganya berapa tahun ini mencari keberadaan dia dan suaminya yang seorang dokter." Tambahnya Deri.


"Waduh ... kalau alamatnya sih nggak tahu kalau kampung nya sih ... Mungkin tahu-tahu aja!" kata si bapak.


"Iya, tidak apa-apa Pak kampung nya aja, nanti akan saya cari. Dia itu sudah berapa puluh tahun menghilang dan kami semua mencarinya! apa mungkin dia hilang ingatan atau gimana? karena barusan saja dia tidak mengingat saya!" sambungnya Deri yakinkan si bapak tersebut.


Kemudian si bapak tersebut mengatakan nama kampung yang menjadi tempat tinggal dari orang yang Deri tanyakan.


"Duh ... Makasih banyak ya Pak terima kasih! dan ini buat membeli rokok," Deri memberikan sejumlah uang pada si bapak yang malah melongo kepada Deri yang memberikannya sejumlah uang.


Setelah mendapatkan nama kampung yang menjadi tempat tinggal Kanaya. Deri pun melanjutkan niatnya untuk pulang dan mengenakan helm nya.


Di sepanjang perjalanan otaknya terus berpikir, siapakah wanita itu yang tidak sedikitpun berbeda dari Naya? semuanya sama sampai jalan-jalan pun yang sedikit tertatih itu sama. Deri menghela nafas dengan sangat panjang.


...----...


Hari-hari, Arya tidak luput dari membuat ulah menghantui dan menakuti Bu Mahdalena yang sekarang sudah dirawat di rumah. Walau kadang dia kabur karena linglung dari rumahnya tersebut.


Dengan dalih ingin bertemu dengan Dimas dan Kanaya. Dan kalau dia melihat gambar dari Dimas ataupun Kanaya, bu Mahdalena selalu menjerit ketakutan dihantui dengan dosa.


Membuat sang cucu Angelica sangat kelimpungan harus bagaimana menghadapi omanya itu, haruskah dia masukkan ke panti sosial ataupun rumah rumah sakit jiwa. Atau dia rawat sendiri di rumah! sementara dia suka kewalahan dan juga harus bekerja untuk mengurus perusahaan omanya.


Seperti saat ini, Angelica sedang mengobrol bersama Arya di area taman sembari menikmati dua cangkir kopi dan kuenya.


"Sayang, aku bingung harus gimana?" gumamnya Angelica sambil melirik ke arah sang suami, Arya.

__ADS_1


"Masalah apa?" tanya Arya sambil memangku laptopnya.


"Ya ... masalah omah, apalagi? di rawat di rumah ... kewalahan! masa harus di masukkan panti sosial ataupun Rumah sakit jiwa? aku nggak mau seperti itu, bagaimanapun di oma ku satu-satunya malah, aku nggak punya siapa-siapa lagi selain dia!" ucapnya Lica dengan sedikit nada sedih.


Arya melirik ke arah sang istri. "Emangnya siapa yang menyarankan oma mu dimasukkan ke rumah sakit jiwa ataupun panti sosial? kan di rumah juga sambil diobati bahkan bisa setiap hari bertemu dengan keluarganya!"


"Justru itu kalau di ke panti kan ... atau semacamnya lah rasanya tidak mungkin kalau setiap hari aku mengunjungi dia, beda dengan berada di rumah walaupun sebentar aku bisa menemui oma." Balasnya Angelica yang sembari menyesap kopi nya.


Dia juga menikmati suasana sunset yang terlihat indah dengan cuaca yang begitu syahdu.


"Ya sudah, biarkan saja duduk di rumah. Kamu pun banyak asisten yang menjaga oma dan sorenya atau malam kamu bisa menemui oma," sambungnya Arya.


Dan dalam hati-hati nya berkata, kalau Bu Mahdalena di ke panti kan, dia sendiri tidak bisa mengganggu dan pengobatan pun akan terasa lebih lancar! sementara dirinya belum puas membuat wanita tua itu menderita.


"Kamu tidak terganggu kan dengan keberadaannya oma?" tanya Lica kepada Arya.


"Ya nggaklah sayang, masa terganggu dengan oma sendiri, kamu macam-macam deh aku nggak apa-apa!" jawabnya Arya sambil tersenyum pada Lica yang sedang menatap dirinya.


Ting ....


Ada email masuk dari Deri yang mengajak ketemuan di sebuah Cafe dan juga tidak ketinggalan dengan Endro dan Aldo yang juga diundang untuk bertemu nanti malam.


Lantas Arya pun membalasnya dengan kata. "Iya, siap! tunggu saja di sana."


"Ada apa sayang?" selidiknya Angelica melihat Arya yang senyum-senyum sendiri.


"Oh, Nggak. Itu om ku mengajak ketemuan!" jawabnya Arya.


"Aku ikut? tapi nggak-nggak, aku harus nungguin Oma." Angelica menarik kata-kata nya yang tadinya mau ikut dengan Arya.


"Ini cuma untuk laki-laki saja ketemuannya, tanpa adanya wanita, ribet lah." Jawabnya Arya yang tidak ingin kalau Angelica ikut dia ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan lainnya. Makasih.


__ADS_2