
Setelah lelah menunggu. Akhirnya Arya muncul juga dengan langkah yang tampak capek. Angelica Langsung menyambutnya dengan ciuman hangat di pipi Arya dan langsung ia suguhkan makan siangnya.
"Kau tampak capek sekali." Gumamnya Angelica sambil menyuapi Arya.
"Sudah lama menunggu?" Arya sembari mengunyah.
"Lama, aku sudah dari tadi lho. Aku bosan menunggu." Angelica dengan nada manja.
"Aku habis op, dan memakan waktu yang lama!" sambungnya Arya sambil membuka mulutnya kembali.
Selesai makan. Arya bersiap untuk menemui pasien dan Angelica pun pamit untuk pulang dan mau belanja dulu katanya.
"Aku pulang dulu ya sayang, aku tunggu di rumah. Oya, aku mau belanja keperluan rumah dapur dulu dan nanti malam aku akan masak buat kamu!" Lica merangkul pundak Arya dan mendekatkan wajahnya seolah meminta sesuatu.
Arya pun mengerti, dia mengecup singkat bibir Angelica yang tipis itu. "Oke. Hati-hati!"
Mereka berdua sama-sama keluar dengan tujuan yang berbeda. Di koridor, Arya bertemu dengan rekan dokter yang menjadi saksi di pernikahannya dengan Gita.
Jelas dokter tersebut merasa heran dengan bahasa tubuhnya Angelica dan Arya, dia sering melihat Angelica datang ke rumah sakit tersebut dengan membawa omanya atau sekedar menemui Arya.
"Kau mesra banget dengan dia?" pria itu menunjuk ke arah Angelica yang sedang berjalan dan semakin jauh.
"Dia ... istri ku!" jawabnya ringan.
"Ha! istri?" keningnya semakin mengerut.
"Iya, istri. Kau pasti bingung bukan? aku juga bingung ha ha ha ..." Arya malah terkekeh sambil terus berjalan.
"Maksudnya apa sih? aku malah menjadi saksi pernikahan mu dengan putrinya pasien waktu itu." Lanjut dokter tersebut.
"Iya, kan tahu ceritanya gimana kan? sementara sudah jauh hari aku dan keluarga merencanakan pernikahan dengan dia. Yo wes ... terobos saja keduanya. ha ha ha ...."
"Gila, aku satu aja belum. Kamu dua sekaligus. Ck-ck." Dokter itu berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
Kini sudah waktunya untuk pulang, dan Arya memutuskan untuk ke Vila sebentar dan setelah itu ke tempat Angelica.
Sepeda motor Arya melesat bak anak panah terlepas dari busurnya sehingga dengan sangat cepat menuju Vila. Kedatangan Arya di sambut hangat oleh gita dan mencium tangannya Arya.
"Em, tadi aku kirim obat untuk mu, ada?" tanya Arya sambil berjalan memasuki Vila.
__ADS_1
"Ada, dan ... aku sudah pakai kok, makasih ya?" balasnya Gita sambil mengikuti langkah Arya.
"Hem ... Om Deri belum pulang?" Arya mengedarkan ke seluruh ruangan yang tampak sepi.
"Om tadi pulang, tapi berangkat lagi, katanya mau ke rumah Kayla atau siapa gitu." Gita mendudukan dirinya di sebelah Arya.
"Ooh, dia kembaran ku." Arya merangkul bahu Gita. Sekarang rasa canggung pun sudah mulai berkurang di antara keduanya.
"Apa, kembaran. Emang kau kembar?" selidik Gita sambil merubah posisi duduk menjadi lebih menghadap.
"Iya, aku kembar, dia perempuan." Arya mengangguk. Lalu menarik bahu nya Gita ke dalam pelukannya.
"Em ... aku bikinkan minum ya? kau mau mandi dulu gak? biar ku siapkan!" tawar Gita sambil mendongak.
"Kalau minum. Boleh, kalau mandi ... nggak aku mau pulang lagi. Kau baik-baik ya di sini, kau betah kan di sini?" Arya menatap ke arah Gita.
"Aku betah," jawabnya sambil beranjak mau membuatkan minuman.
"Begini kali ya, yang namanya di madu? suami pulang hanya sebentar-sebentar saja. Huuh ..." Gita berbicara dalam hati sembari menghela nafas.
Tidak lama kemudian, Gita kembali dengan membawa segelas air buah. "Ini minumnya!"
"Makasih sayang!" Arya segera meneguk minumnya lek-lek. Lek ... dalam hitungan detik pun isi gelas itu tandas.
"Cukup, masih banyak kok. Lagian kan aku bisa membelinya bila kurang sesuatu." Gita menunjuk ke arah lemari pendingin yang masih banyak stok.
"Oke, ini uang buat sekiranya kehabisan bahan dapur." Arya memberikan sejumlah uang. "Bila belum butuh, di simpan saja buat nanti bila kau perlu!"
Gita menatap uan tersebut. Uang yang kemarin saja masih ada dan utuh. Sekarang sudah di beri lagi. Namun pada akhirnya dia ambil juga.
"Kalau kau perlukan sesuatu. Bilang saja dan jangan sungkan." Arya lalu berdiri setelah melihat putaran waktu.
Dia berpamitan. Sebelumnya mencium pucuk kepala Gita. Lalu dia memakai helm berjalan mendekati motornya. Setelah mengucapkan salam.
"Wa'alaikumus salam ..." Gita berdiri di teras melihat Arya sampai menghilang dari pandangan.
Arya kembali membawa sepeda motornya dengan cepat dan mencari jalan pintas untuk segera sampai di kediaman Bu Mahdalena.
Selang sekitar kurang dari 40 menit. Arya sudah berada di kediaman Bu Mahdalena.
__ADS_1
Angelica sedang berkutat di dapur sesuai yang di katakan ya yang akan memasak buat suaminya.
Arya langsung menghampiri Lica yang sedang menata masakan di meja. Dia tersenyum melihat kedatangan Arya.
"Sayang, aku sudah masak kesukaan mu. Apa kau mau mandi dulu? tapi sebentar! aku bikinkan minum dulu, duduk dulu di situ." Angelica menyiapkan minumnya buat Arya yang tadinya mau ke kamar dengan niat mandi.
"Hem ... ini diminum dulu, pasti seger!" Angelica menyerahkan minuman pada Arya yang langsung pria muda itu terima.
Setelah meneguk setengahnya, Arya beranjak seraya berkata. "Aku mau mandi dulu!"
"Oke, nanti ku siapkan pakaian mu." Angelica mengangguk.
"Malam Oma?" sapa Arya sambil menatap ke arah Oma yang datang ke ruang makan.
"Malam juga. Kau baru pulang?" balas Bu Mahdalena.
"Iya, Oma. Gimana Oma sudah sehat?" sambungnya Arya.
"Sehat dong ... Oma gitu." wanita tua itu tersenyum bangga.
Kemudian. Arya melanjutkan langkahnya ke untuk ke kamar mereka berdua. Di susul oleh Angelica yang akan menyiapkan bajunya Arya.
Arya mesem-mesem sendiri di kamar mandi, entah apa yang dia rencanakan di malam ini untuk memuaskan dirinya atas dendam yang bertahta di hatinya.
Angelica menyiapkan pakaian buat Arya yang dia simpan di atas tempat tidur. Sekalian dia pun mengambil pakaian malamnya lalu dia simpan di sebelah bajunya Arya
Beberapa saat kemudian, Arya kembali dengan handuk melilit di pinggang dan beberapa senti menutupi area sensitifnya yang menonjol, membuat Angelica menelan Saliva nya berkali-kali melihat tubuh Arya yang sixpack dan turun ke bawah pemandangan yang eksotik.
"Aku lapar sayang, bisa kita makan terlebih dahulu?" Arya menoleh sambil memakai bajunya.
"Oh, iya. Tentu ... aku juga sudah lapar kok." Lamunan Angelica buyar.
Kedua netra Arya melirik ke arah baju tugas malam yang tergeletak di atas tempat tidur. Sekilas dia menyunggingkan bibirnya. Orang dah mulai traveling.
Begitupun dengan Angelica yang melihat Arya menatapi pakaian berwarna merah muda miliknya yang menunggu untuk dia pakai.
Setelah rapi dan Angelica ikut merapikan pakaian ya Arya. Lantas kedua berdua keluar dari kamar nya itu berjalan bergandengan menuju ruang makan, di sana sudah ada Bu Mahdalena menunggu makan malam bersama.
Dia tampak bahagia melihat cucunya yang terlihat bahagia itu, tidak tahu kejutan yang akan Arya buat untuk wanita sepuh tersebut ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan subscribe nya ya biar aku tambah semangat berkarya nya Makasih.