
Kemudian Arya melihat ke arah Deri yang terdiam seribu bahasa.
"Om, siapakah wanita itu?" Arya menoleh pada Deri yang dia pikir pasti Deri mengetahui siapa wanita tersebut.
Namun Deri sesaat menunduk. Lalu melihat ke arah pak Sunder yang sudah mau jujur mengakui dan dengan rendah hati meminta maaf juga.
"Baiklah. Kami pulang dulu, terima kasih sudah mau memberikan informasi penting ini?" Deri mengulurkan tangan kepada pria yang lebih tua dari dirinya itu.
"Tentu, datang lah. Saya akan dengan senang hati membantu kalian." Balas pak Sunder sembari mengangguk.
Lalu Deri berpamitan dan berjanji besok atau lusa akan kembali untuk mengobrol lagi. Tentunya dengan cara baik-baik.
"Om, kau belum menjawab ku! Dan bagaimana dengan orang itu yang sudah membuat ayah dan bunda tiada?" Arya berucap demikian sambil mengikuti langkah Deri yang lebar tersebut.
Deri hentikan langkahnya menunggu Arya lalu menepuk bahunya. “Kita pulang aja dulu, kita obrolkan di rumah. Oke?”
Pada akhirnya Arya pun mengangguk dan mengikuti kata-kata dari om Deri dan menaiki motornya.
Motor melaju dengan cepat setelah Deri pun duduk di bonceng dan mengenakan helmnya.
Sepeda motor Arya membelah jalanan yang diterangi oleh lampu-lampu jalan yang berjejer di pinggiran. Melesatnya motor tersebut sehingga lebih cepat untuk tiba di tempat tujuan.
Arya langung memasukan motornya ke garasi, setelah Deri turun dan memasuki kediamannya dan menjinjing helm ke dalam.
“Om, siapa wanita yang bernama Mahdalena tersebut? dan ada hubungan apa dengan ayah dan bunda? Kenapa Om tidak mau menjawab pertanyaan ku?” cecar Arya sambil berjalan mengikuti langkahnya Dari.
Deri menyimpan helm di tempatnya, lalu berjalan menuju sofa lantas duduk dia di sana dengan tenang.
Lain dengan Arya yang tampak tak sabar mendengar jawaban yang akan Deri berikan padanya. Tatapan Arya tertuju pada Deri yang masih juga terdiam dan menatap kosong ke arah depan.
__ADS_1
“Dia adalah seorang wanita yang menjadi rekan bisnis ayah mu—“ Deri menggantung omongannya lalu berdiri berjalan mendekati dispenser untuk mengambil minum, tenggorokannya terasa begitu haus.
Arya menggerakan netra nya seiring pergerakan tubuh pria yang menjadi lawan bicaranya itu.
Deri berpaling pada Arya yang tetap memandangi dirinya dengan tajam. Ia duduk kembali di tempat semula kemudian sebelum melanjutkan pembicaraan, Deri meneguk minumnya sampai tandas. Tampak sekali kalau dia kehausan.
“Dia adalah rekan bisnis, tepatnya investor dalam pembangunan Kanaya klinik itu. Dia meminta ayah mu untuk menikahi putri nya yang sedang hamil oleh kekasihnya, namun ayah mu menolak dong ... pertama! tidak merasa melakukan, dan kedua dia mempunya istri lah. Bunda kamu. Jelas wanita itu murka, dia pun mundur dari kerja sama dan dia pun pernah ingin meracuni bunda mu, namun tidak berhasil.” Ujar Deri yang cukup jelas untuk Arya yang mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kurang ajar, dia sudah tega mencelakai orang tuaku. Dimana dia Om sekarang?” rahang Arya mengeras, kedua lengan mengepal. Dimatanya tampak kemarahan dan kebencian yang mendalam.
“Tidak, aku tidak tahu kabarnya gimana, masih hidup kah atau tinggal dimana. Om tidak tahu!” Dari goyangkan kepalanya.
“Om Aldo dan om Endro, apakah mereka tahu dimana dia?” selidik Arya sambil menatap tajam ke arah Deri.
“Om rasa tidak tahu mereka, wong terungkap soal ini kan baru sekarang."Jawabnya Deri sambil kembali berdiri. Untuk mengambil lagi minumnya.
“Kenapa dulu, ini tidak di ungkap sampai tuntas, om ... kenapa dari dulu tidak di curigai kalau kematian mereka akibat sabotase, Om. Seharusnya ini di ungkapkan sampai ke akar-akarnya,” suara Arya menggebu-gebu.
“Om. Kalau saja tidak adanya kejadian itu, mungkin aku masih merasakan kasih sayang dan belaian dari ayah dan bunda. Setidak aku merasakan dulu perhatian dari mereka,” teriak Arya sambil mendongak dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Deri mengusap punggung pemuda tersebut. “Tidak sedikit pun makhluk di Dunia ini yang dapat menolak kematian atau takdir, lambat atau cepat. Kematian akan datang pada siapa pun. Dan seandainya ini di ungkap lagi. Akan membutuhkan banyak saksi dan kemungkinan saksi pun sudah tiada, karena sudah terlalu lama, soal insiden tersebut pun sudah ditutup, kejadian berpuluh tahun silam,” sambung Deri dengan lirih.
Arya diam mencerna uraian dari Deri yang berusaha menenangkan hatinya.
“Contohnya pak Ardi yang sudah tiada, dan polisi yang menangani kecelakaan tersebut. Pastinya sudah tidak ada di tempat semula bahkan mungkin ada yang sudah tiada juga,” sambung Dari.
Arya mengacak membuat nya terlihat frustrasi. ”Ha….”
Deri menghela nafas begitu dalam dan lalu ia hembuskan dengan panjang. “Yakin lah! siapa yang memanen ... dia akan mendapatkan hasil dari yang dia tanam sebelumnya.” Lanjut Deri lagi.
__ADS_1
Lalu Deri menyuruh Arya untuk beristirahat dan menenangkan dirinya. Lagian Besok dia akan bekerja takutnya kesiangan.
Arya beranjak dari duduknya dan meninggalkan Deri sendiri dan masih duduk di tempat semula.
Pemuda tersebut menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit dan menerawang sambil bicara sendiri.
“Saya harus mencari orang tersebut dan dia harus merasakan apa yang saya rasakan! kehilangan orang yang disayangi. Atau dibuat menderita, di akhir hidupnya. Ya ... aku akan buat dia menderita, ku ambil kesayangan nya. Ku buat dia merasa kehilangan. Tapi ... ya Allah bolehkah aku menyimpan dendam? Aku masih belum bisa terima kenyataan ini. Aku benci orang yang sudah membuat kedua orang tua ku meningal.”
...----...
Di suatu hari, Arya sedang berada di sebuah restoran bersama Deri dan Endro. Disaat sedang asik makan sambil berbincang, datanglah seorang gadis cantik dan ramah, ketika datang pun gadis itu langsung menyapa dan berjabat tangan dengan ketiga pria tersebut.
“Hai … ketemu lagi, apa kabar?" sapa gadis itu yang tiada lain yang bernama Angelica.
“Hai … juga, baik alhamdulillah…” Arya menyambut tangan gadis itu disertai senyuman yang tak kalah rahmah nya.
Lica mengangguk dan mengalihkan pandangan kepada kedua pria lainnya. “Hai, Om apa kabar?” Lalu dia mengulurkan tangannya kepada Endro dan Deri bergantian.
“Em … boleh ku ikut bergabung?” Lica menunjuk satu kursi yang tentunya kosong.
“Karena kursinya kosong ... tentunya silakan saja duduk, Nona, lain lagi bila tempat duduknya penuh, maaf-maaf pasti tidak kami izinkan, he he he …” Endro nyeleneh sambil menyilakan Lica untuk duduk.
Lica mengulas senyumnya sambil mendudukan diri di kursi yang tersedia di sana. “Om bisa saja.” Lalu dia memesan makanan ....
...🌼----🌼...
Apakah di meja ini akan mendapatkan satu keterangan yang penting?
Ayo klik subscribe nya ya ... lalu komen dan like juga.
__ADS_1
Makasih.