Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Makan malam


__ADS_3

Arya berjalan menuruni anak tangga, namun sebelum pergi. Dia mencari keberadaan Deri di kamarnya.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Om, aku berangkat dulu ya?" suara Arya dari balik pintu.


Deri yang berada di dalam kamarnya, mendengar suara Arya langsung mendekati pintu.


Blak ...


Pintu terbuka dan terlihat Arya berdiri dengan penampilan rapi. "Ok, Hati-hati jangan ngebut ya? bentar? kau ini bagai orang yang sedang jatuh cinta saja! kau cinta kah sama gadis itu?" godanya Deri.


"Hem, jangan sembarang. Om ... nggak lah! mana ada?" elak Arya sambil menggeleng dan bibirnya menyungging.


"Mungkin, secara dia itu cantik dan terlihat agresif gitu." tambahnya Deri sambil tersenyum tipis.


"Ha! ada-ada saja. Aku pergi dulu!" Arya ngeloyor pergi dari hadapan Deri yang masih mematung di tempat menatap dengan sangat lekat ke arah Arya.


"Hati-hati ... jangan dulu jatuh cinta ya? nanti kau akan terperangkap ke dalamnya." Pekik Deri pada Arya yang sudah mendekati pintu utama.


Arya menoleh sambil menggerakkan jarinya membentuk oke.


Deri menggeleng sembari menunjukan gigi putihnya yang berbaris rapi.


Jiuusssss ....


Motor kesayangan Arya meluncur dengan kecepatan tinggi menuju kediaman Angelica yang baru saja mau pertama kali dia kunjungi.


Motor Arya membelah jalanan yang tampak agak lengang dari pengendara lainnya.


"Yang mana sih! rumahnya?" gumamnya Arya sambil celingukan mencari alamat nya Angelica.


Hingga akhirnya dia temukan sebuah rumah sangat mewah dan besar juga bertingkat. "Ini kali ya?"


Arya turun dari motornya, setelah memarkirkannya di depan gerbang yang tinggi. Namun pintu gerbang langsung terbuka dan kedatangan Arya di sambut scurity di sana.


"Tuan mau ketemu nyonya dan nona ya?" sapanya scurity sambil mengangguk hormat.


"Em ... nona Lica dan nyonya Mahdalena ya?" Arya malah balik nanya.

__ADS_1


"Iya, tuan dipersilakan masuk dan motornya di bawa masuk aja." Kata scurity sambil mengalihkan pandangannya pada motor milik Arya yang barada di luar sana.


"Oh, iya. Makasih Pak!" Arya pun mengangguk ramah dan berbalik menghampiri motornya lalu dia masukan ke dalam halaman rumah tersebut.


Arya masuk, berjalan ke teras setelah memarkirkan motor kesayangan tersebut. Dengan hati yang deg-degan dia hendak mengetuk pintu, namun pintu sudah keburu di buka dari dalam.


"Hi ... selamat malam?" sambut Lica yang tampak sangat cantik, mengenakan dress tanpa lengan berwarna hitam.


"Hi, juga." Arya mengangguk.


Senyuman Lica begitu merekah. Lalu mengajak Arya untuk masuk, bahkan tangannya menggandeng lengan Arya.


Sambil berjalan. Kedua netra nya Arya melihat ke arah lengan yang di pegang oleh Lica yang dengan santai menarik tangan nya.


"Nak Arya, selamat datang di kediaman Mahdalena." Sambut Mahdalena dengan bangganya.


"Malam Oma?" Arya mengangguk hormat.


Dengan sikap yang sopan terhadap orang tua, membuat Mahdalena jatuh hati pada pemuda itu. Sudah tampan, baik. ramah dan sopan. Pantas kalau Lica naksir berat.


Kemudian mereka pun duduk bertiga berhadapan di meja makan yang sudah tersedia bermacam hidangan.


"Jangan khawatir, hidangan di meja ini semuanya halal. Ayam, daging, ikan juga telor. Semuanya ada dan halal." Mahdalena menunjuk semuanya yang ada di meja itu.


"Oh, iya Oma." Arya mengangguk sambil menatap banyaknya makanan.


Arya menghela nafas panjang. Lalu melirik ke arah Lica yang tidak memudarkan senyumannya.


"Ayo, Oma ... kita mulai makan sekarang? lapar nih dan nanti keburu dingin makanannya." Ajak Lica sambil mengambil piring buat Arya dan ia ambilkan nasi dan menu lainnya.


"Oke, kira mulai saja makan malamnya ya? sebelum kita bicara panjang lebar!" Mahdalena menyetujui dan menyuruh asistennya untuk mengambil makanan ke piringnya itu.


"Bicara, bicara apa lagi?" batin nya Arya sambil memulai makannya yang sebelumnya berdoa dalam hati.


"Kamu suka semua menu yang ada di sini bukan?" tanya Lica menatap ke arah Arya takutnya apa yang ia ambilkan Arya tidak suka.


"Em, suka. Tapi gak harus semua juga kali, yang ada aku bingung makannya gimana?" Arya mesem.


Lica pun turut menikmati makannya. Sesekali meneguk minumnya.


"Apakah di sini cuma ada tiga anggota keluarga ya?" selidik Arya sambil celingukan mengedarkan pandangan pada seluruh ruangan yang tampak sepi itu.


"Iya, kami cuma berdua saja. Selebihnya adalah asisten." Jawabnya Lica.

__ADS_1


"Ooh," Arya membulatkan mulutnya lalu kembali menyiapkan makanan ke mulutnya.


"Kau sendiri, orang tua mu masih komplit atau ... pastinya masih ada ya. Dan bangga punya putra yang masih muda namun sudah menjadi dokter bedah. Saya juga akan pasti bangga sama kamu." Ucap Bu Mahdalena yang akhirnya penuh dengan pujian atau sanjungan terhadap sosok Arya.


"Ah, biasa saja Oma. Jangan berlebihan. Tentunya ... insyaallah mereka bangga!" Arya mengangguk.


"Kenapa kau tidak mengajak orang tua mu ke sini? biar kita bisa kenalan dan saling berjabat tangan biar kita lebih jauh lagi kenalnya," sambung Bu Mahdalena.


"Em, dia berhalangan datang." gumamnya Arya.


"Lagian kan orang tua ku sudah tiada." Batinnya Arya sambil menunduk melihat ke arah piring makanan.


Angelica mendekat dan berkata pelan pada Arya. "Katanya mau mengajak om kamu. Kok gak ikut sih, apan nanti menyusul?"


"Em, dia kecapean. Jadi nya dia gak ikut." Balasnya Arya sembari mengambil gelas minumnya.


"Ooh, gitu ya?" Lica terdiam lalu melanjutkan makannya.


"Kamu, tinggal di mana emang?" selidik Bu Mahdalena.


Sejenak Arya terdiam sambil melirik ke arah Lica. "Cucu Oma tahu di mana aku tinggal."


"Aku jangan sampai ketahuan tinggal di rumah ayah dan bunda. Nanti bisa curiga. Berarti mereka harus tahunya aku tinggal di Vila saja." Batinnya Arya.


"Kau memikirkan sesuatu ya?" Lica menyenggol bagu Arya.


"Ah, tidak. Aku cuma menikmati makanan nya yang enak-enak ini. Sungguh masakan yang luar biasa yang pernah aku makan!" akunya Arya dengan di lebih-lebih kan, toh biasa saja.


"Uuh, kamu bisa saja. Bikin aku tersanjung." Lica menutup wajahnya malu.


"Kau, tahu? kalau ini semua Lica yang masak dan ini sungguh fantastis banget, seorang Lika sarjana ekonomi mau ke dapur, turun tangan sendiri untuk masak buat tamu istimewa nya ini." Ungkap Bu Mahdalena sambil menoleh pada cucu kesayangannya itu.


"Oya?" Arya pun melirik ke arah Lica yang berwajah merah.


"Ya ... dia yang masak buat kamu wahai anak muda." Tambahnya Bu Mahdalena.


"Makasih ya?" Arya melepas tatapannya yang tajam ke Lica yang senyum-senyum.


"Sama-sama, iya." Lica mengangguk. "Oya, makannya habiskan dong kalau enak. Nambah ya?"


Angelica mengambil piring Arya buat nambah, namun Arya tolak dengan alasan sudah kenyang.


Kemudian mereka berdua saling bertukar pandangan yang begitu mendalam ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Ayo dong mana dukungannya nih? biar aku tambah semangat nih. Makasih ya bagi reader ku yang selalu setia🙏


__ADS_2