Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Kilas balik


__ADS_3

“Oh, kamu mau gitu berbagi suami?” selidik lagi Kayla pada Gita.


“Em ... mau gimana lagi? dia memang sudah direncanakan abang nikahi, kan? sementara aku kan Cuma dadakan!” jawabnya sambil meneguk minumnya.


“Hem ... aku jadi penasaran istri abang yang satu lagi.” Kayla mengambil minumnya untuk dia teguk.


...---...


Di suatu tempat di perkampungan. Terdapat seorang rumah yang penghuninya itu dua laki-laki dan satu perempuan. Pria satunya sudah tua renta. Dan satunya masih tampak segar dan sekitar 50 tahun usinya, dengan seorang wanita yang tiada lain adalah istri pria yang masih usia 50 tahun itu.


“Yank. Mau makan sekarang? aku sudah masak masakan kesukaan mu.” Tawar sang istri yang muncul dari dapur menghampiri suaminya yang baru datang dari kebun.


“Iya sayang, aku mau makan dulu lah lapar, biar mandinya nanti saja.” Dimas beranjak dari duduknya pakaiannya masih kotor sebab dia sehabis dari kebun.


“Kalau begitu aku siapkan dulu ya yank?” si wanita paruh baya dan berkerudung pun kembali ke dapurnya.


Dimas pun mengikuti langkah sang istri dari belakang. Di rumah sederhana itu mereka tinggal bertiga, dengan seorang pria yang bernama Madi.


Kilas balik beberapa puluh tahun silam.


Dimas dan Kanaya yang sedang dalam perjalanan dari bandara ke kediamannya setelah melakukan perjalanan dari Sukabumi sehabis menemui orang tua dari Kanaya.


Di tengah jalan yang sangat sepi si mobil yang mereka tumpangi itu berhenti tiba-tiba. Dan menghampiri sepasang pria dan wanita yang menodongkan sebuah senjata angin yang di arahkan pada orang-orang yang berada di dalam mobil taksi tersebut.


“Siapa kalian?” Dimas kaget dan menyerahkan baby Arief ke Kanaya. Dan dia turun dengan tangan di angkat ke atas.


“Serahkan semua harta mu? Bila tidak mau celaka,” ucap si pria yang mengarahkan senapannya pada Dimas dan supir bergantian.


“Keluar?” suara si wanita yang bercadar mengarahkan pistol pada Kanaya yang masih berada di dalam mobil memeluk dua baby kembar yang lucu-lucu.


Kanaya yang ketakutan jelas dia pun keluar tanpa menghiraukan barang-barang ataupun tas yang berisi uang dan beberapa ATM juga ada perhiasan di sana.

__ADS_1


Lalu Kanaya berdiri di dekat suaminya dan memeluk erat dua beby yang tampak tidur dengan tenang. Kemudian siapa sangka dua baby itu di rebut oleh si wanita yang bercadar tersebut dan memasukkan ke dalam mobil kembali. Membuat Kayla ingin merebutnya namun tangan si wanita yang memegangi sebuah pistol dan dengan cepat mengambil batu yang mungkin sudah dipersiapkan sebelumnya. Hendak menghantam kepala Kanaya yang dengan refleks menjerit.


Dan dengan sigap dihalangi oleh Dimas sehingga yang kena itu kepalanya Dimas menjadikan pria itu itu oleng itu terjatuh ke tanah dengan keluaran darah dari kepalanya.


“Yank? Kalian apakan suami ku?” teriak Kanaya sambil menangis dan berjongkok lantas memeluk sang suami yang langsung pingsan.


Kemudian si wanita itu masuk dan menodongkan senjatanya pada supir yang hampir saja bergerak. Sementara si pria dengan tidak berperasaan juga memukulkan gagang senjatanya ke kepala bagian belakang Kanaya, menjadikan wanita yang tadi menangisi suaminya itu terjatuh pingsan juga. Di atas tubuh suaminya dan keluar juga darah dari belakang kepala.


Si supir shock melihat kejadian itu yang tepat di depan matanya, namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia pun dalam bahaya yang mengintai.


Si pria juga masuk ke dalam mobil bersama wanitanya dan masih menodongkan senjata pada sang supir yang masih melongo melihat penumpangnya yang terkapar di atas aspal.


“Jalan? Buruan,” pinta perampok tersebut. Membuat sang supir menuruti saja melajukan mobilnya dengan cepat dan tiba-tiba remnya blong sehingga mobil taksi tersebut terperosok ke jurang yang setinggi sekitar 25-30 meter.


Sementara Dimas dan kanaya masih tergeletak tak sadarkan diri di tempat sampai ditemukan oleh seorang pria yang bernama Madi. Lantas membawa mereka ke klinik terdekat.


Dimas dan Kanaya di rawat di ruangan yang sama dan mengalami koma beberapa bulan. Madi mendapatkan sebuah sebuah foto pernikahan mereka berdua yang diberi nama Dimas dan Kanaya, sehingga Madi berkesimpulan kalau kedua pasien itu suami istri dan tidak satu pun data yang dia dapati seperti alamat dan lainnya.


Karena sudah satu bulan, Dimas dan istrinya belum sadar juga. Hingga Madi mengambil keputusan kalau dia akan terus merawatnya di rumah saja.


Meraka tidak ingat siapa mereka sebenarnya. Alamat juga keluarga, sama sekali tidak dia ingat.


Yang akhirnya kedua tetap tinggal di perkampungan terpencil bersama Madi yang sudah menolong dan merawat keduanya.


Kilas balik selesai.


"Abang Madi, dimana? apakah dia sudah makan?" tanya sang suami sambil mendudukan dirinya di kursi yang seadanya.


"Abang tadi aku sudah ku buatkan bubur karena dia tidak enak badan." Jawabnya Kanaya sambil mengambilkan nasi buat suaminya tersebut.


"Ooh, pantas tidak ikut berkebun kalau dia sedang kurang enak badan. Tapi sudah minum obat kan?" sambung Dimas sambil menyuapkan makannya.

__ADS_1


"Sudah, tadi." Balasnya Kanaya sambil duduk dan menemaninya makan.


"Yank. Sebenarnya kita ini siapa ya? kok aku semakin la semakin asing di tempat ini. Orang-orang di sini pada baik memang, tapi rasanya ada sesuatu yang tidak mengingatnya." Ungkap Dimas sambil terus melanjutkan makan siangnya.


Kanaya terdiam sejenak lalu melirik pada sang suami. "Aku juga merasa begitu yank ... apakah kita ini punya keluarga yang lain? kata Abang Madi. Kita di temukan di jalan tergeletak bersimbah darah. Jadi kita pasti punya keluarga ya!"


"Iya Bunda, Aku pun merasa seperti itu. Selama kita di sini ... tidak ada yang mencari kali dan kita pun tidak mempunyai keturunan." Dimas mengenang masa lalu yang sama sekali tidak ingat sebelumnya gimana.


Yang mereka ingat hanya setelah tinggal di sini saja bersama Madi, sebelumnya gimana-gimana? mereka tidak ingat apa pun.


"Ya Allah ... semoga Allah menemukan kita dengan keluarga kita yang sesungguhnya di sisa hidup kita." Kanaya mengusap wajah dengan telapak tangan.


"Aamiin sayang, semoga kita diberi kesempatan mengingat siapa kita sebenarnya." Timpal Dimas sambil meneguk minumnya.


Lalu Dimas beranjak untuk mandi terlebih dahulu, setelah itu mau melihat Madi yang katanya sedang kurang enak badan.


Kanaya membereskan bekas makannya, lalu membawakan segelas air putih serta roti untuk Madi yang berada di kamarnya.


"Abang, aku bawakan minum. Dan roti, Abang harus banyak makan biar sehat kembali." Kanaya menyimpan yang dia bawa di atas meja kecil.


"Terima kasih, Suami mu masih di kebun ya?" Madi bertanya soal Dimas.


"Dia sedang mandi. Nanti dia ke sini melihat Abang!" sahutnya wanita berkerudung itu, lalu tidak lama di sana. Kanaya keluar kembali meninggalkan tempat tersebut.


"Ooh iya," Madi pun mengangguk lalu mengedarkan pandangan ke atas meja dimana tersaji roti dan air putihnya.


Kaki Kanaya berjalan memasuki kamarnya dan suami pun baru masuk dengan masih menggunakan handuk.


"Kata siapa aku sudah tua? lihat sayang aku masih tampak gagah bukan?" Dimas menunjukan otot-otot lengannya yang memang lebih terbentuk beda dengan sewaktu masih menjadi dokter.


Mungkin karena dia kerjaannya memegang cangkul dan berkebun. Bukan bergelut dengan jarum suntik ataupun peralatan bedah ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Adalah yang masih mengingat Dimas dan Kanaya? kini Hadi di sini.


__ADS_2