Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Menunaikan


__ADS_3

Mereka bertiga pun menikmati makan malamnya dengan sangat lahap, Lica merasa senang masakannya di sukai oleh suaminya itu. Arya lalu menyudahi makannya dengan meneguk air minum sampai tandas.


Begitupun dengan bu Mahdalena yang beranjak berjalan menuju ke kamarnya. Namun sebelumnya bilang kalau dia akan segera istirahat.


“Iya Oma. Aku juga akan segera ke kamar kok. Mau bantuin mbak dulu.” Lica membereskan sisa makanan yang dia simpan ke lemari pendingin biar besok di hangatin.


“Sayang sebaiknya kamu masuk kamar dan bersiap untuk ... maksud ku, memakai pakaian dinas malam. Ngerti kan?” Arya berbisik pada Lica.


Lica tersipu malu di buatnya, namun segera menuruti permintaan dari sang suami. Dan pekerjaan dapur di bereskan sama mbak.


Setelah Lica pergi, Arya pun menyelinap pergi menyusul ibu Mahdalena. Dengan mata yang hati-hati melihat kanan kiri.


Rupanya bu Mahdalena tidak langsung ke kamarnya, melainkan duduk di ruang tengah. “Oma, kok masih di sini? aku antar Oma ke kamar ya?”


“Kau belum ke kamar mu?” bu Mahdalena beranjak berdiri, lalu Arya menuntun tangannya wanita sepuh itu ke kamarnya.


Tanpa berpikir apapun, bu Mahdalena di antarkan Arya ke kamar sampai berbaring dan diselimuti.


Sesaat kemudian. Bu Mahdalena bersikap aneh dan tampak sangat ketakutan. Karena yang dia lihat sekarang bukannya Arya, tapi Dimas. Dokter Dimas yang kini berada di hadapannya itu.


“Kau, ke-kenapa berada di sini? bukankah kau sudah mati? jangan mengganggu saya, jangan! pergi sana? saya tidak melakukannya,” ucap bu Mahdalena sambil menggerakan tangannya supaya yang ada di hadapannya itu pergi.


Arya tersenyum melihat reaksi bu mahdalena yang sangat ketakutan.


“Pergi? pergi? kau tidak bisa menghantui ku. Aku tidak takut dan yang aku mau jangan mengganggu ku.” Bu Mahdalena mulai berteriak.


“Oma, ini aku. Arya ... oma siapa yang kau lihat itu?” Arya memegang tangan bu Mahdalena.


Kemudian bu Mahdalena menajamkan penglihatannya. Kalau yang berada di hadapannya itu bukan Dimas tapi Arya.


“Ta-tapi ... kalau barusan itu adalah orang lain.” Bu Mahdalena menggeleng.


“Ya sudah. Oma tidur ya istirahat, aku pun mau istirahat istri ku pasti sudah menunggu.” Arya pun mengundur diri.

__ADS_1


Bu Mahdalena menatap kepergian anak muda tersebut yang menutup pintu. Hadirlah bayang-bayang Dimas dan Kanaya membuat bu Mahdalena kembali berteriak-teriak sangat ketakutan bagaikan orang gila.


Arya terus berjalan dan pura-pura tidak mendengar, dia segera masuk kamarnya dan mendapati sang istri yang sudah siap dengan pakaian dinasnya. Arya mendekat dan mendekapnya.


Terdengar samar-samar suara bu Mahdalena berteriak-teriak. Lica hampir saja bergumam dan khawatir sama omanya. Namun dengan cepat Arya membungkam mulut Lica dengan bibirnya.


Arya mendorong tubuh gadis itu ke belakang yaitu ke tempat tidur. Di tindihnya dan dicumbu nya, Arya tidak mau Lica melihat omanya. Biar dia mati dengan rasa ketakutannya.


Lica pun yang khawatir sama omanya menjadi lupa dan tidak kuasa menolak cumbuan yang memang dia inginkan. Dia terhanyut dengan perlakuan dari Arya yang tampak menggebu-gebu.


Pria itu terus mencumbu Lica sampai tidak berdaya. Pintu itu terdengar di ketuk dan suara asisten yang memanggil Lica. Namun Arya tidak membiarkan Lica memperdulikannya, dia bawa Lica ke alam yang indah bersamanya. Kini Lica sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi bagian tubuhnya.


Begitupun dengan Arya, kali ini dia akan membuka segelnya Lica. Seiring dengan terusnya pintu di gedor. Arya melepas pusakanya untuk menghantam miliknya Lica yang ternyata masih virgin. Padahal dia kira kalau Lica sudah tidak virgin lagi dengan keagresifannya, tetapi Arya salah menduga.


Arya terus menyerang Lica sehingga sekuat apapun pintu di gedor. Lica mungkin tidak mendengarnya dan mengabaikan. Hingga yang menggedor pintu pun mungkin merasa lelah. Terbukti tiada lagi suaranya yang terdengar.


Yang ada hanya suara-suara indah yang menghiasi ruangan tersebut. Arya tidak tega juga bila harus terlalu melimpahkan kemarahan kepada Lica yang tentunya tidak tahu apa-apa itu.


Angelica menggelinjang bangun dan menindih tubuh Arya dan kini dia yang memegang kendali. Wanita itu biarpun merasa sakit. namun tidak dirasa dan dia memacu kudanya dengan penuh semangat sehingga semakin lupa dengan omanya yang tadi sempat dia dengar teriaknya.


Arya tersenyum puas, bukan hanya dengan permainan ini saja. Tapi dia puas kalau bu Mahdalena entah gimana nasibnya sekarang ini, tanpa cucunya yang kini sedang asik bercinta dengannya.


“Ooh ... sayang ...” desis Arya sambil membalikan posisinya menjadi di atas nya Lica.


Semakin malam mereka berdua semakin mejadi, seakan tidak mengenal lelah untuk melakukan pergulatan yang semakin memanas. Sehingga akhirnya keduanya benar-benar merasa lelah dan Lica menempelkan kepalanya di dada Arya, malam ini dia merasa disayang oleh suami tercintanya itu.


Hanya suara nafas dari keduanya yang saling bersahutan, dan bahasa tubuhnya saja. Tanpa mengeluarkan suara dari bibirnya.


Dalam hati Lica sangat bahagia karena bisa melepas sesuatu yang selama ini dia jaga hanya untuk suaminya tercinta. Sesekali dia mendongak melihat ke arah wajah Arya yang terpejam.


Dalam diam, Arya teringat dengan Gita yang berada di Vila bersama Deri. Semoga dia mengerti dengan keadaan ini.


“Sayang ... aku bahagia kau sudah menunaikan kewajiban mu pada ku, padah aku sudah mengira kalau kau itu—“

__ADS_1


“Tidak, normal ya? kau pasti berpikir seperti itu,” ucap Arya yang memotong perkataan dari Angelica.


Memang sebelumnya Arya pun tidak ingin menunaikan itu pada istrinya ini, dia ingin membuat sang istri tersiksa dengan keinginannya dan dia pun berpikir kalau istrinya ini sudah tidak virgin lagi dan ternyata dia salah.


“Maaf sayang? aku tidak bermaksud seperti itu, dan aku berpikir seperti karena kamu juga,” ucap Lica sambil memajukan bibir bawahnya ke depan.


“Hem ...” gumamnya Arya sambil memejamkan kedua netra nya dan tenaga merangkul bahunya sang istri.


Begitupun dengan Angelica yang juga memejamkan kedua matanya serta tangan mengelus dada bidang sang suami yang perlahan turun ke bawah dan mengelus penuh kasih sayang pusaka Arya yang baru saja istirahat dari tugasnya.


“Sudah dong sayang, aku capek.” Gumamnya Arya sambil tetap memejamkan matanya.


Angelica pun mengangguk pelan sambil mesem-mesem sendiri tanpa membuka manik matanya. “Aku juga capek dan ngantuk.”


Mereka berdua tidak keluar kamar sampai pagi menjelang. Bahkan sebelum bersih-bersih pun Lica meminta Arya untuk melakukan seperti semalam lagi, walau bilangnya capek. Tetapi tak ayal Arya menggempur dan menyerang kembali Lica dengan buas. Membuat Lica tertawa geli dan puas. Gadis itu meliukkan tubuhnya yang merasa geli namun bagai ada candunya sehingga tidak puas. Inginnya lagi dan lagi.


Setelah Lica keluar dan sudah rapi. Dia luar ramai dan asistennya bilang kalau bu Mahdalena di larikan ke rumah sakit akibat beberapa kali pingsan juga terus berteriak-teriak.


“Kenapa kalian tidak bilang sama aku?” Lica tampak sangat shock mendengarnya.


“Maaf, Non. Kami sudah berusaha menggedor pintu kamar nya Non, tapi tidak ada sahutan dari dalam.” Asisten itu menunduk dalam.


Angelica menoleh pada Arya yang baru keluar dari kamarnya. "Sayang oma di rumah sakit."


"Kenapa?" Arya pura-pura kaget.


"Ke rumah sakit sekarang ya? nanti sarapan dia sana saja. Heran aku, kok bisa-bisa nya aku gak dengar mereka memanggil ku, apa kau mendengarnya?" Lica menarik tangan Arya untuk jalan dan memberikan kuncinya.


"Nggak sayang, aku tidak mendengarnya." Arya menggeleng sambil mengitari mobil angelica ....


...🌼---🌼...


Ada karya baru yang berjudul "Jangan Pisahkan Aku" mampir ya semoga suka. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2