
Selang berapa waktu di perjalanan, akhirnya Dimas dan Kanaya sampai juga di kediamannya.
"Tumben kalian baru pulang, ke mana dulu?" tanya Madi kepada Dimas dan Kanaya yang baru datang.
"Kebetulan kami lama di sana. Belum lagi motor kami mogok, jadinya kena bengkel dulu. Kemalaman dan kehujanan nih," jawabnya Dimas sembari menyimpan helmnya di atas motor.
Sementara Kanaya bergegas masuk, untuk mengganti pakaian yang agak basah karena kena gerimis sekaligus menyiapkan pakaian suaminya.
"Gimana, apa kalian sudah mendapatkan titik terang?" selidiknya Madi.
"Alhamdulillah hari ini saya dan istri mendapatkan titik terang yang mudah-mudahan emang kabar baik untuk kami berdua sahutnya Dimas sambil mendudukan dirinya di atas kursi.
"Gimana ceritanya?" tanyanya Madi kembali.
"Ceritanya panjang dan sepertinya tidak akan selesai jika harus menceritakannya biarpun semalaman," jawabnya Dimas sembari nyengir.
"Lah, kau ini cerita saja. Saya juga penasaran gimana masa Lalu kalian dan identitas kalian." Sambungnya Madi.
"Kalau jelasnya ... kami belum tahu, tapi setidaknya kami masih punya harapan untuk mendapatkan identitas yang sebenarnya," ucap Dimas sembari menerawang.
Madi menatap lekat kepada Dimas. Dia semakin dibuat penasaran ceritanya seperti apa dan siapakah Dimas yang sebenarnya?
"Ada yang cerita, katanya sebelum kami berdua ya? Abang dan yang lain temukan tergeletak bersimbah darah. Ada yang melihat sebuah taksi berhenti di sana dan dihadang oleh seorang pria dan perempuan yang bercadar, mungkin intinya mau merampok dan juga mengambil paksa kedua baby penumpang yang berada di taksi tersebut," Dimas menjeda perkataannya seraya menghela nafas.
__ADS_1
Kemudian Dimas pun melanjutkan perkataannya. "dari dalam taksi tersebut, keluarlah seorang laki-laki dan perempuan yang berkerudung dan bawa kedua bayi. Terus bayinya diambil paksa oleh si perampok itu. Di masukan ke dalam, kemudian kedua perampok itu masuk ke dalam mobil membawa bayi dan mungkin beserta identitas dan barang-barang milik penumpang nya. Taksi melaju dan meninggalkan kedua penumpangnya yaitu yang tegerletak di jalanan itu." Ungkap Dimas.
"Berarti kedua orang yang tergeletak di jalanan itu. Kalian berdua?" tanyanya Madi seorang pria yang usianya lebih tua dari Dimas tersebut.
"Namun berapa meter kemudian mobil taksi tersebut kecelakaan terperosok ke dalam jurang dan penumpangnya pun tidak ada yang selamat kecuali dua bayi yang keduanya selamat lalu diambil oleh keluarganya. Mungkin keluarganya berspekulasi kalau yang jadi korban itu adalah keluarganya. padahal itu pria dan wanita perampok. Dan seperti yang mereka dengar kalau korban itu adalah seorang dokter." Lanjutnya Dimas.
"Kalau gitu ... berarti kau ini seorang dokter ya, tapi setelah kejadian itu kau malah bertani sama saya," serunya pak Madi seraya berpikir, kemungkinan besar orang yang bebebrapa puluh tahun silam dia tolong itu adalah orang berada bukan orang biasa seperti sekarang ini.
"Mungkin seperti itu, Bang tapi kan saya memang tidak mengingatnya sama-sekali sulit lagi, semakindi coba malah tambah sakit nih kepala. Tidak dapat memulihkan memori ingat ku lagi." Dimas mengungkapkan keadaannya yang begitu payah hanya untuk mengembalikan memori yang telah hilang.
"Yank, ganti baju dulu. Nanti kedinginan." Suara sang istri dari dalam.
"Iya sayang sebentar lagi, ini Abang ingin dengar cerita yang kita dapat seharian ini."Llirihnya Dimas pada sang istri.
"Iya Bunda ..." gumamnya Dimas.
"Abang hanya bisa mendoakan, semoga kalian ini cepat di pertemukan dengan keluarga kalian! siapapun mereka siapapun dari kalian!" harapnya Madi untuk Dimas dan istri.
"Kalau kami sudah menemukan identitas kami, saya ingin abang ikut sama kami, di sini juga Abang nggak punya keluarga lain. Jadi ikut saja sama-sama kami!" jelasnya Dimas sembari menatap ke arah Madi dengan tatapan yang tulus untuk membawa pria itu bersamanya kelak.
"Kalian bisa bertemu dengan keluarga saja, saya sudah merasa senang dan bahagia dan biarlah saya di sini menghabiskan hidup saya di tempat ini!" Madi berucap sembari menatap langit-langit.
"Tidak Abang, kalau kami pergi dari rumah ini ... abang pun harus ikut, karena Abang nggak punya keluarga lain dan biarlah tetap menjadi keluarga kami," Sambungnya Dimas yang kekeh ingin membawa pria tua tersebut.
__ADS_1
"Saya tidak ingin merepotkan mu, mulainya saya pun sendiri di rumah ini tanpa kalian berdua!" lirihnya pria itu kembali.
"Mungkin benar. Sebelum kita datang dalam kehidupan Abang, Abang sendiri is'oke. Namun jika kami pergi dari rumah ini, abang pun harus ikut sebagai tanda terima kasih karena Abang sudah merawat kami dan menganggap kami keluarga. Bagian dari hidup Abang," aku Dimas yang tetap ingin membawa pria tersebut selamanya.
"Terus, langkah apa yang akan kalian tempuh? agar kalian mendapatkan identitas kalian yang sungguhnya?" selidik Madi.
"Langkah selanjutnya ... saya harus sering datang ke lokasi, karena kata mereka keluarga yang menganggap korban adalah bagian dari keluarga mereka itu. Suka datang dan mudah-mudahan jika kami bertemu dengannya mereka mengenali kami jelas-jelas kalau kami tidak akan mengenali mereka," ungkapnya Dimas sembari menegakkan duduknya.
"Abang tahu nggak, sepertinya kami sudah mempunyai anak. Kembar malah, ada berita yang didapat klau perampok itu mengambil dua baby dari tangan penumpang yang berada di taksi itu termasuk semua data-data dan barang-barang berada di taksi tersebut!" timpalnya Kanaya sembari membawa berapa menu masakan mereka makan malam ini.
"Oya! berarti kalian itu sebenarnya tidak mandul, cuma kalian sudah punya anak sebelumnya dan tidak menambah lagi," jawabnya Madi melihat ke arahkan Kanaya yang sedang menyajikan yang dia bawa.
"Iya Abang, mudah-mudahan emang seperti itu, kalau korban yang ditinggalkan oleh taksi yang terperosok tersebut adalah kami berdua. Dan jelas-jelas data-data kami adanya di dalam taksi itu sehingga aku keluarga nya pasti menyangka kalau korban yang ditaksir tersebut adalah kami berdua." Kanaya menghela Nafas panjang lalu dihembuskan dengan perlahan.
"Saya hanya bisa mendoakan, semoga yang menjadi hajat kalian, di segerakan karena saya tidak mungkin bisa membantu kalian berdua, maklum saya ini sudah renta dan mudah capek." Ucapnya Madi mengingat kondisinya tersebut.
"Doa abang saja sudah lebih dari cukup, Bang apa lagi kebaikan abang selama ini kepada kami berdua ya, kan sayang?" Dimas memilirik ke arah istri dan Madi bergantian.
"Suamiku benar itu, banyak kebaikan Abang kepada kami berdua sementara Abang mulanya bukan siapa-siapa kami, Abang begitu tulus membantu kami bahkan menghidupi kami, merawat kami ketika tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan abang selama ini. Setelah nantinya kami sudah menemukan identitas kami, abang ikut sama kami pindah dari rumah ini!" tambahnya Kanaya.
"Tidak apa-apa, kalau memang saya tidak merepotkan kalian berdua." Madi tersenyum bahagia dengan niat Dimas dan istrinya yang ingin membawa dia bersama mereka ....
...🤭---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen dong biar ku tambah semangat🙏