
"Em ... gimana, apakah akan diterima atau di tolak?" pertanyaan yang cukup tho tho point dari seorang Deri.
"Ooh, tentu. Saya akan terima! apalagi anaknya mau. Kalau soal biaya atau resepsi akan saya tanggung--"
"Kami bukannya tidak mampu! tapi kami ingin ... jangan dalam waktu dekat ini! sebab Arya masih sibuk." Deri memotong perkataan bu Mahdalena.
Lica menatap ke arah Oma nya. Dia berharap omanya pun setuju dengan keputusan dari keluarga Arya, walau hatinya masih ada yang mengganjal. Soal sang ayah! karena setau dirinya bukanlah seorang dokter.
"Iya, maaf saya bukan niat merendahkan kalian. Bukan, tapi ini memang niat saya yang akan membuat resepsi sangat mewah untuk cucu saya," ucap Bu Mahdalena.
"Em, Tidak apa! saya mewakili yang lain ... setuju saja. Yang penting adalah dalam waktu dekat ini mereka berdua akan di nikahkan!" timpal dokter Aldo sambil melihat ke arah sahabatnya.
"Oke, saya siap dan setuju." Bu Mahdalena pun mengangguk setuju.
Angelica semakin merekah senyumnya. Lalu menoleh pada Arya yang menunduk.
Arya kepikiran, dengan perkataan Bu Mahdalena kalau sudah Lica adalah dokter Dimas. Sepulang dari sini dia akan mencari data tentang orang itu. Dia sangat penasaran.
Perbincangan berlanjut kepada waktu akan nanti yang akan di selenggarakan selang sehari dari sekarang. Semuanya serba cepat karena ingin menghindari fitnah. Begitu alasan Aldo sebagai juru bicara nya Arya.
Setelah merasa cukup dengan perbincangan tersebut. Arya dan keluarga pun berpamitan.
Wajah pemuda itu justru agak sendu. Dengan terus kepikiran soal itu.
"Kenapa? jangan banyak pikiran, yakinlah kalau ayah mu tidak seburuk yang di pikirkan," ucap Deri yang melirik ke arah Arya.
"Terus gimana kalau iya? berarti Lica itu--"
"Bukan, yakin deh ... itu tidak benar. Saya tau benar ayah kamu, kami semua tau ayah kamu lebih-lebih setelah menikah, dia sosok pria yang sangat bertanggung jawab! jadi kita kan tidak percaya dengan omong kosong itu." Aldo melirik Endro dan Deri.
"Tante juga, gak begitu kenal sama dia tapi tau. Kalau dia itu sosok yang baik dan gak pernah neko-neko orang nya. Dan banyak wanita yang mengagumi nya." Tambah Tante Tika.
"Termasuk Tante Citra. Istri Om," sambar Endro.
__ADS_1
Arya menoleh pada Tante Tika yang turut meyakinkan dan Endro bergantian.
"Saya pribadi tau gimana dokter Dimas. Orang kita bukan cuma satu gedung tapi tiap hari bersama! jadi Om lebih kenal dia ketimbang nenek sihir itu, ayah mu itu tipe pria setia! gak seperti kamu yang maruk. Istri saja mau dua," ungkap Endro sembari mengenang Dimas.
Arya mesem mendengar perkataan Endro. Lalu Arya mencari data dokter Dimas yang meninggal akibat kecelakaan, dan yang dia temukan hanya ada satu nama yaitu ayahnya.
Kemudian Arya tunjukan data itu dan minta penjelasan dari ketiga om nya.
"Saya tegaskan sama kamu, Nak ...percaya deh. Kalau Lica bukanlah anak dari ayah kamu, nenek sihir itu cuma bikin fitnah dan dia tidak tahu kalau kita berkaitan dengan orang yang dia fitnah." Kata Aldo.
"Hem, jangan dipikirkan. Nenek sihir itu hanya tidak ingin mengakui siapa ayah nya Lica. mungkin dia malu." Tambah Deri.
"Bener itu, jangan banyak pikiran, kau lurus saja dengan niat mau, apalagi semakin kelihatan tuh busuknya. Maju terus pemuda ku!" Endro menepuk bahu Arya yang akhirnya tersenyum tipis dan mengangguk.
Mobil terus melaju dengan cepat menuju kediaman dokter Aldo. Karena kendaraan mereka berada di sana.
Selang beberapa puluh menit dan malam pun semakin larut, Arya dan Deri sudah berada di atas motornya masing-masing. Sementara Deri sudah pulang duluan karena sang istri, Citra sedang kurang sehat.
"Kita mau pulang atau mau kemana dulu kamu?" Deri melirik ke arah Arya.
"Kirain mau temui gebetan satu lagi." Deri mesem.
"Hem, nggak ach. Besok juga ketemu di rumah sakit." Lalu Arya melajukan motornya.
Di susul oleh motor Deri. Meninggalkan kediaman dokter Aldo. Keduanya kejar-kejaran di jalan yang tampak sepi itu.
Setibanya di Vila. Ponsel Arya terus berdering yang tidak terjawab saja dah berkali-kali.
Panggilan sesama dokter yang sedang sip malam. Arya baru membuka helm nya langsung menerima sambungan telepon tersebut.
Dia mendapat kabar kalau pak Jum sedang kritis. "Apa?"
Deri yang sudah berada di teras mendengar nada bicara yang sangat kaget dari Arya. Membuat Deri penasaran, dia berdiri dan mengarahkan pandangannya pada Arya.
__ADS_1
Terlihat Arya memasukan ponselnya ke dalam saku. Lalu mengenakan helm dan buru-buru naik ke motornya kembali. Menoleh pada Deri yang seolah ingin tahu dirinya mau kemana.
"Om, pasien ku kritis. Aku mau ke rumah sakit dulu, dia ayah yang mau jodohkan aku dengan anaknya itu." Arya kembali menghidupkan motornya.
"Ha, apa yang gadis itu! Om ikut." Deri buru-buru kembali ke motornya sambil berjalan memasukan helm ke kepalanya.
Lalu menyusul motor Arya yang duluan menerjang malam dan gerimis pun menghiasi.
Motor Arya dan Deri yang begitu cepat bak anak panah terlepas dari busur, membuat tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumah sakit tempatnya Arya bekerja.
Arya berlari di koridor rumah sakit kebetulan sepi dan hanya terlihat beberapa petugas yang sif malam.
Begitupun dengan deri. Pria yang tampak masih muda dan segar itu begitu mudahnya mengimbangi langkah Arya yang berlari sehingga tiba di tempat tujuan bersamaan.
Benar saja. Pak Jum tampak Tritis, selang pun sudah terpasang di saluran pernafasannya. Padahal tadi siang dia baik-baik saja. Bisa dibilang membaik lah, namun saat ini yang dia lihat kebalikannya.
Di samping pak Jum, Gita duduk lemas dengan wajah menunduk dan basah dengan air mata. Di sana pun ada dokter dan di orang suster.
"Apa ini, kenapa bisa seperti ini? tadi siang beliau baik-baik saja mengobrol dengan saya." Suara Arya sambil mendekati pak Jum.
"Dia dari dua jam yang lalu dok, kritisnya." Jawab dokter yang menangani dan suster nya juga.
Pak Jum membuka matanya ketika mendengar suara Arya yang duduk di tepi tempat tidur pasien.
"A-ayah. Tadi dia pingsan setelah berdebat dengan juragan karet, di-dia ingin membawa ku untuk dijadikan istrinya. Dan juga mengancam aku dan ayah yang macam-macam!" jawab Gita sambil tetap menunduk dan sambil terisak juga.
Gita takut kalau sang ayah, harta dia satu-satunya itu tiada. Diambil oleh yang maha kuasa dan meninggalkan dia sebatang kara.
Arya melirik pada Deri yang berdiri di dekat dokter. Kemudian melihat ke arah Gita. Gadis itu terus menangis tersedu.
"Dok, dokter?" suara itu sangat pelan yang di tujukan pada Arya.
Tangis Gita pun berhenti dan Arya langsung menoleh lebih mendekat pada posisi pak Jum. Menggenggam tangan pak Jum yang terasa sangat dingin ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya, reader ku semua🙏 makasih.