
Setibanya di Vila, Deri dan Arya langsung memasuki Villa Nya tersebut.
Gita yang sudah tertidur, terbangun karena mendengar suara motornya Arya. Hingga dia pun segera turun untuk menyambut kedatangannya.
Dan mereka bertemu di ujung anak tangga lantai bawah. Dengan muka bantalnya Gita memeluk Arya seraya berkata. "Abang pulang!"
"Iya, sudah tidur ya?" Arya membelai rambutnya Gita dengan mesra.
"He'em." Gita mengangguk kemudian bertanya apakah suaminya mau makan yang akan dia siapkan.
"Tidak, sudah makan kok sama Om di luar. Kitu tidur saja yo?" Arya merangkul pinggangnya Gita sembari berjalan menuju kamar pribadinya.
Setelah berada di kamarnya, Arya mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan yang tampak bersih dan rapi itu. Kemudian dia menuntun tangan Gita ke atas tempat tidur.
Dan Gita hanya nurut aja dengan perlakuan dari Arya. Kemudian Arya semakin mendekat pada sang istri yang tengah menatap dirinya dengan tatapan sendu.
Lantas sementara waktu, Arya mencumbu wanitanya itu dengan penuh kelembutan. Dan penuh gairah yang mulai membara bak api yang tersiram dengan minyak.
Nafas yang memburu menghiasi ruang kamar tersebut yang begitu hening dan sepi. Arya terus saja menaikan libido lawan mainnya yang tampak asyik menikmati setiap sentuhannya.
Kemudian Arya membuka lebih dulu semua yang melekat pada tubuhnya, sehingga mengekspos semua yang ada pada dirinya,
Gita baru kali ini melihat yang sesungguhnya dan menajamkan pandangan pada pisang yang berdiri tegak itu. Gita beberapa kali menelan saliva nya melihat itu dan ingin sekali menyentuhnya.
"Kalau mau pegang! atau mengelusnya boleh kok, bukan kah ini milik mu juga. Singa ku jinak kok gak galak!" Arya berkata demikian karena melihat Gita tampak ingin menyentuhnya dengan gemas tersebut.
Kedua manik Gita bergerak melihat ke arah wajah Arya dan ke arah singa yang sedang bersiap memburu korbannya itu bergantian.
"Nggak pa-pa jinak kok, nggak bakalan gigit apalagi kalau disayang dia akan nurut!" sambungnya Arya sambil memegang tangan Gita lalu dia arahkan pada mahluk yang satu itu.
Mulanya Gita malu-malu dan bergidik ketika pas kulit tangannya bersentuhan langsung dengan kulit mahluk yang satu itu. Namun lama-lama jemari Gita bergerak juga mengelus kepala mahluk itu hingga sang empu merem melek merasakannya.
Dan lama-lama bukan cuma di elus saja tetapi juga di emek-emek kepala sampai ke badannya, kalau saja itu pisang asli ... pasti sudah jadi pisang penyet tak berbentuk saking gemes nya Gita pada makhluk tersebut yang kenyal-kenyal gimana gitu dan berotot juga.
Di lanjut dengan Arya mendorong bahu Gita agar berbaring di atas tempat tidur. Dan menggerayangi seluruh tubuhnya Gita dengan penuh semangat, kemudian kembali menjemputnya sampai dia puas dan kita akan merayakan untuk segera ada yang melanjutkan aksinya.
Tentu, Arya tidak membuang-buang waktu dengan apa yang ada di depan mata nya langsung mengarahkan dan melepaskan makhluk kesayangannya ke tempat yang sudah menjadi candu buat dia bermain.
__ADS_1
"Auw ..." desisnya Gita dengan nada panjang.
Sehingga terdengar merdu di telinganya Arya. Sambil terus melancarkan aksinya tersebut.
Yang semakin lama semakin memanas, percintaan di antara keduanya yang meluapkan kerinduan dari dalam jiwa karena tak bertemu setiap saatnya.
"Sayang. Kita akan menghabiskan waktu di malam ini berdua, malam ini aku akan bersamamu." Arya berbisik di telinga Gita dengan terus memecut kudanya agar lebih cepat.
Malam yang dingin semakin larut, semakin manambah syahdunya untuk pasangan yang sedang memadu kasih itu. Serta membawa ke sebuah pagi yang semakin dingin dan bikin mager untuk beranjak dari pelukan pasangan.
Arya memaksakan diri untuk beranjak melawan rasa dingin dan rasa betah yang enggan pergi.
Tangan Arya mengibaskan selimutnya dan lalu turun menapakkan kedua kakinya ke lantai. Mengayunkan langkahnya menuju kamar mandi.
Pemuda itu berdiri di bawah shower dengan suhu air yang hangat. Mengguyur tubuh. Arya Memejamkan kedua netra nya menikmati nikmat ya air hangat yang membelai seluruh tubuh.
Sesaat kemudian. Arya kini sudah rapi dengan pakaian formal, namun melirik ke arah Gita yang masih terlelap.
Arya mendekati. "Sayang, bangun ... dah pagi ...."
"Ha?" Gita melonjak bangun sambil menjepit selimut di bawah ketiaknya. "Jam berapa ini, kenapa gak bangunin aku sih?"
Arya yang kini duduk mengenakan sepatunya berkata. "Kan ini aku bangunin sayang!"
"Kenapa gak sedari tadi, sudah siang juga." Gita buru-buru turun sambil memeluk selimutnya ke kamar mandi.
Bibir Arya tersenyum melihat Gita yang terburu-buru pergi ke kamar mandi.
Setelah sarapan, Arya berpamitan pada Gita untuk bekerja sekaligus pulang ke rumah Angelica dan tidak lupa ia memberikan uang belanja pada Gita.
Di teras mereka berpelukan sesaat, sebelum pemuda itu pergi meninggalkan Gita.
Deri yang sudah siap di atas motor menoleh pada Arya sedang mengenakan helm. "Nanti di tunggu di lokasi ya?"
"Siap, Om. Aku pasti kok nyusul ke sana." Balasnya pemuda tampan tersebut.
"Om Aldo dan om Endro juga pasti. Kecuali ada sesuatu yang teramat mendadak dan penting. Kita semua paling tidak pernah ingkar kalau kalau ada janji. Dari dulu juga." Tambahnya Deri.
__ADS_1
"Iya, Om." Arya mengangguk.
Kemudian mereka pun masing-masing melajukan motornya. Ke tempat tujuannya yang berbeda.
...--------------...
"Bunda, aku mau membeli obat-obatan buat sayuran dulu ya!" Dimas menoleh pada sang istri yang sedang menyetrika pakaian.
"Aku nitip beli bakso ya?" balasnya Kanaya sambil menoleh pada Dimas yang sudah berada di atas motornya.
"Oh, iya nanti ku belikan. Ya udah aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum?" Dimas mengucap salam.
"Wa'alaikumus salam ..." balas Kanaya dengan senyuman di bibirnya.
Dimas melajukan motornya dengan cepat dan meninggalkan tempat tersebut.
Kanaya melanjutkan pekerjaannya yang baru mau selesai itu. Lalu memberikan pada tempatnya.
Lanjut mau menyiapkan semua bahan untuk masak. Buat makan malam nanti, mau bikin sup dan sambal goreng kesukaannya itu.
Semur jengkol dan lalapan juga yang tidak ketinggalan, sambal dan lalapan adalah menu wajib buat Kanaya.
Madi yang sedang menonton televisi. Anteng saja sendiri.
Di saat anteng berkutat di dapur. Ada suara pria yang mengucap salam dari luar, Kanaya celingukan dan melihat ke dalam rumahnya, di mana Madi mungkin tidak mendengarnya. Sehingga tidak menjawab orang yang mengucap salam tersebut.
Kanaya mematikan kompornya lalu dia keluar dari pintu belakang melihat ke arah depan.
"Wa'alaikum salam eh Pak RT ... ada apa ya?" ucapkan kanaya dengan suara yang lembut pada pak RT yang berdiri di teras.
Kemudian muncullah 4 orang pria yang berdiri di dekat Pak RT, memandang ke arah Kanaya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jelaskan Kanaya merasa heran dan bertanya-tanya, siapa mereka dan ada perlu apa?
"Em ... suami Ibu ke mana?" tanya Pak RT sambil menghampiri Kanaya dan diikuti oleh keempat orang tersebut.
"Suami saya ... sedang keluar membeli obat-obatan buat sayuran Pak RT, ada apa ya? rasanya nggak enak kayak gini. Tumben gitu pak RT datang dengan mereka!" jawabnya Kanaya sembari mengedarkan pandangan pada mereka berempat yang terus-terusan menatap ke arah dirinya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungannya ya? jangan lupa like comment agar aku tambah semangat.