
"Gila, jiwa lelaki ku meronta. Gara-gara ulah Lica yang bikin panas dingin." Gumamnya Arya sampul tersenyum.
Namun yang buat dia tersenyum bukanlah Lica melainkan dia kepikiran gadis manis dan pemalu yang dia temui tadi.
"Gita? Gita Nurani. Nama yang bagus," gumamnya Arya kembali sembari membaringkan dirinya dia tas kasur. Tatapi detik kemudian dia melonjak bangun terdorong dengan keinginannya untuk membuang hajat.
Sehingga dia melompat ke toilet. Buru-buru menurunkan celananya dan terong hidup pun keluar menjadi malu sendiri si Arya. Lantas berusaha menutupinya.
"He he he ... jangan bangun dong? jangan bikin saya malu."
Setelah beberapa menit kemudian. Arya melompat kembali ke atas tempat tidur dan berbaring di sana menarik selimutnya.
Keesokan harinya, seperti biasa Arya sudah berada di rumah sakit tempatnya bekerja, dan dikala waktu senggang dia mengunjungi pak Jum.
"Permisi ... Gimana kabarnya Bapak?" sapa Arya kepada pak Jum yang sedang duduk. Sepertinya dia baru saja diberikan obat oleh suster.
"Alhamdulillah dokter maksudnya kamu baik jawabnya Pak Jum sambil mengangguk.
Arya mengalihkan pandangan ke arah suster yang bersiap keluar dari ruangan tersebut. "Gimana bekas lukanya sudah mengering sus?"
"Baru saya ganti perbannya, Dok dan hasilnya belum terlihat signifikan. Mungkin besok baru terlihat gimana hasilnya atau perubahannya, Dok." Kata suster dengan ada ramah kepada Arya.
"Oke, mudah-mudahan saja Bapak ini lekas sembuh dan bisa beraktifitas lagi seperti biasa. Namun sebaiknya .... jangan dulu kerja berat-berat! istirahat dulu lah Pak, dalam jangka waktu beberapa bulan lah. Bapak harus beristirahat total," sambung nya Arya sambil mendudukan diri di dekat pak Jum.
"Tapi, Dok. Saya ini orang butuh, harus mencari uang buat makan. Saya dan putri saya dan saya juga harus membayar hutang untuk biaya rumah sakit ini yang terhitung tidak sedikit serta ... namanya hutang itu harus dibayar!" lirihnya pak Jum dengan nada sedih.
"Bapak tidak perlu memikirkan soal biaya rumah sakit. Karena semuanya sudah dilunasi termasuk rawat inapnya juga, yang penting bapak Jum ini lekas sembuh! jangan memikirkan soal itu." Arya memegang tangan Bapak tersebut dan menatapnya dengan sangat lekat.
"Tapi bagaimanapun itu hutang, Dok. Dan hutang itu wajib dibayar lambat atau cepat. Mau besar dan kecil pun itu wajib hukumnya dibayar, Dok," sambungnya pak Jum.
"Saya tahu itu wajib dibayar kalau seandainya itu hutang, tapi ... seandainya dia ikhlas membayarkan dengan niat menolong akan kesulitan Pak Jum. Tentu tidak perlu dibayar! dan dia ikhlas membayarkan buat Pak Jum," Sambung Arya.
"Saya ingin tahu siapa yang sudah mau membayarkan biaya rumah sakit, saya sangat berterima kasih kepadanya dan semoga rezekinya semakin berlimpah! telah sudi menolong orang yang tidak dikenal seperti saya ini. Mulia sekali hatinya! apa lagi katanya dia seorang dokter yang seharusnya dia dibayar. Bukannya membayar," Pak Jum menggeleng kagum.
__ADS_1
"Iya, doakan saja sama Bapak, semoga dia sehat dan sebagainya. Semoga dia tetap mempunyai hati yang lembut dan Terus mau menolong orang yang sedang membutuhkan begitu kan Pak?" Arya tersenyum.
"Aamiin ... itu yang saya harapkan. Dan saya sudah berniat, kalau dia laki-laki. Akan saya jodohkan dengan putri saya," ucap pak Jum.
Degh.
Kalau laki-laki akan di jodohkan dengan putri nya. Mendengar itu jantung Arya menjadi berdebar, bertalu-talu bagai bedug yang di tabuh tak beraturan.
"Saya jamin, kalau putri saya itu baik dan gak pernah neko-neko dan sangat penyayang juga panut. sekarang saja dia menggantikan saja bekerja di kebun karet, dia baru lulus SMA. Anaknya penurut dan dia di deketin sama juragan karet, tapi hati saya tidak merelakannya." Ujar pak Jum sembari menghela nafas panjang.
"Ayah, aku datang!" suara seorang gadis yang baru saja masuk dan menjinjing sebuah kantong.
Gita mematung ketika melihat Arya berada di sana bersama sang ayah.
Begitupun Arya, dia tak bergeming melihat kedatangan Gita, apalagi terngiang di telinganya kata-kata pak Jum yang bilang mau menjodohkan orang yang menolong dia dengan putri nya itu.
Pak Jum memandangi Putrinya dan dokter tersebut bergantian. Dan dia tau kalau orang yang bayarkan operasi dirinya Adah seorang dokter muda yang ada dihadapannya itu.
Gadis yang berambut di kuncir itu tetap berdiri di tempat dengan pandangan yang kosong entah kemana.
Namun pada akhirnya dia bergerak menghampiri sang ayah. "Iya Ayah, apakah Ayah sudah makan dan minum obatnya?"
"Sudah, tadi suster yang yang merawat ayah. Sangat baik dan ramah. Suster nya baik-baik," ucap pak Jum.
Arya mengangguk sama Gita yang meliriknya sekilas lalu kembali menunduk.
"Ayah, semalam aku hampir celaka di gangguin sama dia berandalan, dan ... Alhamdulillah ada yang menolongku--"
"Apa? astagfirullah ... terus kamu kenapa-napa kan, Nak?" 0ak Jum terlihat cemas.
"Tidak, Ayah. Aku di tolong pria ini, dia yang menolong ku semalam dan juga mengantar ku pulang." Kata Gita sambil melirik sekilas.
"Dia? dia yang tolong kamu? Dok, makasih ya sudah menolong putri ku!" pak Jum melihat Arya dan putrinya bergantian.
__ADS_1
"Sama-sama, Pak. Gak mungkin saya membiarkannya dalam bahaya, sementara kejadiannya didepan mata." Arya mengangguk sambil mesem.
"Ya Allah ... saya benar-benar berhutang Budi dan nyawa pada dokter." Pak Jum berucap sambil menatap ke arah Arya yang mesem.
"Ayah tadinya mau mengenalkan dia dengan mu, tetapi ternyata kalian sudah saling mengenal rupanya." Bibir pak Jum menunjukan senyum nya pada Gita dan Arya.
"Sudah, aku tahu kalau beliau dokter di rumah sakit ini." Gita mengangguk.
"Dia bukan cuma dokter, Nak ... dia malaikat buat kita berdua. Dan Ayah sudah bertekad dalam hati. Kalau ayah akan menjodohkan kamu dengan orang yang sudah menolong kita."
Ucapan itu terdengar lagi di telinga Arya. Membuat dia mengangkat wajahnya yang menunduk.
Begitupun dengan Gita, dia begitu kaget mendengar perkataan dari ayahnya yang intinya ingin membalas Budi dengan cara menikahkan putrinya sendiri.
"Ayah. Apa tidak salah? gimana kalau beliau sudah mempunyai istri atau kekasih, Ayah!" putrinya menatap lekat.
Sesungguhnya dia juga yakin kalau pria itu memang baik dan dari luar pun dia begitu tampan. Dan wanita mana sih yang akan menolak bila di jodohkan dengannya. Bergelar dokter pula.
Tetapi masalahnya, apakah pria itu mau? dan apakah dia masih single? siapa tahu sudah beristri atau mempunyai kekasih! kan tidak tahu.
Arya menatap ke arah wajah manis itu yang selalu memalingkan wajahnya apabila dia tatap. Dan tertunduk malu.
"Dok, masukan? menikahi dengan putri saya? dokter jangan memikirkan biaya atau maskawin. Karena saya tidak akan meminta maskawin selain bacaan alfatihah tiga kali. Dan cukup ijab kabul saja, Karena uang dokter pun sudah banyak keluar untuk pengobatan saya." Pak Jum menatap Arya yang tadinya mau beranjak pergi.
"Saya ingin putri saya ada yang bertanggung jawab secepatnya. Dan Ayah tidak rela bila kau di nikahi juragan karet, Nak!" pak Jum memandangi keduanya.
Arya menjadi dilema, sementara dia mau melamar Lica dan itu harus alias wajib. Di sisi lain dia pun tidak ingin menolak ataupun kehilangan gadis yang baru beberapa hari ini dia temui ....
...🌼---🌼...
Dilema buat Arya, mana yang harus prioritaskan!
Jangan lupa like, komen dll nya.
__ADS_1