Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Keterlaluan


__ADS_3

"Sungguh kau jahat oma, kau sungguh keterlaluan!" gumamnya Arya dengan sangat geram yang dia tujukan kepada Bu Mahdalena.


Angelica melirik ke arah sang suami dengan perasaan heran. "Kenapa dan apa maksud mu?"


Arya melirik pada Angelica yang tampak heran itu, kemudian Arya pun keluar sebelum amarahnya membludak. Meninggalkan Bu Mahdalena yang terus meracau.


Lica pun gegas menyusul sang suami yang tampak marah. Angelica celingukan mencari Arya yang mulanya tidak dia lihat.


Lantas menghampirinya. Derap langkah Angelica terdengar dan membuat Arya menoleh dengan tatapan mata yang merah dan seakan ingin menusuk jantung.


"Sayang, kau kenapa?" Angelica memegangi tangannya Arya.


"Kau tau dan apa kau mengerti dengan yang di katakan Oma mu ha?" suara Arya dengan nada marah.


Lica menggeleng tidak mengerti.


"Oma mu itu sudah membuat aku dan saudara ku menjadi yatim piatu, gara-gara ulah Oma kamu, orang tua ku kecelakaan." Nada suara agak meninggi.


Angelica menggeleng, antara tidak mengerti dan tidak percaya.


"Dokter Dimas adalah ayah ku dan Kanaya bunda ku." Arya menunjuk dirinya sendiri. "Mereka meninggal kerena kecelakaan, yang penyebabnya sabotase Oma mu!"


"Tidak-tidak, itu tidak mungkin! tidak mungkin Oma ku sejahat itu Kamu pasti bohong ini pasti tidak benar," Angelica terus menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan yang diomongkan oleh Arya.


"Aku tidak main-main semuanya benar, kalau Oma mu sudah membuat aku dan saudaraku menjadi anak yatim piatu, bahkan tadi kau dengar bukan? kalau dia pernah mau meracuni seorang wanita dan itu ibuku, hanya gara-gara ayahku tidak ingin dinikahkan dengan ibu mu yang sedang hamil ulah kekasihnya sendiri, dan itu bukan kesalahan ayahku!" ujar Arya dengan geram.


Angelica benar-benar tampak syok sekali mendengar semua perkataan dari Arya, Lica dibuat terpukul dengan kejujurannya sang suami.


"Tidak Kamu pasti bohong Oma aku sedang depresi, dia nggak sadar dengan apa yang diomongkan itu halusinasi, dan halusinasi itu cuman khayalan. Semua itu tidak benar." Angelica menggelengkan kepalanya tentang semua perkataan dari Arya.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi kenyataannya aku sudah punya banyak bukti kalau Oma mu itu yang menjadi dalang insiden yang menimpa orang tuaku, dan kamu harus tahu kalau aku pun ada dalam insiden tersebut. Tapi Tuhan masih sayang pada aku dan saudaraku sehingga kamu bisa selamat!" sambungnya Arya.


Tubuh Angelica luruh ke lantai dia benar-benar terpukul kalau memang benar omanya seperti itu. Serta berbuat demikian.


Wanita muda itu tidak bisa membayangkan, jika kejadian itu kembali di kasus kan, dan menyeret nama Omanya ke dalam penjara. Mana usianya sudah tua dan dia sendiri tidak punya siapa-siapa lagi itu.


selain omanya.

__ADS_1


Arya menatapi sang istri yang terus menangis tersedu. Dia kasihan sama Lica bukan sama Bu Mahdalena. Bagaimanapun nasib Lica mungkin tidak jauh beda dari dirinya yang yatim piatu.


Hanya lain dari cerita. Pemuda itu mendekat dan mengangkat bahu Lica di ajaknya berdiri.


Lica berduri lalu memeluk Arya. "Aku gak mau Oma di penjara, Oma itu sakit dan sudah tua! jangan penjarakan Oma."


Arya tidak menjawab melainkan membalas pelukan Lica dan mengusap punggung nya. Memang perkataan Lica benar kalau wanita itu sedang depresi dan sudah tua.


Hanya bagi Arya, kini sudah semakin terbukti kalau ada dalang di balik terjadinya kecelakaan itu.


Terdengar suara Bu Mahdalena dari dalam teriak-teriak sehingga perawat berdatangan.


Dengan refleks Angelica menoleh dan langsung berlari ke ruang omanya. Arya hanya terdiam di sana tanpa menyusul sang istri.


Keesokan harinya, pagi-pagi Arya memutuskan untuk pulang ke Villa.


Gita sedang meyiapkan sarapan di meja. Dan dia menyambut kepulangan Arya dengan senyuman yang manis.


"Sudah pulang? mau langsung sarapan atau mau mandi dulu?" tawar Gita.


"Mau mandi lah," jawabnya Arya sambil terus berjalan ke lantai atas.


Deri menatap langkah Arya yang tampak lesu itu. "Kenapa kau begitu tampak lelah? kau baik-baik saja kan!"


Arya menoleh sambil menunjukan senyumnya kepada Deri. "Aku baik-baik saja Om. Aku ingin mandi dulu."


"Mungkin Abang kurang tidur Om." Timpalnya Gita yang berjalan di belakang nya Arya.


Deri hanya terdiam. Dan seolah memikirkan sesuatu tentang Bu Mahdalena yang katanya sedang di rumah sakit.


Arya sedang berada di kamar mandi dan Gita menyiapkan pakaian nya Arya.


Tidak lama Arya kembali dengan tampak segar. Dia melihat Gita masih berada di sana sambil membereskan kamar tersebut.


"Kau sudah mandinya, sini aku bantu mengeringkan rambut mu!" Gita mengambil handuk kecil dari tangan Arya yang basah itu.


Arya menurut saja dengan perlakuan Gita yang mengeringkan rambutnya. Dengan bibir yang tersenyum.

__ADS_1


"Em ... makasih ya! istri ku baik sekali." Arya menunjukan senyum manisnya pada wanita yang menjadi istri siri nya itu.


Gita hanya menunjukan gigi putih nya yang berbaris. Kemudian Arya memakai pakaian yang Gita bantu untuk sekedar merapikan saja.


"Oya gimana Oma istri mu yang sedang dirawat itu?" tanya Gita sambil menenteng handuk.


"Dia ... seperti orang gila, depresi berat." Jawabnya Arya sambil mengenakan jam tangan di pergelangan lengannya.


"Ooh, semoga cepat sembuh ya. Atau bisa segera pulang." Gita berharap. Lalu dia kembali ke lantai bawah.


Arya menatap punggung Gita yang melintasi pintu kamarnya itu.


Setelah rapi, Arya mengambil tas kerja nya lalu turun dari tempat tersebut.


Deri sudah berada di meja makan menunggu kehadiran Arya yang baru saja turun.


"Gimana mertua mu sekarang? lebih baik atau--"


"Dia ... depresi berat. Om, teriak-teriak. Bicara sendiri dan apa yang dia bahas? tentang masa lalu. Yang sudah dia lakukan dan dia yang pernah mau meracuni bunda pun dia katakan." Arya menyuapkan makannya ke mulut.


"Saya jadi ingin lihat dia, seperti apa?" Deri merasa penasaran akan ke adaan Mahdalena.


"Lihat saja Om, aku muak melihatnya. Kalau saja dia itu laki-laki sudah ku tonjok itu mulut." Arya terlihat geram dan benci.


"Kalian makan dulu deh ..." Gita duduk dan baru mau sarapan.


Arya dan Deri melihat ke arah Gita lalu mereka berdua terdiam sambil menikmati sarapannya yang Gita siapkan.


"Oya, kalian bicarakan apa cih? kok menggebu sekali dan sepertinya ada dendam gimana gitu!" Gita bertanya sambil melihat ke arah om Deri dan Arya bergantian.


"Ini cuma bagian mana lalu. Dan kalau diceritakan cih ... akan sangat panjang dan tidak akan selesai dalam waktu seharian." Deri dengan nada serius.


"Ahc, om bisa saja." Gita mesem sambil mengunyah.


Selesai makan. Arya pun berdiri membawa piring bekasnya, yang Gita cegah. Dan Gita langsung mengambil dari tangan Arya, keduanya saling pandang begitu lekat ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mohon dukungan dari kalian semua ya, like komen dan lainnya 🙏


__ADS_2