
Setelah berpamitan kepada sang istri, Arya siap untuk pergi menuju salah satu cafe tempat dia dan yang lain berkumpul dan Arya pun sudah bilang sama Angelica kemungkinan dia nggak pulang.
Karena mau menginap di villa awalnya Angelica ingin ikut, apalagi kalau suaminya mau menginap di Villa, tapi dengan segala alasan. Arya pun membujuk Angelica agar tidak mengikutinya.
Motor Arya terus melaju di antara kuda-muda besi lainnya. Hari dah mulai berganti malam, Dia menjalankan sepeda motornya dengan sangat cepat sehingga dengan cepat juga tiba di depan Cafe.
Arya berjalan menenteng jaketnya dan merapikan topi yang menempel di kepala memasuki Cafe tersebut. Di sana sudah ada Deri, Endro dan Aldo yang menunggu kedatangan Arya.
"Sorry, aku telat ya?" Arya bersalaman dengan ketiga pria tersebut.
"Maklum, sekarang sudah ada bini, jadinya lebih betah di rumah. Ha ha ha ..." Endro terkekeh.
Aldo tersenyum dan menepuk bahu Arya, kemudian mereka duduk berhadapan.
"Kalau bini mu yang satu lagi dibiarkan terus sama om Deri, udah aja kasihkan sama itu orang, kasihan kesepian." Tambah Endro sambil melirik ke arah Deri yang terdiam.
"Lah, jangan dong ... Om Deri cari yang lain saja yang lebih sepadan. Masih banyak kok." Sahutnya Arya.
"Sama kamu juga nggak di anuin, mendingan di kasihan sama Om Deri dari pada dia sendirian. Lagian satu rumah juga" tambahnya Endro.
"Kata siapa Om? aku itu gini-gini juga bertanggung jawab, biar dua istriku. Semuanya aku penuhin kebutuhannya kok, nggak percaya! kalian nggak percaya? tanyain aja sama Om Deri," tambahnya Arya sembari melirik ke arah Deri yang langsung merespon dengan anggukan.
"Iya, kau bertanggung jawab sama dua istrimu itu, tapi yang setahu aku sering di Rumahnya Angelica di rumah nenek sihir itu, oh iya. Gimana sekarang kabarnya?" tanya Endro setelah mengingat Bu Mahdalena.
"Ya ... gitulah seperti orang gila, terkadang dia sering menyebut-nyebut nama Dimas Kanaya ingin bertemu, dia susul saja mereka ke kuburan kalau mau, biar ketemu sama mereka minta maaf sana," ucapnya Arya dengan ada dingin.
"Itu namanya depresi yang tinggi dan dia dihantui dengan rasa berdosa, makanya jadi orang mau bikin kesalahan itu pikir-pikir dulu. Ingat dosa dan akibatnya gimana?" akhirnya dokter Aldo bersuara juga menggerakkan bibirnya yang sedari tadi hanya senyum Dan senyum.
__ADS_1
"Terus dimana sekarang? di rumah apa di rumah sakit jiwa?" tanya kembali Endro.
"Ada di rumah, dijaga ketat sama asisten juga cucunya, kalau di rumah sakit jiwa ... saya nggak bisa lihat perkembangannya setiap hari Om. Lagian malas jika harus bolak-balik ke rumah sakit, jadi biarkan saja di rumah mau begini-begitu! seperti orang gila, karena juga dia gila." Balasnya Arya lagi.
"Kalau begitu kasihan juga cucunya ya? sudah tidak punya siapa-siapa, omanya seperti itu ... suaminya juga jahat ha ha ha ..." timpalnya dokter Aldo.
"Aku jahat sama Omanya, Om. Sama cucunya sih nggak, kalau aku niat jahat aku siksa dia, tapi nggak juga. Malah ku kasih kenikmatan dia, he he he." Arya tertawa garing.
"Mana ada, kamu nggak nyakitin dia? kamu itu akan menduakan dia dan sama aja bikin dia sakit hati dodol." Kepala Endro menggeleng menyesap minumnya.
"Kalau soal diduakan sih ... itu diluar dugaan Om ... karena sebelumnya belum ada niat untuk menduakan, karena paling banter aku nikahin Gita itu setelah selesai urusannya dengan Angelica ataupun dengan omanya, ha ha ha ... tapi kenyataannya seperti ini ya anggap aja bonus!" Arya menunjukkan gigi putihnya yang berbaris.
"Nah ini, ini dia. Anak asuhan mu kurang ajar juga, yang sama aja dengan penjahat kelamin, dia wk-wk-wk-wkkk ..." Endro tertawa lepas sehingga menggoyangkan kedua bahunya.
"Kalau sudah di tangan, buat apa dilepas? Apalagi Gita anaknya baik juga nggak neko-neko. Sederhana dan penyayang! ya sudah, lanjutin saja!" ucap Deri dengan nada datar.
"Justru karena dia belum berpengalaman dalam rumah tangga jadinya dia nggak tahu beban rumah tangga itu seperti apa, ha ha ha!" Endro memotong perkataan dari Arya lalu tergelak.
"Tapi saya setuju juga dengan pendapat Deri kalau memang baik dan merasa nyaman, ngapain di lepas? yang penting sama-sama terpenuhi kebutuhannya apa lagi sih yang dicari itu pokonya ekonomi, kecuali kamu Arya nggak bertanggung jawab sama salah satunya dan salah satunya itu ... misalnya dalam ekonomi tidak terpenuhi terus minta dilepaskan, kalau semuanya terpenuhi? ngapain juga?" tambahnya dokter Aldo.
"Bener!" Deri acungkan jempolnya ke arah dokter Aldo.
"Ini orang malah dukung Deri, tapi tak apalah," sahutnya Endro.
Arya menyesap minuman yang baru saja datang. Kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Deri. "Sebenarnya ada apa sehingga mengajak kita berkumpul di sini?"
Deri yang sambil mengembuskan nafas panjang serta memutar ingatannya pada waktu itu, ketika dia di sebuah pasar dan ada yang kecopetan.
__ADS_1
"Lah malah diam lagi, buang-buang waktu ini. Daripada lihatin orang diam mah mending di rumah aja kali pelukan ma istri. Enak-enak! di sini liatin orang diam." Cerocos Endro sembari menggeleng kesal.
"Iya, apakah ada yang penting dan soal apa?" dokter Aldo menatap penasaran karena Deri malah memutar-mutar gelas miliknya yang berada di meja.
"Rasanya ... seandainya saya cerita, kalian nggak akan percaya tapi ini benar-benar nyata dan bukan meminjam mata orang tapi dengan mata kepalaku sendiri!" jelas nya Deri sambil mengedarkan pandangan ke arah ketiga pria yang berada di hadapannya itu.
"Aduh ... berbelit-belit kayak ular yang melingkar-lingkar di atas pagar. To the point saja, kenapa sih?" protesnya Endro pada Deri yang dia rasa omongannya tidak jelas.
Arya menoleh ke arah Endro seraya berkata. "Om Endro ... dengerin dulu lah, penjelasan om Deri, jangan dulu protes dengerin aja. Santai."
"Lah ini juga santai bro. Emangnya kau lihat aku sedang lari-lari? kan tidak." endri membuka kedua tangan seraya menaikkan kedua bawahnya.
"Makanya dari itu, saya merasa kalian nggak akan percaya dengan apa yang saya lihat. Dan itu nyata di depan mata." Deri menatap ketiganya satu persatu dengan sangat lekat.
"Emangnya apa yang kau lihat? benda kah, orang kah. Atau apa dong? selidik dokter Aldo sembari menegakkan duduknya bersandar ke bahu kursi.
"Apakah kalian percaya! jika adanya reinkarnasi?" Deri malah bertanya.
"Reinkarnasi sama sama titisan dewa gitu?" Endro menatap ke arah Deri.
"Maksudnya gini," Deri menggerakkan kedua tangannya. "Seandainya orang yang sudah meninggal berapa puluh tahun silam atau berapa abad lalu gitu! terus ada orang yang persis sama seperti orang yang sudah meninggal gitu!" ujar Deri kembali.
"Oke! saya percaya dan itu memang hal yang biasa, jangankan sudah meninggal. Belum meninggal aja banyak kok yang sama! padahal bukan dari satu rahim yang sama atau keturunan yang sama!" dokter Aldo mengangguk-angguk kan kepalanya.
Kemudian pasang mata mereka mengarah kembali kepada Dear, mereka berusaha memahami apa yang dimaksud dan tujuan dari uraian perkataan pria tersebut ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen juga subscribe, makasih.