Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Memori


__ADS_3

Kemudian obrolan pun terhenti, dilanjut dengan menyantap makan malam yang hanya seadanya, namun terasa nikmat bagi mereka bertiga.


Selesai makan malam, mereka pun masuk ke dalam kamarnya masing-masing, kebetulan waktu pun sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.


Saat ini Dimas dan Kanaya sudah berada di kamarnya dan Dimas pun sudah menggantikan pakaiannya dengan yang lebih bersih dan kering.


Lantas pria itu berbaring di atas tempat tidur yang hanya cukup untuk berdua saja, tentunya di samping nya istri yang sudah berbaring duluan.


"Yank?" panggil Kanaya sambil melirik ke arah sang suami.


"Hem ... apa Bunda?" jawabnya Dimas seraya menggerakkan kepalanya ke arah sang istri.


Kanaya lalu yang menggerakkan kepalanya agar masuk ke dalam pelukan suaminya tersebut. "Aku sangat berharap, kalau cerita yang kita dapatkan hari ini adalah yang benar-benar nyata dan kedua baby itu adalah keluarga kita!"


"Iya sayang, berdoa saja semoga itu emang kenyataannya! aku pun cuma bisa berharap, dan Tuhan juga yang menentukan." Dimas mengangguk sembari memberi kecupan pada kening sang istri.


"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin bertemu mereka, yang sudah puluhan tahun ini terpisah," sambungnya Kanaya seraya mendongak sesaat.


"Kita harus tetap sabar serta berdoa dan meminta kepada yang maha kuasa, agar kita segera dipertemukan dengan keluarga kita siapapun dia dan dimanapun berada!" timpalnya Dimas sambil membelai rambut sang istri.


"Iya, aku akan selalu berdoa dan bersabar. Semoga yang diharapkan kita adalah menjadi kenyataan." Harapnya Kanaya seraya memejamkan kedua matanya yang sudah terasa lelah.


"Sekarang kita bobo dulu! besok kita lanjutkan hidup kita ini, dan besok aku akan sendiri ke lokasi. Sayang jangan ikut dulu! bantu aku dengan doa, oke?" Dimas pun memejamkan kedua netra nya yang sudah terasa sepet sekali.


Waktu terus berputar, malam semakin larut. Suasana yang terkadang gerimis terkadang berhenti membuat langit tiada bulan ataupun bintang yang bersinar.


Kedua insan yang kehilangan isi memorinya itu sangat lelap


dalam tidurnya malam ini, bersama lamunan ataupun pikiran bilakah suatu saat nanti bertemu dengan keluarganya, khususnya dengan kedua anak mereka berdua.


Dari jauh sayup-sayup terdengar suara tahrim yang membangunkan lelap tidur mereka. Kanaya menggeliat nikmat seraya mengusap wajah nya, lalu melihat kanan-kiri. Dia bersyukur masih bisa menikmati indahnya dunia ini, begitu pun masih bisa menatap wajah sang suami.

__ADS_1


Di saat matanya Kanaya yang memandangi, menatap lekat ke arah yang masih terlelap tidur. Tiba-tiba tangan itu memeluk dengan erat.


"Hem ... Sayangku, belum puas kah melihat wajah ganteng suami mu ini!" suara parau itu bergumam.


"Idih ... ge'er amat jadi orang, ngaku ganteng segala, sudah tua juga. Ingat umur woi ..." suara Kanaya yang serak-serak basah itu sambil mesem-mesem.


"Biar saja aku ge'er sendiri, habis nungguin di puji sama istri, gak di puji-puji juga! makanya mau muji diri sendiri saja." Sambungnya Dimas yang nyaris tidak terdengar saking parau nya suara khas bangun tidur.


"Hem ... mau dipuji kah! lagian ya?suami aku ini kan bukan cuma ganteng, tapi lebih dari itu. Baik ... bertanggung jawab dan sayang sama aku, dari awal juga bisa menerima segala kekuranganku dan kelebihan gantengnya!" suara Kanaya sembari meletakkan dagunya di atas dada Dimas.


"Masya Allah, manisnya perkataan istriku ini yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, terima kasih cintaku! sayangku atas pujianmu! yang masuk ke dalam jantung yang membelah ke bagian dada dan ... apa lagi ya? ha ha ha ...."


"Aish ... kan, orang serius dibikin bercanda, aneh deh!" Kanaya menggelengkan kepalanya seraya bergerak bangun, kebetulan adzan subuh pun sudah terdengar.


Lalu keduanya bangun dan memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih bersama dan juga mempersingkat waktu. Setelah aktivitasnya selesai, Kanaya langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan! sementara Dimas menyapu dan mengepel rumah tersebut.


Sebelum dia mendapatkan sarapan, lalu pergi ke kebun yang di tanami sayuran yang hasilnya dia borokan ke pemborong nya.


Ketika kemarin-kemarin sih mengelola kebun itu bersama Madi, tapi karena semakin hari Madi semakin renta dan kadang datang kadang nggak ke kebun, akhirnya Dimas sendiri yang mengelola.


Seperti hari ini Dimas mau memanen cabai, lumayan untuk sehari-hari dia hidup bertiga, sebagai istri, Kanaya tidak pernah macam-macam minta ini itu kepada Dimas, karena baginya masih bisa makan dan terkadang masih bisa belanja makanan yang enak pun sudah Alhamdulillah.


"Yank, sarapan dulu lah ..." ajaknya Kanaya kepada Dimas yang baru selesai menyapu dan mengepel.


"Cuciannya mana sayang? biar aku yang jemur kan!" tanya Dimas sambil celingukan ke pinggir mesin cuci yang kebetulan sudah ada pakaian habis dicuci oleh Kanaya.


"Tapi, Yank. Nggak pa-pa biar nanti saja aku yang jemur, takutnya kesiangan. Nanti mau ke kebun, sarapan dulu." Katanya Kanaya pada sang suami.


"Tidak apa-apa masih pagi juga," balasnya Dimas sambil menjinjing ember cucian, keluar untuk dia jemur.


Bibir Kanaya tersenyum melihat langkah suaminya yang selalu tidak ingin melihat istrinya kecapean.

__ADS_1


Setelah menjemur pakaian, barulah Dimas bersiap untuk sarapan dan tidak lupa mengajak Madi untuk sarapan bersama. Serta kebetulan katanya, Madi juga mau ke kebun untuk membantu Dimas di sana.


"Yank, nanti dari kebun bawakan sawi ya sama terong! rasanya pengen juga makan terong dan sawi buat makan sama mie!" pintanya Kanaya kepada Dimas.


"Iya siap ... Bunda, nanti aku bawakan, mau sama cabainya nggak?" tanya balik Dimas kepada sang istri.


"Oh ... iya tentu, sama cabai nya juga jangan lupa itu," pesan Kanaya sambil menuangkan nasi ke dalam piring Dimas dan Madi.


"Abang juga mau ke kebun bukan?" tanyanya Kanaya kepada Madi.


"Iya, sudah berapa hari ini saya cuman diam di rumah. Rasanya bosan juga!" jawabnya pria tersebut.


"Tapi abang itu harus menjaga kesehatan!" sambungnya Kanaya sambil dia pun menikmati sarapannya.


Ketiganya menikmati sarapan, sebelum mereka Dima dan Madi akan berangkat ke kebun.


Selesai sarapan, Dimas dan Madi menyudahi sarapannya dengan segelas air putih yang mereka teguk sampai tandas.


Kemudian Dimas berpamitan, serta berpesan pada sang istri agar berhati-hati di rumah, jangan terlalu capek dan semacamnya juga.


Kanaya pun mengiyakan, seraya mencium punggung tangan dari suaminya tersebut.


Selama ini mereka hanya tinggal bertiga. Karena Madi itu tidak punya keluarga sama sekali tidak istri tidak anak, dan katanya pernah menikah dulu ketika belum ketemu dengan Dimas dan Kanaya. Tapi tidak berlangsung lama dan tidak juga mendapatkan anak.


Sehingga hidupnya sebatang kara. Dan setelah bertemu Dimas juga istrinya, Madi tinggal menjadi bertiga.


Setelah kepergian suami dan penolongnya, Kanaya membersihkan bekas makan mereka bertiga dan setelah itu dia pun bersantai.


Sesaat kemudian, Kanaya baru ingat kalau dia mau berbelanja. Karena stok di dapur sudah menipis. Kanaya pun bersiap untuk ke pasar ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Tidak lupa aku mengingatkan pada reader ku semua, jangan lupa like komen dan lainnya dong ... biar tambah semangat nih, makasih.


__ADS_2