
Sesudah mandi dan rapi. Arya turun mencium bau masakan, sehingga dia baru ingat dari semalam belum makan. Bahkan pagi pun tidak makan serta tidak mengajak gadis itu makan. Pasti dia kelaparan.
Arya terpaku di tempat mengingat gadis itu dari semalam mungkin belum makan juga, kemudian melanjutkan kembali langkahnya sambil melirik ke arah kamar nya Deri yang tertutup.
Setibanya di lantai dasar, Arya melirik ke arah gadis itu yang tampak segar dan berganti pakaian. Gita pun menoleh sambil menuangkan sayuran ke mangkok.
“Apa kua melihat om Deri, dia sudah bangun belum?” Arya menghampiri lalu duduk di kursi dekat meja makan.
“Om ... di luar sedang menyiram tanaman.” Jawabnya gadis itu sambil duduk membuka piringnya buat Deri dan Arya.
“Sorry, aku lupa mengajak mu makan, kau pasti belum makan bukan dari semalam?” Arya menatap ke arah gadis itu.
“Tidak apa-apa kan sekarang aku masak, seandainya ada yang kalian tidak suka dengan masakan ku ini, bilang saja,” ucap Gita takut pemuda itu tidak suka dengan masakannya dan ini yang pertama kalinya dia masak untuk mereka berdua khususunya Arya. Pemuda yang statusnya sudah menjadi suami itu.
“Wah ... baunya wangi sekali dan bikin perut berdemo meminta makan nih.” Ucap nya Deri yang baru datang dari luar.
“Iya Om. Kita makan dulu, aku lupa kalau kita belum makan dan tadi pagi pun aku lupa mengajak kalian sarapan.” Kata Arya sambil menyantap makannya.
“Tidak apa, namanya juga sibuk dari semalam dan hingga lupa sama makan.” Deri memaklumi.
Selesai makan, Arya bersiap berangkat kerja. Dan tas kerja pun sudah siap. “Nanti sore aku jemput kamu untuk ke toko, jadi siap-siap saja. Oya jangan kemana-mana, takutnya kamu ke sasar dan tidak bisa pulang ke sini,” pesan nya Arya.
Deri hanya melihat ke arah Arya dan Gita bergantian. Gadis ini lebih kalem dan pemalu, berbalik dengan Lica.
“Iya.” Gita mengangguk pelan sambil menunduk.
“Oke, aku berangkat dulu.” Arya berdiri berjalan sambil menjinjing tas nya.
“Sebentar?” suara Gita sambil beranjak dari duduknya menyusul langkah Arya.
__ADS_1
Arya berhenti dan menoleh pada Gita yang menghampiri lantas meraih tangan Arya di ciumnya penuh hormat. Betapa terkejutnya Arya dengan perlakuan Gita.
Gita melakukan itu pada Arya, karena dia sering melihat perlakuan sang ibu pada ayahnya di kala masih ada. Dan kata guru agama pun sering mengajarkan gimana perlakuan manis istri yang seharusnya pada sang suami. Sekarang Gita punya suami dan akan dia terapkan apa yang pernah dia dapatkan dari pelajaran di sekolah maupun di rumah.
Deri pun terpaku melihatnya, seolah kembali ke masa-masa dimana dia melihat Dimas dan Kanaya yang bikin adem melihatnya.
Arya menatap lekat gadis itu lalu dia memberanikan diri mencium kening gadis yang berdiri di hadapannya itu.
Nyes ...
Gita mematung dan merasa getaran yang aneh ketika Arya menyentuhnya.
Kemudian Arya melanjutkan langkah kedua kaki mendekati motor yang terparkir di tempatnya.
Gita berbalik ke meja makan dan membereskan semuanya. Melihat Deri sudah siap pergi Gita pun bertanya. “Om mau kemana?”
“Om mau pergi dulu dan kamu di sin saja, ingat pesan Arya. Anggap saja ini rumah mu jangan sungkan atau risih. Kalau kau perlukan sesuatu bilang saja pada Arya juga paman.” Deri mengenakan helm nya lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Detik kemudian Deri kembali. “Oya. Kamu jangan terus bersedih bila kau mau ke kebun buah pergilah, petik buah yang kamu sukai.”
“Iya, Om. Terima kasih atas perhatian Om.” Gita membalas dengan senyuman samar nya.
“Sama-sama.” Deri memutar tubuhnya serta bergegas ke luar meninggalkan Gita seorang diri sambil membersihkan bekas makan mereka.
Deri melajukan motornya menuju kediaman Kayla, dia sudah lama tidak menjenguk anak itu, entah gimana keadaannya sekarang. Entah sudah bisa berjalan lagi entah belum.
Motor melaju dengan sangat cepat, berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya. Sehingga tidak membutuhkan waktu yang lebih lama dalam perjalanan. Dalam beberapa puluh menit pun sudah sampai di depan rumah Arya dan Kayla.
“Bi, saya ini minta makan sama ayam. Kenapa dia kasih daging? Saya sedang malas makan sama daging.” Pekiknya Kayla pada bibi.
__ADS_1
“Maaf, Non ... Bibi salah dengar kali. Biar Bibi ambilkan lagi.” Bibi buru-buru menggantinya.
“Kalau di suruh itu yang benar napa?” sambungnya Kayla sambil cemberut dan sedikit menggebrak meja.
“Kamu ini masih saja seperti itu ya Kay? Gak sadar-sadar padahal Tuhan sudah menegur mu dan kau tetap saja tidak merubah sikap.” Suara Deri dari arah belakangnya Kayla.
Kayla kaget melihat Deri berada di sana. “Om. Kau ada di sini?” Kayla melongo melihat Deri pria yang sudah berusia namun tetap terlihat tampan dan gagah.
“Apa kau masih menggunakan kursi roda itu? apa kau tidak ingin bisa berjalan kembali seperti dulu. Tapi Bila kau bisa jalan lagi tapi tingkah mu masih seperti dulu sih ... kayanya seperti ini lebih baik.” Omongan Deri cukup pedas yang di lontarkan pada gais itu.
Kayla terlihat marah. “Om, Kau sungguh keterlaluan!” tampak dia sangat marah dengan sorot mata yang tajam dan merah.
“Apa, kau mau marah pada ku? mau memukul ku? atau mau membunuh ku? silakan bila kau bisa.” Deri malah mengolok-ngolok Kayla.
Kayla hanya menghela napas dengan sangat panjang untuk mengontrol kemarahannya. “Om ini sungguh bikin aku emosi dan mentang-mentang aku tidak bisa apa-apa.”
Deri menatap tajam pada Kayla dengan tatapan yang sulit di artikan. Dan dia pun mendudukan dirinya di hadapan Kayla.
Kayla menunduk seketika. Tak kuasa membalas tatapan dari Deri yang sekan ingin menusuk jantungnya. Lalu dia melanjutkan makannya. Dan lalu dia menarik tempat minum nya yang agak jauh tanpa menyuruh bibi.
“Kau harus berpikir, bagaimana bila tidak ada lagi orang yang mau bekerja di rumah ini. Karena sikap mu yang temperamental, terus kau mau tinggal sama siapa bila kau di sini sendirian?” ujar Deri di akhiri dengan sebuah pertanyaan.
Kayla terdiam dan tidak menjawab selain menggerakkan mulutnya dalam mengunyah makanan. Dalam pikirannya.memang benar juga kata Om Deri barusan.
“Kata dokter Aldo, kau ini malas untuk belajar berjalan. Apa sama sekali kau tidak ingin bisa berjalan lagi?” selidik Deri.
Kayla menggeleng. Namun tetap bungkam seribu kata.
“Terus kalau kamu tinggal sendiri di sini, tanpa bibi tanpa asisten yang menjadi kaki tangan mu, gimana? apa kau akan mati di kursi roda?” lanjut Deri dengan tatapan yang tajam ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Aku tunggu dukungannya nih.