
“Hi, lepaskan dia?” teriak Arya sambil berlari menghampiri.
“Siapa kamu? Jangan ikut campur ya?” salah satu dari pemuda itu melepaskan namun menyerahkan gadis itu pada temannya.
Si gadis melihat ke arah Arya yang membuat dia kaget, karena dia pria yang tabrakan waktu itu dan gadis itu merasa mengenal sorot mata nya. Ya gadis itu adalah Gita, dia mau pulang dari rumah sakit.
“Lepaskan dia, kalau tidak? Akan saya laporkan pada polisi dengan tuduhan pemerkosaan.” Pekiknya Arya sambil terus mendekat.
“Ciaaaaat ...” pemuda itu menyerang Arya dengan tendangan yang memburu dadanya Arya.
Arya langsung menghindar dan menangkis dengan tangannya, kaki yang satu lagi menyerang kaki. Arya melompat dan dengan kilat kaki kanannya menyapu kaki pemuda tersebut yang belum seimbang berdirinya, sehingga dia terjatuh. Bugh ....
“Auw!” sambil nyengir dia kembali berdiri, memasang kuda-kuda bersiap menyerang kembali.
Begitupun dengan Arya yang sudah memasang kuda-kuda dan siap siaga bilakah orang itu menyerang kembali. Ya benar saja, dia menyerang kembali dangan mengarah pada hidung Arya dengan kepalan tangannya yang lumayan besar, bila kena sudah pasti akan mengeluarkan darah segar.
Namun sebelum kepalan itu mengenai sasaran, tangan Arya lebih dulu melayang dan menangkap tangan itu dan lantas di pelintir ke belakang. Dengan gerak cepat Arya bisa melumpuhkan salah satu dari pemuda tersebut.
“Ampun-ampun? Auw ... sakit, ampun!” rintih pemuda itu.
“Kenapa sakit ha ... emangnya kau yang mau menyerang ku dan aku gak sakit gitu ha?” ucap Arya dengan masih melintir kedua tangan pemuda tersebut.
Sementara pemuda yang satunya yang memegangi tangan Gita, mulai ketakutan dan wajahnya berubah cemas. Namun tetap memegangi tangan Gita dengan kuat biarpun Gita berontak.
“Diam kau? Kalau tidak mau saya berlaku macam-macam sama kamu.” Orang itu mengeluarkan senjata tajam dan di arahkan pada leher Gita. Bikin sang empu melotot ketakutan dan kakinya pun bergetar lututnya lemas berasa mau pingsan.
“Lepaskan teman ku? bila tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis ini!” sergah pemuda yang menawan Gita.
Sontak Arya menoleh dan melihat gadis itu di piting lehernya dan di tempelkan ujung senjata tajam. Membuat Arya melepaskan temanya dia, bagaimanpun Arya khawatir dengan gadis tersebut yang tampak sangat ketakutan berada di dalam bahaya.
Kini situasi berbalik. Saat ini leher Arya di jepit pemuda yang barusan Arya kalahkan. Arya berusaha tenang agar semuanya selamat.
“Ha ha ha ... akhirnya keduanya kita dapatkan, lumayan.” Pemuda yang menawan Gita tertawa lebar.
“Lepaskan gadis itu, kalau kau berani, hadapi aku saja satu lawan dua, boleh. Tapi lepaskan wanita tersebut.” Pinta Arya.
__ADS_1
“Ha ha ha ... kau pikir aku percaya padamu ha?” pemuda itu kembali tertawa.
Di saat dia tertawa, Arya bergerak cepat kaki dan tangannya melumpuhkan lawan, siku tangan menyerang ke belakang dan perut yang menjadi sasarannya, sehingga dia terlepas dari pitingan lawan.
Dan kedua kaki Arya menyerang pemuda yang sedang menjadikan Gita tawanan. Kakinya menyerang kedua tengkuk kaki dan menjadikan tubuhnya tumbang ke belakang.
Lalu tangan Arya menangkap tangan gadis itu agar menjauh dari pemuda tersebut. “Ayo pergi dari sini?”
Arya membawa gadis itu yang tidak bisa berkata-kata. Mendekati motornya dan membawanya pergi dari tempat tersebut dan meninggalkan kedua pemuda yang berusaha mengejar.
Setelah jauh, barulah Arya menghentikan motor kesayangannya sembari berkata. “Rumahnya di mana?”
“Eh ... em, di jalan xx.” Sahutnya sambil menunduk tidak berani memandang. “Terima kasih sudah menolong ku dan kau tidak apa-apa?”
“Tidak, aku tidak kenapa-napa, kau sendiri tidak terluka kan?” tanya baliknya Arya sambil menatap intens ke arah Gita yang terus menunduk, walaupun dalam remang namun nampak jelas kecantikan alami yang gadis ini miliki dan sepertinya dia seorang yang pemalu.
“Tidak. Aku pun baik-baik saja.” Sambil memegangi lehernya yang tadi di tempelkan senjata tajam.
“Syukurlah, ya sudah saya antar kamu pulang.” Arya kembali menaiki motornya dan membonceng Gita yang dia tahu namanya dari data yang dia baca.
Tidak ada perbincangan di antara mereka selain suara angin yang terasa sangat kencang.
Gita pun turun dan Arya juga turun dan membuka helmnya. Berdiri dekat motornya.
“Aku mengucapkan banyak terima kasih ya? tuan sudah menolong ku dan juga mengantar ku pulang.” Gita berkata dengan perkataan dengan lembut dan sambil menunduk segan.
“Ooh, iya ... sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu, kau sudah sampai rumah dan aku akan lanjutkan perjalanan pulang.” Arya berpamitan.
Gadis itu mengangguk pelan dan berdiri terus sampai Arya menghilang dari pandangan.
Arya melajukan motor kesayangannya dengan cepat. Om Deri pasti sudah sampai di Vila. Sementara dia masih di jalanan. Motor semakin cepat dan selang beberapa puluh menit kemudian.
Motor Arya memasuki halaman Vila dan di sana bukan Cuma ada motornya Deri saja. Tetapi juga mobil yang sudah tidak asing lagi buat diri Arya. Pemuda itu masuk ke dalam Vila dengan menjinjing helm dan menenteng jaketnya.
“Kau baru pulang? Om sudah dari tadi, bukannya habis nongkrong.” Sambut Lica yang berdiri di dekat pintu masuk.
__ADS_1
“Iya, kanapa kau ada di sini sudah lama?” Arya balik tanya pada Lica.
“Aku dari lama menunggu kamu.” Suara Lica dengan nada manja sambil menarik tangan Arya di ajaknya masuk.
“Ini kan tempat tinggal ku, berasa tamu atau dia istri ku.” Batinnya Arya sambil berjalan.
Deri yang berdiri di depan pintu kamarnya, tersenyum tipis. “Apa kan kata Om juga?”
Arya menoleh sambil duduk di sofa. “Ehem.”
“Emang apaan? Om bilang apa gitu?” tanya Lica sambil duduk di dekat nya Arya. Dengan tangan di letakkan di atas paha pemuda tersebut.
“Bukan apa-apa, gak penting. Oya apa kau mau pulang? aku antar ya?” tawarnya Arya.
“Nggak ah, aku mau menginap saja. Aku betah di sini.” Tolaknya Lica sembari menggeleng.
Arya mengembuskan nafas melalui mulutnya. lalu menyandarkan punggungnya ke bahu sofa dengan kepala mendongak ke atas.
“Oke. Om mau tidur duluan ya, capek.” Deri membalikan badan masuk ke tempat peraduan.
Lica mendekat pada Arya, tangannya menari-nari di dada Arya sehingga Arya menggerakan kepalanya dan tangan menangkap lengan Lica yang mencoba menyelusup menyentuh dadanya.
“Apa-apaan nih?” Arya menatap ke arah Lica yang malah menatapnya dengan lekat.
Sejenak mereka saling tatap dan lama-lama wajah Lica mendekat dan menyentuh bibir Arya, yang lagi-lagi tidak menghindar serta malah menikmati lagi manisnya bibir gadis itu. Bahkan sekarang Arya sedikit lebih berani untuk menggerakan dan menyapu lembut permukaannya, membuat kedua manik Lica terpejam, dan mengalungkan tangannya di pundak Arya.
Namun sebelum menuntut lebih, Arya menarik kepalanya ke belakang. Menghindari Lica yang terus nyosor. “Aku capek dan mengantuk,” ucap Arya sambil berdiri.
“Kan belum makan.” Lica memegangi tangan Arya agar tidak pergi.
“Aku ... sudah makan.” Arya menarik tangannya.
“Em ... temenin aku dulu ya? please ...” pinta Lica pada Arya.
Namun Arya menggeleng dengan alasan mengantuk dan akhirnya dia pun membawa dirinya ke kamar, begitupun juga dengan Lica, dia ke kamarnya membawa hati yang kesal ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Mohon dukungan like komen dan lainnya agar penulis remahan ini tambah semangat. Makasih