
Selang beberapa saat lamanya, Deri dan Endro datang berbarengan.
"Lah, nih orang belum mandi kayanya!" Endro memandangi ke arah Arya yang masih buluk sambil mendudukan dirinya di hadapan mereka.
"Iya lah ... bajunya saya yang bawa kok!" timpalnya Deri sambil menyerahkan paper bag pada Arya.
"Makasih, Om! apa Lica ada di Vila?" Arya menatap ke arah Deri yang yang kini sudah duduk di hadapannya.
"Belum, saat Om pergi sih gak ada. Emang gak bilang kalau kita akan ke sana?" Deri balik bertanya pada Arya yang menyimpan paper bag di samping sofa.
"Nggak, buat apa bilang nanti juga tahu sendiri." Kata Arya dengan nada dingin.
Aldo, Deri dan Endro saling terdiam dan bertukar pandangan.
"Om. Aku mau cerita nih, mungkin terdengar maruk sih ... tapi bagaimana ya? aku sendiri sudah dibikin jatuh cinta pada pandangan pertama!" ucap Arya yang tampak serius dengan omongannya.
Deri menatap tajam pada Arya yang sedang melihat ke arah mereka bertiga. "Apa lagi. Jangan bikin kita bingung. Sebenarnya siapa yang sedang kau ceritakan ini?"
Arya mesem. "Om, aku sedang fall in lov. Aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dan Om-Om semua harus dengar ini. Kalau bapak nya itu gadis justru menjodohkan ku dengan putrinya! karena apa?" Arya menjeda bicaranya dengan menunjukan senyuman yang bahagia.
"Kenapa?" pertanyaan yang berbarengan.
"Ha ha ha ..." Arya tergelak mendengar ketiga pria itu bertanya dengan serempak.
"Ternyata bercanda dia!" Endro menunjuk dan menggelengkan kepalanya yang ditujukan pada Arya.
"Ini minumnya!" Tika menyodorkan minuman untuk Deri dan Indro.
Lalu duduk di dekat Aldo untuk. bergabung di sana.
"Makasih, Kak!" Deri menarik cangkir minumnya.
Begitupun dengan Endro yang langsung menyesap minumnya.
"Ehem. Aku mau bicara serius, yang barusan ku ceritakan adalah benar. Om, beberapa hari yang lalu ..." kemudian Arya menceritakan awal mula pertemuan dengan seorang gadis. Dengan cara tabrakan sedang berjalan lalu terancam gagalnya operasi pasien.
Dari awal sampai akhir Arya ceritakan dan tidak sedikitpun yang terlewatkan.
__ADS_1
Semua yang ada di sana mendengarkan dengan seksama, sehingga mereka semua berspekulasi kalau Arya mau menerima gadis itu sebagai istri nya.
"Jadinya gimana nih, kau mau pilih yang mana? mumpung kita belum pergi ke tempat Mahdalena untuk melamar cucunya itu, lagian belum cerita juga kan?" ucap Aldo dengan tenang.
"Hem, benar. Hanya ... bila kau lebih memilih gadis yang baru kau kenal, berarti misi mu berhenti sampai sini." Deri memandangi ke arah Arya yang terdiam dan seolah memikirkan sesuatu.
Semua pasang mata yang berada di sana tertuju pada Arya. Pemuda terdiam dan terlihat menghela nafas dalam-dalam.
"Aku akan lanjutkan niat ku pada Lica untuk menikahinya. Dan ... aku juga akan menikahi gadis itu. Sebagai pencarian cinta ku!" Arya menatap lekat pada ketiga pengasuhnya itu.
Brak ...
"Apa? kau mau menikahi keduanya? kamu sadar gak? om mu yang satu itu sampai detik ini belum menikah juga, gak kasihan apa ha? barang hampir karatan karena tidak pernah di pakai! gak, gak-gak, gak." Endro tergelak puas sambil menunjuk pada Deri.
Padahal yang lain sudah pada kaget dan melongo. Kirain Endro itu marah. Karena dia menggebrak meja sehingga cangkir minum pun pada goyang.
Ternyata hanya untuk mengata-ngatai Deri sampai terbahak-bahak.
"Gila lu, kau pikir ini barang dari besi apa?" Deri melempar bantal sofa pada Deri yang tertawa puas.
"Ha ha ha ... anak mu ini mau istri dua sementara bapaknya sepotong pun tidak. Wk-wk-wk ..." Endro kekeh.
"Aku serius. Dan kalian yang harus mengurusnya, tetapi yang ini simpel dan tidak harus macam-macam. Tinggal jalani saja." Arya berkata dengan tampak serius.
"Oke, tapi kita harus selesaikan satu-satu dulu. Nanti bila sudah selesai yang ini, baru ke tempat satu lagi. Oke?" Aldo mengatakan dengan penuh pertimbangan.
"Ya sudah, kapan kau mau mandinya? kau itu mandinya kaya anak perawan. Jadi buruan mandi. Kecuali gak jadi!" jelas Deri.
"Iya, Nih anak muda. Tau, bapaknya dah mulai keluarin taring nya. Capat mandi napa?" Tambah Endro.
"Iya, mandi sana yang wangi?" Tante Tika menyuruh Arya agar segera mandi.
"Oke." Arya beranjak dan meninggalkan tempat tersebut sambil membawa paper bag.
Endro melirik ke arah yang lainnya setelah Arya tiada di tempat. "Ada-ada saja itu anak muda. Mau beristri dua segala! bapaknya gak kebagian juga, ha ha ha ...."
"Jangan banyak omong, berisik!" kata Deri sambil menyesap minumnya.
__ADS_1
"Aku sudah siapkan datanya Arya dan kita harus sepakat kalau nama orang tua Arya adalah Damiri dan Kanza, serta mereka sudah tiada." Ujar Aldo yang sudah memalsukan datanya Arya.
Endro dan Deri mengangguk mengerti. Sementara Tika ngeloyor ke dalam untuk mengambil beberapa barang untuk lamaran.
"Berrrr ... segernya ..." Arya berdiri di bawah Air shower yang hangat mengguyur tubuhnya.
Menempelkan kedua telapak tangannya ke dinding sembari memejamkan kedua matanya. Merasakan segarnya di bawah guyuran air hangat.
Sembari memikirkan yang akan dia jalani ke depannya. Dia akan tetap balas dendam pada orang yang sudah menyebabkan kedua orang tuanya tiada.
"Lambat Laun, aku harus bisa membuat salah satunya menderita." Nada bicara Arya menjadi penuh ambisi.
Kemudian. Arya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan lalu dia memakai pakaian yang dibawakan Deri, Lulu merapikan diri.
Selang beberapa lama, Arya keluar menemui yang lain yang sudah menyiapkan diri dengan kaca mata hitamnya dan Endro memakai kumis tipis tempelan.
Arya berdiri menatapi satu persatu Om nya. "Kalian ... berasa ada yang aneh."
"Iya, kan memang harus aneh. Biar tidak di dikenali oleh nenek sihir itu." Jawabnya Deri.
"Iya. Saya juga harus tampak lain, agar tidak di kenali." Endro mengamati dirinya sendiri.
"Tentu. Aku pun harus tampil beda, ha ha ha ..." Aldo berdiri dan merapikan penampilannya.
"Ya sudah, kita kita jalan sekarang?" Arya memasukan ponsel nya ke ke dalam saku.
"Kita, pakai mobil saja semuanya, maksud ku dalam satu mobil yang sama biar simpel." Ajak Aldo sambil menunjukan kunci mobil yang dia pegang.
"Ya itu, bagus itu." Timpal Endro sambil beranjak dari duduknya.
Kemudian. Semua berjalan melintasi pintu dan membawa barang satu-satu dibawanya ke dalam mobil.
Mereka berempat dan di tambah oleh Tika yaitu istri dari Aldo. berada dalam satu mobil yang di kemudian oleh sang supir.
Mobil pun melaju dengan sangat cepat, menuju tempat tujuan.
Ponsel Arya berbunyi dan itu chat dari Lica yang beruntun banyaknya nya bagai gerbong kereta. Arya hanya membalas beberapa kata saja yang mengatakan dalam perjalan menuju rumahnya ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Sebenarnya apa sih yang menjadi tujuan Arya dan balas dendam seperti apa? ikutin terus ya. Makasih.