
Kayla membuka-buka semua gorden sambil berderai air mata dan dengan rasa lapar yang menyiksa, dengan terpaksa harus memasak sendiri. Sesekali Kayla nyengir kesakitan di kakinya. Lanjut dia membawa langkahnya ke dapur. Mencari makanan di lemari pendingin, kali saja ada makanan di sana.
Tapi nggak ada makanan yang harus di makan, yang ada hanya mentahan saja. Mau pesan takut lama dan karena perutnya dah terasa lapar banget, jadi dia memutuskan mau masak aja mau enak atau tidak juga.
Kini Kayla sedang berada di depan televisi ruang tengah dan merenungi nasibnya yang kini seorang diri. menelpon bibi gak di angkat, yang lain sama saja. Lama-lama ada chat dari bibi yang mengatakan kalau dia akan kembali setelah seminggu untuk beberes rumah saja kalau sehari-hari tidak bisa.
“Sial, ini pasti ulah om Deri yang membuat mereka semua. Termasuk supir, gila ... ini benar-benar keterlaluan.” Teriak Kayla sambil mengeraskan rahangnya.
Namun dia ingat pesan Deri yang bilang, kamu harus sabar dann mandiri. Agar kamu menjadi orang yang lebih baik. Dan rubah semua sipat yang buruk yang akan hanya membuatmu susah dan terpuruk yang akan kau semakin di jauhi ataupun tidak mendapatnya kasih sayang.
“Oke. Aku harus bisa buktikan kalau aku mampu untuk lebih baik. Dan aku harus mampu melakukan semuanya.” Kayla mendongak ke lantai atas yang dimana kamarnya berada di sana.
Kayla berjalan mendekati tangga dan melawan rasa sakit nya yang terkadang menyerang. Dia berjalan karena mau ke kamarnya dan mau mandi, sekarang dia harus lebih semangat untuk lebih baik dan bisa membuktikan pada semua orang kalau dia mampu.
Ketika sore hari, datang Deri dan dokter Aldo dan juga Endro ke rumah tersebut yang tampak sepi bagai tanpa penghuni. Karena pintu utama tidak di kunci keduanya bisa masuk begitu saja.
“Permisi ... apakah ada orang orang di dalam?” pekiknya dokter Endro sambil melihat ke arah lantai atas.
Mendengar sura pintu di bawah terbuka, Kayla buru-buru keluar dari kamarnya dan berdiri di ujung tangga paling atas.
“Nggak ada, di sini hanya ada mayat saja.” Kayla berjalan pelan menuruni anak tangga dan terlihat kalau dia menahan sakit.
Pasang mata melihat ke arah Kayla, sehingga gadis itu sampai lah didekat sofa lantas dia buru-buru mendudukan dirinya di salah satu sofa.
“Kenapa sih Om. Senang banget aku menderita sehingga para asisten semuanya pergi.” Kayla menatap ke arah Deri dengan tatapan yang meneliti.
Deri menghela nafas dan menghembuskan nya dengan perlahan. “Agar kamu lebih mandiri dan menyadari
__ADS_1
betapa berartinya kehadiran orang lain di sisimu. Makanya jangan menyepelekan sesuatu yang hakikatnya itu sangat berarti bagimu.”
“Tapi sama saja Om itu ingin menyiksa ku. Ingin membuat ku mati berdiri.” Timpal Kayla kembali.
“Tapi kali menurut om sih ... gak mungin kamu mati berdiri selama kamu mau berusaha. Kamu keras kepala, kenapa keras kepalamu tidak kau gunakan dengan hal kebaikan?” kini Aldo mengatakan itu untuk mendukung perkataan dari Deri.
“Bener itu, kau cantik dan pintar, kenapa harus terlalu tergantung dengan orang lain? kau pasti bisa mandiri. Cam one ... kau pasti bisa dan tunjukan pada kami.” Tampahnya Endro sambil mengambil minum untuk mereka bertiga.
Kemudian Aldo mendekati dan memeriksa kaki Kayla yang hari ini sering di pakai berjalan.
“Bagus, kaki mu sekarang lebih kuat. Semangat lah berjalan dan lanjutkan hidup mu ke jalan lebih baik. Kau pasti ingin di sayang orang-orang sekitar bukan? kau harus merubah diri agar lebih baik. Niscaya kau akan lebih mendapat perhatian sayang dari kiat semua juga. Oya, hari ini abang mu sudah menikahi gadis yang bernama Angelica dan kami juga baru pulang dari mengantarnya,” ujar Aldo pada Kayla.
“Apa, Om? Dia Sudah menikah. Kok gak bilang sama aku dan yang lainnya seperti tante Maria.” Kayla tampak terkejut mendengarnya.”
“Itu benar, dia sudah menikah ... tapi biasa saja kok tanpa resepsi besar-besaran, yang penting halal saja dulu.” Tambahnya Deri.
“Nggak sih, abang mu gak kaya gitu!” jawabnya Deri sambil menggeleng.
“Eh ... Non dengar ya dimana-mana hamil itu ya duluan sebelum melahirkan, gimana sih?” celetuk Endro sambil mengulum senyumnya.
“Nggak tau ahc, malas aku bicara sama Om Endro, bikin pusing.” Kayla sambil menunjukan senyumnya.
Deri memandangi senyumnya Kayla yang manis yang bila diperhatikan mirip senyumnya Kanaya. Yang beda wajahnya Kanaya opal dan Kayla lebih ramping.
Kemudian Deri mengingat sesuatu, disaat Kayla hampir saja dia kerjain seorang lelaki yang sudah memberinya obat yang bikin dia tidak sadar, untung saja Deri datang pada waktu yang tepat sehingga gadis yang sekarang berada di hadapannya itu terselamatkan.
Kalau saja Deri tidak datang pada waktunya, mungkin entah apa yang terjadi pada Kayla. Di saat Deri melamun. Endro melemparnya dengan bantal.
__ADS_1
“Woy ... melamun, mau kawin lu? ha ha ha ...” Endro tertawa.
“Kau ini sembarangan.” Deri mesem sambil menggeleng.
“yang jadi pertanyaan ku Om ... kenapa abang cepat sekali, nikahnya?” Kayla mengarahkan pandangan pada Aldo yang sedang terapi kakinya.
“Ceweknya ngintilin mulu, mungkin abang mu malu sama orang-orang sehingga memutuskan untuk segera menikah.” Sahutnya Endro.
“Malu?” Kayla makin tidak mengerti dengan jawaban itu.
“Kamu juga kalau terlalu nganterin cowok bisa digituin tuh, dinikahin dengan cepat tanpa persiapan yang matang dan masih mending juga dinikahin, ketimbang Cuma dinikmati, siapa yang rugi? Tentunya wanita.” Tambahnya.Deri.
Kayla terdiam dan mencerna maksudnya Deri dan Endro.
Kemudian mereka pun berpamitan. Deri dan Endro sudah duluan berjalan ke teras. Dan Aldo baru mau menyusul. “Om Deri pasti akan sering mengunjungi mu, karena bagaimanapun kami khawatir juga sama kamu.”
Kayla mengangguk pada Aldo seraya berkata. “Makasih Om?” kata-kata yang baru Aldo dengar.
Aldo tersenyum ke arah Kayla. “Oke, kita pulang dulu ya?” Aldo mengusap bahunya Kayla sambil berlalu menyusul mereka Deri dan Endro yang sudah berada di luar.
Namun detik kemudian, Deri kembali dan menutup semua yang berada di dilantai bawah itu lagian tinggal tarik salah satunya saja lalu semua tertutup.
Kayla bengong namun bibirnya tertarik ke samping yang ia tunjukan pada Deri yang menoleh sekilas lalu pergi menutup pintu.
Kayla bengong menatap ke arah pintu dan, rasanya baru kali ini dia diperhatikan oleh ketiga pria yang lebih intens mengasuh Arya tersebut. Ada perasaan yang menghangat dalam hatinya. Kemudian Kayla berdiri dan lalu mendekati anak tangga untuk menuju kamarnya, setelah menyalakan semua lampu karena sebentar lagi juga Maghrib ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungannya ya