Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Beraninya


__ADS_3

Kini Arya sudah berada di Vila nya, tadinya mau pulang ke rumah orang tua nya. Namun karena sedang malam dan letaknya lokasinya lebih dekat ke Vila, jadi Arya memilih pulang ke tempat Deri saja yaitu Vila.


"Kau baru pulang?" sapa Deri dengan muka bantalnya berdiri di dekat kamar dia.


"Eh, iya Om!" sahutnya sambil menjinjing helm.


"Betah ya di sana?" goda Deri sambil mesem.


"Kanya sih ... begitu! yang jelas dia tidak mau aku pulang sebenarnya." Sambung Arya sembari berdiri sejenak.


"Iya kah, mungkin dirimu mengandung magnet yang bagus sehingga dia pengen nempel sendiri." Lanjut Deri sambil membentuk ok dengan jarinya.


"Benar, Om. Tapi tidur lah? besok saja ku ceritakan." Arya pun melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar pribadi.


Arya menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur yang empuk itu dengan bibir yang menyungging dan tatapan yang jauh ke langit-langit.


...----...


Semakin hari, Lica dan Arya semakin dekat saja. Kalau Arya tidak datang ke rumah, berarti Lica yang datang ke Vila.


Terkadang buat Deri risih, karena keberanian dia yang bolak balik ke Vila kadang menginap walaupun di suruh pulang.


Seperti malam ini, Lica malah asyik memasak buat makan malam. Sementara Arya belum pulang dari rumah sakit karena mampir dulu ke rumah dan menemui Kayla yang sekarang sedang berada di masa pemulihan. Di bawah perawatan dokter Aldo.


"Sudah malam, pulang lah? mungkin Arya akan telat pulang!" ucap Deri sembari memandangi Lica yang sedang menata makanan di meja.


Angelica menoleh ke arah Deri, si pria cool itu begitu tajam melihat ke arah Angelica dia pikir terlalu berani dalam mendekati cowok.


"Tidak Om. Aku bisa menunggu kok. Lagian ... aku betah di sini, nyaman!" Lica malah menjawab demikian. Dan ... lalu dia mengajak makan bersama.


Deri pun segera menyantap makanan yang tersedia meja hasil eksekusi Lica, yang tampak begitu menikmati keberadaannya di Vila tersebut.


"Om, istri Om mana sih? kok aku gak pernah melihatnya. Jangan bilang kalau Om ini jomblo juga." Lica memicingkan matanya sebelah.


"Nah ... itu, memang saya tidak punya istri." Jawabnya Deri dengan jelas.


"Masa sih, dia meninggal atau gimana?" selidik Lica dengan penasaran.


"Ya ... seperti itu lah!" jelas Deri.

__ADS_1


"Iih, dasar orang cool. Bicara saja irit." Suara Lica dalam hati.


"Ooh, gitu ya?" Lica mengangguk.


Di saat mereka berdua sedang menikmati makannya, datanglah Arya yang dengan menenteng helm.


"Hi. Kau baru pulang? makan! aku masak nih," sambut Lica.


Arya menoleh pada Deri yang menggoyangkan bahunya. "Om, ada temennya nih!"


"Iya, temen bicara!" Deri mengangguk.


"Oya, aku sudah makan di luar." jawabnya Arya sambil berdiri di dekat meja makan.


"Hem ... sayang banget ya? padahal aku dah masakin buat kamu." Lica sepertinya sedikit kecewa.


"Aku mau mandi dulu lah!" Arya berjalan membawa langkahnya ke lantai atas. Menaiki anak tangga yang menjadi penghubung.


Lica menatap punggung Arya. yang berjalan cepat menaiki anak tangga tersebut. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Deri yang anteng dengan makan malamnya.


"Om, apa dia suka begitu kalau pulang malam? em ... maksud ku makan malam di luar?" tanya Lica.


"Biasa lah. Seperti sih sudah lumrah." Jawabnya tanpa ekspresi.


Lica membereskan bekas makannya. Kemudian dia berniat ke kamar yang sering dia pakai untuk menginap.


Tetapi bukannya masuk ke kamar tersebut. Dia malah menyelinap ke kamarnya Arya yang kosong dan sepertinya masih berada di kamar mandi.


Lica yang menyelinap ke kamar Arya. Celingukan berdiri di dekat tempat tidur. Plango-plongo melihat-lihat kondisi kamar tersebut dan menatap setiap dinding yang menggantung foto-foto Arya dari mulai kecil hingga dewasa.


"Kenapa kau di sini?" sua bariton tersebut mengagetkan Lica yang sedang memperhatikan foto-foto nya Arya.


"Em, itu. Aku ... salah masuk kamar. Iya salah masuk kamar, sorry ya?" Lica tampak gugup.


"Hem, mana ada salah masuk kamar? ada-ada saja nih cewek." Gumamnya Arya sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


Sementara Lica melongo memandangi tubuhnya Arya yang sixpack menandakan tubuh yang di rawat. Manik mata Angelica tidak berkedip dan menelan Saliva nya berkali-kali.


Arya memandangi Luca yang mematung di tempat dan menatap ke arah dirinya. "Kenapa? keluar! ini bukan tempat mu, lagian sudah malam! kenapa belum pulang?"

__ADS_1


"Eeh, kan ka-kamu tahu ini dah malam, masa kamu akan membiarkan pulang?" jawabnya Lica dengan tetap di posisi yang sama dan mata yang tidak beranjak dari pandangannya semula.


"Aku antar," kemudian Arya mendekati ke arah Lica yang mematung itu.


Namun Lica bukannya beranjak, malah tetap terdiam dan seperti penasaran dengan tubuhnya Arya.


Arya yang tadinya hanya ingin menggoda menjadi risih dan buru-baru menjauh dari tempat Lica berdiri.


"Benar-benar nih cewek! minta ku hajar! lalu ku campakkan." Batinnya Arya sambil terus berpikir gimana caranya supaya apa yang dia niatkan tercapai.


Lica yang senyum-senyum memutar badan, dan meninggalkan kamarnya Arya.


Gadis itu memasuki kamarnya, lalu berdiri di dekat pintu yang sengaja tidak dia tutup. Lica membaringkan dirinya sambil membayangkan sosok Arya yang tidak mengenakan pakaian. Bikin air liurnya ngeces.


Kemudian, Lica tertidur dengan sangat lelap. Namun tiba-tiba Lica melonjak bangun sambil memeluk bantal, lalu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Arya dengan mata memicing.


Rekettttt ....


Suara pintu yang Lica dorong, dia berjalan mendekati tempat tidur Arya yang dimana pemuda itu tampak berbaring dengan bertelanjang dada.


Bibir Lica tersenyum, lalu berbaring di samping pemuda tersebut. Dengan pura-pura mengigau atau ngelinur. Dia tiduran di sisi nya Arya dan perlahan di peluknya.


Arya yang begitu terlelap. Jelas tidak menyadari dengan adanya Lica di kamarnya tersebut.


Sehingga Lica dengan leluasa memandangi dan sesekali menyentuh dada Arya atau di peluknya bak guling.


"Hem ..." gumamnya Arya sambil menggerakkan tangannya.


Lica buru-baru pura-pura tidur. Hingga akhirnya Arya terbangun merasakan gerakan tangan Lica yang berada di atas perut. Bahkan mendekati bawah pusar.


Sontak Arya menyingkirkan tangan Lica dari tempat terlarangnya dan melonjak bangun. Arya terkaget-kaget kenapa gadis ini dengan beraninya tidur di samping pria yang bukan muhrim.


"Lica? Lica bangun? kenapa kau di sini? bangun!" suara parau Arya membangunkan Angelica.


"Em ... apa sih aku ngantuk, siapa sih ganggu orang tidur saja," suara Angelica tanpa membuka matanya sama sekali dan tangannya mencari sesuatu untuk di peluk. Lantas mendapatkan guling.


"Woy, bangun. Pindah sana? ngapain kau tidur di sini, pamali!" Arya menjauh dengan dada yang menjadi berdebar. Gimana tidak, tidur di temani wanita cantik dan untuk pertama kalinya jiwa lelakinya merespon keberadaan sang gadis ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan subscribe ya, makasih.


__ADS_2