Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Mengarang cerita


__ADS_3

"Pasti istri mu kan yang chat?" tanya Endro sambil melirik ke arah Arya yang merespon dengan anggukan.


"Seharusnya kau itu bahagia dan sangat beruntung, dapat seseorang yang sangat mencintai dan khawatir sama kamu." Tante Tika melirik ke arah Arya.


Semua hanya tersenyum dengan pemikirannya masing-masing, mendengar omongan Tika! karena Tika memang tidak tahu apa-apa.


Hari yang mulai gelap, dan waktu pun sudah menunjukan pukul 19 malam dan mobil pun sudah tiba di depan rumah mewah yang berlantai tiga tersebut dan ketika melihat keberadaan Arya.


Scurity membukakan pintu gerbang. Mereka pun turun. Di teras sudah ada Lica dan Omanya yang jelas merasa terkejut melihat kedatangan Arya beserta keluarga. Dan juga membawa hantaran! sekaligus bahagia karena itu pasti buat Lica.


Kedatangan mereka disambut dengan sangat baik oleh Magdalena ataupun Lica. Wajahnya yang sumringah menyambut ramah dan bahagia yang teramat sangat terutama dengan Lica


Semua dipersilakan masuk dan mereka pun duduk di sebuah ruangan tamu yang luas dan serba wah. Membuat pandangan Tika begitu terpesona dan mengagumi keindahan rumah yang dimiliki oleh Magdalena ini.


Dan di meja pun sudah tersedia beberapa macam hidangan dan minuman, sepertinya Mahdalena tetap tidak mengenali ketiga pria tersebut Deri, Aldo dan Endro.


Endro melirik ke arah Aldo dan juga Deri, matanya seolah berkata! sepertinya Mahdalena tidak mengenali kita.


Kemudian, Arya memperkenalkan ketiga om nya dan tante Tika kepada Magdalena. Lalu mereka saling berjabat tangan dan bertegur sapa juga saling menyebutkan nama nya masing-masing.


Tentunya nama yang disebutkan oleh Derry, Aldo dan Endro, adalah nama kepanjangan dari mereka bertiga, bukan nama panggilan sehari-hari.


"Senang dapat berkenalan dengan anda semua, silahkan duduk?" Mahdalena menyilakan tamunya untuk duduk.


Sebuah senyuman yang indah, tidak pernah pudar dari bibir satu-satunya gadis yang berada di sana yaitu Angelica. dia begitu sangat bahagia dengan kedatangan Arya bersama keluarganya! karena dia berpikir tentunya mereka datang untuk dirinya, melamar dia! karena tidak mungkin juga bila mau melamar omanya.


"Ehem, pertama-tama ... saya mengucapkan minta maaf yang sebesar-besarnya? bila sudah mengganggu waktu dan ketenangan kalian berdua! bahkan tidak memberi konfirmasi dulu sebelumnya," ucap Aldo yang di tujukan kepada wanita tua yang berada di seberang tempatnya dia duduk.


"Ooh, tidak masalah! justru dengan kedatangan kalian ... walaupun belum bicara maksud dan tujuan kalian datang, saya sudah merasa bahagia sekali. Karena sepertinya yang kalian maksudkan itu tidak jauh dari pemikiran saya," jawabnya Magdalena sembari mengedarkan pandangannya ke arah para tamu.


Dokter Ado yang sebagai juru bicara tersenyum! dia tersenyum simpul mendengar perkataan dari Mahdalena. "Tentu saja Anda pasti dapat menduga apa yang menjadi tujuan kami untuk datang ke sini.

__ADS_1


"Kalau boleh saya menduga, kalian ini pasti ingin melamar cucu saya kan? cucu saya yang cantik ini!" ucap Mahdalena seraya melirik ke arah cucunya yang terus tersenyum simpul.


Endro bertepuk tangan. "Wah, hebat ... anda pintar sekali! sangat pintar sekali, karena memang itu yang menjadi maksud kedatangan kami kemari." Balas Endro sembari melirik ke arah kedua kawannya.


Aldo dan Deri menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Endro.


"Kami ingin melamar cucu anda untuk Putra kami yang bernama Arya. Dan sudi kah kiranya anda menerima lamaran kami yang tidak membawa apa-apa, hanyalah keseriusan dari putra kami." Jelas dokter Aldo.


Kini giliran Deri yang berbicara. "Saya harap, bila sekiranya diterima. Pernikahan akan secepatnya di gelar, tanpa pesta atau resepsi apapun."


Mahdalena melongo. "Tanpa pesta?"


"Iya, yang akan di gelar secepatnya itu adalah akad. Dan soal resepsi itu belakangan saja, yang penting sah dulu. Jujur ... saya risih dengan kedekatan mereka berdua, saya takut terjadi sesuatu yang akan mencoreng muka anda, masih mending bila putra kami mau bertanggung jawab. Bila tidak?" ujar Deri panjang lebar.


Aldo, Endro dan Arya saling lirik mendengar perkataan dari Deri yang sedikit menyindir seseorang.


Degh!


Sampai akhirnya melahirkan Angelica yang tanpa ayah. Gimana kalau Angelica juga seperti itu? setau dia kalau gadis itu banyak yang naksir! tapi yang serius memang belum ada.


Mahdalena melamun begitu anteng, sampai-sampai di sadarkan oleh Lica yang menggenggam tangannya.


Aldo dkk. Saling pandang satu lama lain,


"Oma ... kok melamun?" suara gadis yang berambut panjang dan pirang itu.


"Ah, nggak. Oma tidak melamun, Oya. Saya ngikut saja kalau anaknya mau. Dan saya akan sangat-sangat menitipkan cucu saya ini, dia sudah tidak punya siapa-siapa selain saya," tutur Bu Mahdalena sambil menatap nanar.


"Oya, emang orang tua nya kemana?" selidik Endro pura-pura tidak tau apa-apa.


"Em ..." Bu Mahdalena sedikit gugup ketika di tanya orang tua Lica. "Lica. Dia anak dari putri saya yang sudah meninggal."

__ADS_1


"Ayah nya, dimana? kami ingin bertemu dengan dia!" tanya Endro.


Sejenak Bu Mahdalena terdiam, mengingat Ayah biologis Angelica. Setau dia, ayah dari Lica sudah seorang berandalan atau lebih kerennya mafia. Dan Bu Mahdalena sangat membenci pria itu.


"Em, Lica ... ayahnya adalah seorang dokter, dan di juga sudah tiada dalam kecelakaan tunggal." Jawab Bu mahdalena mengarang cerita.


"Dokter? siapakah. Dia Bu? mungkin saya kenal atau pernah mendengar." Aldo semakin menyelidik sambil melirik ke arah Deri, Endro dan Arya.


"Aduh, gimana ini? malah panjang ceritanya!" gumamnya dalam hati.


Semua pasang mata memandangi Bu Mahdalena. Ingin tahu jawabannya siapa ayah dari Lica. Termasuk Lica sendiri.


"Eh. Ayah Lica adalah seorang dokter bedah yang bernama Dimas dan dia meninggal dalam insiden bersama istrinya." Jawab semakin menyeret nama Dimas.


Bikin Deri, Aldo juga Endro tercengang tidak percaya dengan perkataan dari Mahdalena yang menyebut dokter Dimas sebagai ayah nya Angelica. Dan dia meninggal karena kecelakaan bersama istrinya. Istri yang mana? kan jelas-jelas dokter Dimas yang mereka kenal adalah bersama sang istri yang bernama Kanaya.


"Keparat, bang-sat. Memfitnah di depan keluarganya sendiri. Dasar gila ini nenek sihir, fitnah Dimas! tidakkah kau tau bahwa fitnah itu lebih kejam dari membunuh, sungguh kejam kau nenek sihir. sudah kau bunuh masih juga kau fitnah!" gumam Deri merasa geram sendiri.


"Dasar nenek kejam, kau fitnah orang yang sudah meninggal dan bahkan kau juga yang membunuhnya." Dalam hati Endro yang berusaha menyembunyikan perasaannya yang ingin ngamuk saat ini juga.


Arya menunduk sambil mengeratkan giginya. Tangan yang menggantung mengepal.


Aldo menyentuh tangan Arya sembari menghela nafas berat. Semakin ketara kelicikan wanita tua itu. Menyebut nama dokter Dimas yang tentunya mengarah pada sahabatnya yang juga meninggal dalam insiden yang sama persis dengan yang wanita tua itu katakan.


"Oma, kan mama meninggalnya di luar Negeri kata Oma juga dan bukan karena insiden. Terus papa meninggalnya barengan siapa?" Lica heran sendiri.


"Ha? iya begitu!" omanya mengangguk dan jadi kebingungan sendiri.


Lica menjadi tidak mengerti. Dan yang lainpun terdiam seribu bahasa ....


...🌼---🌼...

__ADS_1


Mana nih dukungannya? jangan lupa ya, dan aku ucapkan makasih banyak.


__ADS_2