
Mendengar suara seorang wanita yang menjawab salam, Deri. Aldo dan Endro saling pandang merasa kaget karena mereka merasa kenal dengan suara itu yang rasanya ... tidak berubah ya! suaranya, ya ... lembutnya, sama aja.
Kemudian merekapun segera bergerak melihat sumber suara dan Arya pun mengikuti. Dan sungguh benar saja, yang mereka dengar dan mereka lihat itu.
Ketiganya melongo melihat sosok Kanaya yang berdiri tidak jauh dari pintu dapur.
Arya merasa shock melihat orang yang selama ini dia tau hanya dari foto saja, yang kini nyata berada di depan mata. Tanpa bertanya pada ketiga om nya. Arya berjalan mendekati Kanaya, ia tidak kuasa menahan rasa rindunya pada sang bunda! biarpun dia belum pasti bundanya, karena bunda nya itu sudah meninggal.
Pemuda itu tidak peduli wanita yang ada di hadapannya itu siapa? yang penting saat ini dia memeluknya sebagai ganti pelukan pada sang bunda.
"Bunda. Aku merindukan mu! aku rindu kasih sayang mu, aku rindu belai kasih mu!" pemuda itu memeluk Kanaya tanpa meminta izin tanpa bertanya siapa wanita itu yang sebenarnya.
Tentunya Kanaya kaget namun dia tidak bisa berbuat apa-apa dalam pelukan pemuda tersebut yang bertubuh tinggi tampan dan kekar.
Wanita itu hanya bisa mematung terdiam tak bergeming di dalam pelukan pemuda yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.
Namun entah kenapa hatinya merasa bergetar apalagi mendengar kata-kata yang memanggilnya Bunda yang katanya sangat merindukan kasih sayang dan belaian dari seorang ibu.
Dokter Aldo, dokter Endro dan Deri ketiganya melihat Arya yang langsung memeluk wanita tersebut tanpa bertanya ataupun tanpa mencari tahu dulu kebenarannya. Namun mereka bertiga cukup mengerti dengan kerinduan seorang Arya yang selama ini tidak pernah mendapatkan belaian kasih sayang ataupun perhatian dari seorang bunda karena memang telah tiada.
Pak RT yang bawa ke empat pria tersebut ke sana tidak mampu berkata-kata, dia hanya terdiam bengong-bengong melihat pemandangan itu.
"Kamu ini siapa? kok tiba-tiba meluk saya! saya nggak kenal kamu," ucap Kanaya sambil menjauhkan dirinya dari Arya.
Tetapi sorot mata Kanaya diarahkan pada wajah pemuda tersebut dan setelah menajamkan pandangan nya, Kanaya merasakan sesuatu yang aneh. Yaitu wajah pemuda ini mirip dengan wajah suaminya. Dimas, membuat kanaya semakin heran ditatapnya begitu lekat pemuda tersebut.
__ADS_1
Sebelum suasana berlanjut dengan obrolan lain, pak RT mengajak mereka untuk duduk di teras tersebut dan Kanaya pun baru sadar kalau tamunya belum dipersilakan untuk duduk apalagi masuk.
"Oh iya, sampai lupa silakan duduk?" Kanaya menunjukkan ada berapa kursi di teras.
Dengan perasaan yang masih heran, Kanaya terus saja menatap wajah Arya yang tampak sendu serta tatapannya pun terlihat nanar pada wanita yang mirip dengan seseorang yang persis wanita yang sudah melahirkannya.
Kemudian, kanaya melirik ke arah Deri. Dia masih ingat kalau waktu itu pria itu lah yang menyelamatkan dompetnya dari pencopet. "Anda?"
Deri tersenyum siapa tahu kanaya ini ingat dirinya. "Iya, apakah dia mengenal saya?"
"Anda yang kemarin itu membantu saya menyelamatkan dompet, kan? saya tentu ingat itu dan saya kan sudah bilang, saya tidak akan lupa dengan kebaikanmu itu! terima kasih ya?" ucapnya Naya pada Deri.
Dokter Aldo dan Endro menatap ke arah Deri bengong, ternyata hanya itu saja yang Kanaya ingat tentang Deri.
"Ada apa ini rame-rame? pak RT. Ada keperluan apa?" tanya Pak Madi yang baru keluar dari dalam rumahnya.
Yang lain pun mengangguk hormat kepada pak Madi dan tidak lupa berjabat tangan.
"Oh ya. Emangnya ada keperluan apa aja sama mereka berdua? dan ... Dimas itu sedang tidak ada di rumah, katanya dia sedang ke pasar mencari obat-obatan!" ucap Madi sambil mengedarkan pandangan ke arah empat pria tersebut.
"Em ... Nama saya dokter Aldo dan ini teman saya dokter Endro dan dia juga teman kami namanya Deri, serta ini Putra kami namanya Arya!" dokter Aldo mengenalkan satu persatu antara mereka.
Dan bukan cuma Madi saja Kanaya pun ikut melihat ke orang-orang yang diperkenalkan namanya itu.
Untuk beberapa saat ... Madi menatap Arya yang bila dilihat-lihat wajahnya mirip dengan Dimas. "Sebentar kok saya nggak aneh ya? wajah pemuda itu kalau di lihat-lihat mirip dengan orang yang saya kenal!"
__ADS_1
"Abang, wajah dia mirip dengan suami saya, kan? wajahnya mirip banget!" sambarnya Kanaya mengungkapkan perasaannya yang sudah sedari tadi ingin berkata seperti itu.
"Kalau boleh saya tahu, apakah suami Ibu ini seorang dokter?" tanya Deri yang ditujukan pada Kanaya, melihat ke arah Madi.
Sesaat Madi terdiam, karena dia sendiri pun tidak tahu kalau dulunya Dimas itu seorang dokter atau bukan, sebab di temukan nya data atau tanda pengenal antara Dimas dan Kanaya. "Sebenarnya maksud kalian apa? sehingga menyelidiki keluarga saya ini!"
Arya, Deri. Aldo dan Endro saling bertukar pandangan, kemudian Aldo kembali berkata. "Eeh ... kami ingin bertemu dengan orang yang bernama Dimas dan Kanaya! karena kami pernah kehilangan saudara kerabat kami yang mirip dengan Kanaya ini."
"Tapi kalian bukan orang jahat kan? maksudnya tidak punya niatan jahat kepada mereka berdua!" selidiknya Madi.
Aldo menyeringai menunjukkan senyum nya kepada pria yang lebih tua darinya itu. "Aduh Tuan buat apa kami mencari Pak RT dan minta ditemenin ke sini, kalau kami ini punya niatan jahat, lagian buat apa kami minta tolong sama Pak RT. Kalau kami punya niat yang tidak-tidak! kami ini berempat lho."
"Ya ... siapa tahu aja kan, kita nggak tahu namanya juga orang baru!" timpalnya Madi.
"Assalamualaikum? suara Dimas yang baru saja datang dan dia menyandarkan motornya, dia merasa kaget melihat di teras ada banyak orang termasuk Pak RT.
Apalagi melihat orang-orang yang bersama Pak RT itu tidak dikenal, tapi merasa tidak asing! tapi sama sekali Dimas tidak mengingatnya memorinya tetap aja blank. Nggak ada mengingat siapa mereka apalagi menyimpan kenangan tentang mereka.
Ketiga pria itu pun sungguhlah terkaget-kaget, teramat sangat dibikin terkesiap. Melihat sosok yang datang ini benar is amazing karena yang mereka bayangkan itu memang benar suami Kanaya, kalau memang mirip itu cuman salah satu nya saja, tapi ini keduanya. Suami istri itu memang benar-benar bikin Deri, Aldo dan Endro merasa shock.
Terpukul juga bercampur dengan rasa bahagia, karena mereka berharap inilah sahabat mereka yang sesungguhnya, orang yang selama ini dianggap sudah meninggal.
Kemudian Dimas menghampiri mereka semua, lalu berjabat tangan satu persatu.
Lagi-lagi Arya dibuat terbelalak matanya tak berkedip sekalipun, melihat Dimas yang juga kini mulai menatap dirinya. Karena merasa tidak asing dengan wajah itu seolah-olah melihat dirinya sendiri ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ayo mana yang belum like comment dan subscribe, jangan lupa ya? makasih.