
Mobil Angelica yang dikemudikan oleh Arya melaju dengan cepat ke rumah sakit yang kebetulan tempatnya bekerja, Arya menoleh pada sang istri yang tampak cemas.
"Aku khawatir, Oma kenapa-napa, kok bisa gitu ya? aku yang satu atap tidak tahu keadaan omanya." Angelica menggelengkan kepalanya.
Arya yang fokus menyetir sambil menyembunyikan senyumnya. Kemudian melirik. "Mungkin kita ... terlalu asik bercinta, ya udah mungkin itu yang pertama dan terakhir--"
"Lho, kok gitu sih? nggak bisa gitu dong sayang. Bukankah itu sebuah kebutuhan?" Lica duduk tegak mendengar perkataan dari Arya demikian.
"Iya, kan gara-gara itu juga Oma masuk rumah sakit dan kamu menyesali itu kan?" ucap Arya dengan tenang.
"Nggak gitu juga sayang. Iih jadi bingung ngomongnya." Angelica mengalihkan pandangan dengan wajah yang di tekuk dan tangan dilipat di dada.
Arya mengulum senyumnya. Lalu memarkirkan mobil tersebut lalu turun mengitari untuk menjangkau pintu buat Lica keluar.
Lica mengambil tasnya lalu turun dan setengah berlari memasuki rumah sakit tersebut. Arya menyusulnya dari belakang dengan santai.
"Gimana Dok Oma saya?" tanya Angelica setelah sampai di ruangan sang Oma di rawat, dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Oma anda mengalami depresi berat, mungkin dari faktor masa lalunya. Mungkin." Jawabnya dokter yang menanganinya itu.
"Apa? Oma mengalami depresi berat ..." Angelica melihat omanya yang bengong serta tatapan yang kosong.
Langkahnya mendekati sang Oma. "Oma ... kenapa Oma begini?" gumamnya Angelica.
"Kemungkinan Oma anda akan sulit di ajak komunikasi. Bila bisa pun akan sulit nyambungnya." Tambah dokter.
Angelica menoleh pada dokter. Kemudian kembali menatap ke arah omanya dengan tatapan nanar.
Arya yang tiba beberapa saat lalu. Menghampiri Lica. "Sabar sayang."
Lica berbalik dan dan memeluk Arya sambil menangis. "Oma, sayang ... Oma depresi. Aku gak tahu kok Oma bisa seperti ini."
"Sabar aja ya sayang!" Arya mengusap punggung istrinya. Lalu berpamitan karena dia harus bekerja.
__ADS_1
Sementara Angelica menunggui omanya. Kebetulan dia masih masa cuti.
Arya meninggalkan tempat tersebut, setelah beberapa saat memandangi Bu Mahdalena yang bengong dengan tatapan kosong bagai orang yang tak berjiwa.
"Hem, nikmati sisa hidup mu seperti itu, lebih payah mungkin." Batinnya Arya sembari meninggalkan Lica dan seorang dokter di sana.
...----...
Pagi-pagi Kayla sudah belajar menyapu dan membuka-buka gorden dan memasak untuknya makan.
Mencuci pakaian yang tinggal klik saja itu. Apa yang bisa, semampunya dia kerjakan. "Gini kali ya pekerja rumah yang setiap hari beberes, mencuci dan memasak! belum pekerjaan lainnya. Huuh ... capek juga."
Kayla mengusap pelipisnya yang berkeringat. Kemudian dia makan yang sudah dia masak tadi.
Lanjut mandi dan berganti pakaian dengan yang bersih, rapi dan wangi.
"Aku harus belajar menata diri dan meninggalkan pergaulan ku yang dulu." Kemudian dia mengambil ponselnya dan membuang kontak teman-teman nya yang dia rasa hanya membawa pengaruh buruk saja.
Saat ini Kayla sedang bersantai dan terdengar suara motor memasuki pekarangan rumahnya.
"Permisi? Kayla ..." dia wanita dan pria masuk dan rupanya teman-teman Kayla yang datang. Teman nongkrong dan hura-hura.
"Kalian? ada apa nih?" sapa Kayla yang duduk di depan televisi.
"Gimana kabar mu cantik?" tanya salah satu temannya.
"Baik, seperti yang kau lihat." Jawabnya Kayla.
"Eeh, kamu sudah lepas dari kursi roda ya? hebat ... dan kita bisa jalan lagi nongkrong-nongkrong, bersenang-senang gitu!" timpal yang lainnya.
"Oya, aku ada barang baru. Dan kamu lama nih tidak memakainya! di jamin bikin kita happy deh." Kata seorang pria yang memakai anting sebelah.
"Lama kita tidak bersenang-senang bila perlu kita Carikan cowok yang segalanya lebih dari mantan mu itu!" Tambah satunya lagi.
__ADS_1
"Aku gak mau, dan aku sudah putuskan untuk berhenti hura-hura ataupun menggunakan obat itu!" Kayla menggeleng.
Teman-teman nya saling bertukar pandangan lalu melihat ke arah Kayla dengan tatapan yang tidak percaya.
"Benar, aku sudah berniat merubah diri. Aku sudah terbiasa tanpa obat itu selama di rumah, dan aku harus lebih bertanggung jawab atas diriku sendiri. Uang di seret sama Kakak aku karena Oma sudah tiada, yang ada kakak aku yang mengatur keuangan dan tidak sebebas dulu ketika Oma ada," ujar Kayla panjang lebar.
"Alah, palingan sebentar saja. Jangan di dengar kalau dia ngelindur seperti itu, nanti juga bakik lagi." Suara temannya yang tidak percaya dengan uraian dari Kayla.
"Aku serius. Dan jangan ajak aku lagi untuk begitu. Biarkan aku hidup normal dan lebih baik. Kalian boleh main ke sini, namun bukan untuk macam-macam yang akan membuat hidup ku terpuruk ke lembah yang tidak jelas!" Suara Kayla sembari mengedarkan pandangannya pada teman-teman nya itu.
"UPS, sudah tobat rupanya. Yakin nih tidak mau nyobain dikit saja!" tawar taman lelakinya itu.
"Sorry, aku gak mau!" Kayla menggeleng.
"Kalau gitu ... kita nongkrong yo? kau pasti bosan di rumah ini terus secara lama di kursi roda juga." ajak teman wanita yang duduk dekat dengan Kayla.
"Aku gak mau, aku harus irit-irit uang yang ada dan kalau kalian mau pergi sih pergi saja. Biarkan aku sendiri." Jelas Kayla kembali sampai menggelengkan kepalanya.
"Emangnya kamu tidak bosan di rumah Terus Kay? kami ke sini. untuk menjemput mu untuk jalan-jalan biar gak jemu." Tambah wanita satunya lagi.
"Bosan sih ... tapi aku sudah bertekad untuk meninggalkannya, aku mau seperti yang lain mandiri dan bekerja. Aku capek seperti dulu terus yang aku tau cuma minta dan minta uang sama Oma, tidak pernah tau dari mana. Siapa yang bekerja dan tidak perduli bila cepat habis. Karena yang aku tau kalau habis ya minta!" kenang Kayla.
"Lah, kamu gak asik lagi nih. Mendingan kita nikmati masa muda kita kawan." Timpal kawan wanitanya.
"Terus ketika kita tua nanti. Akan menggunakan hasil dari mana? bila ketika muda, kita hanya tau menikmati tanpa berusaha dulu." Kayla mengedarkan pandangan kepada teman-teman nya itu.
"Apa yang kita nikmati di masa tua. Tentunya hasil kita di masa muda bukan? terus apa yang akan kita nikmati di masa tua nanti? bila di masa muda kita hanya hura-hura tanpa berusaha membuat tabungan untuk masa tua! sungguh itu pemikiran gila dan tidak masuk akal," ujar Kayla lagi.
Teman-teman nya Kayla sedari tadi terdiam sambil saling melempar pandangan. Memang ada benarnya juga sih omongan Kayla barusan namun. Lah masa bodo, yang penting hidup senang. Begitu pikirnya.
"Dulu juga aku pikirannya konyol kaya kalian. Buat apa aku capek kerja? toh kau mau makan tinggal makan, mau duit tinggal minta. Tapi setelah Oma meninggal semua berubah. Di saat aku terpuruk di kursi roda malah aku di cekik oleh Abang ku sendiri dengan arti serba dekendalikan." Tambahnya Kayla.
Sambil beranjak mengambil minuman air buah untuk teman-temannya itu ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen dan subscribe nya ya? makasih.