Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Donat dan pisang


__ADS_3

"Ayolah to the point gue capek nunggunya," rajuk Endro dengan nada lemas.


Sebelum melanjutkan pembicaraannya, Deri menghela nafas dengan sangat panjang lalu dia hembuskan dengan tampak berat.


"Aku ... aku melihat Kanaya, dia masih hidup dan dia sehat walafiat tanpa kurang suatu apapun!" perkataan Deri sangat membuat orang-orang yang di sekitarnya terkejut.


"Ha? kau jangan bercanda Der, orang yang sudah meninggal ya meninggal aja, nggak mungkin hidup kembali! kan kita sendiri yang melihatnya dan kita juga yang menguburkannya." Endro melonjak kaget.


"Iya, Indro bener! kita yang ikut menguburkan mereka berdua!" dokter Aldo menganggukkan kepalanya sembari menatap tajam ke arah Deri.


"Itu benar, kita bertiga ikut ke bumi kan mereka berdua, tapi kita tidak tahu pasti dan tidak melihat wajahnya. Kenapa? karena rusak dan semua data Dimas dan Kanaya memang iya ada di mobil tersebut, tapi sekarang saya ragu apa benar yang meninggal itu mereka berdua? sahabat kita atau mungkin orang lain." Jelas Deri dengan sangat serius.


Kemudian Endro dekati Deri dan menempelkan punggung tangannya di kening pria tersebut.


"Kamu jangan gila Der, dan jangan ngada-ngada, soal Mahdalena saja bikin pusing setelah sekian lama kasusnya ditutup baru ketahuan dia yang menjadi dalang sabotase mobil tersebut, Sekarang kamu bawa berita baru." Endro meneguk minumannya.


Arya sebaliknya terdiam, tersentak dengan mendengar nama Kanaya yang Deri sebut itu. Karena bagi Arya nama itu adalah nama bundanya.


"Om, yang Om maksud bunda aku bukan?" selidiknya Arya yang tampak kaget tersebut.


Deri mengalihkan pandangannya ke arah Arya seraya mengangguk dan berkata. "Benar saya melihat dengan mata kepala sendiri, berhadapan dan berbincang sedikit, tatapannya. Cara bicaranya, tersenyum nya bahkan jalannya itu sama dengan orang yang saya kenal dulu! yaitu bunda mu!" kenangnya Deri.


Membuat tubuh Arya semakin mematung terdiam tapi hanya sorot mata saja yang bergerak melihat ke arah Endro, Deri dan Aldo bergantian.


Entah perasaan apa yang dirasakan Arya saat ini, bahagia atau harus sedih kah. Yang jelas dadanya terasa sesak.


"Em ... Di mana kau bertemu dia tanya Aldo pada Deri.


"Ahc ... jangan didengar lah paling dia cuman mimpi, wajar lah dia bila dia bermimpi ketemu Kanaya. Secara dia itu sangat mencintai Bunda mu, Arya." Celetuk Endro.


Semua pasang mata mata melihat ka arah Endro termasuk Deri.

__ADS_1


"Kalau soal perasaan, bukan cuma saya saja yang menyimpan rasa itu, coba tanya dokter Aldo. Apakah dia merasakan perasaan yang sama?" Deri melihat Aldo dan Endro bergantian.


Lalu Endro pun melirik ke arah dokter Aldo yang justru membuang mukanya ke arah lain.


Menjadikan Arya pun memandangi lekat ke arah Deri dan Aldo dan dia mengambil kesimpulan, kalau kedua pria itu menyimpan rasa, dulunya pada seorang wanita yang bernama Kanaya. Yang tiada lain adalah bundanya.


"Saya serius dan saya sadar kalau itu bukan mimpi, saya yang menyelamatkan dompet dia dari copet, ketika dia belanja di pasar!" Deri membela diri kalau yang dikatakannya itu adalah benar.


"Kalau memang benar kenapa Tidak kamu ajak pulang? kan sudah tahu dan jelas di sini keluarganya." Suara Endro sedikit dengan nada tinggi.


Lalu dokter Aldo menepuk bahunya Endro. "Tenang, kita harus mendengarkan dulu Deri. Dan setelah itu apa yang harus kita perbuat, mencarinya kah atau gimana?"


"Saya tidak bisa serta-merta mengajak pulang! karena dia sepertinya tidak mengenali saya. tapi nama yang dia miliki memang tetap sama, Kanaya dan hasil sedikit dari penyelidikan! suaminya bukanlah dokter." tambahnya Deri sambil menerawang karena dia sendiri yakin kalau dia nggak salah orang.


Hening ....


Sejenak mereka berempat terdiam memilih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Arya melamun membayangkan bilakah memang benar ibunya masih hidup, tapi ... terus siapa yang sudah dinyatakan meninggal dan kuburannya ada?


"Bunda apakah benar kau masih hidup dan kenapa tidak pulang menemui ku? yang setiap saat merindukanmu!" gumamnya Arya dalam hati.


"Saya sudah mendapatkan nama kampungnya walau alamat lengkapnya nggak tahu, tapi saya akan mencarinya sampai dapat dan kebetulan Besok saya mulai bekerja di pasar Baru yang berdekatan dengan pasar yang kejadian itu saya bertemu dengannya!" suara Deri memecahkan keheningan meja nomor xx dengan kursi yang mereka duduki.


"Saya ikut! kalau kamu mencarinya saya juga penasaran apakah benar dia itu orang yang kita maksud orang yang sama!" timpalnya Aldo.


Deri melihat ke arah Aldo seraya berkata. "Oke! sekitar sore'an lah Setelah saya selesai bekerja!"


"Aku ikut, kita harus menemukannya bareng-bareng, agar kita saling percaya satu sama lain, apapun hasilnya!" sambungnya Arya.


"Lah, gue sendiri. Ikut juga saya! penasaran, apa benar yang kamu lihat itu? apa mungkin orang sudah meninggal hidup lagi, rasanya sih tidak mungkin!" Endro akhirnya minta ikut untuk mencari keberadaan Kanaya walaupun tidak percaya.

__ADS_1


"Oke, besok sore. Saya tunggu di lokasi dan nanti saya Sherlock ke HP kalian masing-masing." Kata Deri.


"Kalau mencarinya sekarang sudah terlalu malam dan gak enak! Nanti dikira orang jahat, apalagi di daerah perkampungan!" tambahnya Deri lagi.


"Benar Om, sebaiknya besok saja lah, soalnya kita mencari orang yang tempatnya itu belum pasti. Jadi ketika masih siang itu lebih leluasa!" Arya mengangguk setuju.


Selanjutnya mereka pun mengobrol tentang apa saja sehingga tidak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 10.00 malam dan Arya memutuskan untuk ikut Deri ke Vila, apalagi ada yang menunggu, istrinya di sana.


"Oke! sampai besok sore kita ketemu lagi, sekarang saya sudah ngantuk," dokter Aldo pun berdiri begitupun Dengan Endro.


Semuanya saling berjabat tangan, kemudian setelah salah satunya membayar bill tagihan, berjalan mendekati kendaraannya masing-masing.


"Apa kau mau pulang ke Villa?" tanya Endro sambil mengeluarkan kunci dari sakunya, pertanyaan itu dia tujukan kepada Arya.


"Benar, aku mau pulang ke Villa bersama Om Deri," jawabnya Arya sembari mengambil helm dari motornya.


"Pastinya kamu mau menikmati donat bersama pisang ya?" Endro sambil tersenyum.


Arya tidak mengerti, dia celingukan ke arah Aldo dan Deri yang seolah tidak mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Apa itu donat Om?" tanya Arya kepada Endro.


"Masa nggak ngerti menikmati donat dengan pisang! Saya mau pulang jadi pengen nikmati donat bersama pisang, mudah-mudahan istriku nggak lagi halangan ha ha ha ..." Endro tertawa lucu.


Mendengar penjelasan itu, Arya baru mengerti dengan yang dimaksud Endro arti donat dan pisang.


"Ya-ya ya ... aku mengerti donat dan pisang." Dia baru paham dengan kiasan kata-kata itu, kepalanya menggeleng lalu dia mengenakan helmnya.


Menoleh pada yang lain yang sudah mulai melajukan kendaraannya masing-masing. Karena berbeda arah tempatnya, mereka pun terpisah di tempat itu juga.


Kini Deri dan Arya melajukan motornya beriringan dengan tujuan yang sama yaitu Vila mereka, di mana di sana ada Gita yang selalu menunggu dengan sabar kehadiran Arya di sana ....

__ADS_1


...🌼---🌼...


Hanya ucapan terima kasih yang bisa kuberikan kepada setiap radarku dan semoga kalian semua dalam keadaan sehat walafiat dan diberi kemudahan dengan segala hal oleh yang maha kuasa. Aamiin-Aamiin ya rabbal allamin.


__ADS_2