
"Ayo pergi sekarang?" ajaknya Arya kepada Gita.
"Ha? mau ke mana! aku gak ada baju yang lebih bagus dari ini." Gita mengamati dirinya sendiri.
"Ya sudah! gitu aja nggak pa-pa!" Arya mengangguk dan menatap intens karena gadis itu.
"Oh ... ya udah! kalau nggak pa-pa. Emang dokter nggak mau mandi dulu?" tanya Gita sambil menunjuk ke lantai atas.
"Nggak, aku masih wangi kok!" dan kemudian Arya pun kembali berjalan keluar melintasi pintu utama dan disusul oleh gadis yang berpenampilan sangat sederhana itu.
Kini Arya sudah duduk di atas jok sepeda motornya dan sudah mengenakan helm juga, sementara Gita masih berdiri mematung.
"Kok masih berdiri aja! nanti keburu malam." Titahnya Arya sembari menggeser duduknya ke depan, memberi tempat pada Gita untuk duduk.
Barulah itu Gita naik dan duduk di belakang Arya dengan tampak
ragu-ragu.
"Nggak usah sungkan gitu, bukannya kita sudah suami istri?" ucap Arya sembari tersenyum simpul.
Gita hanya tersipu malu tanpa menjawab apapun.
Sepeda motor Arya kemudian, melaju dengan cepat menuju ke sebuah toko pakaian dengan niat awal yaitu membeli pakaian buat Gita.
Ada niat ke butik Kanaya busana namun terlalu, jauh jadi dia lebih memilih ke toko terdekat saja.
"Sekarang kamu pilih baju yang kau suka, seperti baju tidur baju yang buat di rumah! buat pergi juga," ucap Arya setelah sampai di toko tersebut.
Gita tidak menjawab, tatapannya yang mengedarkan ke dalam toko itu, dipandang nya baju-baju yang menggantung dan juga yang terpasang di patung.
"Tapi aku lupa bawa uang yang waktu itu kau berikan!" kata Gita sembari meraba sakunya.
"Ya ... nggak apa-apa aku yang bayar! Mbak tolong belikan pakaian yang pantas," ucap Arya sambil menoleh ke arah pelayan toko dan yang dimintai tolong untuk mencari pakaian pantas yang sesuai dengan tubuh Gita.
"Baik, akan saya bantu carikan, mari Mbak?" ajak pelayan toko dengan ramah.
Gita pun mengikuti penjaga toko itu, yang mengajaknya memilih dan mencoba beberapa baju.
__ADS_1
Setelah mendapatkan berapa baju, Gita untuk jalan pulang. Sekalian dia mau ngomong soal pernikahannya dengan Angelica. Bagaimanapun yang harus diomongin kebohongan antara Arya dan Gita.
"Kenapa nggak makan di rumah saja, di restoran kan mahal," ungkap Gita sambil melirik ke dalam restoran yang berada di depan itu.
Arya tersenyum sembari menggeleng. "Tidak apa-apa ... aku yang bayar!"
"Ooh iya lupa," Gita menepuk jidat nya sambil berjalan mengikuti langkahnya Arya yang sudah duluan masuk.
Arya menarik kursi buat Gita. Lalu mereka pun memesan makan cepat saji sesuai selera mereka berdua.
Selesai makan, Arya memulai pembicaraan. "Seperti yang pernah ku bilang. Kalau aku ada janji dengan seseorang. Dan besok aku mau menikah! ka-kamu jangan khawatir kalau kamu akan tetap saya perhatikan sebagai istri saya dan saya juga gak akan lepas tanggung jawab sama kamu."
Degh.
Gita menatap sekilas pada Arya lalu kemudian menunduk memandangi piring bekasnya makan. Dia tau kalau Arya menikahinya karena sang ayah yang menyerahkan tanggung jawab nya kepada Arya.
Jadi pernikahan ini bukan murni kemauan dari dokter Arya, jadi wajar bila dia akan terus melanjutkan hidupnya dengan sang kekasih. Adanya dirinya dalam kehidupan dokter Arya begitu singkat.
Lagian menikah dengan kekasihnya itu sesuatu yang di rencanakan. Pada akhirnya Gita mengangguk pelan. "Aku mengerti dan aku minta maaf, kalau aku sudah masuk tanpa permisi di kehidupan dokter!"
"Terima kasih atas pengertiannya. Oya, kamu gak perlu menjelaskan apa pun kepada siapapun. Cukup tau aja kamu istri aku! termasuk istri nanti. Namanya Angelica," sambung Arya.
"Oke, kita pulang sekarang! apa ada yang ingin kau bawa buat di rumah semacam cemilan gitu." tawar nya Arya.
Gita menggeleng seraya berkata. "Nggak mau ah di rumah juga ada! di lemari pendingin banyak makanan, nanti mubazir."
"Ya sudah kalau gitu. Yo kita jalan?" Arya beranjak setelah membayar biaya tagihan makannya. Menjinjing beberapa paper bag belanjaan miliknya Gita.
Ketika hampir setengah jalan, langit menunjukkan mendung dan hendak mengucurkan hujan gerimis. Dan kemungkinan akan deras.
"Yah ... hujan! sudah gelap, hujan lagi Ayah sedikit mendongak melihat langit yang mulai gerimis dan mungkin sebentar lagi akan deras hujannya.
Motor Arya semakin melaju dengan kencang, berlari membelah jalanan dan gerimis, takutnya hujan semakin deras.
Dan ketika sampai di Villa, hujan nya benar saja begitu deras mengguyur. Untungnya sudah sampai, Arya memasukan motornya ke dalam garasi dan di sana sudah terdapat motor Deri.
"Untungnya kita dan sampai. Jadi gak kena hujan." Arya menoleh pada Gita yang sedang menepis air hujan dari bajunya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Gita bersin-bersin sambil berjalan memasuki ke dalam Villa itu dan paper bag Arya ambil alih, di antarnya ke kamar nya Gita.
Kemudian Arya baru-baru turun ke dapur untuk mengambil air minum dan mencari kotak obat untuk Gita yang terus bersin-bersin.
"Ini aku bawakan obat untukmu! segeralah diminum, sebelum kamu terkena flu dan pilek!" kalian berikan obat dan segelas air putih kepada kita yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya.
Gita yang melihat Arya mulai dari pintu berjalan sampai mendekatinya, lantas mengarahkan pandangan kepada yang dia berikan.
"Aku nggak apa-apa kok, cuman lu doang besok juga setelah aku istirahatkan sembuh!" ucapnya nggak di situ sambil menatapi obat di tangan Arya.
"Iya di minum saja obatnya, jangan lupa ya?" Arya lalu kembali keluar dari kamar Gita.
Gita menatap ke arah pintu, lalu mengalihkan pandangan pada obat yang Arya bawakan untuknya.
Arya terus mengayunkan langkahnya, menuju kamar dan berpapasan dengan Deri yang sengaja mencarinya.
"Om?" sapanya Arya.
"Dari mana tadi?" tanya Deri.
"Dari toko membeli pakaian Gita. Kenapa?" Arya mendudukan dirinya di kursi yang ada di lantai atas tersebut.
"Om dari rumah Kayla. Dan Om ada ide untuk adik mu agar lebih dewasa dan mandiri--"
"Apa itu Om?" Arya merasa penasaran.
"Em ... Om berhentikan semua asisten di sana. Bibi Om suruh datang hanya seminggu sekali saja untuk membersihkan rumah. Biar keseharian Kayla berusaha sendiri. Dia bisa berjalan. Cuman ... malas gitu dan keenakan serba di layani, zom ingin di berubah!" ujar Deri panjang lebar.
Arya menghela nafas sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan Deri. "Aku serahkan, gimana Om saja. Aku mana ada waktu untuk gadis itu, apalagi. sekarang! lagian kata om Aldo juga anak itu ngeyel gak bisa di atur dan gak semangat untuk bis berjalan. Jadi Om saja yang urus untuk kepribadiannya itu."
"Oke, karena setuju atau tidak. Om sudah bertindak. He he he ..." Deri berdiri. "Kau mau mandi ya?"
"Iya, gak enak nih lengket." Arya pun beranjak dan membawa langkah ke kamar pribadinya.
Arya ke kamarnya dan Deri turun kembali ke bawah, setelah sejenak berbincang tentang Kayla ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Akankah ide Deri dapat merubah sipat Kayla yang berbalik dari kakak nya Arief?