
"Ehem, Jangan bilang dunia serasa milik berdua, sementara yang lain hanyalah kontrak." Bu Mahdalena berdehem.
Lica melirik ke arah Omanya dan mesem, sementara Arya menunduk malu sembari berkata dalam hatinya. "Jangan sampai aku jatuh cinta beneran sama gadis ini, aku harus mengambil kesempatan buat membalas dendam."
"Sebaiknya kau sering main ke sini, dan pintu rumah ini terbuka untuk mu." Ujar bu Mahdalena kepada Arya sambil melirik ke arah cucunya tersebut.
"Iya Oma. Lain kali aku main ke sini lagi dan makasih atas undangannya." Arya mengangguk lalu mereka berpindah duduk ke ruang tengah.
"Apakah kau belum punya kekasih?" selidik bu Mahdalena langsung to the point saja. "Saya setuju bila kalian berhubungan dengan baik atau pun ke lebih serius gitu, saya jatuh hati dan percaya bila kau akan membahagiakan cucu saya, kamu orang baik itu saya juga percaya."
Degh!
"Kok bisa secepat ini? kenal saja belum lama. Sudah main serius saja." Batinnya Arya sambil menatap ke arah wanita sepuh itu.
"Aduh Oma, apa tidak terlalu cepat itu Oma? mengingat ... kenal pun belum lama, iya kan?" Arya melihat ke arah Lica yang terus tersenyum padanya.
"Kenapa tidak? kalau sama-sama suka, kenapa tidak? bisa saja bukan, yang penting saling menyayangi dan mencintai. So kalian akan bahagia," sambungnya bu Mahdalena dengan wajah yang meyakinkan kalau dia benar-benar setuju.
"Oma ... ini bikin malu aku saja deh." Lica memanyunkan bibirnya pada sang oma. Namun hatinya dibuat sangar berbunga-bunga.
"Kanapa emang? kau memang suka kan sama dia? dan kamu ingin menikah dengan dia? ngaku saja sama Oma, daripada dia keburu di ambil orang. Oma yakin kalau banyak orang yang ngantri untuk menjadi pacarnya dia." Bu Mahdalena malah mendukung perasaan sang cucu pada Arya.
Lica menatap ke arah Arya yang menunduk seraya berpikir. "Mudah amat dia percaya padaku, kenal saja baru. Gimana kalau cucunya ini aku bawa kabur?"
"Oma setuju kok, yang penting ... cucu Oma ini bahagia." Bu Mahdalena sangat menyetujui sepenuhnya.
"Oya, ajak lah dia melihat-lihat sekitar rumah ini ke kolam renang atau ke taman sambil mengobrol begitu." Titahnya Bu Mahdalena pada Lica yang langsung menanggapi dengan anggukan dan lantas beranjak mengajak Arya untuk berjalan-jalan di sekitar rumah mewah dan besar tersebut.
Arya masih juga duduk tidak dengan cepat merespon ajakan dari Lica. Sehingga tangannya lagi-lagi di tarik oleh Lica di ajaknya ke taman yang berdekatan dengan kolam renang.
Keduanya berjalan di sekitar taman dan kolam. Menghirup udara malam dan wanginya bunga-bunga yang menusuk ke dalam rongga hidung. Di Langit pun bulan bersinar walaupun cuma separuh tidak mengurangi keindahan nya di malam ini yang juga bertabur dengan beberapa bintang.
"Em ... seandainya kamu di lamar, Maksud ku kamu sudah punya pacar belum?" ucap Lica tampak ragu.
__ADS_1
"Em, pacar sih ... tidak punya dan gak ada yang mau sama aku. Makanya tidak punya pacar." Akunya Arya meyakinkan. Memang dia tidak punya pacar sih. Apalagi yang wanita nya tidak seiman, bikin Arya malas.
"Masa sih?" ucap Lica seakan tidak percaya dengan pengakuan nya Arya barusan.
"Iya, benar itu ..." lantas ia terdiam mengingat di ruang tengah tadi ada sesuatu yang menandakan bila penghuni rumah ini bukan lah muslim.
"Em ... kamu muslim kan? aku juga muslim, biarpun bukan muslim yang sempurna jauh dari sempurna. Tetapi aku suka dengan agama itu biarpun oma aku bukan lah muslim." Lica berujar kalau dia adalah muslim.
"Oya kau muslim, benarkah?" selidik Arya sambil menatapi Lica yang sedang memetik setangkai bunya roos.
"Aku muslim biarpun salat aku masih bolong-bolong. Puasa ku jarang-jarang ... dan ktp aku pun Muslim kok." Lica meyakinkan.
"Ooh ... alhamdulillah." Arya sambil mengangguk. "Oya, Oma itu mempunyai berapa anak?"
"Cuma mama ku saja kalau gak salah sih." Jawabnya Lica sambil menciumi bunga yang berada di tangannya.
"Ooh begitu. Kau mempunyai adik atau kakak?" sambungnya Arya sambil mendudukan dirinya di kursi yang tersedia di sana menatap air kolam yang berkilauan, apalagi terkena sinar lampu yang membuat semakin indah di pandang mata.
"Tidak, cuma aku saja tunggal tak ada adik ataupun kakak, aku saja." Jawabnya Lica sambil duduk di dekat nya Arya.
"Aku ...boleh kan main sering-sering ke Vila? tentunya di saat kamu gak kerja kok. begitupun dengan ku." Lica menoleh dan menatap sangat lekat ke arah Arya.
"Boleh saja bila kau ada waktu senggang dan tidak ada yang marah atau cemburu." Timpal nya Arya.
"Siapa yang cemburu? kamu kali yang akan ada yang cemburu." Elaknya Lica sambil melempar Arya dengan kelopak bunga.
"Kali saja, kan?" sambungnya Arya sambil mesem-mesem.
"Mana ada, kalau ada pun aku tidak perduli kok. Aku tidak suka sama dia," akunya Lica, gadis itu berjongkok dan bermain air dengan tangannya.
"Oya, sudah malam. Aku mau pulang dulu!" pamitnya Arya.
Angelica berdiri menatap kecewa, untungnya wajahnya tidak terseret oleh cahaya lampu. "Kok cepat amat sih?"
__ADS_1
"Capat gimana? aku sudah terlalu lama di sini. Aku takut nanti di grebek warga kan repot he he he ..." akunya Arya sambil tertawa tipis.
"Padahal aku masih betah lho berbincang dengan mu! besok boleh kan kita bertemu lagi?" tambahnya Angelica sambil mendekat.
"Em ... aku gak janji ya! karena siapa tahu besok aku sibuk." Arya berdiri dan merapikan pakaiannya.
"Hem ... bukan sibuk dengan cewek kan?" selidik Lica lagi.
"He'em ... mungkin saja pasien ku cewek." jawabnya Arya sambil mengayunkan langkahnya yang di ikuti oleh Lica dari belakang.
"Padahal menginap saja di sini, aku siapkan kamar kok!" suara Lica yang sangat menunjukan kalau dia tidak ingin Arya pulang.
"Ini cewek, ketara banget kalau tidak ingin aku pulang. Cewek ini benarkah dia jatuh cinta padaku?" monolog Arya di dalam hati sambil terus berjalan di sebuah koridor.
Setibanya di lantai dasar Arya pun berpamitan pada Bu Mahdalena yang masih berada di ruang tengah.
"Hem, kenapa tidak menginap saja di sini?" suara Bu Mahdalena.
"Tidak, Oma. Lain kali saja," Arya mencium hormat tangannya Bu Mahdalena.
"Kau kenapa cemberut begitu? makanya nikah saja mau? Oma nikahkan kalian?" tanya Bu Mahdalena sambil menatap ke arah Lica dan lalu ke arah Arya yang segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Oma," suara Lica dengan manja dan memeluk Omanya.
Arya mengayunkan kedua kakinya dengan teratur mendekati motornya, sebelum jalan. Dia pun sempatkan untuk mengangguk pada scurity yang membukakan pintu gerbang.
"Pak permisi ya? maaf dah merepotkan?" Arya yang di tujukan pada pak scurity.
Pak scurity pun tersenyum dan melambaikan tangannya.
Arya melajukan si roda dua nya dengan kecepatan sedang. Sambil menikmati indahnya malam ini ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Mohon dukungan nya ya, jangan lupa klik subscribe nya ya biar dapat notif nya, makasih 🙏