
Arya dan Dimas masih saling tatap. Di dalam hati Dimas berkecamuk bermacam pertanyaan, kok wajah pemuda ini mirip dengan wajahnya seolah-olah dia sedang bercermin bila melihat pemuda ini.
"Siapa dia dan kenapa ada di sini dan juga orang-orang itu, rasanya tidak asing tapi entah siapa? aku nggak mengingat mereka sama sekali," batinnya Dimas lalu mengedarkan pandangan ke arah Deri, Aldo dan Endro.
Sementara ketiga pria itu saling berpandangan, ternyata Dimas tidak mengenal mereka sama sekali. Sehingga pria itu tidak menyapa mereka satu patah kata pun.
Kemudian dokter Aldo siap untuk memulai pembicaraan. "Ehem. anda bernama Dimas bukan?"
"Iya, benar. Nama saya Dimas!" jawabnya pria itu sambil mendudukkan dirinya di samping sang istri yang menundukkan wajahnya.
"Anda bekerja di mana?" kini Endro yang bertanya kepada Dimas.
"Saya cuma bekerja di kebun saja bertani, kalian ini siapa ya dan ada keperluan apa sama saya?" Dimas balik bertanya dan menatap lekat ke arah mereka.
"Apakah kamu tidak mengenal kami? sebagai sahabat ... atau si gitu?" Deri pun turut bertanya pandangan yang lurus kepada Dimas.
"Saya jujur saja, tidak mengenal kalian ini, walau pun rasanya wajah-wajah kalian itu tidak asing bagi saya. Tapi, saya tidak mengingat sedikitpun kalian itu siapa dan apa hubungannya dengan saya!" Dimas menggelengkan kepalanya.
Kanaya yang mengangkat wajahnya, sembari menunjukkan senyum sebuah senyuman yang lama tidak mereka lihat.
"Apa mungkin kalian semua mengenal kami dan kebetulan kami pun sedang mencari atau mengingat identitas kami berdua!" Kanaya langsung to the point dia berpikir ... siapa tahu kalau orang-orang ini memang mengenal dirinya dan suami, siapa tahu mereka adalah keluarganya yang sedang mencari keberadaan mereka berdua.
Dimas melirik ke arah sang istri yang langsung berkata demikian.
"Nama kalian adalah Kanaya dan Dimas bukan? boleh saya melihat kartu identitas kalian selama di sini?" Aldo menanyakan kartu identitas Dimas dan Kanaya yang terbaru.
Dimas langsung mengeluarkan identitasnya dari saku kemeja. lantas diberikannya kepada Aldo.
Aldo langsung mengambil dan dan mengeceknya. Data usia dan nama sama, namun pekerjaan dan alamat saja yang beda.
Deri, Arya dan Endro pun melihat identitas miliknya Dimas. Dan Aldo mengambil identitas asli Dimas dan Kanaya.
__ADS_1
"Ini data aslinya," Aldo memegangi kartu tanda pengenal Dimas.
"Terus siapa yang meninggal itu?" gumamnya Endro sambil mengerutkan keningnya.
Semua orang di sana terdiam dan Dimas mengambil KTP asli yang di tangan Aldo dan ia tunjukan pada sang istri.
"Ayah ini seorang dokter." Gumamnya Kanaya sambil menatap pada sang suami.
Memori keduanya kembali berputar mencoba mengingat ke masa lalu. Tetapi hasilnya tetap nihil alias kosong yang mereka berdua ingat hanyalah di saat di rawat oleh Madi sampai sekarang, selama puluhan tahun ini.
Kemudian, Madi mulai bercerita awalnya dia bertemu Dimas dan Kanaya yang tergeletak bersimbah darah di pinggir jalan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari jurang xx.
Semua pasang mata memandangi ke arah Madi, dan memasang daun telinga mereka agar lebih tajam dan jelas mendengarkan cerita pria itu.
Dari awal sampai detik ini Madi ceritakan dan tidak ada yang terlewatkan. Karena dia ingin Dimas dan Kanaya menemukan keluarga yang sesungguhnya.
Aldo, Endro. Deri dan Arya saling pandang dengan pikirannya masing-masing dan mencoba menerka apa yang terjadi sebelumnya menimpa mereka berdua.
"Jadi kau pernah ke sana?" selidik Deri pada Dimas.
"Saya ... sering juga ke sana dan yang terakhir bersama istri. Dan saya mendapatkan informasi yang insya Allah akan menjadi titik terang buat saya menemukan keluarga saya yang sesungguhnya." Dimas menatap ke empat pria tersebut.
"Apa yang kau dapat dari orang-orang di sana?" selidik Endro yang mendapat anggukan dari temannya yang lain.
Dimas melirik ke arah sang istri yang menggerakan matanya agar Dimas menceritakan semuanya.
Kini pasang mata beralih melihat ke arah Dimas yang akan bercerita.
Arya sangat berharap kalau kedua orang ini adalah orang tuanya dan yang meninggal itu orang lain. Bukan orang tua kandungnya
Dimas menceritakan apa yang dia dengar, ketika dia pergi ke sana terakhir kali itu bersama-sama sang istri.
__ADS_1
Kata orang yang pernah menyaksikan kejadiannya, kalau dirinya itu dirampok oleh seorang laki-laki dan perempuan yang bercadar bahkan kedua bayinya pun mereka ambil lalu mereka bawa dengan taksi yang semula digunakan oleh dia dan istri lantas meninggalkan mereka berdua dengan keadaan bersimbah darah dan taksi itu tidak begitu jauh dari lokasi kejadian meluncur ke jurang.
Dan kata orang-orang di sana juga, kedua bayi nya tersebut selamat, lalu diambil oleh keluarga korban sementara yang lainnya termasuk sopir, tewas di tempat.
Kemudian mereka berkesimpulan kalau yang meninggal itu bukanlah Dimas dan Kanaya, melainkan yang merampok orang yang bersangkutan. Sementara data-datanya yaitu Dimas dan Kanaya. Karena semua barang atau pun tas semua berada di mobil taksi tersebut.
"Kalau begitu ... kami yakin, seyakin-yakinnya bahwa kalian berdua adalah orang yang kami cari dan Dia putra kalian berdua yang kini menjelma menjadi seorang dokter bedah yang bernama Arya." Jelasnya dokter Aldo sembari menggerakkan kepalanya ke arah Arya.
Dan Arya langsung menghampiri sang ayah dan sang Bunda, pemuda itu memeluk dengan Erat bahkan sambil menangis.
"Ayah, Bunda ... ini aku putra mu! yang selalu merindukan kalian, Aku rindu sama kalian berdua Hik-hik-hik." Kedua bahunya bergetar menahan tangis.
Mulanya Kanaya dan Dimas merasa terbengong-bengong, benarkah ini semua? dan bukanlah mimpi, tapi benar-benar kenyataan?
"Ya Allah ... benarkah kamu ini putraku ku?" gumamnya Kanaya sembari memeluk putranya itu sembari mengusap-usap punggungnya lalu mendaratkan ciumannya di pucuk kepala putranya tersebut meskipun rasanya masih belum percaya.
Berasa sekali mimpi, yang selama ini hidup cuman berdua bertiga dengan Madi tiba-tiba, sekarang bertemu dengan putranya, keluarganya.
"Pantas, aku merasa bercermin ketika melihat wajahmu ternyata kau adalah putraku!" kini Dimas memeluk Arya dengan sangat erat dan mencium kepalanya penuh kasih dan sayang.
Setelah menyaksikan adegan ibu dan ayah juga anak saling berpelukan penuh haru itu, kini giliran sahabat-sahabat yang memeluk Dimas seraya berkata dan mengingatkan.
"Aku dokter Aldo sahabatmu, Dimas." Aldo memeluk erat Dimas sembari menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. Hanya merasa senang dan bahagia sekali.
Kemudian Endro pun maju memeluk sahabat yang kerja pun selalu bareng. "Kau harus ingat bro, aku Endro. Sama dokter juga dan kita bersahabat dah lama banget bahkan kerja pun sering bersama-sama, masa kau tidak ingat aku bro?"
"Aduh aku nggak ingat sama sekali, belum ingat! maaf ya?" jawabnya Dimas.
"Tega nya kau yang tidak mengingat ku, padahal kalau disusun! kenangan kita banyak dan akan penuh melebihi GB!" timpalnya Endro sembari melepaskan rangkulannya pada Dimas ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Reader ku semua, jangan lupa like dan komennya ya? biar aku tambah semangat makasih🙏