
Setibanya di Vila. Kanaya tidak segera masuk ke dalam Vila tersebut, melainkan melihat ke kebun buah. Dari zaman dulu sampai sekarang sama saja, hanya yang beda itu pohonnya yang sekarang lebih muda.
''Apakah aku sering ke sini?" tanya Kanaya sambil melirik kepada suaminya.
"Entahlah, Bunda ... kan aku nggak ingat kan," Dimas menggeleng.
Sementara Deri yang baru datang ke sana, langsung menyahut
"Dulu kau betah sekali di kebun buah ini. Memetik dan membuat rujak nya."
Kanaya melirik ke arah deri. "Ooh ya?"
Sementara Endro harus pulang dulu karena mau bertugas. Arya sendiri meminta libur. Dan Aldo pun tetap santai menemani sang sahabat, dan rencananya nanti siang akan ke lokasi terlebih dahulu. Untuk mencari info yang lebih lengkap lagi.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam Vila, Kanaya dan Dimas mengedarkan pandangan ke semua ruangan Vila yang merasa kenal tapi tidak ingat.
Gita mendengar Arya datang bersama yang lainnya, dia menghampiri dan langsung Arya mengenalkan Gita kepada Kanaya dan Dimas.
"Bunda, Ayah. Kenalkan! ini istri aku!" ucap lirih Arya.
Kanaya menggerakkan manik matanya kepada sang putra. "Apa, kau sudah menikah?" seraya melihat ke arah Gita bergantian.
"Iya, Bunda!" Arya menganggukkan kepalanya. "Dan Gita, kenalkan insya Allah ini bunda kandung ku dan itu ayah kandung ku juga." Arya menunjuk keduanya.
"Masya Allah ... cantiknya mantu bunda." Kanaya memeluk Gita.
Gita yang kebingungan, karena setahu dia Arya itu anak yatim piatu, tapi kenapa sekarang memperkenalkan dua orang ini sebagai orang tua kandungnya?
"Kamu pasti kebingungan kan? karena setahu kami aku anak yatim piatu! ceritanya panjang dan biarkan dengan seiringnya waktu kau juga akan tahu!" ucapnya Arya kepada Gita.
"Siapa namamu, Nak?" Kanaya menatap ke arah Gita.
"Namaku Gita!" jawabnya wanita muda tersebut malu-malu.
__ADS_1
"Mama yang bagus! sebagus orangnya, cantik. Sopan dan sederhana!" pujinya Kanaya kepada Gita.
"Bunda bisa aja!" Gita tersipu.
"Sekarang kalian mau istirahat dulu atau mau ngobrol-ngobrol! nanti agak siangan kita ke lokasi untuk mencari info lagi," kata Aldo pada Dimas dan Kanaya.
"Siapa yang akan menjemput Kayla? apa nanti aja ketemunya setelah dari lokasi, biar lebih jelas?" tanya Deri pada Arya dan Aldo.
"Kalau menurutku sih tergantung Dimas dan Kanaya nya sendiri, mau ketemu putrinya sekarang atau nanti karena nanti juga lebih leluasa. Kalau sekarang waktunya lebih sempit karena kita harus segera ke lokasi," menurut Aldo sembari mengerutkan keningnya.
"Kami tergantung kalian saja, saya dan istri saya ... kalau memang sudah jelas pengen sekali mengembalikan memori ingatan kami." Kata Dimas sembari melirik ke arah sang istri yang menganggukkan kepala nya.
"Ya, kita pikirkan nanti soal itu! yang penting ... jelas dulu dan kalian berkumpul dengan keluarga itu sudah alhamdulillah. Nanti lambat laun juga kalian akan mengingatnya dan setidaknya kalian berkumpul lah sama keluarga sendiri," sambungnya Aldo.
"Dokter Aldo benar, yang penting untuk saat ini semuanya jelas dan kita semua dapat berkumpul seperti dulu!" tambahnya Deri.
"Oke, saya setuju dengan kalian berdua," akhirnya Dimas pun mengangguk.
"Ehem, saya mau telepon rumah dulu agar mengantarkan mobil ke sini," Aldo beranjak dari duduknya sembari merogoh sakunya mengambil ponsel.
"Tentu, Bunda pasti betah di sini. Apalagi kalau Bunda sudah mengingat masa lalu, Bunda pasti betah di sini!" jawabnya sembari mengulas senyuman yang menunjukkan betapa bahagianya dia saat ini.
"Jadi selama ini Arya tinggal bersama Om Deri di sini?" lirihnya Kanaya kepada Arya.
"Iya, Bunda. Aku lebih banyak di sini ketimbang di rumah bersama Oma, dan Oma fokusnya sama Kayla saja, sementara aku dari kecil lebih banyak diasuh dengan om Deri. Om Aldi dan Om Endro." kenangnya Arya.
"Berarti ... mereka bertiga sudah kau anggap sebagai orang tua sendiri!" sambungnya Dimas.
Arya mengangguk sembari mengarahkan wajahnya kepada Dimas.
"Jangan pernah kau lupakan kebaikan orang walaupun itu sedikit! apalagi banyak," lirihnya Kanaya sambil mengusap pipi nya Arya.
Beberapa waktu kemudian, mobil Aldo pun datang dan memasuki pekarangan Vila. Lalu mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke lokasi, dan ingin mencari informasi selanjutnya.
__ADS_1
"Bismillah ... semoga lancar!" doa Kanaya dan Dimas sambil memasuki mobil tersebut.
"Sayang, aku pergi dulu ya? kalau seandainya ada yang mencari ku, bilang saja aku pergi yang tidak kau ketahui tempatnya." Pesan Arya pada Gita yang berdiri di dekat pintu.
"Iya, tapi nanti balik lagi ke sini kan?" selidik Gita.
"Oya, balik lagi ke sini dan bila kau mau masak ... masak saja yang banyak. Oke!" cuph Arya mengecup kening Gita dengan singkat.
Mobil pun melaju dengan perlahan setelah Arya masuk, duduk di samping sang ibunda. Kemudian mobil melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Aldo dan Deri berada duduk di belakang. Aldo mengarahkan supir untuk kemana-mana nya.
Dimas duduk bersandar sambil memandangi ke arah jendela. Melihat pemandangan pinggir jalan.
Selang beberapa waktu, mobil pun tiba di lokasi. Namun yang duluan di datangi adalah tukang kelapa yang waktu itu bercerita semuanya pada Dimas dan Kanaya.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari sana. Barulah mereka berpindah ke lokasi area jurang dan mencari info lagi dari sana.
Dari hasil akhir, mereka mendapat kesimpulan Kalau yang menjadi korban kecelakaan di dalam taksi itu bukanlah Dimas dan Kanaya. Melainkan dua perampok yang membawa semua barang Dimas, Kanaya dan juga bayinya.
Dan untuk lebih meyakinkan lagi serta tambahan bukti identitas dan lainnya, Dimas dan Kanaya pun langsung diajak ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA dengan Arya juga. Karena kalau dengan Kayla itu ... rasanya tidak perlu, sebab memang Kayla dan Arya jelas sama.
Selesai tes DNA, mereka pun pulang kembali ke Villa. Tinggal satu langkah lagi untuk membuktikan siapa sebenarnya Kanaya dan Dimas! yaitu menunggu hasil tes DNA yang diperkirakan sekitar satu atau dua mingguan ke depan hasilnya akan keluar.
"Akhirnya ... tinggal satu langkah lagi untuk mengetahui siapa diri kita berdua, Bunda," ucap Dimas pada sang istri sembari memegangi tangannya dengan lembut.
"Iya, aku merasa lega yang akhirnya kita dapat berkumpul dengan keluarga kita lagi," balasnya Kanaya sembari melirik ke arah Arya, juga yang lainnya.
"Apalagi aku! aku bahagia sekali karena orang tua ku yang ku anggap sudah tiada itu ... ternyata masih hidup di dunia ini dan sekarang berada dekat dengan ku!" timpalnya Arya sambil memegang kedua tangan orang tuanya.
Kebahagiaan Arya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, saking bahagianya dia. Kerinduan yang dulu dianggap tidak bertepi, sekarang mendapatkan tempatnya untuk mencurahkan segala keluh kesah ataupun rindu dengan belaian serta kasih sayang.
Namun setibanya di Vila terdengar suara ribut-ribut dari dalam, membuat Arya terburu-buru keluar dari mobil tersebut. Dan setengah berlari memasuki Vila, dimana sumber suara terdengar begitu ribut ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Terima kasih reader ku yang selalu setia pada author remahan ini 🙏