
Dimas dan istri pun pulang dari tempat tersebut. Namun baru beberapa meter motornya pun mogok. Sehingga harus di bawa ke bengkel terdekat dan akhirnya kemalaman di tempat tersebut.
Keduanya kini berada di sebuah warung setelah dari masjid. Mana hari dah malam dan hujan pun mengguyur. Motor masih di bengkel yang tidak jauh dari mereka berteduh.
"Sudah selesai belum motornya? Yank dah malam nih." Kanaya menoleh pada sang suami.
"Sepertinya belum tuh sayang!" jawabnya Dimas sambil menunjuk ke arah sang istri.
"Kalian sedang perjalan ya?" tanya tukang warung pada Kanaya.
"Iya, Bu kami sedang perjalanan." kanaya yang mengangguk ramah pada sang Ibu warung kemudian Kanaya pun memesan minuman hangat.
"Emang, dari mana kalian ini?" tanya kembali si ibu warung.
"Kami sih dari kampung sebelah, dan sedang main ke tempat ini. Dulu kami pernah mengalami insiden di sebelah sana!" Kanaya menunjuk ke suatu tempat. Dimana dulu mereka tergeletak.
"Insiden apa? kok saya tidak tahu padahal saya sudah puluhan tahu di sini." Si Ibu mengerutkan keningnya seakan ingin mengingat sesuatu.
"Entah lah, Bu ... insidennya apa?yang jelas orang-orang yang menolong kami, katanya menemukan kami berdua sudah bersimbah darah dari kepala, tepatnya di jalan sebelah sana. Dan kami tidak mengingat kejadiannya apa? sampai sekarang pun kami tidak mengingatnya." Ungkapnya Kanaya sembari menggeleng.
"Sebentar-sebentar! mungkin saya bisa mengingat sesuatu tentang kejadian itu," kata si ibu penjaga warung sembari menyuguhkan minum kepada Kanaya.
Dan Dimas yang mendengar percakapan itu, langsung berbalik merasa penasaran dengan kelanjutannya.
Si ibu warung terdiam, dia benar-benar memutar memorinya. Mengingat akan kejadian berapa tahun silam.
Sedikit demi sedikit si ibu warung mengingat sesuatu. Pada waktu itu, ya. Memang dia sudah mulai berjualan. Namun bukan di lokasi yang sekarang ini melainkan memang agak dekat dengan kejadian waktu itu.
Pada waktu tersebut! suasana memang sedang lengah, sepi dan ada mobil taksi yang berhenti entah mogok entah apa? tiba-tiba ada yang mendatangi seorang pria dan seorang wanita yang bercadar.
Dan pada saat itu pun si Ibu warung hanya sendirian, warungnya pun sepi dari pembeli. Melihat kedua orang itu membawa senjata! jelas si ibu ketakutan untuk menjerit atau minta tolong. Lagian memang awalnya nggak tahu kalau orang itu jahat.
__ADS_1
Terus orang yang berada dalam taksi itu keluar, yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berkerudung dan membawa dua bayi entah kembar atau entah apa.
selanjutnya kedua bayinya itu direbut oleh seorang wanita yang bercadar dan menodongkan senjata pada kedua penumpang taksi tersebut. Lalu si bayi dimasukkan nya kembali ke dalam mobil.
Tidak lama kemudian, si wanita bercadar dan teman prianya itu masuk ke dalam mobil. Lalu mobil taksi itu pun melaju dan ternyata meninggalkan dua orang penumpang yang mulanya menjadi penumpang taksi tersebut, dengan keadaan tergeletak di jalanan.
Terus tidak lama kemudian, terdengar kalau taksi yang membawa pria dan wanita bercadar itu, yang diperkirakan perampok! taksinya terperosok ke jurang. Sopir juga penumpangnya meninggal di tempat, namun dua bayi yang semula direbut dari penumpang asal, selamat. Lantas di ambil oleh keluarga.
"Apa Ibu tahu siapa yang menjadi korban? maksud aku ibu melihat wajah korban yang tergeletak di jalanan tersebut?" tanya Kanaya yang mendengarkan begitu antusiasnya.
"Iya Bu apa Ibu melihat kedua wajah korban tersebut?" timpalnya Dimas yang merasa penasaran juga.
Si ibu menggeleng, karena dia memang nggak sempat melihat wajah korban yang tergeletak di jalanan tersebut, keburu dibawa orang ke rumah sakit terdekat.
"Terus apa yang ibu tahu cerita selanjutnya, sehingga terdengar keluarganya mengambil dua baby itu?" tanya kembali Kanaya.
"Menurut berita yang saya dengar, taksi itu membawa seorang dokter bersama istri dan kedua baby kembarnya dari Bandara menuju rumahnya mungkin. Dan perjalanannya mengalami insiden itu, dan semua data-data dokter tersebut memang ada di dalam mobil taksi sehingga mereka mengira ya kalau ... korbannya itu adalah keluarganya sendiri dan hanya menyisakan kedua baby tersebut." Cerita si ibu warung.
"Mungkin juga ya? berarti anak kita selamat sampai sekarang masih hidup juga!" Kanaya tidak lupa mengucap syukur kalau memang itu cerita sebenarnya.
"Iya, Aamiin." Dimas mengangguk sambil berpikir dan membayangkan kalau memang benar.
"Semoga kita bertemu lagi dengan keluarga kita." Harap Kanaya.
"Iya, sayang ..." Dimas kembali mengangguk.
"Apakah ibu tahu! alamat keluarga yang mengambil baby itu?" tanya kembali Kanaya pada si ibu warung.
"Tidak, Bu. Saya tidak tahu, tapi katanya sering datang ke lokasi, saya juga pernah melihat anak muda tersebut yang diperkirakan itu baby yang waktu itu. Anaknya sangat tampan." Jawabnya si Ibu warung.
"Itu, pasti anak kita, Yank. Pasti anak kita." Kanaya berucap dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
Dimas merangkul bahunya sang istri yang berkaca-kaca.
"Ibu tahunya, dia sama siapa kalau datang ke lokasi?" tanya Dimas.
"Setau saya sih, cuman dia sama seorang pria yang usianya sama dengan anda." Si ibu warung menunjuk ke arah Dimas.
"Nggak dengan kembarannya gitu, Bu?" Kanaya menatap ke arah ibu warung.
"Nggak, cuma mereka saja kalau nggak salah sih." Sambung ibu warung.
"Ya Allah ... semoga itu keluargaku!" Kanaya melihat langit-langit seraya menyerukan doa kepada yang maha kuasa, kalau dia memang punya keluarga punya anak juga.
Dimas maupun Ibu warung juga yang lain yang ikut mendengarkan obrolan dari tadi ikut mengaminkan juga, doa dari Kanaya semoga langit mendengar dan mengabulkan.
Kemudian karena motornya sudah beres. Dan mereka pun segera bersiap pulang, kebetulan hujan pun reda.
"Padahal kalian menginap saja di sini! kan sudah malam hujan gerimis lagi," akunya si Ibu warung kepada Kanaya dan Dimas.
"Makasih Bu makasih banyak atas kebaikan ibu dan semua cerita-cerita ibu yang menjadikan titik terang bagi kami berdua, kalau kami ini mempunyai keluarga sebelum terjadi insiden tersebut, sekali lagi terima kasih ya bu? kami pun tak akan lupa dengan kebaikan ibu." Kata Kanaya.
"Sama-sama nyonya dan tuan. semoga kalian secepatnya bertemu dengan keluarga dan hidup bahagia," ucap ibu warung.
"Aamiin bu Aamiin." Kanaya pun memeluk ibu warung. Karena saat ini hanya kata terima kasih yang bisa diberikan.
"Hati-hati, Yah ..." Kanaya duduk di belakang nya Dimas dengan hati-hati.
"Hati-hati, Tuan. Nyonya! jalannya licin," kata si ibu warung dan yang lainnya.
Dimas pun mengangguk kemudian dia melajukan motornya dengan kecepatan rendah karena memang keadaan jalan pun tampak licin dan masih juga gerimis ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya🙏 like komen dan vote nya. Makasih.