
Kayla tidak menjawab sepatah kata pun, dia memejamkan kedua manik matanya serta menghela nafas panjang.
“Kau harus sabar dan jangan berputus asa, terus semangat juga terus berusaha sampai kau sembuh.” Aldo penuh harap.
“Semua orang pun sesungguhnya sayang sama kamu, namun kamu nya yang bikin mereka ilfil. Dulu ibu mu sungguh baik dan memiliki hati yang lembut, gigih dan semangatnya tinggi sehingga dia pun membuka usaha sendiri yaitu Kanaya koleksi. Kenapa juga kamu gak belajar di sana dan lanjutkan usaha itu!”
Kayla menoleh dengan tatapan dingin. “Om tidak capek ya sedari tadi bicara terus?”
Dokter Aldo melirik gadis itu sambil Memegangi tangannya. “Kalau saya capek. Saya tidak akan ada di sini membantu kamu untuk sembuh.”
Kayla terdiam dan hanya menatap ke arah dokter Aldo.
“Em, kamu jangan mau di kursi roda terus. Kamu harus banyak bergerak.” Tambahnya Aldo.
Setelah sekitar satu jam lebih, kemudian Aldo pun pamit untuk pulang. “Oke, cukup dulu untuk hari ini. Kau harus banyak gerak bawa jalan biarpun beberapa langkah. Besok saya kembali.”
“Terima kasih ya. Dok? oya diminum dulu minumannya nya? tidak saya racun kok.” Bi Meri yang baru saja masuk lagi ke tempat itu.
“Sama-sama, Bi ... bisa saja. sebentar ya saya minum,” dokter Aldo mesem mendengar ucapan dari bi Meri.
Lalu Aldo menyesap minumnya. Lantas berdiri seraya berkata. “Saya pergi dulu ya? Kayla nya jangan di kursi roda terus, Bi. Kalau mau ke kamar mandi misalnya mending bawa jalan saja biarpun pelan. Takutnya nanti ketergantungan pada alat itu.” Pesan Aldo sambil berjalan dan bibi mengantarnya sampai ke teras.
Sementara Kayla hanya terdiam melihat kepergian dokter Aldo dari kediamannya itu.
...----...
Arya sedang terburu-buru, berjalan di koridor rumah sakit dan sebentar lagi akan berlangsung op.
Brugh!
Tiba-tiba Arya bertabrakan dengan seseorang. Karena sama-sama melamun.
“Maaf. Maaf?” suara seorang gadis berambut panjang di kuncir dan langsung berjongkok mengambil berkas yang di bawah berserakan di bawah,
Dengan cepat. Arya pun berjongkok ikut mengambil lembaran kertas tersebut. Lalu dia berikan pada yang punya.
__ADS_1
‘Sekali lagi aku minta maaf?” Suaranya terdengar parau.
Wajah yang menunduk itu Arya pandangi. Sepertinya dia sedang berada dalam masalah, karena terlihat dari wajahnya yang basah dengan air mata.
Kemudian dia buru-buru merapikan surat-surat yang berada di tangannya, dari surat-surat yang gadis itu pegang, Arya bisa merefleksikan kalau itu surat rujukan yang terdiri dari surat bpjs.
Gadis itu melihat ke arah wajah Arya dengan tatapan yang nanar. “Dok, maaf ya? saya tidak sengaja menabrak anda. Saya terburu-buru.” Karena pakaian yang dikenakan oleh pria yang bertabrakan dengannya itu berpakaian putih persis seorang dokter.
“Oh, tidak apa-apa. Mungkin aku juga sedang melamun. Lain kali hati-hati ya?” balas Arya sambil berdiri berbarengan dengan gadis tersebut.
Lalu kemudian gadis tersebut membawa langkahnya meninggalkan Arya yang juga mengayunkan langkahnya ke arah yang berbeda. Arya berjalan cepat menuju ruang op dan di sana sudah ada sebagian suster dan dokter senior.
“Sorry, aku terlambat. Ada kesalahan teknis di jalan,” ucap Arya kepada dokter senior.
“Tidak apa-apa, dokter yang lain pun belum datang, dan masih menunggu keluarga nya juga yang belum melunasi administrasi nya,” sahut dokter tersebut.
“Oya. Tapi kau memang sudah siap dalam dalam lain-lainnya, kenapa gak lanjut saja. Soal admistrasi kan bisa belakangan.” Arya yang mengungkapkan pendapatnya.
“Dok, ini sudah prosedurnya rumah sakit. Kau pun tahu itu, kalau admistrasi belum di lunasi, op gak bisa berjalan, kecuali rawat inap yang bisa bayar belakangan bayarnya.” Dokter senior dan Arya jadi berdebat.
“Kenapa?” tanya Arya merasa heran.
“Administrasi nya belum lunas dan itupun pakai bpjs yang sedikit bermasalah.” Jawabnya Suster.
Arya dan dokter lain saling bertukar pandangan, dengan pikiran nya masing-masing.
“Mana keluarganya? saya mau ketemu dia.” Arya meminta bertemu dengan keluarga pasien.
“Mari, ikut dengan saya? tadi dia masih ada di sana,” suster pun berbalik dan Arya mengikuti nya dari belakang.
Kebetulan di ruang administrasi orangnya tidak ada, dan adanya di ruang pasien. Arya pun berdiri dekat pintu tanpa menghampiri dan ternyata di sana ada gadis yang tadi bertabrakan dengannya.
Gadis itu sedang menangis di samping orang yang menjadi pasien yang jadwalnya mau op har ini.
“Ayah, aku belum dapat pinjaman buat bayar operasi. Ayah, dan bpjs pun bermasalah.” Air matanya hadir yang memiliki nama Gita itu deras berjatuhan.
__ADS_1
“Terus jadi gimana operasi Ayah, Nak ... gak jadi? Kalau begitu kita pulang saja.” Sang ayah bangun dan duduk menatap putrinya yang sedang menangis tersedu.
Gadis itu menggeleng pelan sambil terus menangisi nasibnya yang tidak bisa mengoperasi sang ayah, karena kendala biaya. Yang dia bisa saat ini hanya menangis.
Mendengar seperti itu, Arya merasa mencelos dan tidak tega, sehingga dia buru-buru membalikan badan dan kembali ke ruang admistrasi.
“Jangan menangis Nak ... Ayah tidak kenapa-napa, tidak sekarang bisa lain kali atau kita cari pengobatan alternatif lainnya.” Suara sang ayah dengan lirih dan mengusap kepala putrinya tersebut. “Ayah masih kuat kok, kamu jangan khawatirkan Ayah.”
“Tapi, Ayah ... ayah itu harus operasi segera kalau Ayah mau sembuh, tidak bisa dibiarkan begitu saja.” Gadis itu kembali menangis sejadi-jadinya mengingat kondisi sang ayah yang mempunyai penyakit tumor.
Dan harus di operasi secepatnya. Kalau tidak, akan berkepanjangan sakitnya. Dia putri satu-satunya dari pak Jum yang seorang pria buruh penyadap karet. Dari kalangan bawah.
“Gita ... kamu bilang saja pada pihak rumah sakit ya, kalau ayah minta pulang. Lama di sini pun biaya nya akan membengkak lho, Nak ...” ucap sang ayah dengan suara yang begitu lemas.
“Iya Ayah,” Gita mengangkat wajahnya.
“Permisi ... bapak Jum, ditunggu di ruang operasi sekarang juga.” suara dari seorang suster yang baru masuk ke ruangan pak Jum.
Membuat pak Jum dan putrinya merasa sangat terkejut mendengarnya. Gita shock bercampur bahagia, tapi dai kepikiran siapa yang membayar nya? kan sudah jelas tadi juga kalau sebelum lunas pembayarannya. Operasi pun tidak akan berjalan.
“Suster tidak salah? Kan bukannya nya tadi saya ini gagal operasi?” selidik pak Jum terheran-heran.
“Iya Sus, apakah bisa bayar belakangan ya? saya janji saya akan berusaha untuk mencari uang buat melunasi semuanya.” Tambah nya Gita dengan wajah yang sumringah.
“Ayo Pak, duduk di kursi roda ini.” Kata suster membantu pasien untuk ke ruang operasi.
“Pembayaran sudah lunas ya. Jadi bapak bisa di operasi sekarang.” Tambahnya suster sambil mendorong kursi pak Jum.
“Apa Suster? Sudah di bayar sama siapa?” selidik Gita, dia sangat penasaran dibuatnya.
“Nanti saja tanyakan pada pihak administrasi ya? biar jelas.” Kata suster sambil terus berjalan dan akhirnya Gita pun ikut mengantar ....
...🌼---🌼...
Terus dukung aku ya? makasih.
__ADS_1