
"Ya gimana lagi jangankan giga byte, MB saja nggak masuk!" kemudian Dimas menolehkan kepalanya ke arah Aldo kembali.
"Apa kau juga seorang dokter?" tanyanya Dimas kepada dokter Aldo.
"Iya benar, aku juga dokter tapi aku dokter di bidang tulang!" Aldo mengangguk pelan.
"Ooh, dan kamu orang yang paling cuek tapi sepertinya sangat perhatian dan peduli siapa namamu?" Dimas mengalihkan pandangan ke arah Deri yang sedari tadi terdiam ketika Aldo dan Endro memeluknya.
Deri pun mendekat seraya berkata. "Aku memang bukan sahabat lamamu, kita hanya kenal biasa dan menjadi dekat saat kau sudah menikah dengan istrimu itu." Deri melirik ke arah Kanaya yang kini berada dekat dengan Arya.
"Benarkah seperti itu?" Dimas mengurutkan keningnya seraya bisa mengingat tapi ya begitulah sia-sia.
"Itu benar, bahkan di saat-saat istrimu mengidam, aku yang sering turun tangan untuk mencari yang dia inginkan." tambahnya Deri.
"Aduh, saya menjadi terharu melihat ini semua. Ternyata Dimas ini seorang dokter dulunya ya? tapi sekarang menjadi tukang kebun." Celetuk nya Pak Rt sambil mengusap sudut matanya
Begitupun dengan Madi. Pria itu merasa senang dan bahagia karena orang yang selama ini bersamanya, sudah menemukan keluarga yang asli.
"Untuk lebih jelasnya ....kita harus mendatangi lokasi kembali untuk mencari info yang lebih akurat terus kalian melakukan tes DNA agar lebih yakin kalau kalian mempunyai ikatan darah," ucap Aldo kepada Dimas dan Kanaya juga Arya yang tidak jauh-jauh dari sang bundanya.
"Oh iya, kan katanya bayinya dua! terus yang satu lagi mana?" tanya Kanaya sambil menatap ka arah Aldo dan yang lainnya.
"Yang satu lagi perempuan namanya Kayla. Dia tinggal dan tumbuh bersama neneknya sementara Dia, anak yang lebih banyak kita bertiga mengasuhnya. Mereka pun berbeda jauh sipat tabiatnya, itu perempuan dan dia laki-laki. Padahal yang seharusnya nakal itu dia karena laki-laki, tapi ini kebalikannya! nakal. Manja keras kepala itu ada di Kayla," ujarnya Endro.
"Em ... jadi kalian yang mengasuh putraku?" selidik Kanaya sembari menunjukan senyumnya kepada mereka bertiga.
"Itu benar, malah Arya sampai sekarang pun dia sering tinggal di Vila ku, apakah kau akan mengingatnya? kalau kau sering berkunjung ke Bila ku dan bermain di kebun buah yang tepatnya di belakang Vila!" ucapnya Deri kepada Kanaya.
"Oh ya, aku jadi kangen tempat itu siapa tahu di sana aku bisa mengingat semuanya! dan aku juga kangen putriku apakah dia sebesar dirimu?" Kanaya melirik pada putranya yang sedari tadi menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Kalau wajahnya sama, cuman kalau tubuh si beda. Dia kan perempuan!" jawabnya Aldo.
"Oya sayang, apa kau masak dan banyak? karena kita akan makan bersama." Dimas melirik ke arah istrinya.
"Aduh ... ya aku lupa, tadi ketika mereka datang tuh aku lagi masak dan belum matang!" jawabnya Kanaya sembari menepuk jidatnya.
"Tidak apa-apa, kalau soal itu biar aku yang belanja masakan yang siap makan!" Arya beranjak dan bersiap membeli masakan yang siap makan.
"Iya benar itu, sama Om!" Endro pun berdiri.
Lalu kemudian mereka berdua pergi mencari yang jualan masakan, agar mereka bisa makan bersama di rumah dan Kanaya tidak harus capek-capek memasak.
Kini mereka semua berpindah duduk untuk meneruskan obrolannya di dalam rumah sambil duduk lesehan saling berhadapan. Dan melanjutkan kembali obrolannya.
Sementara pak RT berpamitan untuk pulang lebih dulu.
"Terus selanjutnya kita harus gimana?" tanya Dimas kepada Aldo.
"Dan ... sebaiknya kalian langsung ikut saja kami untuk pulang. Ya ... biar Angelica Semua!? lebih mudah diprosesnya kalau di sini kan jauh," tambahnya Deri.
"Oh iya, kata mereka ... katanya sering ada yang datang ke lokasi jurang itu untuk sekedar menabur bunga atau untuk sekedar merenung dan mereka bilang adalah dua pria yang satunya sudah dewasa dan satunya masih muda! siapakah mereka?" selidiknya Kanaya mengingat omongan orang-orang yang dia temui di lokasi.
"Yang lebih sering datang ke sana adalah dia sama Arya," jawabnya Aldo sembari menunjuk ke arah Deri yang langsung mengangguk.
"Saya sama Arya memang sering datang ke sana! untuk mengenang kalian berdua." Deri membenarkan.
"Terus orang tua saya di mana, masihkah saya punya orang tua?" tanya Kanaya kembali.
"Kan orang tuamu di Sukabumi kita tidak tahu beritanya. Kalau orang tua dari Dimas mereka sudah tiada dan ibu mu mungkin baru beberapa sebulan lalu ya?" Aldo mengalihkan pandangan ke arah Deri.
__ADS_1
Lagi-lagi Deri pun mengangguk. "Itu benar, namun setelah meninggalnya ibumu, sedikit membawa hikmah untuk putrimu!"
Sejenak Dimas pun terdiam tidak tahu harus bersedih atau gimana toh dia tidak mengingat semuanya.
"Maksudnya gimana sedikit ada hikmah segala?" tanya nya Kanaya dengan penuh rasa penasaran.
"Karena dengan kepergian Ibu Hesa, putrimu yang bernama Kayla sedikit merubah dirinya. Kejadiannya emang bersamaan Kayla kecelakaan dan Bu Hesa meninggal." Jelasnya Deri.
"Kecelakaan? kecelakaan gimana, sekarang kondisinya gimana?" Kanaya tampak sangat khawatir.
"Dia boncengan dan ugal-ugalan sama temen laki-lakinya sehingga mengalami insiden dan teman laki-lakinya tidak bisa terselamatkan, sementara Kayla dia mengalami kelumpuhan sementara namun sekarang sudah bisa berjalan lagi." Deri gerakan kedua netra nya pada Aldo.
"Ya ampun ... syukurlah kalau sekarang dia sembuh lagi." Kanaya mengusap wajahnya.
"Tadi siapa yang bilang katanya nakal dan keras kepala itu ... gimana ya maksudnya?" tanya Dimas, dia masa penasaran pengen ketemu dengan anak gadisnya itu.
"Ya, gitu. Melebihi anak laki-laki. Perangainya, sangat keras kepala tapi itu dulu sih karena sekarang katanya lebih lembut dan lebih mandiri!" jawabnya Aldo.
"Benar. Kayaknya sekarang dia sudah mulai berubah lebih baik. Karena memang seharusnya seperti itu, selama ini dia keras kepala dan semaunya sendiri yang dia tahu hanya minta uang. Minta uang dan minta uang. Setelah keuangan dipegang sama Arya kini lebih dikekang, saya juga ikut turun tangan. Dengan harapan dia berubah!" Deri menceritakan tentang Kayla.
Sesaat kemudian ... Arya pun datang bersama Endro dia menjinjing sebuah kantong masakan yang langsung Kanaya yang buka dan dituang ke dalam wadahnya masing-masing.
Lanjut mereka pun makan bersama dengan lahapnya. dibarengi dengan obrolan tentang kedepannya yang mau kayak gimana.
Karena keasikan ngobrol yang terus-menerus saling melepaskan kangen dan rindu, sehingga tidak terasa waktu pun sudah dini hari dan tidak memungkinkan untuk mereka pulang, nanggung.
Akhirnya mereka menginap dan besok paginya mereka kompoyan dengan motor masing-masing, bersama Dimas dan Kanaya yang langsung diboyong dan yang pertama kali datangnya adalah ke Villa milik Deri.
Dan pak Madi ditinggalkan dia sendiri sampai nanti kalau sudah benar-benar jelas, Dimas masih ingin mencari kejelasan. Siapa dirinya! kalau sudah jelas, barulah Pak Madi akan Dimas ajak untuk tinggal bersama ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Ayo, siapa yang belum like dan siapa yang belum komen jangan lupa ya?