Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Di gantung


__ADS_3

Setibanya berada di dalam kamar, Kayla senyum-senyum sendiri. Membayangkan wajah seseorang. "Oke, aku akan berubah dan semangat. Pokoknya aku harus bisa dapatkan hati dia dan kuncinya ... aku harus merubah diri, okay why not!"


Kayla berjalan pelan mendekati kamar mandi. Kini dia tidak menggunakan kursi roda lagi, biarpun terkadang sedikit sakit di kakinya.


...----...


Arya terbangun dan melirik kanan dan kiri, dan mendapati Gita yang tampak masih lelap. Kemudian Arya mengingat kejadian apa saja semalam dengan Gita, membuat bibirnya tersenyum merekah. Dia sudah melepas perjaka nya dengan gita.


Sementara Lica yang meminta haknya justru Arya abaikan begitu saja. Arya buru-buru mengibaskan selimut dan semakin mengembangkan bibirnya ketika melihat pusakanya yang tidak dia masukan kandang alias masih polos.


Arya meraih celana pendeknya lalu berjalan menuju kamar pribadinya. Waktu sudah menunjukan pukul 05.00. Dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat di bawah shower.


Pemuda itu senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam bersama Gita. Tangannya mengusap-usap benda pusaka yang semalam ia mandikan di air yang khusus.


Setelah berasa cukup bersih, Arya. Menarik handuk nya lalu keluar dari kamar mandi.


20 menit kemudian, Arya sudah rapi dan kembali ke kamar Gita. Dia khawatir kalau gadis itu kesakitan akibat semalam, permainannya.


Arya masuk ke dalam kamar Gita yang tampak kosong. Ketika mendekati pintu kamar mandi, terdengar suara air yang mengucur.


Kemudian Arya menyisir penglihatannya ke ruang kamar tersebut pakaian kotor yang tadi berserakan di lantai ketika dia tinggalkan, kini tidak ada lagi dan bersih.


Rettt ....


Arya langsung menoleh ke arah sumber suara. Dimana Gita keluar dari pintu kamar mandi.


Gita keluar dengan menggunakan handuk saja dan tampak kaget ketika melihat Arya berada di sana. Gegas Gita menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Kenapa kau ada di sini lagi? nanti ku buatkan sarapan." Gita terlihat malu-malu.


"Nggak usah buat sarapan buat ku, buat kamu saja. Aku mau ke tempat Angelica, nanti aku kirimkan obat buat kamu, merasa sakit kan?" ucap Arya sembari pamit.


Gita melongo mendengar itu. "Oh iya." Gita mengangguk.


Arya mendekat, Gita mundur namun mentok di dinding. Sehingga tidak bisa bergerak lagi, lantas pemuda semakin mendengar dengan bibir yang menyeringai.


"Kau mau apa?" Gita tampak ketakutan sembari masih menyilangkan kedua tangannya.


"Aku cuma ingin mengucapkan terima kasih, karena semalam ... kita sudah melakukan kewajiban kita sebagai suami istri." Tangan Arya mengusap pipi Gita dengan lembut.


"Oh, iya," Gita mengangguk pelan.

__ADS_1


Kemudian. Arya mencium pipi Gita dengan sangat mesra. "Ku akan merindukan mu!"


Lantas pria itu pun berlalu meninggalkan Gita yang terdiam mematung.


"Kau kapan pulang ke sini?" tanya Deri yang sedang menyapu.


"Semalam, aku mau pulang ke sana dulu sebelum ke rumah sakit." Jawabnya Arya dengan menjinjing helm nya.


"Lah, jauh lagi dong Arya kalau harus ke tempat Angelica dulu." Deri mengernyitkan keningnya.


"Iya sih, Om titip istri ku ya?" ucap Arya sambil berjalan melintasi pintu.


Deri tertawa sembari berkata. "Dasar ... begitulah kalau punya tanggungan dua, ha ha ha ...."


...----...


Di kediaman Bu Mahdalena. Angelica kebingungan setelah tahu suaminya tidak berada di kamarnya dan kata yang melihatnya semalam. Dia keluar dengan alasan mau cari angin.


"Cari angin apaan? jam segini belum pulang!" Angelica memasuki kamar mandi dan sesaat ingin berendam dengan air hangat dan aroma terapi. Tubuhnya terasa sangat lengket sekali.


Sementara Bu Mahdalena sedang berjalan-jalan pagi di area taman. Melihat kedatangan sebuah motor dan yang berada di atasnya itu Arya.


Namun pertanyaan itu tidak diutarakan karena jarak mereka yang jauh.


Arya langsung mendatangi kamar Angelica. Pas masuk, Angelica pun keluar dari kamar mandi.


"Kau dari mana? kamu tega ya meninggalkan ku begitu saja." Lica langsung menghakimi Arya.


"Maaf sayang, aku mengambil motor ku dari vila." Arya mendekati.


"Tapi bukan berarti harus malam-malam pulang ke sana dong, bilang dulu pamit dulu. Gimana sih? aku dibiarin begitu saja." Lica cemberut.


Arya memeluknya dari samping. "Sekarang aku dah pulang ke sini, apakah mau di marahin. Sebentar lagi aku mau pergi lagi kerja."


"Bodo ahc, malas!" Angelica melepas pelukan dari Arya lalu duduk di tepi tempat tidur.


Arya pun mengikutinya dan menarik handuk yang membalut tubuhnya Angelica dengan nakalnya.


Angelica menatap ke arah Arya dan dirinya yang bergantian dan tubuh bagian atas terbuka begitu saja.


Arya menatap bagian perbukitan yang tampak lebih montok dari milik Gita.

__ADS_1


Kemudian Arya mendorong tubuh Angelica ke tempat tidur lantas menindihnya. Ia nikmati indahnya perbukitan tersebut yang membuat sang empu merem melek dan kemarahannya luluh begitu saja.


Dalam beberapa saat, mereka anteng dalam suasana. Sarapan pagi yang yang mengairahkan. Namun di saat Angelica berada di puncak dan meminta lebih. Arya tinggalkan ke kamar mandi.


Lagi-lagi Angelica dibikin kecewa. Tangannya meremas seprai kuat-kuat, kesal dan marah namun tidak berdaya selain bangkit meraih handuknya dan berjalan memasuki kamar mandi kembali.


"Sayang, kenapa si--"


"Aku siang, sayang masuk kerja." Arya memotong perkataan dari Lica yang wajahnya tampak merah menahan suatu keinginan yang tidak bisa dia ungkapkan.


Sebenarnya dalam hati yang paling dalam, arya tidak tega membiarkan Lica seperti itu. Bagaimanapun mereka normal dan ingin melakukannya. Apalagi saat-saat yang namanya pengantin baru. Tetapi dendamnya Arya masih besar kepada Bu Mahdalena sehingga Lica pun terkena sasarannya.


Arya bersiap pergi, namun sebelumnya dia pamit dulu pada Lica yang sudah kembali dari kamar mandi.


"Aku nanti bawakan makan siang ya?" suara Angelica setelah mendapat kecupan di pipi dari Arya.


"Iya, sayang. Aku tunggu!" Arya mengusap pipi Angelica. Lalu pergi meninggalkannya.


Lica mengepalkan tangannya dan beberapa kali menonjok kasur. Dia merasa tersiksa dengan perasaannya sendiri.


Hasrat yang sudah naik ke ubun-ubun itu tidak pernah tersalurkan. Belum tersalurkan, karena Arya selalu menggantungnya. "Masa sih dia gak normal?"


Arya terus melajukan sepeda motornya dengan sangat kencang dan mengambil jalan pintas sehingga dapat memotong waktunya dan dengan cepat sampai di tempat tujuan.


Sebelum masuk ke ruangan dia, Arya ke apotek terlebih dahulu untuk membeli salep yang akan di kirimkan ke Vila buat Gita. Langsung ia menyuruh oran untuk mengantarkannya ke Vila.


"Pagi semua?" sapa Arya pada orang-orang yang berpapasan dengannya.


"Pagi juga Dokter! balas mereka dengan sangat ramah.


Arya membuka baju kebesarannya, dia gantung di bahu kursi yang dia duduki. Dia langsung mengecek beberapa laporan yang ada di meja.


Lantas bersiap dengan tugasnya yang ada jadwal op di pagi ini.


Waktu jam makan siang. Angelica sudah datang membawa makan siang suaminya, namun di ruangannya tidak ada dan kata suster kalau Arya sedang tugas di ruang op. Dan Angelica pun menunggu manis di ruangan Arya.


Sesekali Angelica melihat jarum jam yang melingkar di tangannya. serta melihat ke arah pintu, jemu rasanya menunggu ....


...🌼---🌼...


Jangan lupa dukungannya ya dan makasih.

__ADS_1


__ADS_2