Pencarian Dan Dendam

Pencarian Dan Dendam
Dua pilihan


__ADS_3

"Saya sangat menghargai dengan niat bapak yang ingin menjodohkan kami berdua! atau menikahkan putri Bapak dengan saya. Saya ingin jujur ... kalau saya ingin sekali menerima dengan putri bapak ini, tapi di sisi lain saya punya misi untuk melamar seorang." Arya menggantungkan perkataannya sejenak.


Degh.


Gita mengangkat wajahnya dengan melihat ke arah Arya sesaat yang tampak sangat serius dengan nada bicaranya.


Sementara pak Jum hanya menghela nafas panjang, dan mengamati apa saja yang akan dikatakan oleh dokter Arya kepadanya.


"Saya punya rencana untuk melamar seorang wanita pada malam ini, karena saya malu dia terus mengejar saya dan di sisi lain ada sebuah tujuan saya ingin saya rampungkan. Tapi bukan berarti saya ingin menolak kehendak bapak! saya menerima dengan baik dan bila setuju saya pun ingin menikahi putri Bapak ini." Lanjut perkataan dari Arya.


Ini terdengar maruk memang, seorang Arya mau menikahi seorang Lica juga seorang gadis yang bernama Gita, apa mungkin keduanya dinikahi dengan waktu yang bersamaan atau waktu yang secepatnya.


Pak Jum, terdiam dan memikirkan perkataan dari dokter Arya tersebut. Dalam hati kecilnya tetap tidak rela jika harus menikah kan putrinya dengan si juragan kebun karet. Sungguh tidak rela, sedangkan dia itu hampir tiap hari gangguin putrinya dan ia takutkan bila terus di tolak, si juragan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan.


Sejenak mereka semua terdiam bagai bibir yang dikunci. Tak ada sepatah katapun yang terucap selain suara nafas yang begitu halus dari ketiganya.


"Maaf, saya harus kembali bekerja." Arya melihat jam di tangannya sambil beranjak dari tempatnya duduk.


"Oh iya dokter, silakan! dan saya tunggu anda menemui saya kembali. Karena saya tidak akan berubah pikiran dengan yang sudah saya ucapkan--"


"Ayah?" Gita menyela perkataan dari ayahnya tersebut ingin menikahkan dia dengan dokter Ardian yang sudah jelas-jelas mengakui dia akan segera menikah dengan wanita lain.


Kepala Arya mengangguk, lalu dia mengundur diri dari tempat tersebut.


Setelah Arya tidak terdapat lagi di tempat tersebut, Gita menatap pada sang ayah. "Ayah, kan sudah dijelaskan. Kalau dia mau melamar seseorang mau menikahinya, dan nggak mungkin dia mau menikahi aku!"

__ADS_1


"Kan barusan dia juga bilang, sebenarnya dia mau menikahi kamu. Dan hanya butuh waktu katanya." Lirihnya sang ayah.


"Tapi kan sama aja Ayah ... kalau dia sudah menikah dengan wanita itu, berarti seandainya kita menikah! aku sama aja di madu." Gita seolah memprotes keputusan dari sang ayah.


"Tapi coba kamu pikirkan dulu, Nak ... seandainya kamu harus memilih antara juragan karet dan dokter Arya, sekalipun sama-sama di madu. Kamu mau pilih yang mana! juragan yang sudah lebih tua dan istrinya sudah beberapa? ataukah dokter Arya yang masih muda dan tampan, pinter juga baik hati? dan menikahnya juga baru mau!" pak Jum malah memberi dua pilihan pada putrinya itu.


"Tapi Ayah ... kita nggak mungkin mengganggu kebahagiaan orang lain! jika kita mau membalas Budi, tidak harus dengan menikah! jika dia butuh kerja aku mau kok bekerja jadi asisten mungkin, aku mau. Bukan berarti harus menikah dan mengganggu kebahagiaan mereka berdua!" Gita menggelengkan kepalanya dan tetap memprotes keinginan dari sang ayah.


"Sudahlah! Ayah capek, dan Ayah pengen istirahat, biar ini kita pikirkan nanti dan serahkan pada yang maha kuasa! apa dan mana yang terbaik? sekarang Ayah mau istirahat dulu." Pak Jum membaringkan tubuhnya yang dibantu oleh sang putri, lalu kedua matanya terpejam. Dalam beberapa saat pria tua itu pun sudah tertidur.


Dan Gita yang duduk tidak jauh dari sang ayah, hanya memandangi ke arah sang ayah yang sedang tertidur tersebut. Serta memikirkan dengan niat sang ayah yang ingin menikahkan dia dengan dokter Arya, hanya sebagai balas budi. Karena dia telah melunasi semua biaya rumah sakit dan bahkan menolong dia atas kejadian semalam.


Saat ini sudah waktunya Arya pulang dan dia merapikan meja kerjanya terlebih dahulu. Lalu meninggalkan ruangan tersebut! di saat tengah berjalan di sebuah koridor dia melihat seorang wanita muda berjalan dengan penuh lenggokan.


"Huuh ... Aku tidak ingin ketemu dia dulu, apalagi nanti malam mau ke sana bersama yang lain jadi biarkan dia mencari ku." Arya terus menyelinap mencari jalan keluar dari rumah sakit tersebut, agar tidak bertemu dengan seorang Lica.


Arya berjalan cepat menuju parkiran, dimana motornya tersimpan cantik di sana. Dan dengan tergesa-gesa dia menaiki motornya serta langsung melajukan dengan cepat! bak panah terlepas dari busurnya. saking cepat dan ngebutnya motor tersebut.


Arya tidak pulang ke villa nya Deri melainkan ke rumahnya Aldo yang sebelumnya ia menghubungi terlebih dahulu beliau yang sudah berada di rumah, sedang mengurus untuk keperluan nanti malam. Begitu pun dengan Deri. Arya sudah menyuruh Deri untuk datang ke rumah Aldo saja, dan dia bilang nggak bisa pulang ke villa karena pasti Angelica akan mencarinya ke sana.


Setibanya di kediaman dokter Aldo. Arya langsung disambut sama istri dokter Aldo, yaitu bidan Tika. "Kamu datang sendiri, mana Om Deri?"


"Oh dia ... masih di rumah, Tante, dan aku dari tempat kerja langsung ke sini. Malas nanti ada yang nyariin!" Arya mencium hormat tangan Tante Tika.


"Kok malas? bukannya senang ada yang nyariin! berarti dia sayang sama kamu, dia itu perduli sama kamu! ini kok malas!" balasnya tante Tika sembari ngeloyor ke dalam rumah diikuti oleh langkahnya Arya.

__ADS_1


"He he he iya sih! cuma beginilah Tante kalau orang yang tidak bersyukur!" seru nya Arya sambil menundukkan dirinya di sebuah sofa.


"Tante mau bikinkan minum dulu ya? sambil memanggil Om Aldo." tante Tika pun meninggalkan Arya duduk sendiri di ruang keluarga.


"Iya, Tante!" balas Arya sambil menyandarkan punggungnya ke bahu sofa yang dia duduki.


"Hem, kau ini masih kucel bau keringat dan belum mandi. Gak salah kau seperti itu ha?" suara Aldo membayarkan lamunan Arya.


"Ha? bilang apa?" Arya menoleh pada om Aldo.


"Ck, kamu ... penampilannya masih kecil belum mandi mau keringat apa mau dengan penampilan seperti ini datang melamar Lica?" ulang dokter Aldo.


"Oh ... nggak emang aku belum mandi nanti omongan dari yang bawakan aku baju-baju yang ada di sana. Ini aja aku kabur dari rumah sakit, karena dia sedang mencari ku.


"Ha ha ha ... kamu ini aneh calon istri mencari lah nggak mau apa maunya kamu?" Aldo malah ketawa lepas.


"Om Aldo ngerti aku dong ... aku risih," sahutnya Arya lirih.


"Oke-oke Aku mengerti Oke! You're uncomfortable with her aggressive, promiscuous attitude. You're afraid not to hold your faith. Ya ... Om ngerti." Aldo mesem sambil menepuk bahunya pemuda tampan tersebut yang wajar lah bila digandrungi para gadis.


Keduanya mengobrol sambil menunggu datangnya Endro dan Deri sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh istri dokter Aldo ....


...🌼---🌼...


Reader ku semua ayo dong mana penyemangat nya nih? biar aku tambah semangat nih. Sepi amat nih masih. Tapi tidak lupa ucapkan makasih.

__ADS_1


__ADS_2