
Setelah Gita mengangguk, membuat Arya merasa senang karena mendapat ijin dari sang istri. Sehingga wajahnya pun semakin mendekat dan cuph menempelkan bibir keduanya.
Nyess ....
Jantung Gita berdegup sangat kencang dan. Dada berdebar tak karuan, tubuhnya pun gemetaran. Begini kalau orang yang belum pengalaman dalam bersentuhan. Atau interaksi yang intens dengan lawan jenis, begitu juga yang di rasakan oleh Gita seorang gadis yang belum pernah bersentuhan dengan pria.
“Aish ... begini kah rasanya berciuman? Tubuh ku, tubuhnya rasanya mau pingsan. Bergetar dan panas dingin begini. Aku yang kampungan atau ... ahc jangan lama-lama dong ... aku takut pingsan nih,” batin Gita di saat Arya menempelkan bibirnya dengan bibir gadis itu.
Arya tersenyum dalam hati. Ketika Gita terlihat kikuk dan diam saja di saat di sentuhnya, benar-benar menunjukan kalau dia itu belum berpengalaman dan dan ini yang pertama kali. Arya menggerakkan benda tipis itu menyapu setiap inci permukaan bibir Gita yang lembut itu.
Semakin sang empu memejam kan kedua matanya kuat-kuat. Kedua tangannya meremas selimut yang dia peluk dan tengkuknya yang Arya kunci membuat dia tidak bisa mengerakkan kepalanya.
Dan rupanya bukan Cuma itu saja yang Arya inginkan dari gita. Tangannya pun meraba benda yang berada di daerah yang belum pernah tersentuh siapa pun selain pemiliknya sendiri. Timbulnya rasa ingin memliki yang seutuhnya di picu dengan peristiwa tadi bersama Lica yang tidak ia selesaikan dengan sengaja.
“Aduh, aku gak bisa bernafas nih. Kok gini ya namanya berciuman itu?” celetuk Gita sambil mendorong dada Arya karena dia merasa pengap dan kehabisan oksigen. Dan tubuhnya yang mulai di gerayangi Arya.
Arya membiarkan Gita untuk menghirup udara yang sebanyaknya-banyaknya dan setelah itu dia kembali melanjutkan aktifitasnya yang sejenak tertunda.
“Sebentar! Kok tubuh ku panas dingin begini ya? apakah karena baru pertama kali ya? aku takut pingsan,” ucap Gita dengan polosnya sambil menatap pemuda itu.
Membuat Arya yang sedang serius pun tersenyum dan menggeleng mendengar gumaman Gita yang begitu
polos itu.
“Iya, kalau baru pertama kali ... memang seperti itu. Tapi kalau sudah terbiasa tidak akan seperti itu, santai aja kayanya.” Balas Arya.
Gita terdiam sambil bengong. “Kayanya? jadi kamu juga baru—“
__ADS_1
Perkataan dari gadis itu menggantung karena di bungkam oleh mulutnya Arya yang sudah tidak sabar lagi untuk menyentuhnya serta juga menikmati buah yang menggantung segar, dan baru dia yang mendapatkannya.
Membuat sang empu mengeluarkan suara de-sa-ha-n yang terdengar indah juga gerakan tubuh yang meliuk geli. Mata terpejam mulai menikmati yang Arya berikan walau masih terasa asing dan tubuhnya berasa kaku.
Arya melupakan kalau dia ke vila itu meninggalkan seseorang yang baru saja ia nikahi yaitu Lica, dia tinggalkan begitu saja tanpa alasan dan berpamitan. Arya malah menikmati malam pertamanya dengan Gita, wanita yang lebih dulu ia nikahi.
Arya terus mencumbu penuh gelora gadis yang polos dan baru tahu apa itu namanya bercinta. Arya terus menuntun Gita untuk membalas apa yang dia lakukan dan gadis itu menurut saja dan langsung keenakan dengan perlakuan dari Arya.
Pakaian pun sudah entah melayang kemana sehingga keduanya sama-sama polos dan semakin menaikan
hasrat Arya,
Gita yang malu-malu menutup dua bagian intinya dengan telapak tangan, karena selimut pun sulit di tariknya. Tangan satu menutupi bagian atas dan satunya menutupi bagian bawah, bikin lawan mainnya tersenyum lucu melihatnya dan detik kemudian tangan Arya menyingkirkan tangan yang menutupi keindahan yang ingin dia nikmati itu.
“Aku malu.” Gumamnya gadis yang mau Arya unboxing itu sambil memejamkan kedua matanya tak kuasa jika
“Tapi bila kau tutupi, gimana cara kita untuk saling menikmatinya sayang.” Arya mulai mengarahkan dirinya untuk melakukan sesuatu yang penting dan baru kali ini akan dia lakukan setelah dengan Lica dia gagalkan.
“Kalau sakit gimana? aku takut,” keluhnya Gita sambil menutupi wajahnya.
Kemudian ... Arya memulai nya dengan hati-hati. Biarpun hati-hati tetap saja Gita hampir saja menjerit, dan Arya dengan cepat menutup mulutnya dengan bibir agar gadis itu tidak teriak karena Arya akan sangat khawatir kalau Gita berteriak di dengar oleh orang lain khususnya Deri.
“Sakit ...” desisnya Gita dengan mata yang berkaca-kaca.
Arya memelankan aktifitasnya sesaat, agar Gita lebih tenang dan merasa nyaman. Setelah Gita tampak tenang, barulah Arya melanjutkan lagi sampai benar-benar tuntas.
...----...
__ADS_1
Setelah kedatangan Deri dari rumahnya Kayla. Para asisten sepakat untuk keluar dari sana dan hanya bi Meri saja yang akan bertahan, itupun satu minggu sekali datangnya.
Di atas tempat tidur. Kayla masih berbaring dengan malas guling-guling dia di sana. menggeliat nikmat. Lalu memicingkan sebelah matanya menyisir setiap sudut ruangan. Melihat ke arah jendela juga sepertinya hari sudah siang dan ternyata waktu pun sudah menunjukan pukul tujuh pagi. “Kok gak ada yang bangunkan aku sih?”
Kayla mengibaskan selimutnya dan bergeser mendekati tepi tempat tidur. Meraih kursi rodanya. “Ahc, kemana sih orang-orang?” gumamnya Kayla sambil duduk di kursi roda. Lalu menggulirkan roda nya mendekati pintu.
“Bi? Bibi ... kenapa tidak bangunkan aku mana sarapan buat aku?” pekiknya Kayla sambil membuka pintu kamarnya tersebut.
Namu tidak satu pun orang yang menyahut seruannya yang lumayan keras itu.
“Bibi? aku mau sarapan ...” pekik kembali Kayla sambil terus mendekati tangga, di bawah tampak begitu sepi, tidak seorang pun terlihat di sana, bahkan masih suasana temaram. Gorden pun masih tertutup gak ada yang buka-buka.
“Bibi ... Mbak ... dimana kalian?” suara Kayla semakin keras dan kesal karena tidak ada satu pun yang menyahut seruannya.
Kayla berdiri dan perlahan turun dari tangga untuk menjangkau lantai bawah. “Kemana sih orang-orang pada mati apa?” suara Kayla dengan nada marah.
Hingga akhirnya sampai juga di lantai dasar dia melihat ke dapur kosong tidak ada seorang pun ataupun sarapan di meja, tidak ada.
“Gila gak ada sarapan pun!” Kayla bengong, lalu dia berjalan dengan pelan. Mendekati kamar bibi yang kosong juga kamar lain yang bersih dan rapi tidak ada segelintir orang pun yang dia cari di sana.
“Bi? Bi ... dimana kalian?” Kayla terus memekik dan mencari di tempat lain yang hasilnya Cuma rasa sakit di kaki yang terlalu banyak berjalan.
Kayla duduk di kursi meja dengan tidak habis pikir, bila bibi pergi ke pasar atu kemana itu pasti bilang dulu. Tapi ini tidak ada konfirmasi sedikit pun. Kayla mengepalkan tangannya yang lalu dia pukulkan ke maja, marah. Kesal bercampur menjadi satu dan akhirnya dia menangis. Baru kali ini dia sendiri seperti ini. Namun dia buru-buru
bangkit dan berjalan mendekati gorden yang lantas dia buka-bukan ....
...🌼---🌼...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya y? makasih.